
Pukulan dan tendangan Marsekal Leo dapat Hansen hindari tanpa kesulitan. Sayangnya karena kondisi yang belum cukup stabil, mulut Hansen tiba tiba saja memuntahkan darah yang cukup banyak. Tenaganya pun perlahan melemah entah bagaimana, menandakan bahwa luka dalam yang Mr W tinggalkan belum sembuh sepenuhnya.
"Tuan X!" Presiden, Jenderal besar Hanan beserta bawahannya bangkit dari kursi secara serempak. Begitupun Mr W dan semua yang datang untuk melihat pertarungan Hansen, yang memanggil Hansen secara serempak dengan panggilan mereka masing masing.
"Ini semua karena ulahmu pak tua!"
"Tanpa jirah merepotkan itu saja, komandan tak mungkin bisa melewati ini!" Theo melirik tajam ke arah Mr dengan kesal. Andini yang awalnya tak peduli perlahan memperhatikan karena sadar bahwa itu juga akibat ulahnya yang mengadu terhadap Mr W. Rasa bersalahnya menjadi semakin kuat, saat Marsekal Leo mulai memukul habis Hansen dengan tangan berlapis jirahnya.
Tubuhnya sudah bersimbah darah, namun Hansen tak menyerah begitu saja. Dia bangkit berulang kali, hingga membuat semua pendukungnya terus berteriak untuk memintanya berhenti.
"Menyerah saja untuk pertarungan kali ini, Komandan!" Theo dan Dion berteriak khawatir.
"Jangan paksakan dirimu, Menantu!" Mr W mengepalkan tangan karena tak bisa ikut campur sebelum pertandingan selesai. Sementara Andini hanya bisa menggigit jari sembari berharap keajaiban akan menyelamatkan Hansen dari lubang maut.
Seperti yang semuanya ketahui, Battle Holder tak bisa dihentikan sebelum salah satu pihak menyerah. Sedangkan pihak yang dikalahkan atau menyerah, nasibnya akan ditentukan oleh sang pemenang. Meski begitu, Holder Lain dapat ikut campur tangan akan nasib pihak yang kalah dengan mengajukan Battle Holder lainnya.
"Hosh hosh hosh!"
"Kau ... pikir ... ini ... cukup untuk membuatku menyerah?"
"Pukulanmu ... sama sekali ... tak sakit ... tahu!" Napas Hansen tersenggal senggal hingga caranya berbicara sedikit terputus putus. Tubuhnya pun nampak gemetar, namun matanya tak menunjukkan tanda akan menyerah. Terlihat keseriusan yang mendalam pada kedua bola mata itu. Amarahnya saat ini sudah sangat meluap karena tak terima benda peninggalan salah satu sajdara seperjuangannya digunakan oleh orang menjijikan yang telah menyiksa dan menghabisi beberapa mantan anggota red Eagle.
"Darahmu sudah menetes banyak loh?"
"Kau yakin tak mau menyerah?" tanya Marsekal Leo sembari menyeringai hina.
Hansen mengabaikan ucapan marsekal Leo, dan hanya fokus menyempurnakan kuda kudanya. Telapak tangan kanannya nampak mengarah ke kiri, dan diletakkan agak kedepan sejajar dengan dagu. Tangan kirinya agak ditekuk mundur dengan telapak tangan yang di arahkan ke arah sebaliknya. Matanya teramat fokus, sementara salah satu kakinya agak dimundurkan dengan lutut yang agak ditekuk.
Marsekal Leo mengabaikan perjuangan Hansen, karena berpikir bahwa Hansen yang sekarang tak akan dapat melukai tubuh berlapis jirah terkerasnya. Jirah Damaskus yang terbuat dari logam terkeras di dunia.
Woosh!! Marsekal Leo melayangkan tinju ke perut Hansen, tetapi ...
__ADS_1
Tap! tangan berlapis jirahnya ditahan dengan cukup mudah. Dan tak lama setelah itu, jirahnya berasa menyempit karena cengkraman tangan Hansen. Tangan yang terbalut jirah itu pun berasa hancur karena terjepit lapisan jirah.
"Arghhh!"
"Tanganku!"
"Lepaskan tanganku sialan!" Marsekal Leo hendak memukul wajah Hansen dengan tangan kirinya, tetapi serangannya kembali ditangkap, lalu hancurlah tangan yang satunya lagi.
Krakkk!! tulang Marsekal Leo remuk tertekan lapisan jirah Damaskus, membuatnya reflek untuk menendang perut Hansen dan berhasil melepaskan diri.
"Bagaimana bisa kau .... " Kedua tangan Marsekal Leo gemetar karena jari jarinya telah hancur, dan dia pun kehilangan kata kata saat melihat warna mata Hansen yang kini telah memerah.
Seketika hampir seluruh orang disana berdiri secara serempak. Mereka tak menyangka kalau mata merah itu bukanlah kelainan fisik yang hanya terjadi pada Demon Eagle. Terlebih fisik Hansen juga bisa terbilang aneh, karena dengan tubuh penuh luka seperti itu, seharusnya tidak mungkin baginya untuk meremukkan logam terkeras di dunia dengan tangan kosong. Terlebih apa manusia memang bisa melakukan itu?
"Hahahahahah!"
"Akhirnya kau bangkit juga ya, bocah!" Adi Wijaya tertawa senang secara reflek, menarik perhatian Mr W yang sudah lama mencurigainya karena cerita Demon Eagle. Dia salah mengira bahwa Adi Wijaya terlibat dalam percobaan ilegal terhadap tubuh manusia.
Tawanya yang terdengar jelas, tentu saja menarik pihak lain seperti Number. Para perwira yang tidak lain berasal dari Number segera melirik ke arahnya sembari bergumam, 'Apa yang baru saja dia katakan! Bagaimana jika orang orang mulai menanyainya!'
"Kau ... sebenarnya kau ini siapa!?"
"Bagaimana bisa kau memiliki mata itu!?"
"Dan apa apaan seranganmu ini!"
"Bagaimana bisa pukulanmu memberi bekas pada jirahku?" Marsekal Leo mundur dengan perasaan terintimidasi. Sementara tatapan mata Hansen saat ini, terlihat seperti hewan buas yang tak bisa melepaskan mangsanya. Semua itu menjadi semakin jelas saat Marsekal Leo berusaha mengatakan menyerah namun terus dipukuli sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
Bruahkk!!! Hansen memukul keras kepala dada Marsekal Leo yang terlindung jirah, karena tak ingin membuatnya pingsan.
"Jirahku katamu!?" tanya Hansen sembari mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"A ... aku .. me .. ," Marsekal Leo kembali diserang saat hendak menyerah. Pukulan demi pukulan dia terima dengan terpaksa, diakhiri dengan tendangan yang sengaja diarahkan ke tangan dan kaki yang berselimut jirah agar bisa membuat lawannya lumpuh dan tak bisa berbuat keji lagi.
"Argh!"
"Kumohon ... hentikan ... aku menye ... ," Marsekal Leo merengek kesakitan, tapi Hansen terus membungkamnya saat hendak mengatakan kata menyerah. Hingga akhirnya dia pun tak sadarkan diri karena sudah tak bisa menahan rasa sakit yang Hansen berikan.
"Cih!"
"Karena mengamuk, aku malah menghancurkan jirah kawanku!" Hansen mendecih pelan, lalu perlahan tumbang karena telah kehabisan begitu banyak darah.
Tap! Mr W yang melompat turun, segera menangkap tubuh Hansen lalu berkata, "Kerja bagus menantu, tapi lain kali jangan pernah paksakan dirimu hingga seperti ini."
"Memangnya ini salah siapa hah?" Jenderal Besar Hanan nampak kesal. Dia melompat turun tak lama setelah Mr W meraih tubuh Hansen.
"Ngomong ngomong, apakah kita akan diincar kali ini?" tanya Theo sembari melirik ribuan drone milik Law Breaker yang sedari tadi memfokuskan kamera mereka ke arahnya.
"Jangan bahas itu sekarang!" Mr W meneruskan sembari membawa tubuh Hansen.
"Bawa tubuh Marsekal Leo, dan tangkap seluruh bawahannya!" presiden angkat bicara dihadapan para pasukan khusus yang ditugaskan untuk senantiasa menjaganya.
"Baik Pak!" jawab para prajurit sembari memberi hormat.
"Biar kami bantu untuk menanganinya!" Adi Wijaya turut campur saat presiden hendak membawa dan menangkap Marsekal Leo beserta bawahannya.
"Anda bahkan tak berani ikut campur sebelumnya bukan?"
"Jadi biar aku yang menangani hal ini ok?" Adi Wijaya menekankan otoritasnya sebagai Holder nomor dua dengan menunjukkan lencana Holdernya, Namun Mr W yang memiliki kecurigaan besar terhadapnya tentu saja tak menerima hal itu hingga berkata, "Biar orang orangku yang membawa mereka, aku tak percaya pada pria busuk sepertimu!" Mr W menatap kesal dengan mata yang tertutup oleh kacamata hitamnya.
"Ho ... menakutkan ... , aku jadi bisa membayangkan bagaimana ekspresi matamu sekarang, W!" Marsekal Besar Adi Jaya memutuskan untuk mundur dan membiarkan Mr W mengurus segalanya. Sementara Number One nampak sedang mencoba menghubungi Adi Wijaya melalui Earpiecenya dengan berkata, "Apa kau benar benar bisa menipu rekaman Law Breaker setelah kejadian tadi!?"
"Tenanglah ... , orang orang yang kukerjakan adalah ahli dari segala ahli. Satu satunya hal yang kutakutkan ialah ... ," gumam Adi Wijaya sembari membayangkan saat dimana semua mata tertuju kepada Theo.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Number One penasaran.
"Lupakan saja, itu tak penting sekarang." Adi Wijaya menutup panggilan secara sepihak. Number One yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa menatap kesal sembari mengumpat.