Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 91 : Emosi yang meluap


__ADS_3

Andini telah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Hatinya begitu hancur karena penyebab dari semua kejadian buruk itu, ialah pria yang dia cintai selama ini.


Hancur sudah perasaan Andini yang selama ini terjaga untuk Herry. Digantikan oleh trauma mendalam yang terus menghantui pikirannya.


Sejak tersadar di dalam Shelter, Andini terus teringat akan kejadian tak menyenangkan tersebut. Bahkan kerap kali berhalusinasi setiap kali seorang pria termasuk Hansen terlalu dekat dengannya.


Satu satunya pria yang sanggup dia peluk saat ini, hanyalah Mr W yang turut hadir di dalam Shelter karena Hansen membawanya ke tempat itu.


"Sudahlah, Ayah sudah di sini .... "


" Tak akan ada orang yang berani menyentuhmu lagi, tidak akan!" Mr W memeluk Andini dengan mata yang menyala karena dipenuhi emosi.


'Herry Wijaya!'


'Akan ku musnahkan bocah tengik itu!'


'Meskipun ayahmu melindungimu, aku tak peduli lagi!'


'Dendam ini tak akan pernah padam, sebelumku melihat mayatmu!' Mr W mengerutkan dahi dan menggertakkan giginya. Air mata kekesalan pun turut menyertai luapan emosinya.


Hansen menunggu di luar kamar Andini, karena Andini terus berhalusinasi saat melihat wajahnya. Perlu waktu baginya untuk pulih, dan Hansen pun paham akan hal tersebut.


Tap tap tap ...


Terdengar suara langkah kaki yang cukup kencang. Suaranya semakin dekat, hingga menyita perhatian Hansen yang sempat termenung di depan pintu kamar Andini.


Saat melirik ke kanan, Hansen melihat Jenderal Fahar berlari dengan begitu panik. Keringat dingin mengalir deras di sekitar wajahnya, seperti seorang penakut yang baru saja melihat hantu.


"Hosh hosh hosh!"


Jenderal Fahar menghela napas berkali kali saat sampai di hadapan Hansen. Membangkitkan rasa penasaran yang sempat tertahan di dalam benak Hansen.


"Apa yang membuatmu sepanik ini?"

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu yang buruk?"


Hansen mengerutkan keningnya. Sementara Jenderal Fahar tak berani menatap wajahnya. Tubuhnya gemetar seperti bawahan yang takut akan dimarahi majikannya.


Sangat jarang bagi Jenderal Fahar menunjukkan sisinya yang saat ini. Seingat Hansen sang jenderal hanya berperilaku demikian ketika ada masalah yang berkaitan dengan tugas khususnya. Sedangkan tugas khusus jenderal Fahar adalah melindungi seseorang.


Terakhir kali, Jenderal Fahar menjadi begitu panik saat insiden serangan Number terhadap ibu Hansen. Insiden buatan yang tak pernah diketahui oleh orang lain, kecuali korban dan anggota Number sendiri.


"Katakan padaku, Jenderal!"


"Apakah kau, melalaikan tugasmu lagi?" Hansen bertanya dengan dingin. Hansen mencengkeram kerah Jenderal Fahar karena enggan untuk menjawab pertanyaannya sedari tadi.


"Jawab aku, Jenderal!"


"Apakah orang yang kuminta untuk kau lindungi, ada yang terluka lagi!"


Jenderal Fahar dipaksa untuk menatap mata Hansen. Menggetarkan jantungnya yang sejak tadi sudah hampir copot karena perasaan bersalah.


"A ... ayah anda .... "


"Katakan apa yang terjadi dengan ayahku!"


Jenderal Fahar menarik dan menghembuskan napas dengan panjang. Lalu menelan ludah dengan tubuh yang gemetar. Suaranya pun masih terbata bata karena takut akan amarah Hansen.


"A ... Ayah anda menghilang entah kemana!"


"Kami kehilangan jejaknya, tepat setelah kami sampai ke dalam Shelter!"


Hansen tersentak hingga tanpa sadar menjatuhkan tubuh Jenderal Fahar. Pikirannya bercampur aduk saat ini. Dia bingung dan khawatir tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan dimana Ayahnya saat ini.


Beruntungnya, Mr W yang baru saja keluar dari kamar Andini, mendengar percakapan mereka dan berhasil menenangkan keduanya.


"Hendra baik baik saja, dia pergi dalam pengawasanku. Kalian tak perlu mengkhawatirkan keamanannya!"

__ADS_1


Hansen segera menoleh dan mulai bernapas lega. Tapi perasaan bingung tetap menghantui pikirannya. Bagaimanapun bukankah berdiam di dalam Shelter adalah keputusan teraman saat ini?


"Dia memiliki urusannya sendiri. Anak anak tak boleh ikut campur dalam urusan orang dewasa."


"Dia akan baik baik saja, benar benar baik baik saja!"


Terdapat nada amarah dalam setiap kata kata Mr W. Dia masih belum bisa melupakan amarahnya terhadap Herry, dan Hansen pun tahu betul akan maksud ucapan mertuanya. Terlebih saat melihat Mr W mengekspos matanya tanpa perasaan ragu sedikitpun.


'Matanya yang menyala, menandakan emosinya sedang tidak stabil.'


"Jangan lupa untuk memakai kacamatamu, Ayah Mertua." Hansen memperingatkan.


"Terimakasih karena telah mengingatkanku!"


Mr W mengenakan kembali kacamata yang dia gantung di saku seragamnya. Lalu berjalan pergi sembari melepas kancing seragamnya satu demi satu. Membuatnya terkibar saat berjalan menuju pintu ke luar.


"Kemana kau ingin pergi?" Hansen bertanya sembari menatap punggung sang Marsekal besar.


"Memberikan bayaran yang layak, untuk orang yang telah mengganggu putriku!" Mr W melangkah pergi tanpa ragu.


"Hidup Weapon Eagle dan bawahannya, ada di tangan musuh. Jika Ayah mengamuk sekarang, aku takut ... ," Hansen mencoba membujuk Mr W. Tapi tak berhasil karena amarahnya sudah di ujung tanduk.


"Lantas?"


"Apakah kau pikir aku peduli?"


Mr W menghentikan langkahnya sejenak, lalu berkata,


"Nampaknya kau belum begitu mengenalku ya, menantu!"


"Di dunia ini, hanya ada satu hal yang paling tak bisa kumaafkan ... dan hal itu ialah, mengganggu kedamaian keluargaku!"


"Mulai saat ini juga, Angkatan Laut akan menyatakan perang terhadap Angkatan Udara!"

__ADS_1


Mr W melanjutkan langkahnya tanpa ragu. Meninggalkan Hansen yang bingung harus memilih yang mana. Di satu sisi orang orangnya, di sisi lain mertuanya sendiri.


__ADS_2