Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 68 : Kemalangan Zaskia


__ADS_3

Zaskia mengunjungi Hansen karena berniat untuk menyampaikan sesuatu yang telah menimpanya. Sayangnya saat dia berada tepat di balik pintu dimana Hansen dirawat, dia mendengar fakta buruk lain mengenai kisah hidupnya. Kebenaran dibalik menghilangnya semua tamu acara pemakaman ayahnya, dan kebenaran mengenai cara kematian kakek dan neneknya yang dikatakan sama persis seperti yang lainnya. Tewas di dalam mobil yang meledak karena ditabrak mobil bahan bakar, yang mana juga merupakan alasan untuk menutupi kematian ibunya.


'Mungkinkah dalang sesungguhnya dari kematian kakek dan nenek masih hidup saat ini?' pikirnya sembari menahan sakit kepala yang teramat sakit karena dihujani oleh amarah dan ingatan ingatan buruk mengenai nasib ibu kandungnya. Dia terpikir kesana karena mengingat bahwa kebenaran dibalik kematian ibunya ditutupi oleh seseorang yang sama. Awalnya dia hanya berpikir bahwa itu adalah ulah kakeknya yang menjabat sebagai pemegang perusahaan High Wijaya. Namun setelah mendengar perbincangan Hansen dan jenderal besar Hanan, Zaskia mulai berspekulasi bahwa pembunuh kakek nenek dari keluarga Arista, serta pembungkam mulut publik mengenai fakta sesungguhnya dibalik kematian ibunya, kemungkinan besar berhubungan dengan perusahaan Wijaya Enterprize.


'Adi Wijaya!'


'Pemilik utama dari seluruh perusaan pusat Wijaya Group!' Zaskia nampak kesal dan tak berdaya, semua karena musuhnya itu terkenal akan otoritas mutlaknya, terlebih dengan keadaanya yang sekarang, sangatlah mustahil untuk membalaskan dendam. Dengan diselimuti oleh amarah, serta begitu banyak pikiran mengenai masa depan anaknya, Zaskia perlahan masuk lalu berkata, "Kau tak perlu menghawatirkan itu Hansen!"


Singkat cerita keduanya mulai berbagi beban pikiran hingga berujung ke sebuah pertanyaan dimana Zaskia lah yang sedang dipojokkan. Dia ditekan untuk mengungkapkan maksud dibalik kata katanya, yang mana menjelaskan bahwa dia ingin menitipkan anaknya dan terkesan akan pergi setelah itu.


"Sebenarnya aku ... ," Zaskia nampak ragu di awal, tubuhnya gemetar, wajahnya diselimuti kekecewaan dan amarah, namun semua perasaan sia sia itu perlahan melemah saat memperhatikan perutnya.


"Kau kenapa?" tanya Hansen khawatir.


Beberapa tahun yang lalu, jauh disaat Zaskia masih teramat kecil, tepatnya saat dia berusia lima tahun. Zaskia kecil divonis menderita tumor otak karena terlalu sering menderita trauma yang menyerang mentalnya. Tentunya saat itu Zaskia tak memahami apa yang menimpanya, dia hanya bertanya tanya kepada ayahnya yang nampak sedang mengancam seorang dokter yang dia bawa agar bungkam dan tidak menyebarkan mengenai keberadaan Zaskia ataupun kondisi saat itu. Pria keji itu memang hobi menyiksa Zaskia, tapi tak pernah berpikir untuk membunuhnya ataupun berniat untuk mengurusnya dengan benar. Dia hanya memberinya makan dan menyiksanya apabila teringat wajah istrinya. Karena Zaskia kecil terlihat begitu mirip ibunya, tentu saja dia sering jadi sasaran tinju setiap kali menjelang waktu makan. Karena keberadaan Zaskia merupakan rahasia besar baginya, dia juga tak pernah mengerjakan pelayan untuk mengurusi Zaskia, dan melarang keras para pelayan mendekati ruang disekitarnya, agar tak ada satupun pelayan yang tahu fakta bahwa Zaskia kecil masih hidup.

__ADS_1


"Apa itu tumor?" tanya Zaskia gemetaran.


"Itu hanya penyakit biasa seperti demam, makan ini saja agar kamu bisa sembuh," Ayah Zaskia membodohi Zaskia kecil dengan memberikannya permen enak yang tak pernah Zaskia sentuh. Dan membuatnya berpikir bahwa tumor otak hanyalah hal sepele dan akan menghilang dengan sendirinya. Dia juga membawa dokter lain beberapa hari setelahnya untuk membuat diagnosa palsu dimana Zaskia dianggap sembuh dan tak menderita apapun. Dan ingatan tentang tumor itu kian memudar karena Zaskia tak pernah melihat dunia luar hingga berumur belasan tahun. Hanya dikurung di kamar kecil, sempit nan gelap sembari sesekali menerima makanan sisa dan siksaan ayahnya.


Zaskia menarik napas dalam dalam, kemudian melanjutkan, "Sebenarnya aku sudah lama pernah divonis menderita tumor otak, dan dibodohi oleh ayahku kalau aku telah sembuh. Aku juga sudah melupakan fakta itu karena saat itu aku masih sangatlah kecil,"


"Lalu alasan mengapa kau ingin menitipkan anak kita adalah?" tanya Hansen dengan perasaan terpukul, meski tak ada rasa cinta terhadap Zaskia, dia tak bisa mengabaikannya begitu saja, karena bagaimana pun juga dia merupakan ibu dari calon anaknya.


"Baru saja aku telah didiagnosa oleh dokter, aku dinyatakan menderita kanker otak Grade empat, dan memiliki harapan hidup paling lama dua tahun lagi. Aku juga divonis akan tiada setahun lagi, jika tak bisa mengurangi trauma mentalku," Zaskia gemetar dalam keadaan tertunduk, air mata yang selama ini dia pikir telah mengering, perlahan membasahi wajahnya lagi. Perasaan yang lama dia tahan bocor begitu saja karena berpikir bahwa tak ada gunanya bagi dia untuk menyembunyikannya lagi.


"Aku tahu ini permintaan yang egois, tapi sejak mengetahui bahwa aku tak mungkin lagi mengurusnya hingga dewasa seorang diri ... ," Zaskia pernah terpikirkan untuk pergi tanpa kabar sembari membawa anaknya untuk menikmati hidup tenang, namun berubah pikiran karena diagnosa yang baru saja dia terima. Meski tak ingin merepotkan Hansen, Zaskia tak bisa mengugurkan kandungannya. Semua dia lakukan karena naluri sebagai wanita, dan ego untuk meneruskan garis keturunannya. Dia berpikir, setidaknya melalui anak itu, ada bagian dari darahnya yang akan terus mengalir dan bertahan hidup di dunia ini.


"Apa benar sudah tak bisa ditolong lagi?" tanya Hansen dengan penuh simpati.


"..." Zaskia menggelengkan kepalanya karena memang tak ada jawaban lain. Dia sudah tak memiliki harapan hidup lebih dari itu. Hansen memang menyayangkan hal itu, namun dia memutuskan untuk menunjukkan sikap tegar agar Zaskia tak semakin merasa terbebani. "Jangan khawatir, aku berjanji akan merawat anak itu hingga dewasa, bagaimanapun juga dia tetaplah anakku,"

__ADS_1


"Terima kasih ... ," Zaskia pingsan karena menahan begitu banyak beban mental sedari tadi, beruntungnya jenderal besar Hanan berada di dekatnya. Sembari reflek menahan tubuh Zaskia, Jenderal Besar Hanan pun berkata, "Kau baik baik saja, Nona!?"


"..." Hansen nampak khawatir namun perlahan lega setelah melihat jenderal Besar Hanan berhasil menangkap tubuh Zaskia. Dan merasa terpukul saat dalam pingsannya Zaskia bergumam, "Apa aku memang tak diijinkan untuk bahagia?" air mata mengalir deras di matanya, menyiratkan betapa tersiksanya hidup Zaskia selama ini. Gadis yang terlihat tangguh diluar, bukan berarti tak sedang hancur di dalamnya. Hansen menyadari hal itu, ketika melihat Zaskia yang sekarang.


"Jadi ini alasan ayah mertua mengatakan bahwa Zaskia adalah gadis yang malang," Hansen teringat kata kata Mr W yang juga memintanya untuk menjaga gadis malang itu dan mempertimbangkan kebahagiaannya. Kini dia memahami alasan mengapa Mr W bersi keras menahan jalannya persidangan dan membiarkan hubungan mereka tetap berjalan. Baik Zaskia maupun Andini, keduanya tak bisa dia abaikan.


"Tuan X?" tanya jenderal Besar Hanan kebingungan. Dia sudah bertanya berulang kali agar diijinkan pergi membawa Zaskia ke ruang perawatan di sebelah, namun tak Hansen hiraukan karena sejenak tenggelam dalam lamunannya.


"Ah ... , maaf aku melamun tadi,"


"Kau boleh pergi dan minta dokter agar mengurusnya semaksimal mungkin!" Hansen menanggapi dengan sedikit tersentak.


"Kalau begitu, aku permisi." Jenderal Besar Hanan perlahan pergi meninggalkan ruangan.


Hansen yang sudah dipenuhi banyak pikiran, kini mulai merenung dan berkata, "Sepertinya aku harus menjadi buaya yang memperhatikan dua orang wanita," Hansen berniat untuk terus memperhatikan Andini dari kejauhan, sementara Zaskia yang memiliki harapan hidup sebentar akan dia buat bahagia meskipun tak bisa mendapatkan cintanya.

__ADS_1


__ADS_2