
Hansen mendapat kabar mengenai hilangnya sebagian besar anggota elit Red Eagle, dan segera menghadap menuju markas pusat kemiliteran yang bertempatkan di Cilangkap Jakarta timur. Saat itu dia menaiki mobil pribadi Letnan Daffin yang dia hubungi melalui telepon.
"Percepat mobilnya!"
"Aku harus menemui Jenderal Besar Hanan dan melihat situasinya sendiri!" Hansen nampak begitu terpukul dan tak mempercayai laporan Jenderal Besar Hanan hingga ingin melihat buktinya secara langsung.
"Dimengerti, Pak!" Letnan Daffin melesat maju mengikuti arahan Hansen tanpa banyak bertanya.
Singkat cerita, mereka sampai di tempat Jenderal Hanan beroperasi. Dan Buktipun ditunjukkan secara fisik dan tertulis. Tak hanya sampel darah dan hasil perbandingan, orang yang menjadi sampel pun di hadapkan kepada Hansen sebagai pembuktian. Tangannya nampak terikat dan dalam keadaan duduk.
"Siapa kau, dan apa alasanmu mengambil wajah dan identitas salah seorang mantan anggota Red Eagle!" Hansen mencengkeram leher pria malang itu.
"A ... aku benar benar tak memiliki niat jahat apapun sungguh!"
"Aku saja tak tahu persis identitasku, aku hanya berperilaku mengikuti suara di pikiranku!"
"Aku benar benar tak berbohong tuan!"
"Tolong lepaskan aku!" pria malang itu berteriak memohon ampun, namun Hansen tak menunjukkan sedikitpun belas kasihan di matanya.
"Apakah kau sudah mengintrogasinya dengan benar!" Hansen nampak kesal melihat pria itu hanya memiliki sebuah siksaan kecil, dimana hanya ada luka lecet seakan tak pernah dipukul dengan keras.
"Dia adalah subjek terakhir yang baru kutangkap, sisanya sudah kuintrogasi hingga tewas tepat di hadapan pria itu. Namun baik mereka yang disiksa hingga tiada, maupun yang hanya menyaksikannya itu, tak menunjukkan tanda tanda bahwa dia akan menjawab."
"Makanya aku yakin kalau pikiran mereka telah dicuci, mereka bahkan nampak seperti orang gila karena terus mengatakan bahwa suara dari kepala mereka lah yang menyuruh mereka untuk menjalani kehidupan menggantikan orang yang telah diculik." Jenderal Besar Hanan nampak begitu frustasi dan kesal akan situasi tersebut.
"Sudah berapa subjek yang telah kau tangkap dan interogasi?" Hansen bertanya dengan kesal.
"Sejauh ini sudah mencapai angka ratusan, tepatnya sekitar tiga ratus orang lebih. Dan semuanya terbukti bahwa tidak memiliki sedik jari dan hubungan darah terhadap keluarga kandung para elit Red Eagle yang berhenti di masa lalu." Jenderal besar Hanan nampak begitu kecewa, karena baru menyadari kenyataan buruk itu.
"Sialan!"
"Penculikan ini terjadi sejak aku berhenti dari militer dan tak ada yang mengetahuinya!" Hansen terdengar begitu emosi hingga menghantam dinding ruangan.
Tok tok! seseorang mengetuk pintu lalu berkata, "Marsekal Leo telah menunggu di depan dan mengirimkan tawanannya yang berasal dari Red Eagle sesuai permintaan presiden. Dia menuntut agar anda keluar dan menemuinya untuk menerima mereka!"
"Berapa banyak tawanan yang dia punya!" Hansen bertanya karena mendengar pelapor itu memiliki suara persis seperti suara Letnan Daffin.
__ADS_1
"To ... totalnya sepuluh orang, tapi hanya lima orang yang masih dapat diselamatkan!" Letnan Daffin menjawab di balik pintu ruangan.
'Hanya lima yang masih dapat diselamatkan!?'
'Siksaan apa yang dia lakukan terhadap orang orangku!' Hansen nampak begitu kesal dan segera pergi mendekati pintu.
Jenderal besar Hanan berlari mengikutinya, dan diikuti oleh Letnan Daffin yang khawatir akan terjadinya pertarungan antar Holder. Meskipun Marekal Leo bersalah, jika Hansen sampai menghabisi dia dan orang orangnya, mereka berdua takut militer akan semakin kacau karena mengalami kekurangan orang lagi.
"Apa yang kau lakukan terhadap orang orangku, Marsekal Sialan!" Hansen memukul Marsekal Leo hingga terlontar jauh dan berguling di tanah.
Brukkkk sretttt!!!
"Aku hanya melakukan tugasku dalam memperlakukan penghianat negara, salahmu sendiri yang datang terlambat. Kau kan sangat tahu kalau aku sangat menjunjung tinggi keadilan, dan membenci eksistensi rendahan yang mundur dari militer tanpa alasan yang jelas, sepertimu!" Marsekal Leo bangkit secara perlahan dan menatap tajam mata Hansen.
"Keadilan matamu!"
"Kau hanya melampiaskan kekesalanmu terhadap pencapaian yang pernah diterima orang orangku!" Hansen terus memukuli Marsekal Leo yang nampak tak melawan sedikitpun. Dia terus terdiam meski Hansen memukul dan menendangnya tanpa henti. Semua dia lakukan karena tak ingin memperbesar masalah, hingga harus melakukan pertarungan antar Holder. Semuanya dia lakukan, demi mempertahankan lencana kebal hukumnya. Karena melawan Hansen tanpa jirah rampasannya, sama saja dengan bunuh diri.
"Kenapa kau hanya diam, Sialan!"
"Cepat lawan aku, dan menggonggonglah seperti biasa!" Hansen mencengkram kerah Marsekal Leo dengan penuh kekesalan.
"Aku memang pantas kau pukuli karena sudah melukai orang orangmu!"
"Tapi camkanlah ini!"
"Tanpaku, kau pikir orang orangmu itu akan bertahan hidup!?"
"Bukankah mereka yang tak kuringkus, kini telah digantikan oleh orang orang linglung yang tak tahu akan identitas mereka sendiri!?"
Pernyataan Marsekal Leo, tentu saja mengejutkan semua orang disana. Khususnya Hansen yang mendengarnya dengan begitu jelas karena sedang berdekatan dengan Marsekal Leo saat ini
"Sejak kapan kau mengetahui fakta itu, Marsekal!" Hansen bertanya dengan amarah yang terpendam cukup dalam. Lengannya nampak terkepal dan garis wajah yang melukiskan amarah pun nampak jelas di hadapan mata sang marsekal.
"Se ... sekitar setahun yang lalu," Marsekal Leo menjawab dengan sedikit gemetaran. Dia berusaha sangat keras untuk menutupi rasa takutnya yang mendalam akan kematian.
"Setahun yang lalu katamu!?"
__ADS_1
"Kenapa kau tak melaporkannya ke pihak militer!?" Hansen nampak kesal dan membentak sang Marsekal dengan nada tinggi.
"Itu karena status mereka masihlah seorang penghianat negara!"
"Dan mengawasi atau melaporkan keanehan yang terjadi pada mereka, bukanlah misi dan tanggung jawabku!"
"Jika kau ingin menyalahkan seseorang, maka salahkan saja Jenderal Besar Hanan yang begitu bodoh hingga tak menyadari hal itu!?" Marsekal Leo membentak Hansen dan mencoba membela dirinya.
"Kau benar benar sudah tak tertolong lagi, Marsekal Leo!" Hansen mencekik dan mengangkat tubuh sang Marsekal begitu tinggi dengan oenuh amarah. Sang Marsekal yang merasa bahwa mautnya hampir menghampiri pun, mulai meronta kesakitan dan berusaha keras melepaskan cekikan Hansen.
"Cukup sampai disana, Tuan X!?"
"Kalau kau membunuhnya sekarang, angkatan udara akan kehilangan seorang pemimpin!"
"Dan militer akan semakin kacau karena kehilangan salah satu orang yang bertugas mengambil alih komando!"
"Jika kau begitu marahnya akan perilaku sang Marsekal, kau boleh menargetkanku!"
"Bagaimanapun, pembelaannya tadi, tidaklah salah!"
"Ini semua tak akan terjadi kalau aku menyadarinya sejak setahun yang lalu!" Jenderal Besar Hanan berteriak dengan penuh rasa bersalah.
Brukkk!!! Hansen menjatuhkan sang Marsekal lalu mendecih karena tak menyukai suasana saat itu.
Uhuk uhuk uhuk!!! Marsekal Leo terbatuk batuk hingga hampir kehilangan napasnya. 'Untunglah aku masih hidup!'
'Kupikir aku akan mati!'
"Terimakasih karena mau membiarkan Marsekal Leo hidup, saya benar benar menyesal atas apa yang terjadi kepada orang orangmu!"
"Jika kau masih ingin melampiaskan emosimu, maka siksa saja aku sepuasmu!" Jenderal Besar Hanan membungkuk dengan penuh penyesalan. Giginya saling bertemu dan bertabrakan satu sama lain. Suara decihan dan tanan yang terkepalpun turut mengikuti emosi sang Jenderal Besar. Dia sangat kecewa dan marah akan dirinya sendiri yang sudah gagal melakukan tugasnya. Dan Hansen paham betul perasaan kawan lamanya itu.
"Berhenti menyalahkan dirimu!"
"Aku tak ingin melampiaskan amarahku padamu!"
"Lagipula, jika ada orang yang harus disalahkan disini maka akulah orangnya!"
__ADS_1
"Semua hal ini tak akan terjadi kalau aku terlalu termakan oleh emosi di masa lalu. Jika aku tak berhenti, maka semua ini tak akan terjadi. Tidak akan!" Hansen mengepal erat tangannya yang diselimuti darah dari luka sang Marsekal dengan penuh emosi. Bersamaan dengan amarah yang tak terlampiaskan itu, Hansen pun berteriak sangat kencang sembari menyesali situasi tersebut.
"Huaaaaaaaaa!"