Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Bab 21 : Pria yang misterius


__ADS_3

Ceklek!


Rosa Riyadi berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Lama tak bertemu, suamiku," Rosa Riyadi menatap serius seorang pria yang sedang duduk di kursi putar sembari memamerkan punggungnya. Dia memakai jas hitam yang begitu rapih, dan duduk di meja kerjanya namun dalam posisi kursi yang terbalik.


"Apa yang membawamu kemari?" pria misterius itu terus membelakangi meja kerjanya.


"Berhenti bersikap misterius dan berpura pura bodoh!"


"Kau pasti paham betul alasanku kemari!" Rosa Riyadi nampak kesal.


" ... " pria itu diam dan tak merespon. Rosa Riyadi yang melihat ketidak pedulian suaminya, langsung berniat memarahinya. Akan tetapi suaminya yang misterius itu, segera mengangkat tangan sebagai isyarat untuk menyuruhnya tidak bicara. Dan Rosa Riyadi pun segera mengurungkan niatnya karena sebuah suara telepon.


Kkring kringg!!


"Halo?" Pria itu mengangkat teleponnya dan seketika tersenyum. Sedangkan Rosa Riyadi tetap diam karena tak dapat melihat ekspresi suaminya saat itu.


Ceklak!! pria itu mengembalikan telepon kabel perusahaan ke tempatnya semula setelah selesai menerima panggilan. Namun Rosa Riyadi masih belum berani mengangkat suaranya sebelum dipersilahkan.


"Jika kau ingin berbicara soal setengah dari properti keluarga yang telah diserahkan kepada keluarga Cahyadi, maka urungkan saja niatmu itu. Dan bergembiralah," pria itu menjelaskan tanpa mengubah posisi duduknya.


"Atas dasar apa?" Rosa Riyadi nampak bingung.


"Karena semua properti itu, telah kembali ke tanganku," Pria itu membalikkan badannya sembari memutar kursi putar yang sedang dia duduki.


"Apa kau yakin?" Rosa Riyadi masih belum sepenuhnya percaya.


"Apakah aku pernah bercanda?" tanya pria itu balik.

__ADS_1


" ... " Risa Riyadi tak menjawab, namun bernapas lega karena apa yang menjadi beban pikirannya selama ini telah terselesaikan.


"Apakah Andini tahu soal ini?" tanya pria itu serius.


"Tidak, aku tak ingin menambah pikirannya. Meski dia putri kita, dia sama sekali tidak tahu menahu soal masalah penyerahan sebagian properti keluarga, karena aku yang mengurus semua perusahaan yang kau serahkan," Rosa Riyadi nampak lega namun masih memiliki pertanyaan di dalam hatinya, 'Masa bodo dengan cara dia menarik semua properti keluarga, satu satunya yang ingin kuketahui saat ini ialah mengapa dia bertindak senekad itu hanya untuk membantu Andini mengeluarkan Hansen.'


'Setahuku, Andini bahkan tak meminta bantuan apapun darinya.'


"Jika urusanmu selesai, segeralah kembali ke rumah." Pria itu kembali mengangkat suaranya.


"Kapan kau akan pulang?" tanya Rosa Riyadi dengan penuh harap.


"Yang pasti tidak dalam waktu dekat ini," pria itu menjawab dengan tatapan dingin.


" ... " Rosa Riyadi nampak sedih dan berkata, "Tolong segeralah pulang, anak anak merindukanmu," Rosa Riyadi pergi keluar ruangan dengan hati yang sedikit hancur.


" ... " pria itu hanya menatap punggung istrinya dan tersenyum. 'Berhentilah menyembunyikan identitas aslimu, menantuku,'


....


'Tolong angkat panggilan dariku, sekali ... saja,' Andini terus menghubungi ayahnya berulang kali , namun tak pernah mendapat jawaban baik itu melalui panggilan telepon, maupun sms.


Tok tok tok!


Seseorang mengetuk pintu ruangan kerja Andini. Membangkitkan dirinya dari lamunan jangka panjang mengenai kenangan bersama ayahnya.


"Masuklah!"


Ceklak!

__ADS_1


Zaskia Arista masuk ke dalam ruangan dengan tampang yang terlihat tegang dan kecewa. Menjatuhkan semangat Andini yang saat itu sudah cukup hancur.


"Apakah ada investor yang mengajukan penarikan investasinya lagi?" Andini nampak putus asa.


" ... " Zaskia Arista menggelengkan kepala. Lalu merubah ekspresinya. Tampang tegang dan kecewa, berubah menjadi senyum penuh semangat. "Para investor yang telah mengajukan tuntutan penarikan, kini telah menarik kembali tuntutan mereka. Bahkan mereka juga membawa beberapa investor baru untuk meningkatkan usaha kita sebagai kompensasi."


" .. " Andini segera bangkit dari kursinya. Mendorong keras kedua telapak tangannya ke atas meja, dan berkata, "Apa kau serius!" Andini nampak terkejut bukan main, dan melupakan rasa putus asanya karena berita bagus yang baru saja dia dengar.


"Uhm!" Zaskia Arista mengangguk senang.


"Syukurlah ... ," Andini menghela napas dengan begitu lega. Dia tersenyum dan kemudian terlarut dalam ingatan mengenai ucapan Hansen. 'Biarkan aku yang menyelesaikannya untukmu!'


'Mungkinkah Hansen dalang dibalik semua keajaiban ini!?' Andini terpikir akan hal tersebut, namun kembali menggelengkan kepala karena yakin bahwa Hansen hanyalah pria biasa yang bahkan tak bisa membebaskan dirinya sendiri dari jeratan penjara. 'Ini pasti berkat ayah!' Andini begitu yakin akan pemikiran terakhirnya.


.....


Hansen berkunjung ke rumah sakit untuk menemui adiknya, namun langkahnya terhenti sejenak saat baru berada di dalam lobby karena sebuah panggilan telepon.


"Halo?" Hansen menjawab panggilan di ponselnya.


'Apa yang kau minta telah terlaksana, kapan kau akan kembali tuan X?' suara seorang pria terdengar jelas dari speaker ponselnya.


"Yang pasti bukan sekarang," Hansen segera mengakhiri panggilan dan melanjutkan langkahnya. 'Haruskah aku benar benar kembali?' Hansen menggertakkan giginya, sembari mengepal erat kedua tangannya seakan mengingat kejadian pahit yang pernah dia alami.


"Hansen?" pria paruh baya yang merupakan ayah dari Hansen pratama segera berjalan mendekat setelah menyadari kehadiran putranya.


"Apakah kondisinya sudah baik baik saja?" tanya Hansen dengan penuh harap.


" ... " pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya seperti biasa karena tak sanggup mengucapkan kabar buruk yang tak pernah membaik.

__ADS_1


"Begitu ya ...." Hansen tersenyum tipis untuk menyembunyikan kesedihannya.


__ADS_2