
"Rubah tua, kupikir kau tak akan pernah kemari!"
"Aku sampai bosan menunggumu kau tahu!" Seorang pria dengan punggung tangan kanan yang terlukiskan angka enam menyeringai senang. Dia memakai setelan dokter bedah dengan pisau bedah di kedua tangannya.
"Sebelum kau membedahnya, biarkan aku mencoba jarum jarum ini dulu pada tubuhnya ya, sayangku!" Seorang gadis dengan angka tujuh di punggung tangan kanannya menyeringai dengan tatapan seorang psiko.
"Letnan Yuda, Mayor Julia, tak kusangka kalian ternyata dalam hubungan seperti itu. Kupikir kalian saling membenci karena sering bertengkar, tapi jujur saja dari pada hubungan kalian, aku jauh lebih terkejut dengan penampilan kalian saat ini! Sejak kapan kalian membelot menjadi anggota Number!" Gibran bertanya dengan tangan yang terkepal.
"Letnan Yuda?"
"Mayor Julia?" Number six dan number seven nampak kebingungan sejenak.
"Ah benar ... kita sedang memakai wajah mereka!" Keduanya saling menunjuk ke lawan bicara.
"Oh iya, apakah kau mengenal wajah yang ini?" Number Six menutupi wajahnya sejenak dan secara ajaib wajahnya pun berubah. Yang masih sama hanyalah gaya rambut yang nampak sangat pendek hingga hampir terlihat botak.
"Kau melupakan rambut palsunya sayang, wajah jenderal terlihat begitu lucu karenamu!" Number seven mengeluarkan sebuah rambut palsu yang dia keluarkan dari tas selempangnya.
'Ah jadi itu isi tas yang selalu dia bawa?' Gibran memasang wajah datar karena tak pernah menyangka bahwa number seven selalu membawa rambut palsu di dalam tas selempangnya.
"Nah ... kalau begini pas kan?" tanya Number Six setelah selesai mengenakan rambut palsu yang nampak pendek dan rapih.
'Tak kusangka ternyata Number memiliki topeng wajah yang nampak seperti wajah asli. Aku benar benar tertipu oleh mereka, sebenarnya berapa banyak anggota militer yang mereka singkirkan demi menyusup masuk dengan wajah mereka!' Gibran mengepal erat kedua tangannya dengan raut wajah yang teramat kesal.
"Kita sudahi saja dulu omong kosongnya, sayangku!"
"Jangan lupa kalau ada tubuh subjek yang harus kita teliti ... eh ... kemana perginya semua jarumku?" Number seven nampak bingung karena kehilangan semua jarum yang sempat terselip di antara sela jari jarinya.
"Dasar bodoh, jarumnya menempel pada rambutku nih!" Number Six mengeluh kesal.
"Ah maaf, aku benar benar lupa kalau tadi sedang memegang jarum!" Number Seven nampak menyesal.
'Apa mereka sedang mengabaikanku!'
'Dasar pasangan gila, mati saja sana!' Gibran melesat maju untuk menghajar keduanya. Dari sudut pandang Gibran, baik Number Seven maupun Number Six terlihat penuh dengan celah. Tapi nyatanya malah sebaliknya, karena ketidak waspadaannya terhadap kedua sosok tersebut, Gibran menerima tendangan kejutan yang dilancarkan oleh keduanya secara bersamaan.
Duakkk
Brakkk!! Gibran terlempar mundur cukup jauh hingga menabrak beberapa bangunan.
__ADS_1
"Bisa bisanya kau mengganggu perbincangan kami!" Number Six dan Number Seven mengeluh kesal.zui
"Tuan Gibran!" para penjaga presiden nampak terkejut.
"Apa hanya ini kekuatan dari mata hijau?"
"Meski warnanya terang dan menarik, benar benar lemah sekali!" Number Six dan Number seven menunjukkan mata merah gelap mereka.
'Sial! tendangan mereka benar benar menyakitkan!'
'Andai tubuhku tidak terluka karena penyiksaan kelompok Naga emas, aku pasti tidak akan jatuh serendah ini!' Gibran mengeluh di dalam benaknya. Dia nampak begitu buruk dan penuh luka tanpa sanggup memberikan perlawanan yang berarti.
"Jujur saja kau dan mata hijaumu itu benar benar membuatku penasaran, ingin rasanya kubedah tubuhmu!"
"Untuk menguak asal dari kekuatan gilamu!"
"Ah tentunya ini juga berlaku untuk orang orang yang datang bersamamu, tapi melihat kau bahkan tak sanggup menahan satu dari seranganku, nampaknya serum x milik kami jauh lebih baik dari pada apa yang ada di dalam tubuhmu," Number Seven menatap Gibran dan para bawahannya dengan tatapan hina.
"Haruskah kita habisi saja mereka?" tanya Number Six dengan tatapan dinginnya.
"Dari pada menghabisi mereka, bukankah lebih baik jika menjadikan mereka salah satu dari kita?" tanya Number Seven dengan hati yang dingin.
"Kiikkk!" Para pengawal presiden Gibran nampak panik.
Krang!!! Suara pisau yang terbentur besi terdengar jelas di telinga semua orang.
"Pergi terburu buru untuk mengurus musuh, mungkin ini yang disebut dengan tutorial menyerahkan nyawa!" Blonde Dragon menunjukkan dirinya dengan pisau dapur yang berhasil digunakan untuk menahan serangan pisau bedah.
"Pisau dapur, Kaos oblong, dan ... sandal jepit? Apa yang seorang pria tua sepertimu lakukan di sini!" Number Six membentak kesal.
"Jangan panggil aku pria tua paman, panggil aku naga pirang!" sambung Blonde Dragon sembari menunjuk ke arah tulisan yang tersemat jelas di bagian depan kaosnya.
"Dasar lemah ... bisa bisanya membuat pria tua seperti kami harus ikut campur!" Dragon Beard menegur Gibran yang terkapar tak berdaya.
"Aku kan jadi seperti ini gara gara kalian!" bentak Gibran kesal.
"Cih! Alasan!" Blonde Dragon membalas dengan remeh.
"Kau bisa mengatasi mereka sendirian kan?" tanya Dragon Beard memastikan.
__ADS_1
"Apa kau sedang meremehkanku?" tanya Blonde Dragon dengan kesal.
"Yah ... siapa tahu keahlianmu sudah berkarat karena sudah terlalu tua," Seorang pria tua berbadan kekar dengan kepala botak dan wajah penuh luka menyela sambil mengejek.
"Iron Dragon, andai saja pisauku tidak sedang kugunakan untuk menahan musuh. Aku oasti sudah melayangkannya ke lehermu!" Blonde Dragon mengeluh kesal.
'Apa apaan mereka ini? Dari mana datangnya mereka? Bagaimana bisa aku tak merasakan keberadaan mereka sama sekali?' Number Six dan Number Seven nampak waspada.
"Mundurlah! Mereka bukanlah lawan yang bisa kalian hadapi!" Zero muncul bersama dengan Mr W yang sudah sepenuhnya dia kendalikan.
"Pak Wisnu?" Hendra Pratama nampak geram saat melihat sosok yang ia kenal berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
"W ... , layani mereka!" Zero memberi perintah kepada Mr W yang kini memiliki warna mata hitam legam tanpa warna putih sedikitpun di luar iris matanya.
Woosh
Mr W melesat begitu cepat hingga gerakannya tak dapat diikuti oleh semua orang. Melayangkan tinjunya ke arah Blonde Dragon, Dragon Beard, Iron Dragon dan ketujuh anggota kelompok naga emas dalam sekali serang dan nampak dilakukan secara bersamaan.
Brakkk brakk Dalam sekejap, ke sepuluh veteran anggota kelompok naga emas yang hanya mengandalkan seni bela diri mereka, terpental menjauh hingga menghantam beberapa bangunan.
'Sial! Tak kusangka ada orang sekuat ini di dalam militer!' Blonde Dragon nampak kesal.
'Andai kubisa memakai mata hijauku, gerakannya pasti akan mudah terbaca!' pikir para anggota kelompok naga emas yang baru saja menerima serangan kejutan yang sulit mereka hindari.
'Aku yakin, pak Wisnu memang kuat, tapi seharusnya dia tidak sekuat ini! Apa mungkin dia menjadi begini karena dalam kondisi tak sadarkan diri!' Hendra Pratama nampak terkejut saat menyaksikan kengerian Mr W yang telah melampaui batasannya.
'Sebenarnya aku benci melakukan ini, tapi ... melihat kekuatan yang baru saja dia tunjukkan ... sepertinya aku tak punya pilihan lain!' Hendra Pratama menunjukkan mata hijau tuanya.
Seketika para kelompok naga emas menyeringai dan berkata, "Kau yang mulai duluan ya, Panglima!" Sepuluh kelompok naga emas menunjukkan mata hijau gelap mereka.
"Wah wah wah, apa yang baru saja kulihat ini? Kupikir hanya presiden Gibran dan bawahannya yang punya mata itu! Meski warnanya jauh lebih gelap, entah mengapa aku merasa kalau mereka benar benar kuat!" Number Six nampak terkejut namun senang dalam waktu secara bersamaan.
Di sisi lain, si pirang yang menonton melalui Drone mata hijau yang berada di tempat tersembunyi, memelototi Ron yang kala itu sudah berada di dekatnya.
"Mata hijau itu ... bukankah itu hasil penelitian keluarga Jaya Chandra!?"
"Apa hubungan mereka dengan kelompokmu?" tanya si pirang dengan menunjukkan rasa kesalnya.
'Sial! apa yang harus kujelaskan sekarang! Kalau orang ini mengamuk situasiku akan semakin buruk!' pikir Ron dengan tampang panik.
__ADS_1