
Amelia menyusul Andini dengan maksud untuk menghiburnya, namun ketika sampai di kamar Andini ...
"Apa kakak baik baik saja?" Amelia bertanya dengan penuh rasa khawatir. Dia bertanya dari balik pintu yang masih tertutup rapat. Dan terus mengetuk pintu hingga Andini membukakan pintu kamarnya.
"Masuklah!"
"Pintunya tak dikunci kok!" Andini mulai merespon Amelia, setelah membuatnya menunggu cukup lama. Dia terlalu fokus menelepon kekasih lamanya, hingga sempat tak sadar bahwa Amelia sudah memanggilnya sejak tadi.
Ceklak ...
Amelia perlahan masuk dengan tampang khawatir. Dia berpikir bahwa Andini sedang hancur saat ini. Namun setelah melihat wajah Andini yang nampak bersemangat, Amelia hanya bisa menghela napasnya. Dia baru mengingat, bahwa rasa khawatirnya tadi sangatlah sia sia. Harusnya Amelia lebih tahu itu dari siapapun. Sejak awal Andini tak pernah menaruh perasaan cinta sedikitpun terhadap suaminya. Melihatnya tidur dengan gadis lain tak membuat hatinya sakit sama sekali. Malahan dia nampak senang karena memiliki alasan yang kuat untuk mengakhiri pernikahan mereka.
"Kenapa kau kemari?"
"Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Andini dengan santainya.
"Apa kakak tak merasa dihianati sedikitpun?"
"Suami kakak baru saja tertangkap basah meniduri Zaskia loh!"
"Sekertaris kakak sediri!" Amelia terdengar marah sekaligus berharap bahwa masih ada secuil perasaan cinta untuk Hansen di dalam lubuk hati kakaknya.
"Lantas!?" tanya Andini dengan tatapan sedikit kesal. "Kau tahu kan?"
"Sejak awal aku tak menyukai Hansen, dan bahkan kau pun begitu sebelumnya."
"Hah ... ," Andini menghela napas karena sudah tak tertarik dengan pembahasan mereka. Dia perlahan bangkit mendekati Amelia yang saat ini tak berada jauh dari pintu keluar.
Tap!
__ADS_1
Andini memegang pundak Amelia yang nampak kecewa sembari berkata,
"Sejak awal, cintaku itu hanya untuk Herry Wijaya, dan tak akan pernah berubah. Camkan itu!"
Setelah selesai mengucapkan kata terakhirnya, Andini pun meminta Amelia pergi.
Meski sudah diusir oleh Andini, Amelia tak menyerah begitu saja. Semua karena dia sudah lama mengagumi Hansen dan paham betul akan karakternya. Sementara semua rasa kagumnya itu sudah lama tumbuh sejak Hansen menyelamatkannya dari kejaran kelompok peniru Scorpion.
'Kakak ipar bukanlah orang seperti itu, kenapa dia bisa menghamili Zaskia dan kapan ya terjadinya ... ,' pikir Amelia sembari melangkah kembali menuju kamar Zaskia. Dengan tujuan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Hansen dan Zaskia.
Beruntungnya saat sudah di kamar Zaskia, Amelia disambut hangat olehnya. Zaskia kembali bersikap seperti biasa sembari menutupi perasaan aslinya.
"Masuklah!" Amelia perlahan masuk setelah Zaskia mempersilahkannya. Dan tak lama setelah itu, dia kembali mendengar suara Zaskia yang tegas dan tak ada keraguan dalam kata katanya.
"Jika kau ingin memintaku menggugurkan bayiku lagi, maka jawabannya akan tetap sama!"
Amelia sangat ingin memukul Zaskia yang nampak seakan merasa tak bersalah saat itu, namun tetap menahan diri karena harus memastikan sesuatu.
"Selain hari ini, kapan terakhir kali kalian berhubungan badan?" pertanyaan Amelia terdengar seperti sedang merendahkan Zaskia. Namun Zaskia tak terlihat terganggu akan hal tersebut. Karena saat ini, dia sedang bersikap layaknya seorang pewaris keluarga Arista. Menutupi perasaan dengan sikap dingin nan tegasnya.
"Kurasa kau harus mengganti pertanyaanmu,"
ujar Zaskia sembari duduk dengan tegak di atas sofa kamarnya.
"Maksudmu!?" Amelia nampak bingung sekaligus marah. Terlihat jelas dari raut wajah yang berkedut mengikuti kedutan alis dan gertakan giginya. Dia berusaha keras untuk menahan diri agar tak mengamuk seperti sebelumnya.
"Lebih tepatnya, kapan kecelakaan seperti hari ini pernah terjadi?" Zaskia menatap Amelia dengan dingin. Sementara Amelia tetap diam sembari menunggu jawaban jelasnya.
"Malam perayaan keberhasilan bisnis kita, dan kembalinya separuh harta keluarga Wisnu!" Penjelasan Zaskia mengingatkan Amelia mengenai perilaku Andini di malam pesta itu. Dimana Hansen dibuat sehancur mungkin karena harus menyaksikan istrinya bermesraan dengan pria lain, sembari menghinanya habis habisan. Amelia teringat jelas bagaimana frustasinya Hansen saat itu. Sementara Zaskia mendadak pergi dengan alasan ada keperluan mendadak.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kau ... ," Amelia nampak tersentak.
"Ya!"
"Saat itu aku sedang dalam pengaruh minuman, begitu pun Hansen. Jika aku sudah separuh mabuk sebelum pergi menyusul, maka Hansen sudah sepenuhnya mabuk saat aku menemukannya. Entah apa yang merasukiku saat itu, hingga memanfaatkan ketidak sadaran Hansen untuk memuaskan napsuku." Zaskia menjelaskan bahwa dia tak bisa menahan diri saat itu, hingga tak sengaja membuat kecelakaan itu terjadi. Meski begitu dia menegaskan bahwa, dia sama sekali tak berniat merebut Hansen dari tangan Andini. Dia hanya tak ingin melihat Hansen terus terluka. Baginya berada di dekat Hansen sembari mendukungnya disaat terpuruk saja, sudah sangatlah cukup. Zaskia juga menjelaskan bahwa, jika memang ingin merebut Hansen, dia tak akan menutupi kehamilannya hingga saat ini.
Amelia yang tak dapat menemukan kesalahan terhadap kata kata Zaskia, hanya bisa terdiam saat itu. Terlebih saat mendengar kata kata terakhir Zaskia yang berbunyi, "Meski aku mencintai Hansen, aku tak akan pernah mencoba memaksa atau berusaha membuatnya jatuh hati paduku."
"Sampai aku bisa keluar dari Shelter dan melahirkan anak ini, aku akan menghilang bagaikan debu yang tertiup angin."
Tak ada keraguan dalam kata kata Zaskia, hingga membuat Amelia mulai bersimpati padanya. Terlebih saat dia mengingat kakaknya yang tidak benar benar mencintai Hansen. Meskipun Hansen menyukai kakaknya, dia mulai berpikir bahwa mungkin Hansen akan bisa berbahagia jika bisa bersama Zaskia. Dengan pemikiran tersebut, dia pun mulai mengangkat suaranya, "Kau tak perlu melakukan itu!"
"Kakakku tak keberatan akan perceraian ini!"
"Lagipula kak Herry juga bukan pria yang buruk," Amelia berkata demikian karena hanya mengingat betapa baik dan dalamnya cinta Herry terhadap kakaknya di masa lalu. Hingga membuat kakaknya tak pernah berhenti membahas Herry tiap kali Amelia bertanya.
"Apa kau yakin?" Zaskia tak bisa menutupi rasa senangnya. Untuk pertama kalinya, dia memunculkan senyum penuh semangat yang benar benar tulus di hadapan seseorang.
"Uhm," Amelia mengangguk, dan mendapatkan pelukan bahagia dari Zaskia. Meski hari hari bersama Hansen cukup menyenangkan, ini adalah kali pertama baginya merasakan kebahagiaan tanpa harus memikirkan kepedihan orang lain. Karena satu satunya orang yang Zaskia takut akan tersakiti, bersikap seakan tak peduli akan kecelakaan hari ini.
Tak lama setelah keduanya berbaikan, Amelia pergi mengunjungi Dion yang masih dalam keadaan tidur saat itu. Dia mencurahkan semua beban pikirannya terhadap Dion untuk melepaskan keluh kesahnya, namun siapa sangka curhatan Amelia malah menjadi boomerang baginya sendiri. Persaan lega yang awalnya Amelia pikir akan dapat dia rasakan, malah berubah menjadi perasaan khawatir akan masa depan kakaknya. Semua karena Dion menjelaskan betapa buruk dan busuknya kelakuan Herry saat ini.
Sembari menutup mulut karena syok, Amelia menangis dan berkata, "Apa yang telah kulakukan!?"
"Aku tak mungkin menarik kata kataku terhadap Zaskia. Bagaimana dengan nasib kakak, kalau kakak ipar menjadi semakin terikat dengan Zaskia disaat kak Herry membuangnya!" Perlahan Amelia menjatuhkan dirinya hingga berakhir dalam posisi duduk dengan penuh rasa bersalah. Hingga akhirnya air mata pun turut menemani perasaan kacaunya.
Sementara itu di sisi lain, Hansen nampak sedang menghadap Mr W yang sedang memegang sebuah surat perceraian. Dalam surat itu tertulis tanda tangan Andini dan Hansen yang belum lama ini mereka tanda tangani.
"Apa maksud semua ini, menantu!" Mr W terdengar begitu kesal dalam kata katanya.
__ADS_1