Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion


__ADS_3

Hansen digiring menuju ke ruang gelap dimana pemimpin sekaligus pendiri Scorpion berada.


Dia dihadapkan ke seorang pria bermbut coklat yang nampak sedang duduk membelakangi meja kerjanya. Dia bersandar di kursi empuknya dengan begitu santai.


"Ngapain kalian kemari makhluk hina!"


"Keluar dari sini dan jangan ganggu waktu santaiku!" bentak pria itu tanpa mempedulikan orang orangnya.


"Ma ... maaf tuanku ... , tapi kami menemukan seorang penguntit dan nampaknya dia berasal dari pihak pemerintah," pria bertopeng yang memimpin perjalanan, nampak menunduk meminta ampunan.


"Tembak saja kepalanya!"


"Dan siksa dulu jika kalian mau!"


"Anj**ing pemerintah tak layak dikasihani!"


"Mereka hanya bisa menggonggong dan menggigit saat diberi makanan!" pria itu membentak dengan kasar.


"Kami tahu itu, tapi dia menyebutkan nama tuan Old Eagle, dan bahkan mengetahui nama aslinya."


"Bukankah anda pernah bilang kalau ... " Pendiri kelompok Scorpion bangkit dari kursinya dan segera mematikan lilin kecil yang menjadi satu satunya penerang ruangan.


Lalu melesat maju memukul Hansen di dalam kegelapan ruangan.


Wooshh


Hansen menghindari semua pukulannya, dan membalas menyerang hanya dengan mengandalkan serangan kaki. Meski begitu, keduanya menyarang dengan begitu seimbang hingga bisa melukai lawannya secara bergantian.


"Hosh hosh hosh!" Hansen dan pria itu bernapas dengan terengah engah. Sedangkan para sniper dan pria bertopeng hanya bisa terdiam memblok anak tangga agar mencegah Hansen menerobos pergi.


Sambil menyalakan senter ponsel dari dalam saku celananya, pria bertopeng itu mencari posisi Hansen dan tuannya, dan berkata, "Apakah anda baik baik saja, tuanku?"


Senter ponsel pria bertopeng, menyinari tubuh Hansen dan pria misterius yang menjadi pemimpin kelompok Scorpion.


Sembari menatap mata lawannya, dia pun berkata, "Hacking Eagle Theo!" Hansen tertegun karena tak menyangka bahwa Theo Pramudyalah dalang dibalik berdirinya kelompok scorpion.


"Nampaknya kau masih belum kehilangan kemampuanmu ya, komandan!" Theo Pramudya tersenyum tipis.


"..." semua orang yang merupakan anggota Scorpion nampak tertegun saat mendengar pemimpin mereka tersenyum tulus.


"Keluarlah!" bentak Theo sembari melirik bawahannya.


"Ta .. tapi tuanku?" pria bertopeng nampak enggan meninggalkan ruangan.


"Dia adalah seorang kawan lama, jangan khawatir!" Theo menatap tajam pria bertopeng itu. Dan berhasil mengintimidasi semua bawahannya hingga pergi tanpa mengucapkan apapun.


Setelah semua orang keluar, Theo segera membuka borgol Hansen, lalu berjalan menuju saklar lampu dan menekannya hingga menerangi ruangan tersebut.


"Jadi tempat ini memiliki lampu?"

__ADS_1


"Kupikir kau hanya menggunakan lilin sebagai penerangan." Hansen terlihat heran.


"Tentu saja kami memiliki lampu!"


"Bukankah kau sudah melihat salah satunya di bar kami!?" Theo menjawab dengan kasar. Wajahnya nampak kesal dan terkesan galak.


"Ah .... , ngomong ngomong dimana kacamatamu?" tanya Hansen sembari menghela napas.


"Maksudmu kacamata yang kau hadiahkan kadaku!?"


"Aku sudah membuangnya bersama dengan nama Hacking Eagleku!" Theo menjawab tanpa ragu.


"Awalnya aku memang tak nyaman bersikap kasar, tapi lama lama menyenangkan juga. Apalagi kalau melihat orang sedang disiksa, rasanya mantep banget tahu!" senyum seorang psikopat terlukis jelas di wajah Theo.


'Sepertinya anak ini sudah melenceng,' Hansen nampak tak percaya akan apa yang dia lihat.


"Ngomong ngomong apa tujuanmu mengikuti bawahanku?"


"Apakah kau sudah kembali ke militer lagi?" tanya Theo dengan wajah galaknya.


Sangat canggung bagi Hansen melihat Theo bersikap kasar kepadanya, padahal dulu dia tak pernah bersikap kasar sama sekali terhadapnya, bahkan saat melepas kacamata sekalipun.


"Ya!" jawab Hansen tanpa ragu.


"Apa yang membuatmu kembali?"


"Apakah karena Zero yang masih hidup?" tanya Theo dengan serius.


"Apa!?" Hansen tersentak dengan ucapan Theo.


"Menyerahlah untuk melawan Zero!"


"Kau yang sekarang, tak akan mampu berurusan dengannya."


"Sedangkan para petinggi kemungkinan besar sudah muak dengan hukum di negara ini!"


"Karena itulah aku membangun kelompok baru yang menentang otoritas pemerintah yang membebaskan orang orang tertentu dari jeratan hukum!"


"Tak peduli sekeji dan seburuk apapun penjahat yang memiliki koneksi dengan orang penting, mereka dibebaskan oleh hukum tanpa menderita kerugian apapun!"


"Bukankah itu tidak adil!" Theo nampak begitu kesal hingga menggertakkan giginya sembari memukul meja kerjanya hingga hancur.


"Mungkinkah kau sedang membahas soal lencana kebal hukum?"


"Jangan bilang kalau yang memilikinya bukan cuma satu!" Hansen bertanya dengan kaget.


"Kau terlalu lama tutup mata terhadap politik komandan!"


"Sudah tiga tahun sejak lencana itu diluncurkan, kau pikir hanya dirimu yang dihadiahkan lencana itu!?" Theo bertanya dengan sinis.

__ADS_1


"Dari mana kau tahu kalau aku memilikinya?"


"Bukankah tadi kau bahkan belum yakin kalau aku sudah kembali ke pihak militer?" Hansen bertanya dengan heran.


"Apa kau sudah melupakan keahlianku, komandan!?" Theo menjentikkan jarinya, dan kemudian sekumpulan drone sebesar kelereng kecil, nampak beterbangan dari atas anak tangga.


"Mataku ada dimana mana loh," Theo tersenyum bangga.


'Seperti yang diharapkan Theo, kejeniusannya terhadap bidang teknologi tak berkurang sedikitpun. Bahkan terus berkembang hingga saat ini,' Hansen tertegun takjub akan pencapaian Theo dan semakin menginginkan dirinya agar mau bekerja sama seperti dimasa lalu. Namun sayangnya, Theo menghancurkan harapan Hansen dengan berkata, "Aku yang sekarang sudah terikat dengan kelompok Scorpion yang kulatih dari sekumpulan gelandangan dan yatim piatu."


"Tidak mungkin bagiku meninggalkan mereka dan kembali ke sisimu. Lagi pula aku sudah terlanjur mengotori tanganku dengan membunuh banyak orang tak bersalah. Dan beberapa diantaranya bahkan berasal dari pihak militer."


....


"Kenapa kau membunuh mereka!?" Hansen bertanya dengan kesal.


"Karena mereka melindungi orang yang salah, dan mengacaukan operasi kami!" Theo menjawab dengan kesal.


"Lalu, apa tujuan kelompokmu mengincar orang dari keluarga Wisnu!" bentak Hansen dengan penuh emosi.


"Keluarga Wisnu?"


"Maksudmu keluarga besar yang itu?"


"Untuk apa aku menargetkan orang jujur seperti mereka!?"


"Lagipula aku tak ingin berurusan dengan rubah licik itu!" Theo membantah tuduhan Hansen dan berekspresi seperti orang yang tak bersalah.


"Jika bukan dari kelompokmu, lalu siapa mereka?"


"Jelas jelas mereka memiliki simbol kalajengking di tangan kanan sama seperti kelompokmu!" Hansen menaikkan nada bicaranya.


"Kau pikir simbol ini tak bisa ditiru?" jawaban Theo mengagetkan Hansen dan membuatnya tertegun sejenak.


'Ditiru?'


'Begitu ya!?'


'Jadi permasalahannya bukan tujuan para kelompok Scorpion yang berubah!'


'Tapi ada sekelompok peniru yang ingin berbuat jahat dan meminjam nama Scorpion untuk menakut nakuti targetnya.' Hansen terdiam dalam lamunannya sejenak, lalu berkata, "Apakah kau tahu siapa mereka?"


"Entahlah, para bajingan busuk itu terlalu licin dan tak pernah meninggalkan jejak!" Theo menjawab dengan kesal.


"Bisakah kita bekerja sama?" Hansen bertanya kembali untuk memastikan.


"Jika kau berbicara soal kembali ke militer, maka jawabanku adalah tidak!"


"Tapi jika maksudmu adalah bekerja sama layaknya aliansi, mungkin aku bisa menerimanya," Theo menjawab tanpa ragu.

__ADS_1


"Kalau begitu, mulai sekarang mohon atas kerja samanya, kawan lama," Hansen menyodorkan tangannya.


"Semoga kau berhasil membujuk yang lainnya, komandan!" Theo menjabat tangan Hansen sembari tersenyum lebar untuk pertama kalinya sejak empat tahun lalu.


__ADS_2