
hari demi hari kini telah terlewati, Dion dan Cindy kini telah dipindahkan ke pusat penyembuhan rahasia milik pasukan khusus. Demi keamanan bersama, orang orang yang mungkin akan menjadi target kelemahan Hansen pun diperintahkan untuk diam di dalam ruang bawah tanah markas rahasia militer pasukan khusus. Ruang bawah tanah itu berjumlah sepuluh lantai menuju bawah tanah, dan perlu akses khusus agar dapat melewati tiap lantainya. Ruang bawah tanah itu biasa disebut dengan sebutan Shelter.
Langit langit yang menjulang tinggi, suhu ruangan yang dapat diatur, serta fasilitas mewah, pelayan yang dapat dipanggil kapan saja, dan makanan enak yang tercukupi. Mungkin hal tersebut menjadi impian bagi sebagian besar orang. Namun kemewahan itu, tidak dapat menahan Andini. Hingga sering tertangkap basah mencoba untuk melarikan diri.
"Tolong biarkan aku keluar dari tempat aneh ini!"
"Kembalikan ponselku atau bawa Hansen kemari!"
"Katakan padanya bahwa aku tak memerlukan perlindungannya!" Andini memberontak dengan tubuh yang terpanggul seorang kepala pelayan.
Kepala pelayan berbadan kekar dengan jas hitam dan dasi kupu kupu, menyeringai sembari membawa paksa Andini melewati koridor yang panjang, hingga berpapasan dengan Zaskia.
"Tertangkap lagi?"
"Tidak bisakah anda pasrah saja seperti yang lain hingga waktu yang ditentukan?" Zaskia menghela napas saat bertatapan dengan Andini.
"Urusi saja urusanmu sendiri!" Andini mendecih sembari membuang wajahnya. Sementara kepala pelayan terus membawa paksa Andini hingga berpapasan dengan dua pelayan wanita yang bertugas menjaga dan mengawasi Andini.
"Bisakah kalian awasi dia dengan benar!?"
"Waktuku terlalu berharga untuk mengurus seorang nona yang kabur terus menerus!?" kepala pelayan itu menurunkan Andini sembari menatap tajam para pelayan yang nampak menunduk.
"Ka ... kami mengerti," kedua pelayan itu membungkuk dan membawa Andini kembali ke kamarnya.
"Tolong kembali ke kamar anda dan jangan keluar sebelum diperbolehkan. Ini adalah hukuman karena mencoba kabur dengan melewati area terlarang." salah seorang pelayan tersenyum palsu sembari menahan emosi.
__ADS_1
Sementara itu, di kamar lain terdapat Amelia yang sedang merawat Dion dengan penuh perhatian. Luka luarnya nampak membaik, namun nyatanya terdapat luka dalam yang cukup serius seperti halnya beberapa tulang rusuk yang retak, serta kedua tulang kaki yang patah hingga tak dapat sembuh dalam waktu dekat. Meski begitu, Amelia nampak tegar dan tak berniat pergi seperti halnya Andini.
"Maaf karena melibatkanmu dalam kekacauan ini," Dion nampak murung.
"Ini bukan salahmu kok, jadi berhenti menyalahkan dirimu ya, Dion," Amelia mencoba tersenyum sembari menutupi kesedihannya.
Di sisi lain, Cindy juga dirawat diruangan yang berbeda dengan Dion. Tentunya ayah Hansen pun berjaga di ruangan tersebut bersamaan dengan tenaga medis terpercaya.
Meski mendapatkan perawatan yang terbaik, semua orang sadar betul bahwa saat ini, negara sedang melindungi mereka dari musuh Hansen yang juga merupakan musuh besar negara.
'Pasukan khusus ya ... ?'
'Kenapa kau menyembunyikan hal ini begitu lama dariku, putraku,' Hendra Pratama nampak lesu sembari menggengam lengan putrinya.
Sementara itu di sebuah tanah lapang dimana biasa prajurit khusus berlatih secara rahasia, Hansen nampak hendak bersiap melawan jenderal besar Hanan untuk mengasah kemampuan mereka.
Sembari ditonton oleh puluhan prajurit, keduanya bertukar gerakan dengan menyerang dan bertahan secara bergantian. Layaknya sebuah pertandingan jalanan, keduanya menyerang dan bertahan tanpa aturan yang mengekang. Sembari bertukar serangan, keduanya memakai pemberat menyerupai gelang di tangan dan kaki mereka.
Dimulai dari bertukar pedang, hingga bertukar tinju, keduanya nampak seimbang jika dilihat dari kejauhan.
Tengkuk, pelipis, dagu, dan bagian vital lainnya mereka incar dan tangkis secara bergantian.
"Nampaknya kau berkembang cukup banyak, jenderal," Hansen meledek sembari melancarkan serangan ke tiap titik vital.
"Systema milikmu juga terasa semakin kuat, sialan!" Jenderal besar Hanan bertahan dan menyerang dengan keringat yang bercucuran sedikit demi sedikit. Mereka nampak imbang, karena Jenderal besar Hanan serius sedari awal.
__ADS_1
"Begaimana kalau kita tambah sedikit lagi kekuatannya," Hansen tersenyum sinis sembari mengangkat lima buah jarinya.
"Ja ... jangan bercanda, kalau kau naikkan hingga lima kali lipat bisa bisa aku ... ," Jenderal besar Hanan nampak kewalahan.
"Lakukan!" tegas Hansen.
Salah seorang prajurit yang dekat dengan tombol berbentuk anak panah yang mengarah ke langit, menekan tombol tersebut untuk menaikkan gaya gravitasi di lantai tanah lapang tempat latihan.
Jenderal besar Hanan yang awalnya cukup kesulitan pun, seketika ambruk menghantam lantai latihan.
Bruakk!!
"Jadi kau belum menyentuh angka sepuluh?" Hansen nampak kecewa.
"Apa kau gila!"
"Bagaimana bisa aku bergerak dengan beban total setengah ton, dibawah gaya gravitasi yang diperbesar sepuluh kali lipat!"
"Kau pikir aku monster sepertimu!" Jenderal besar Hanan tiarap dan nampak tertekan.
"Begitu ya?"
"Padahal aku sudah lama tak berlatih, bagaimana bisa kau masih jauh lebih lemah dari pada diriku!?"
"Sepertinya semua pasukan khusus harus mengikuti latihan siksaan lagi ya, terutama para petinggi sepertimu," Hansen tersenyum jahat, sementara jenderal Hanan dan yang lainnya nampak tertekan karena ucapan tersebut.
__ADS_1