
Pencahayaan yang sedang, suhu ruangan yang normal, serta ruangan yang cukup luas dengan aroma khas rumah sakit adalah kondisi yang umum saat memasuki tiap ruang medis di dalam Shelter.
Di dalam salah satu ruang medis itu, Cindy pratama yang merupakan adik Hansen sekaligus anak dari Hendra Pratama, sedang terbaring seperti biasa dalam keadaan koma.
Mulut yang tertutup alat bantu pernapasan, infus yang tersambung dengan pergelangan tangan, serta monitor berhiaskan garis naik turun yang menunjukkan detak jantung pasien, terhubung langsung dengan tubuh gadis malang itu.
Lengan Cindy yang nampak kurus kerap kali digenggam oleh Hendra pratama yang senantiasa menjaganya sejak dipindahkan oleh pihak militer.
Wajah lesu serta isak tangis Hendra Pratama yang sesekali terdengar, menghiasi ruangan tersebut.
Kondisi Cindy saat ini terbilang cukup stabil, namun tak ada tanda tanda yang menunjukkan bahwa dia akan tersadar. Tentunya hal ini menjadi kesedihan tersendiri bagi seorang ayah seperti Hendra Pratama. Meski tak kunjung sadar, fakta bahwa tubuhnya stabil saja sudah menjadi anugrah bagi ayah dari dua orang anak itu.
"Bagaimana keadaan Cindy saat ini?" tanya Hansen pelan. Dia menyelinap masuk tanpa disadari oleh ayahnya yang sedang menggenggam tangan Cindy sembari melamun.
Setelah mendengar suara Hansen, Hendra Pratama segera menoleh dan berkata, "Untuk saat ini, kondisinya sudah mulai stabil. Meskipun entah kapan dia akan sadar dan tersenyum seperti dulu,"
Raut wajah Hendra Pratama nampak lesu, dan menghela napas sesekali. Namun kesedihannya sedikit teralihkan sejak munculnya Hansen. Bukan karena hilangnya rasa khawatir, namun karena memiliki begitu banyak pertanyaan untuk ditanyakan kepada putra pertamanya itu.
"Begitu ya ... , syukurlah jika memang kondisinya tidak memburuk seperti waktu itu. Meskipun tak tahu kapan dia tersadar, setidaknya dia baik baik saja sekarang. Bukan begitu, Ayah?" Hansen berusaha tersenyum sembari mencoba menghibur diri. Dia tak ingin terlihat lemah dan membuat ayahnya semakin khawatir.
Melihat ekspresi Hansen, Hendra Pratama yang paham betul akan sifat putranya tentu saja menyadari bahwa saat itu putranya sedang berpura pura kuat. Ingin rasanya dia melontarkan begitu banyak pertanyaan, namun setelah melihat sisi lemah putranya yang begitu menghawatirkan adiknya, Hendra Pratama hanya bisa menarik kembali niatnya. Dengan bangkit dari tempatnya duduk, Hendra Pratama segera memeluk putranya dan berkata, "Tak apa nak, adikmu pasti akan segera sembuh. Ayah yakin dia bisa bertahan dan tak akan meninggalkan kita,"
"Untuk saat ini biar ayah saja yang mengawasi perkembangan Cindy. Tetaplah fokus terhadap pekerjaanmu, dan jangan memikirkan kami."
__ADS_1
"Meski ayah tak tahu alasan mengapa kau menyembunyikan pekerjaanmu begitu lama, ayah yakin kau punya alasan yang bagus. Bukankah begitu, Putraku?"
Hansen tersenyum sembari membalas pelukan ayahnya, air mata yang telah lama dia tahan pun perlahan membanjiri pipinya. "Tolong jaga Cindy baik baik ya, Ayah ... ,"
"Panggil dokter jika kondisinya memburuk lagi!"
"Dan ... dan pastikan agar dia tak menyusul ibu,"
"Sudah lama ayah tak mendengar suara tangismu secara langsung, biasanya kau sangatlah kuat. Apakah terjadi sesuatu antara kau dan menantu!?" Hendra Pratama mendorong mundur Hansen dengan tampang panik.
Hansen hanya terdiam, dan Hendra Pratama segera melanjutkan, "Bicara soal itu, mungkinkah menantu juga kau amankan di dalam Shelter!?"
"Bagaimana dengan mertuamu!?"
"Jika para ******* itu mencelakai mereka bisa bisa ... !" Hendra Pratama nampak semakin panik.
"Ayah memang benar!"
"Orang tua Andini kemungkinan dalam bahaya. Makannya aku menyuruh beberapa elit mencari keberadaan mereka. Tapi sayangnya hingga sekarang, mereka benar benar menghilang tanpa jejak. Aku benar benar bingung dibuatnya!" jawab Hansen dengan tampang khawatir. Dia sudah terbiasa akan sulitnya menemukan ayah mertuanya yang misterius, namun tak terbiasa dengan hilangnya Rosa Riyadi yang tiba tiba saja menghilang secara misterius tanpa sebuah petunjuk. Untuk saat ini dia hanya bisa berspekulasi bahwa keduanya mungkin sedang bersembunyi di tempat yang sama. Atau Number telah menyekap mereka sebelum berhasil diamankan pihak militer.
"Semoga saja mereka bukan menghilang karena *******!" Hendra Pratama mengepal erat kedua lengannya sembari menggertakkan gigi karena merasa begitu khawatir.
"Semoga saja begitu." Hansen menghela napas sembari menyeka air matanya.
__ADS_1
Sementara itu di sebuah kamar mewah bernuansakan sentuhan modern. Ornamen dindah berupa lukisan hewan dan alam menjadi daya tarik tersendiri. Suhu ruangan yang dapat diatur, lonceng emas yang dapat dibunyikan untuk memanggil pelayan, kasur mewah bertahtakan selimut lembut, serta makanan enak yang tersedia di meja dengan sofa empuk disampingnya. Andini sedang duduk di atas sofa sembari menonton tv untuk menghilangkan kejenuhannya.
'Semenjak penyerangan ******* di gedung putih, fakta bahwa terdapat kelompok peniru yang mencatut nama scorpion untuk melancarkan aksi jahat mereka kini telah terkuak. Meski begitu, kesalahan kelompok scorpion yang bertindak melanggar hukum dengan menghabisi para pidana korupsi tidak dapat diabaikan negara.'
'Baru baru ini para Holder yang merasa terganggu dengan gerakan kelompok scorpion mengajukan petisi untuk memusnahkan kelompok tersebut, anehnya pemerintah menolak mentah mentah keputusan tersebut dengan alasan yang belum jelas!' reporter berita mengoceh tanpa henti. Andini menyimak berita tersebut karena berpikiran bahwa itu ada sangkut pautnya dengan Hansen. Awalnya dia nampak tenang, namun saat berita berganti ekspresinya langsung panik.
'Cabang barat Wisnu Company mendadak berhenti beroperasi untuk sementara dan akan diambil alih oleh orang suruhan kepala keluarga Wisnu. Menurut kabar yang beredar semua ini terjadi karena Rosa Riyadi yang menjadi penanggung jawab perusahaan tersebut menghilang tanpa jejak!' tegas reporter berita yang nampak sedang berkeliaran di sekitar gedung Wisnu Company.
"Ibu menghilang tanpa jejak!?"
"Bagaimana dengan ayah!?" Andini nampak panik dan segera menggoyangkan loncengnya. Tak lama setelah itu, pintu terbuka dan para pelayanan pun masuk untuk menemuinya.
"Apakah ada yang bisa kami bantu, Nona?" ucap salah satu pelayan sembari sedikit membungkuk dengan wajah datarnya.
"Tolong pertemukan aku dengan Hansen!!!" bentak Andini dengan panik.
"Mohon maaf Nona, tuan Hansen sedang sibuk berlatih di ... ," saat pelayan itu belum menyelesaikan kalimatnya, salah satu pelayan yang masuk bersamaan dengannya berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu. Tak lama setelah mendapatkan bisikan dari rekan kerjanya, pelayan itu pun merubah jawabannya.
"Kebetulan tuan Hansen baru mengunjungi Lantai Shelter 6, dan saat ini berada di ruang medis dimana adiknya dirawat. Jika Nona berkenan, ijinkan saya mengantarkan Nona ke sana."
"Tunggu apa lagi!?"
"Cepat pimpin jalannya!" tegas Andini sembari bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1