Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Bab 29 : Gerakan Scorpion


__ADS_3

Darr!!


Ban mobil yang dikendarai oleh Amelia Wisnu dan pacarnya tiba tiba saja meletus di tengah tengah jalan tol yang cukup sepi. Tol tersebut memiliki dua jalur yang terpisahkan oleh pembatas jalan berupa dinding setinggi setengah meter. Sedangkan disisi terluar jalannya nampak pepohonan yang rimbun.


Tak ada satupun bangunan, maupun orang lewat saat itu, hingga membuat mereka kesulitan mencari bantuan.


"Kayaknya ban mobilku bocor deh sayang," Dion Raharja, pria berambut pirang yang pernah kepergok Hansen saat berduaan dengan Amelia.


"Uhh, kenapa mesti bocor disini sih!?"


"Ada ban serepnya gak?" Amelia Wisnu nampak kesal.


"Gak bawa deh kayaknya," Dion nampak merasa tak enak terhadap pengalaman tak enak hati.


"huft, padahal aku kan sudah janji sama kak Andini buat bawain pakaian baru dan perhiasan pesanannya sekarang. Kalau gini kan jadi telat nganterinnya." Amelia terus mengeluh tanpa henti.


"Yah mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur."


"Aku akan meminta bantuan pekerja bengkel yang .... ," Dion terdiam seketika setelah memperhatikan beberapa orang berpakaian serba hitam dengan tato kalajengking merah di punggung tangan mereka, muncul dari balik pepohonan di tiap sebrang jalan. Dan ditangan setiap orang tergenggam sebuah pistol hitam.


"Sayang?"


"Kenapa tiba tiba banyak orang yang membawa pistol?" Amelia berbisik panik. "Apakah kita akan dirampok?"


"Sayangnya kita tak seberuntung itu," Dion membuka laci mobilnya dan mengeluarkan dua buah pistol dari dalamnya.


'Bagaimana bisa Dion memiliki pistol?' Amelia terfokus terhadap pistol Dion sejenak. "Apakah kau ingin mencoba melawan mereka?!"


"Berhenti bercanda!"


"Jumlah mereka terlalu banyak!"


"Lebih baik kita diam dan berikan saja apa yang mereka mau!" Amelia memegangi lengan Dion dengan panik dan khawatir.


"Kau mungkin tak memahami situasinya, tapi yang mereka inginkan dari kita itu bukanlah uang, melainkan sebuah nyawa. Entah itu aku atau dirimu yang mereka incar, yang pasti pembunuh bayaran seperti mereka tak akan tergiur dengan harta yang kita tawarkan!" Dion menggertakkan giginya dengan kencang.


"Diamlah di dalam, dan lariah saat kuberi tanda," Dion memperingatkan sembari memegang pegangan pintu. "Apapun yang terjadi, teruslah lari dan jangan menengok ke belakang!"


Ceklak!


"Tunggu!"


"Aku tak bisa meninggalkanmu!" Amelia menetesan air matanya.

__ADS_1


"Tenanglah, pacarmu ini bukanlah orang sembarangan," Dion mencoba menghibur Amelia dengan senyum palsunya. Sebelum dia pergi dia mengetik sesuatu di ponselnya, dan berkata, "Aku akan mengirimkan pesan singkat sebagai kodenya. Jadi larilah keluar mobil saat aku mengirimkan pesannya, mengerti?"


"Uhm," Amelia mengangguk, lalu memegang kembali lengan Dion untuk terakhir kalinya. "Aku akan kembali sambil membawa bantuan, sampai saat itu tiba. Tolong bertahanlah!" Amelia nampak begitu tulus.


"Baillah," Dion pergi keluar mobil dengan telad yang sudah bulat.


.....


Darr!!


Dion menembakkan peluru pertama ke kepala anggota Scorpion yang paling dekat dengan posisi mobil mereka.


Ceklek, Darrrr!!


Dion menembak pistol dari anggota Scorpion yang hendak menembakkan pistolnya ke arah mobil dan dirinya. Karena tembakannya yang terlalu akurat dan merepotkan, para anggota Scorpion pun mulai fokus menargetkannya.


Adegan tembak menembak pun terjadi, Dion menghindari semua tembakan dengan begitu lincah, sedangkan Amelia hanya bisa tertunduk di dalam mobil Dion.


Berbeda dengan para scorpion yang terus meleset, Dion menembakkan semua pelurunya dengan tepat sasaran dan berhasil membunuh puluhan orang bersenjatakan pistol hingga dia kehabisan amunisi.


"..." Dion membuang kedua bangkai pistolnya yang sudah tak beramunisi, lalu memasang kuda kuda beladiri. Saat itu hanya tersisa sekitar delapan belas orang, dengan satu orang bersyal merah yang nampak seperti pemimpin penyergapan itu.


"Hentikan!" pria bersyal merah mengangkat lengannya dan meminta seluruh bawahannya menyingkirkan pistol mereka. "Pria ini begitu licin dan sulit ditembak, jadi berhenti menyia nyiakan amunisi kalian!" Pria bersyal merah melemparkan pistolnya san berkata, "Pegang itu untukku!"


"..." Dion merogoh saku celananya untuk mengrim pesan kepada Amelia Wisnu secara diam diam, lalu berkata, "Majulah!"


....


Sementara fokus semua orang teralihkan oleh Dion, Amelia menyelinap pergi dari mobil Dion sembari membawa tas belanjanya.


Tap tap tap, Amelia berlari sekencang yang dia bisa sembari mencoba menghubungi kantor polisi. Sayangnya disaat kritis seperti itu, ponsel Amelia nampak kehilangan sinyal dan sebentar lagi kehabisan baterai.


"Ayolah!"


"Kenapa sinyalnya harus hilang sekarang sih!" Amelia mencoba menelpon berulang kali, namun ponselnya tak terhubung sama sekali karena terkendala oleh sinyal.


Darrr!!! suara pistol terdengar cukup jelas ditelinga Amelia Wisnu. Meskipun itu tak mengenainya ataupun mengarah kepadanya, suara itu tentu saja membuatnya takut setengah mati. Dengan berlari sembari telanjang kaki, Amelia tak menoleh sedikitpun ke arah belakang.


Darrr! suara pistol yang ditembakkan di udara kembali terdengar di telinga Amelia, hatinya mulai goyah hingga menoleh ke belakang meskipun sudah dilarang.


'Pria bersyal merah dan belasan anak buahnya?'


'Mungkinkah Dion sudah ... ?' Amelia meneteskan air matanya tanpa sadar, dan kembali melanjutkan larinya karena takut akan kematian. Jarak mereka saat itu cukup jauh, sehingga para penembak merasa tak yakin akan bisa mengenai Amelia.

__ADS_1


....


"Siapapun tolonglah aku!" Amelia menutup matanya sembari berlari menyusuri jalan dengan perasaan yang cukup hancur.


Darrr!!


Hansen yang berada di sebrang jalan, dan melihat Amelia Wisnu berlari dari kejauhan melontarkan pelurunya dan langsung mengenai kepala korban yang berjarak sekitar seribu meter dari tempatnya berdiri. Lalu melanjutkan bidikannya ke kepala target lain tanpa meleset sedikitpun.


Darr!! Darr! Darr!!


Semua bawahan Scorpion terkena tembakan Hansen tanpa terkecuali. Anehnya, pria ber syal merah malah nampak kegirangan saat mendapati semua bawahannya tiada di tangan Hansen.


Hansen yang tak mau ambil pusing akan ekspresi pria itu, langsung membidik kepalanya dan menarik peatuknya. Namun anehnya, serangannya malah meleset. Dan hal itu tak terjadi hanya sekali, melainkan berulang kali hingga Hansen kehabisan pelurunya.


"Cih," Pria bersyal itu nampak mengeluarkan sebuah granat dari dalam saku celananya, yang membuat Hansen merasa was was karena tak tahu kemana pria itu akan melempar granatnya.


Amelia, mobil pemerintah, atau dirinya. Hansen melirik ke kanan dan ke kiri dan bersiap untuk kemungkinan yang terburuk.


"Hmm," Pria bersyal merah itu tersenyum. Lalu melempar granatnya ke tumpukan mayat bawahannya sendiri.


Duarrrr!!! ledakan yang cukup dahsyat akibat granat yang aktif meluluhlantahkan jalanan sekitar.


Dan tepat setelah asap akibat ledakan granat itu lenyap, pria bersyal itu sudah tak terlihat di posisinya lagi. Dan tiba tiba muncul di belakang punggungnya dan berkata, "Senang melihatmu kembali, tuan X,"


"..." Hansen menengok ke belakang, namun sudah tak ada siapa siapa.


'Keahlian ini?'


'Mungkankah dia?'


"Tidak!"


"Dia tak mungkin melakukan hal yang melanggar hukum!" Hansen mengingat rekan setimnya di kelompok Red Eagle. Pria dengan kemampuan penyamaran dan trik sulap, Zavar Marva!


....


Amelia Wisnu nampak tergeletak tak berdaya, karena terkena gelombang kejut ledakan granat. Dan saat sedikit membuka matanya di detik detik menuju ketidak sadaran, Amelia Wisnu dapat melihat wajah Hansen dengan pistol laras panjang model terbaru di kedua tangannya. Wajahnya nampak buram karena hampir kehilangan kesadaran. 'Kakak ipar?'


'Kenapa dia disini!?'


'Mungkinkah aku sedang bermimpi?' Amelia menutup matanya secara perlahan, lalu kehilangan kesadarannya.


"Maaf karena melibatkanmu dalam kelacauan ini, Amelia," Hansen memang masih kesal terhadap sikap Amelia, namun rasa kesalnya tertutupi oleh perasaan bersalah karena membuatnya terlibat dalam kejadian berbahaya.

__ADS_1


'Nampaknya Zero membocorkan identitasku kepada kelompok Scorpion, dan kelompok itu menganggapku sebagai ancaman sehingga mulai menargetkan orang orangku. Sebelum keadaannya menjadi semakin rumit, aku harus segera membangkitkan kelompok Red Eagle.' Hansen menggendong Amelia menuju mobil pemerintahan, dengan pikiran yang penuh.


__ADS_2