Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 106 : Perseteruan


__ADS_3

"Jadi ... , sesuai persetujuan aku berhasil mempertemukanmu dengan mereka. Bisakah kau pertemukan aku dengan Saviour Eagle sekarang?" Hendra Pratama menatap dengan dingin.


"Awalnya kupikir kalian sudah tiada karena sangat sulit bagiku untuk melacak keperadaan kalian. Siapa sangka ternyata selama ini kalian hidup bersembunyi di gua bawah tanah yang tersembunyi di tengah tengah hutan kalimantan. Apa kalian membangun gua ini sendiri?" tanya Gibran sembari membalas tatapan dingin Hendra Pratama. Saat itu keduanya sedang berhadapan langsung, sementara orang orang yang berada di belakang mereka berada dalam sikap siaga.


Mata orang orang di samping kanan dan kiri belakang presiden nampak memancarkan warna hijau muda. Suasana gua yang agak minim cahaya membuat warna mata mereka menjadi sangat terang dan mencolok.


"Apa maksud semua ini, pak!?" Hendra Pratama bertanya dengan mata biru menyalanya.


"Jangan khawatir, ayah angkat hanya memintaku untuk membawa orang orang di belakangmu!" Gibran menunjukkan mata hijau tuanya.


"Kupikir kau masih benar benar menganggapku sebagai adikmu, sepertinya perintah pria itu masih menjadi priaritasmu ya, kakak!" Hendra Pratama menatap dengan emosi, diikuti oleh sepuluh kawan lamanya yang kini menunjukkan mata hijau tua mereka.


"Ba ... bagaimana bisa kalian masih memiliki mata itu! Bukankah otoritas micro chip kalian sudah kami cabut!" Gibran nampak tersentak kaget. Begitu pula para bawahan yang berada di belakangnya yang juga nampak kehilangan nyali mereka.


"Kebetulan sekali, sudah lama aku tidak melemaskan otot ototku!" Seorang pria tua dengan jenggot, berewok serta rambut putih yang cukup panjang mengepal erat salah satu tangannya. Umurnya mungkin sudah cukup tua, tapi fisiknya tidak. Selain rambut yang sudah memutih, tubuhnya masih sangat kencang dan berotot. Begitu pun rekan rekannya yang lain yang juga tak kalah kuat dan berotot layaknya seorang binaragawan.


Hendra Pratama melesat maju melayangkan tinjunya ke arah Gibran, sementara pria berjenggot putih memutuskan untuk mengurus para bawahannya.


Pertarungan yang berat sebelah nampak dengan cukup jelas kala itu, yang mana menjadikan Gibran menyesali tindakan gegabahnya.


'Kurang dari satu menit, prajurit tingkat 2 milikku diratakan tanpa sisa! Sial! Bagaimana bisa situasinya malah menjadi seperti ini! Terlebih, apa apaan dengan orang ini! Padahal kuyakin belum lama semenjak mata birunya bangkit, bisa bisanya dia mengimbangiku yang sudah menjadi cyborg tingkat 3!' Gibran terus menerus terpental mundur meski berhasil menangkis setiap serangan yang dilayangkan Hendra Pratama kepadanya.

__ADS_1


'Jika dia memutuskan untuk memakai kembali micro chip yang ada di balik lengannya, bisa bisa aku ... !'


"Be ... berhenti! Aku menyerah!" Gibran mengangkat tangan sembari melangkah mundur.


"Ringkus mereka!" Hendra Pratama menatap Gibran dengan tatapan dingin.


empat minggu telah berlalu, tapi Gibran dan bawahannya begitu keras kepala hingga enggan untuk membuka mulut mereka sedikitpun. Beragam macam siksaan telah mereka terima, tapi kegigihan mereka benar benar sulit untuk ditembus.


"Dasar keras kepala! Tidak bisakah kalian menyerah saja!" Pria berjenggot putih menarik kerah salah satu bawahan Gibran yang sedang diikat dalam keadaan berdiri dan tangan yang diikatkan secara terpisah.


"Untuk ke sekian kalinya kutanya padamu!"


"Bisakah kau berikan koordinat Saviour Eagle!?" Hendra Pratama bertanya kembali setelah puas memukuli Gibran.


"Apa maksud ucapanmu!" Hendra Pratama bertanya dengan bingung.


"Tanyakan saja sendiri pada putramu, dia pasti tahu lokasi Saviour Eagle! Yah ... itupun jika kau bisa menghubunginya sih, hahahahaha!" Gibran tertawa tanpa penyesalan. Sementara Hendra Pratama nampak kecewa akan penampilan mantan orang yang pernah menjadi saudara sekaligus teman dekatnya sejak kecil. Dia tak pernah mengira kalau dibalik kehangatan yang Gibran tunjukkan di masa lalu, ternyata tersembunyi rasa iri yang membuatnya ingin melihatnya terjatuh.


"Sejak kapan kau memendam rasa benci sedalam ini terhadapku ... ," tanya Hendra Pratama dengan tangan yang terkepal dan tubuh yang gemetar seakan menahan sesuatu.


"Sejak kau menerima hak untuk memanggilnya Ayah!" Gibran menatap dengan gertakan gigi yang diluapi tatapan amarah.

__ADS_1


"Aku sudah memutuskan untuk pergi dari keluarga itu, dan kau bahkan dijadikan seorang presiden oleh mereka, apakah itu masih belum cukup untuk menghilangkan rasa iri dan bencimu terhadapku" Hendra bertanya kembali dengan tatapan kecewa.


"Menjadi presiden katamu! Hahahah lucu sekali, bukankah presiden seharusnya menjadi seorang pemimpin yang memiliki keputusannya sendiri!? Orang yang menerima perintah dari ayah angkat sepertiku memangnya layak mendapat gelar itu! Jika bukan karena minatnya untuk menarikmu kembali ke sisinya, kau pikir aku akan mendapatkan jabatan ini! Jadinya aku sebagai presiden tidak lain hanya untuk melancarkan niatnya untuk menarikmu kembali ke sisinya! Tak hanya itu, dia bahkan memintaku untuk membawa putramu ke sisi kami tanpa memberinya alat kendali! Bukankah itu tak masuk akal! Dia bahkan memberi chip pengendali di kepalaku! Kenapa dia bisa pilih kasih seperti ini terhadapku! Sementara kau dan anak angkat lain tak ditanamkan chip pengendali di kepala mereka sama sekali!" Gibran terus meluapkan isi pikirannya dengan emosi.


Hendra Pratama mungkin mendengar semuanya dengan cukup jelas, namun dia tak tertarik dengan semua keluhan yang diucapkan oleh Gibran. Satu satunya yang menarik perhatiannya ialah ucapan Gibran mengenai putranya serta chip pengendali.


Dengan reflek Hendra segera mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Hansen, tapi nomor yang dia tuju entah bagaimana tak bisa dihubungi. Membuatnya terpaksa untuk menelepon orang lain yang mungkin mengetahui lokasi Hansen. Dan dia pun tanpa sadar menjatuhkan ponselnya ketika mendengar kabar bahwa putranya sudah lama tak ada kabar, sementara satu satunya orang yang tahu kabar dan cara menghubungi Hansen hanyalah Presiden Gibran yang kini sedang berada tepat di hadapannya.


"Aku memberimu keringanan dalam interogasi karena masih menghargaimu sebagai kakak sekaligus kawan lama, tapi karena kau sudah menyentuh keluargaku ... jangan harap ada belas kasih lagi setelah ini!" Hendra Pratama menatap Gibran dengan penuh emosi.


"Tak peduli seberapa kejam siksaanmu untuk menginterogasi kami, kami tak akan pernah membuka mulut kami!" Gibran menyeringai dengan percaya diri. Diikuti oleh seringaian para bawahanya yang juga siap untuk menerima penyiksaan.


"Bawahanmu mungkin tak akan menjawab meski harus tiada, tapi berbeda ceritanya jika itu kau!"


"Jangan lupa kalau kau juga punya seorang keluarga!" Hendra Pratama menatap Gibran dengan emosi.


"Ka ... kau sialan! Jangan berani sentuh keluargaku! Ingat walau bagaimana pun mereka juga dilindungi oleh negara sama sepertiku!" Gibran mulai nampak panik.


"Jika pemimpin negaranya saja berani kami sekap, untuk apa kami takut dengan ibu negara dan lainnya?" Hendra Pratama membalas dengan dingin.


"Arghh sialan! Baiklah akan kuceritakan apa yang kutahu! Jadi jangan pernah libatkan keluargaku dalam hal ini!" Gibran menghela napas karena sudah tak memiliki pilihan.

__ADS_1


Keduanya pun berbincang dengan cukup serius, sayangnya sebelum semua pertanyaan yang hendak Hendra ungkapkan terjawab, salah seorang kawan lamanya yang berkacamata dan berambut putih panjang dengan rambut yang diikat, mengganggu jalannya interogasi dengan berkata, "Organisasi pemberontak yang menyebut diri mereka sebagai Number sedang mengacau diistana kemerdekaan! Istana kini telah di ambil alih, sementara ibu negara dan putra putrinya ... sudah dijadikan sebagai sandra!"


"Adik ... bisakah kita lanjutkan ini nanti!" Gibran melepaskan diri dari ikatan rantai yang membelenggu kedua tangan serta kakinya. Dia juga menghancurkan sisa sisa rantai yang masih melingkar di pergelangan tangan serta kakinya hanya dengan menggunakan tangan kosong.


__ADS_2