Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya


__ADS_3

Adi Wijaya, pria tua yang dianugrahi tubuh yang awet muda. Tak pernah menua baik rambut maupun wajahnya, padahal dari segi umur dia sudah terbilang tidak muda dan termasuk seangkatan dengan Mr W.


Wajahnya nampak awet muda, tubuhnya atletis, sedangan rambutnya hitam nan panjang. Rokok tak pernah lepas dari mulutnya, dan terdapat bekas luka di pipi kanannya. Matanya sehitam rambutnya, sedangkan pakaiannya berwarna putih, dengan jas biru tosca di bagian terluarnya.


Seperti biasa, dia tak pernah meninggalkan kantornya di Wijaya Enterprize. Selalu duduk sembari menikmati hidup dan menyingkirkan apapun yang tidak dia sukai tanpa harus mengotori tangannya. Semuanya dia lakukan hanya dengan menggunakan ponselnya. Berbeda dengan saudaranya, Adi Wijaya tak memiliki keturunan langsung, dia hanya memiliki Herry Wijaya yang merupakan putra dari pernikahan istri sebelumnya. Yang mana merupakan seorang wanita single parrent sebelum menikah dengan Adi Wijaya.


Pernikahan yang sedari awal dilandasi oleh cinta dan dengan harapan akan meneruskan keturunannya. Namun karena divonis mandul tak lama setelah memeriksakan kesuburannya, Adi Wijaya terpaksa mengangkat dan menyematkan nama Wijaya kepada Herry. Sayangnya tak lama setelah itu, dia kehilangan orang yang dia cintai karena ulah sepupunya, Jaya Wijaya pemegang sah anak perusahaan Wijaya Enterprize. Satu dari sekian banyak saudaranya, yang bersi keras menentang pengangkatan Herry sebagai penerus Wijaya Group.


Atas dasar membalas dendam terhadap perbuatan Sepupunya, Adi Wijaya meratakan High Wijaya beserta seluruh orang yang terlibat dengan rencana busuk Jaya Wijaya. Yang mana mengambing hitamkan Kelompok Number sebagai bentuk aksi pemberontakan atas pemerintah.


"Apa yang kau lakukan disini, Z(Zed)? tanya Adi Wijaya yang menyadari keberadaan Zero di sekitar ruang kerjanya.


Sratt!! Zero membuka balkon lantai atas yang berada tepat di sisi lain ruang kantor Adi Wijaya. Dia membuka paksa jendela itu, dengan memanfaatkan kekuatan jarinya. Saat jendela tersebut hendak dibuka, mata Zero nampak memerah seperti mata Theo.


"Tak bisakah kau bersikap seolah olah tak tahu kalau aku sedang di dekatmu?" Zero Nampak kecewa karena gagal muncul secara misterius. Dia menghela napas sembari melangkah masuk.


"Tak adakah diantara kalian yang mengerti fungsi pintu?" Adi Wijaya melirik ke arah jendela balkon lain yang nampak telah rusak karena ulah Mr W sebelumnya.


"Kalian?"


"Maksudmu, aku dan siapa?" tanya Zero bingung.


"Siapa lagi kalau bukan W (dabelyu)!" ucap Adi Wijaya kesal.


"Dia ada di negara ini!?" tanya Zero bingung.


"Ah ... , kau belum tahu ya?"


"Dia kan seorang petinggi militer negara sepertiku,"


"Nama yang dia gunakan di negara ini ialah, Mr W(we) dan identitas lainnya adalah Wisnu!" Adi Wijaya meneruskan.


Zero nampak terkejut sekaligus senang saat mendapatkan informasi yang tak pernah dia bayangkn. Informasi penting mengenai subjek awal yang berhasil selamat dari penelitian Law Breaker. Organisasi Gangster dunia yang menjadi pelopor Holder sekaligus pemicu kacaunya aturan di berbagai negara.


"Ngomong ngomong, kenapa kau memberi tahuku hal ini, A(ei)?" tanya Zero serius.

__ADS_1


"Aku hanya ingin membalas kebaikanmu yang membiarkanku meminjam nama kelompokmu untuk menghancurkan pelenyap istriku," sambung Adi Wijaya sembari menghisap rokoknya.


"Cih!"


"Padahal aku ingin kau membalasnya dengan hal lain!" sambung Zero kesal. Dia tak berani meminta bantuan kepada Adi Wijaya tanpa memberikannya keuntungan karena status mereka setara, baik dalam segi kekuatan maupun sebagai sesama subjek pelarian.


"Apa kau masih berharap akan bantuanku dalam rencana bodohmu untuk mengacaukan Law Breaker?" Adi Wijaya menatap kesal, kemudian berkata, "Berhenti melakukan hal konyol itu!"


"Manusia tak akan bisa mengalahkan para monster seperti mereka!"


"Lupakan impianmu dalam mewujudkan dunia baru!"


Zero tak menggubris ucapan Adi Wijaya, sembari membiarkannya memaki sepuasnya. Tak lama setelah Adi Wijaya berhenti berbicara, Zero menyeringai sembari berkata, "Kira kira apa yang terjadi jika ada subjek tak terdaftar yang terekspos?"


Seketika Adi Wijaya tersentak, dia begitu terkejut karena takut kehidupan damainya terancam.


"Apa kau gila!"


"Kau ingin mengekspos mata merahmu ke acara Battle Holder nanti!?"


"Dan bukannya nanti, tapi sudah terjadi."


"Kau tak melihat rookie penentang Holder kemarin ya?" Zero menyerinyai tajam.


"Ma ... maksudmu, salah satu dari peserta Battle Holder kemarin adalah subjek penelitianmu?" tanya Adi Wijaya tersentak.


"Lebih tepatnya, dua dari mereka!" Zero meneruskan.


"Sebenarnya sudah sebanyak apa kau melebarkan keompok pemberontakmu?" tanya Adi Wijaya dengan mata merahnya.


"Cukup banyak hingga bisa mengguncang negara ini kapanpun!" Zero menjawab tanpa ragu.


"Lalu apa yang kau tunggu!?" tanya Adi Wijaya memastikan. Dia bertanya demikian karena berpikir akan bahaya jika tak mengetahui rencana gila Zero.


"..." Zero menatap saku jas Adi Wijaya, wajahnya nampak tegang seakan khawatir akan sesuatu. Adi Wijaya yang sadar dan paham akan maksud gerak gerik Zero segera memotong pembicaraan dengan berkata, "Jangan khawatir, aku meninggalkan lencanaku di tempat lain."

__ADS_1


Seketika Zero menghela napas dengan lega. Tak lama setelah itu, dia pun kembali mengangkat suara dengan berkata, "Kekuatan Number saat ini, belum cukup untuk menentang Law Breaker!"


"Jika aku mengambil alih negara secara paksa, maka mereka akan menghancurkanku saat itu juga."


"..." Adi Wijaya terdiam karena menyadari kebenaran dibalik ucapan Zero.


"Lalu apa yang ingin aku lakukan?" tanya Adi Wijaya memastikan.


"Pinjamkan aku teknologimu, teknologi yang bisa mengecoh mata dan meredam kecanggihan lencana Holder!"


"Bantu aku menutup mata dan telinga mereka dari pemegang Holder di negara ini!" jawab Zero dengan penuh keseriusan. Adi Wijaya tak suka hal merepotkan, namun jika dia tak memberikan teknologinya ....


Kemungkinan besar penelitian ilegal Zero akan terekspos dan kehidupan damai Adi Wijaya pun akan segera berakhir.


"Cih!"


"Lalu bagaimana dengan Hacking atau Demon Eagle kemarin?"


"Katamu mata merahnya telah terekspos?" Adi Wijaya menghela napas dengan tangan di dahinya karena merasa agak pusing.


"Berharap saja para Law Breaker mengabaikan hal itu," Zero tak mampu berkata kata karena tak ada jalan keluar atas apa yang mungkin sudah menyebar. Dia juga menjelaskan bahwa, selain Hacking Eagle, masih ada subjek subjek lain yang kebanyakan dari mereka memiliki lencana Holder dan ada juga yang merupakan petinggi sekaligus pendiri Red Eagle.


"Sial!"


"Jadi maksudmu, Marsekal Leo dan tuan X Juga!?" Adi Wijaya bangkit dari kursinya sembari menarik keluar rokok di mulutnya. Dia nampak terkejut karena Battle Holder akan diadakan tak lama lagi, butuh waktu baginya menyiapkan alat untuk meredam ribuan mata dan telinga Law Breaker.


"Hanya tuan X yang merupakan subjek kali ini, dan nampaknya mata dia belum bangkit. Tapi tak menutup kemungkinan dalam pertarungan hidup dan mati nanti ... ," Zero nampak khawatir, sementara Adi Wijaya yang tadinya tak pernah keluar dari kantornya, segera bersiap pergi sembari berkata, "Pergilah!"


"Aku akan melakukan apa yang kubisa!"


"Kalau begitu, aku permisi," Zero meninggalkan ruangan dengan melompat keluar dari balkon.


Sementara itu, Adi Wijaya pergi ke markas rahasianya yang dilindungi oleh orang orang angkatan udara. Setelah menyambut hormat mereka, dia melangkah pergi ke sebuah ruangan yang mana merupakan ruangan pribadinya. Kemudian dipertemukan dengan sosok pria yang nampak sedang terkunci dalam sebuah kandang besi. Dia menemui pria itu sembari membawa sample lencana Holder dan drone rusak berbentuk mata milik Law Breaker.


"Bagaimana kabarmu, Weapon Eagle!" ucap Adi Wijaya sembari menatap punggung seorang pria di dalam jeruji besi dengan leher yang berkalungkan sebuah kalung hitam dengan duri di bagian luarnya. Berikut setiap pergelangan kaki serta tangannya yang juga dilingkari oleh benda hitam berduri itu. Katakanlah itu pengekang sekaligus pelacak yang digunakan kepada seorang tahanan besar yang terlalu pandai melarikan diri.

__ADS_1


__ADS_2