Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 74 : Duduk dan bersiap


__ADS_3

Ciiit!!!!


Jeep mewah Hansen terparkir di area luar stadion, diikuti oleh Jeep Jeep lain yang turut mengiring di belekangnya.


Sembari melangkah keluar ditemani Theo disampingnya, Hansen menatap ke arah stadion dan berkata, "Jadi ini ya tempat Battle Holder dilaksanakan." Hansen merapihkan kerah jas hitamnya lalu perlahan pergi menuju pintu masuk Stadion. Mr W dan yang lainnya pun turut berjalan dibelakang Hansen satu demi satu.


Diikuti oleh kelompok Scorpion yang melesat turun dengan tali dari helikopter pribadi mereka. Ketika semuanya telah turun, sang pilot segera pergi membawa helikopter helikopter itu untuk diparkirkan ke tempat yang luas dan kosong.


"Benar benar rombongan yang ramai ya. Ah ngomong ngomong, senang bertemu denganmu lagi, W!" Adi Wijaya tersenyum lepas sembari menyambut Hansen dan rombongan yang baru duduk duduk disampingnya. Sama halnya dengan para petinggi lain, orang orang penting yang memiliki lencana Holder disiapkan tempat duduk di kursi yang terdepan. Sementara Jenderal Fahar dan rombongan bawahan lainnya, duduk di kursi di belakang mereka. Kursi depan hanya untuk para Holder, dan orang orang penting saja. Makannya sengaja dibuat kosong meski dibelakangnya penuh. Jarak antar Holder atau orang penting yang membawa banyak orang, ialah sebanyak sepuluh kursi merah. Jadi tak mungkin bagi mereka untuk bertegur sapa jika duduk di kursi masing masing.


"Kembalilah ke tempat dudukmu!"


"Jangan biarkan kursi pemimpin di depan bawahan bawahanmu itu kosong," Mr W Nampak tak senang karena Adi Wijaya memanggilnya dengan maksud menyinggung nama lama. Inisial kode penelitian Law Breaker yang diurutkan berdasarkan Alfabet. Kode penelitian yang kini berganti menjadi kode peringkat setelah kaburnya beberapa Subjek termasuk Adi Wijaya dan Mr W di masa lalu.


"Cih, tak bisakah kau bersikap ramah padaku sebentar saja?"


"Bagaimanapun kita kan seorang teman seperjuangan di masa lalu," gumam Adi Wijaya kesal.


"Perbaiki dulu sikap burukmu yang terus mencoba menutupi kepakuan bobrok putramu!" Mr W terdengar kesal. Sementara Theo dan Hansen yang duduk tak jauh dari Mr W nampak penasaran dengan kisah diantara mereka. Terlebih Hansen sangat penasaran akan keluarga Wijaya yang terkait dengan masa lalu Zaskia. Begitupun Adi Wijaya yang sedikit menatap ke arah Hansen karena tertarik dengan pria yang pernah menjadi subjek Zero. Saking tertarik pada Hansen dia tanpa sadar menyeringai sejenak.


'Apa dia tersenyum padaku?' pikir Hansen sembari membalas tatapan Adi Wijaya.

__ADS_1


'Tunjukkanlah pertunjukan yang semenarik mungkin, tuan X,' pikir Adi Wijaya dengan tangan kanan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Dalam saku celana tersebut, dia menekan lencana buatan Weapon Eagle untuk mengacau sinyal mata para drone dan meretas semua rekamannya sebelum ditampilkan kepada Law Breaker.


Sejak ditekannya tombol di lencana itu, para bawahan Weapon Eagle yang dipaksa bekerja di suatu tempat, nampak sibuk mengamati tampilan ribuan layar cctv yang terhubung dengan kamera para Drone.


"Peretasan sukses, pak!" ucap para bawan Weapon Eagle yang nampak bekerja dengan kalung hitam berduri yang melingkar di leher mereka. Pergelangan tangan dan kaki mereka pun nampak terkekang gelang yang berwujud sama seperti milik Weapon Eagle.


"Kerja bagus!"


"Pastikan untuk mengedit warna mata orang orang yang berada di daftar!"


"Jangan sampai Law Breaker mengetahui perubahan mata mereka apabila terjadi hal tak terduga nanti!" ucap seorang Marsekal bintang tiga yang memakai seragam lengkap. Dia merupakan bawahan kepercayaan Adi Wijaya setelah keempat perwira bintang empat yang kini sedang hadir di stadion Holder.


'Kuharap ini tidaklah terlambat!' pria itu nampak khawatir mengenai keberadaan Demon Eagle yang sempat terekspos. Sama halnya dengan Adi Wijaya, dia merupakan seorang subjek pelarian yang mungkin akan ditangkap Law Breaker bila mana ketahuan oleh mereka. Beruntungnya file wajah subjek yang kabur sudah dihancurkan, sementara orang orang yang terlibat langsung sudah dihabisi oleh teman teman seperjuangannya di masa lalu. Asalkan tak ada yang melihat mata merahnya secara langsung, maka keamanannya akan tetap terjamin. Pria itu nampak khawatir hingga tak sengaja merubah warna mata hitamnya menjadi merah.


"Apa benar hari ini kau sudah bisa keluar?" tanya Herry penasaran.


"Iya, aku beneran dah bisa keluar dari tempat persembunyian, tapi belum bebas sepenuhnya," Andini menjawab demikian karena tak tahu harus bicara apa lagi. Dia menuruti permintaan Ayahnya karena tak ingin Herry terlibat dalam situasi rumit yang kini sedang menimpanya. Dia hanya menceritakan kepada Herry kalau saat ini dia sedang berlindung di kediaman tersembunyi ayahnya karena sedang diincar musuh bisnis keluarga.


"Yah ... , jadi belum bisa ketemu dong?"


"Sayang banget, padahal kan aku kangen," jawab Herry melalui telepon dengan rayuan rayuan palsunya.

__ADS_1


Andini yang tak tahu menahu akan sifat asli Herry hanya merespon dengan senang seperti biasa. Sementara Amelia yang melihat kakaknya sesenang itu, hanya bisa menunjukkan wajah khawatir karena membayangkan akan kejadian di masa depan. 'Kira kira Kak Andini tetap bisa tersenyum gak ya, kalau kak Herry sudah menunjukkan taringnya,' pikir Amelia lemas.


"Jangan khawatir, percaya saja kepada keputusan Ayahmu," Rosa Riyadi menepuk pelan pundak Amelia dengan senyum tegar di wajahnya. Saat keduanya nampak saling mendukung, Dion yang duduk tak jauh dari Amelia hanya termenung sembari menatap langit. Dia teringat akan wajah komandannya yang terlihat muda namun berambut panjang dan putih ke abu - abuan seperti pria tua.


'Kata jenderal Besar Hanan, hanya aku saja yang tersisa dari lima ratus anggota kita. Apakah kau tahu itu, komandan?' Wajah Dion nampak khawatir sekaligus rindu akan sosok komandan yang telah lama menghilang tanpa kabar seperti para elit Red Eagle lainnya.


Di sisi lain, nampak jenderal angkatan bintang empat yang mana merupakan seorang wanita berbaret hijau lumut dengan sangkur terhunus bermata dua, lintasan kilat yang menyilang simbol itu, serta latar merah putih yang berada tepat di belakangnya. Lambang khusus kelompok TNI Ad yang telah berdiri cukup lama di NKRI. Sebelumnya tak pernah ada jenderal besar wanita yang memimpin bendera Raider, tapi setelah wanita ini menunjukkan taringnya dalam dunia militer, tak ada yang berani meragukan kemampuannya. Dia adalah satu dari ketujuh wanita yang memimpin komando pusat sebuah pasukan Khusus NKRI. Wanita yang sebenarnya merupakan seorang subjek pelarian Law Breaker dengan kemampuan fisik dan daya pikir yang luar biasa. Dialah Number One yang memiliki wewenang setara dengan Zero.


Demi membalikkan hukum yang telah kacau, dan mengembalikan hukum kesetaraan NKRI yang mana tak ada orang yang pantas menerima sebuah kekebalan terhadap hukum, Number One beserta kelompok Number lainnya yang kebanyakan terlibat dalam militer sembari menutupi identitas sebagai Number, berusaha agar tak menyinggung secara langsung Law Breaker yang akan menjadi target di masa depan.


"Apa pria ini yang anda cari cari, tuan Zero?" tanya Number One sembari mengarahkan kamera belakang ponselnya untuk mengamati Mr W.


"Benar sekali!"


"Kerja bagus!"


"Kau benar benar berhasil melenyapkan rasa penasaranku!" Zero terdengar senang saat merespon melalui Earpiece yang terpasang di telingan Number One.


Sementara itu di suatu tempat entah dimana, Zero nampak berdiri di atas sebuah atap gedung pencakar langit, sembari melihat rekaman wajah Mr W yang masih memakai kacamata hitamnya.


Dia menyeringai senang, sembari menatap langit,

__ADS_1


"Dengan ini, selain A aku bisa meminta dukungan W!"


"Hahhahahaha, tunggu saja waktu kehancuranmu, Law Breaker!"


__ADS_2