Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 101 : Ilmuan gila


__ADS_3

Pria asing berdarah eropa dengan wajah muda dan rambut minimalis seperti seorang ilmuan yang terlalu banyak menggunakan otaknya, berjalan mendekat dengan tatapan seorang psikopat.


"Wajahnya nampak muda, namun sangat disayangkan rambutnya ... ," Hansen terfokus pada rambut seorang pria yang berjalan mendekat dari ujung koridor.


"Apapun yang terjadi jangan pernah kau singgung rambutnya, dia sangat sensitif akan hal tersebut," Salah satu gadis yang berdiri di samping Hansen berbisik memperingati.


"Apa apaan dengan tatapan itu, apa kau mau mengejek gaya rambutku!? Asal kau tahu saja ini jauh lebih baik dari pada kehilangan seluruh rambutku! Yah ... kau juga akan tahu rasanya seberapa beruntungnya diriku setelah menerima serum kami," sambung pria itu sembari menyeringai tajam.


"Siapa kau?"


"Di mana Savior Eagle, bukankah dia yang akan membongkar chip di kepalaku?" Hansen bertanya dengan sikap siaga.


Sementara pria asing itu malah tertawa layaknya seorang psiko yang baru menemukan mainan barunya.


"Hahahhaha!"


"Savior Eagle katamu!?"


"Apa kau bodoh!? Mana mungkin kami membiarkannya untuk merawatmu dengan peralatan yang kami miliki?!"


"Asal kau tahu saja ya, tuan kami itu ialah orang yang sangat berhati hati. Dia tidak mungkin membiarkan wanita yang memiliki perasaan terhadapmu untuk merawatmu! Bisa saja kalau dia hanya mengambil Chip milik numbernya saja bukan begitu?" tanya pria asing itu dengan seringaian tajam.


'Ah ... jangan bilang kalau mereka berniat untuk mengganti chipnya dengan chip milik mereka untuk mengendalikanku!' Hansen nampak tersentak, sementara pria asing itu dapat menebak apa yang mungkin Hansen pikirkan saat ini.

__ADS_1


"Ya, betul! Tak hanya mengambil chip peledak number saja, tapi kami juga berencana untuk menanamkan chip lain milik kami! Apa kau keberatan!?" tanya pria asing itu dengan senyum psikonya.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan itu tanpa melakukan perlawanan sedikitpun?" tanya Hansen waspada.


"Ups! Memangnya kau punya pilihan ya?" tanya pria itu dengan senyum jahatnya. Tak lama sejak pria itu mengatakan kalimat terakhirnya, kelima gadis termasuk Rose segera memegangi tangan serta kaki Hansen secara bersamaan.


"Apa apaan ini?" tanya Hansen heran.


"Maaf tuan X, kami tak punya pilihan lain selain mematuhinya demi bertahan hidup!" sambung Rose dengan agak sedikit menyesal.


'Sebenarnya apa yang presiden pikirkan dengan mengirimku ke tempat seperti ini!?' Hansen termenung sejenak sampai ketika terdapat sebuah nada dering yang menandakan bahwa ada sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


'Jangan melawan dan lakukan saja! abaikan soal chip itu, aku akan membantumu menyingkirkannya saat kita bertemu kembali.' SMS dari presiden Gibran terbaca dengan jelas di layar ponsel Hansen.


'Apa rubah tua itu layak untuk dipercaya?' gumam Hansen dalam hatinya. Hansen perlahan membuang napas sembari berpikir, 'Yah memangnya aku punya pilihan lain?' Hansen berusaha untuk bersikap tenang kemudian berkata, "Kapan kau akan memulai operasinya?"


Jadi bisakah kita pergi sekarang?" tanya Hansen meneruskan.


"Aku suka keantusiasanmu, tapi jangan nangis saat kita sudah mulai ya!" Senyum jahat seorang psiopat kembali terlukis jelas di wajah ilmuan gila itu.


Hansen merasakan firasat buruk akan senyum gila tersebut, dan benar saja tak lama setelah dia dibawa memasuki salah satu pintu kaca yang kosong, operasinya pun dimulai dengan cara yang cukup keji.


Pembedahan kepala dilakukan tanpa memberikan obat penahan rasa sakit ataupun obat bius sedikitpun. Hansen dibiarkan sadar seperti para subjek penelitian yang sempat Hansen lihat di sepanjang koridor.

__ADS_1


'Dasar Gil4!!! Apa dia berniat untuk membunuhku!' Hansen hanya bisa menggertakan gigi sebari mengepal erat kedua tangannya dalam kondisi tengkurap dengan tangan dan kaki yang tali yang mengikat hampir seluruh tubuh Hansen kecuali leher dan kepala.


"Jangan khawatir, seorang yang pernah menjadi subjek penelitian organisasi Number sepertimu tidak akan mati semudah itu, lagipula, aku sudah menyuntikkan serum spesial kami yang dapat mencegahmu untuk pingsan tak sadarkan diri dan tentunya ini juga memiliki fungsi untuk melipat gandakan rasa sakit yang di dirita pasien!" sambung ilmuan gila dengan wajah psikonya.


'Orang gila macam mana yang menciptakan serum yang berbanding terbalik dengan fungsi obat bius serta pereda rasa sakit!' Hansen merasa ingin berteriak namun hanya bisa meneriakkannya di dalam hati.


"Itu aku!" jawab ilmuan gila itu seakan memahami apa yang Hansen pikirkan.


"Mahakaryaku diciptakan khusus untuk menyiksa, bukankah luar biasa! Maka dari itu berteriaklah sekencang mungkin untuk menghiburku! Jangan khawatir kau hanya akan merasakan rasa sakit yang sedikit jauh lebih menyakitkan dari saat ini, dan itu tak akan membunuhmu!" Ilmuan gila itu menjelaskan dengan wajah seorang psikopat.


Hansen berusaha keras untuk tak berteriak agar tak merasakan rasa sakit yang jauh lebih parah dari apa yang dia rasakan saat ini, namun rasa sakit yang tak tertahankan terus menerus mendorongnya untuk berteriak. Hingga membuatnya sempat sedikit membocorkan suaranya.


"Kuhukkkk!" Hansen memuntahkan cukup banyak darah karena hanya karena tak sengaja mengeluarkan suaranya selama dua detik.


Jika bukan karena tekadnya yang kuat untuk bertahan hidup, dia pasti akan segera lanjut berteriak sejak rasa sakitnya meningkat. Dan tentunya jika dia melakukan hal itu, dia akan kehilangan lebih banyak darah dan merasakan sakit yang mungkin bisa membunuhnya.


"Jangan khawatir akan darah yang kau keluarkan, aku masih punya banyak stok darah kok!" Ilmuan gila itu menunjuk ke arah lemari transparan yang dipenuhi oleh begitu banyak darah yang terbungkus rapih.


"Jangan tanya aku mendapatkan darah darah itu dari mana, tentu saja dari orang orang yang kami pungut dari jalanan! Jadi jika kau tak ingin membuat darah mereka menjadi sia sia berteriaklah dan biarkan aku mendonorkan darah mereka!" Ilmuan gila itu tersenyum jahat.


'Tak kusangka ternyata rubah tua itu terkait dengan orang orang keji semacam ini, apa gunanya dia berpura pura berurusan dengan Law Breaker atau number! Sedangkan keluarganya sendiri ternyata melakukan perbuatan yang jauh lebih keji dari mereka! Aku benar benar menyesal karena sudah mempercayai rubah tua itu!' Hansen merenung kesal.


Saat itu, tak ada satupun orang yang sejak awal mendampingi Hansen membuka mata dan telinga mereka. Semuanya memang tetap berada di ruang yang sama, tapi baik mata dan telinga mereka, semuanya mereka tutupi karena trauma akan kejadian yang juga pernah menimpa mereka.

__ADS_1


"Ayah dan anak sama saja! Tak bisakah kalian berteriak meski hanya beberapa menit saja!?" Ilmuan gila itu mendecih kesal.


'A ... ayah dan anak!? Apa ayahku juga pernah mendapatkan perlakuan seperti ini!?' Hansen tersentak kaget hingga membuka lebar kedua matanya secara spontan.


__ADS_2