
Hansen nampak sedang berjalan disebuah pasar gelap yang terletak di bawah kolong jembatan di dalam wilayah selatan ibukota negara.
Pasar itu dipenuhi barang ilegal, yang dijual dengan harga bervariasi. Sedangkan orang orang yang melakukan transaksi disana kebanyakan berasal dari kalangan pencuri, perampok, berandalan, preman, dan beberapa jenis penjahat lainnya.
'Apakah kau benar benar bersembunyi disini, Oliver?' Hansen nampak ragu setelah melihat sekelompok berandal sedang beradu pukulan demi memperebutkan sebuah senjata.
"Senapan itu milikku!"
"Aku sudah menawarkan harga yang cukup tinggi. Jadi menyerah saja tuan," Pria gemuk dengan tato naga berwarna dasar hitam di sekujur lengan dan wajahnya nampak sedang mencengkram keras seorang pria kekar dengan luka gores di wajahnya.
"Aku yang melihat dan menawarnya terlebih dahulu, jadi jangan macam macam denganku!" Pria kekar itu melepas paksa cengkraman pria gendut di hadapannya, lalu memukul sekuat tenaga dangan penuh emosi.
Duakk!! Pria Gendut itu tak bergeming sedikitpun, dan pria yang memukulnya malah berteriak kesakitan.
"Arghh!"
"Apakah perutmu terbuat dari besi!" pria kekar dengan jari yang terluka nampak kesal dan mengibas ngibaskan lengannya.
"..." Pria gemuk itu tersenyum licik dan langsung melangkah maju, lalu membalas pukulan targetnya. Gerakannya yang cukup cepat, tak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Hingga membuat targetnya tak dapat menghindar bahkan satu pukulanpun.
Pria gemuk itu terus memukuli mangsanya tanpa rasa kasihan sedikitpun. Cincin berujung lancip bagai duri duri buah durian yang dia kenakan pun menggores tubuh korbannya hingga berdarah begitu banyak.
Tap! Pria gemuk itu menginjak badan korbannya dan berkata, "Ini adalah harga dari melawan Big Iron!" pria gemuk itu mengeluarkan pistol laras pendek dari dalam saku celananya dan langsung menembakkan pelatuknya.
Darrr!
"Dasar preman amatir, beraninya dia berurusan dengan kelompok naga hitam!" gumam para penjahat yang sedang berkeliaran disekitar para pedagang barang ilegal.
"Aku akan membeli ini," pria berpakaian lusuh dengan hoodie dan topeng badut di wajahnya nampak sedang membayar senapan laras panjang yang sudah diincar oleh Big Iron.
Pedagang senjatanya tak mempermasalahkan hal tersebut dan langsung menyerahkan senapannya ke tangan pria bertopeng yang nampak terselimuti oleh sarung tangan hitam. Dan alasan mengapa pria bertopeng itu mendapatkan senapannya, yaitu karena dia berani membayar lebih dari yang ditawarkan pelanggan lain.
"Beraninya kau menyentuh pistol itu!" pria gendut itu mengarahkan pistolnya ke arah pria tersebut, dan menarik pelatuknya tanpa peringatan.
Darrr!
Pria berhoodie dan bertopeng badut itu melirik ke arah Big Iron sejenak, lalu menarik pelatuk senapan laras panjang yang baru saja dia beli dengan kecepatan tangan yang tak masuk akal.
Darrr!!
Klanggh!!! peluru yang tadinya diarahkan ke pria tersebut, terpental ke arah lain karena telah bertabrakan dengan peluru pria itu.
"Ba ... bagaimana kau .... ,"
Darrr! pria bertopeng itu kembali menembak tepat disaat Big Iron ingin menembaknya lagi, dan berhasil mengenai pistolnya sebelum pelatuknya ditarik.
__ADS_1
Wooshh
Duakk!!! Pria bertopeng itu melesat maju sekencang angin, lalu memukul keras perut Big Iron hingga terdorong mundur menabrak meja milik salah seorang pedagang.
"..." semua orang terdiam kaku saat melihat pria itu berhasil memukul Big Iron hanya dengan tangan kosong.
"Cih!"
"Lemah!" pria bertopeng itu berjalan pergi, dan masuk kedalam kurumunan konsumen.
'Gerakan itu!?' Hansen segera berlari mengejar pria bertopeng itu, namun setelah melangkah cukup jauh, laser merah yang merupakan tanda bahwa dia sedang dibidik oleh seorang sniper tiba tiba saja munghujani seluruh bagian tubuhnya. Saat itu posisinya terkepung oleh rumah susun yang menjulang tinggi dan cukup panjang. Dan sniper yang menargetkannya, tersebar disetiap ruang di rumah susun yang mengapit jalan setapak.
"Jika kau melangkah mendekat sedikit saja, maka hidupmu akan berakhir saat itu juga!" pria bertopeng yang sedang diikuti Hansen nampak sedang menghentikan langkahnya dan mengucapkan kata kata ancaman.
"Tu ... tunggu dulu, Oliver!"
"Ini aku, komandanmu!" Hansen mengangkat tangan dengan panik.
"Aku bukan oliver, dan di dalam kelompokku tak ada yang memiliki nama tersebut. Kau mungkin salah mengenali orang, pak," pria bertopeng itu kembali melanjutkan langkahnya.
"Tu ... tunggu dulu!"
"Jika kau bukan Oliver, maka ... ,"
"..." pria itu berdiam sejenak, lalu membalikkan badannya dan langsung menodongkan senapan barunya. "Apakah kau orang pemerintahan!?" dari nada bicaranya terdengar jelas bahwa dia sedang merasa kesal.
"Jika aku menjawab iya?" tanya Hansen memastikan.
"Kau akan kehilangan nyawamu saat ini juga!" ancam pria itu dengan nada kesal.
"Apa kau tak takut dengan hukum?" tanya Hansen memastikan.
"Tak peduli apapun yang kami lakukan, hukum akan tetap memusuhi kami!" pria bertopeng itu menjawab tanpa ragu.
'Pria ini terlihat begitu serius, jika aku bertindak gegabah maka aku akan berakhir.' Hansen melirik ke laser penanda yang masih menyala mengerumuni tubuhnya. 'Brengsek, sebenarnya berapa jumlah orang orangnya!?'
'Bukankah dia sudah tak berhubungan dengan murid muridnya!?'
'Lantas, siapa orang orang ini!?'
Ada dua jalan yang terpikir di pikiran Hansen saat itu, melangah mundur dan melawan balik dengan menadikan pria dihadapannya sebagai sandera.
"Jika kau mencoba untuk menyerangku, dan berniat menjadikanku sebagai sandera, maka lupakan saja!"
"Karena kelompok kami, tak senaif itu!" pria bertopeng itu menegaskan.
__ADS_1
Tap tap tap, sarung tangan hitam berjatuhan dari jendela balkon di setiap rumah susun. Dan kelompok sniper yang awalnya bersembunyi dibalik jendela menunjukkan diri satu demi satu, sembari memamerkan simbol kalajengking merah di punggung tangan kanan mereka. Dan tentunya, mereka juga masih dalam posisi siap untuk menarik pelatuk senapan mereka.
'Kelompok Scorpion!?' Hansen melangkah mundur sedikit karena tersentak kaget, dan semua orang langsung bergerak membidik Hansen secara bersamaan. Jika Hansen melangkah sedikit lagi saja, maka orang orang itu akan menarik pelatuk secara bersamaan.
'Brengsek!'
'Sepertinya Oliver terlibat dalam kelompok Scorpion!' Hansen meneteskan keringat dingin di sekitar keningnya karena merasa terpojok.
'Melawan penembak jitu sebanyak ini, bukan keahlianku!'
'Aku harus mundur!' Hansen menghela napas dan berkata. "Ah, maaf tuan tuan. Aku benar benar tak bermaksud menyinggung kalian. Tapi jujur saja, aku memang orang pemerintahan dan tak ada niatan untuk berkelahi. Jika kalian tak mengijinkanku mendekat lebih jauh, maka aku akan pergi.
"Kami telah menunjukkan jati diri kami, kau pikir kami akan melepaskanmu begitu saja!?" pria bertopeng itu mengancam Hansen tanpa keraguan.
'Sial!'
'Nampaknya aku salah bicara!' Hansen mulai merasa panik.
"Jika kau mengaku sebagai warga biasa pun, kami akan tetap menahanmu. Semua karena kau sudah mengetahui markas persembunyian kami!'
'Jika kau ingin tetap hidup, maka jadilah tawanan kami dan jangan mencoba melawan.' pria itu kembali menegaskan.
"Sepertinya aku tak punya pilihan lain ya," Hansen mengangkat tangannya dan tetap terdiam.
"Borgol dia!" bentak pria bertopeng itu.
Ceklak! seorang pria kekar tanpa topeng yang merupakan anggota sniper kelompok Scorpion melompat turun dan segera memasang borgol di lengan Hansen.
Setelah diborgol, Hansen di bawa masuk ke kamar terujung rumah susun di sebelah kanan Jalan. Lalu dibawa masuk ke tangga rahasia menuju ruang bawah tanah yang menjadi tempat persembunyian mereka.
Tap tap tap ....
Hansen dikawal oleh puluhan Sniper saat melangkah menuruni tangga.
Di ujung anak tangga terlihat sebuah ruangan yang hampir menyerupai bar dengan meja bundar dan kursi melingkar yang tersebar luas.
Dan disetiap kursi yang hampir tak terhitung jumlahnya itu, terdapat beberapa pria dan wanita dengan lambang Scorpion di punggung tangan mereka.
Semua mata tertuju padanya, bahkan seorang pria kekar yang bertugas menjadi bartender pun mengeluarkan aura permusuhan terhadap Hansen.
'Wajah mereka terlihat asing.'
'Sangat jelas bahwa mereka bukan pensiunan Red Eagle. Tapi kemampuan pria ini ... ," Hansen melirik punggung pria bertopeng yang berjalan mendahuluinya sembari melanjutkan langkah karena terus didorong oleh para sniper di belakangnya.
'Mereka bukan orang orang Oliver, lantas siapa mereka!' Hansen terus melangkah dengan rasa penasaran yang teramat tinggi. Alih alih mencoba kabur, dirinya saat ini hanya tertarik untuk menguak siapa pendiri atau dalang dibalik munculnya kelompok Scorpion.
__ADS_1