Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 107 : Dominasi Number


__ADS_3

"Dengan kondisimu yang sekarang ... , tak kusangka ternyata kau masih memiliki kekuatan untuk meloloskan diri!" Hendra Pratama menatap dengan dingin.


"Aku dipanggil tuan muda kelima bukan karena sebuah omong kosong! Meski bakatku jauh lebih sampah dari yang lain, memutus rantai seperti ini bukanlah sebuah hal yang sulit!" Gibran membalas tanpa ragu.


"Jika begitu, lalu kenapa kau tak pernah mencoba untuk kabur?" tanya Hendra memastikan.


"Dengan sepuluh orang cryborg tingkat 3 yang bergantian mengawasiku? Apa kau sedang mengolokku?" Gibran mendecih kesal.


Sementara itu di istana merdeka, ibu negara nampak sedang dilindungi oleh beberapa prajurit yang menunjukkan mata hijau mereka.


"Mata hijau? Siapa sebenarnya kalian!" Zero nampak kewalahan saat dihadapkan oleh sepuluh pengguna mata hijau yang berada di luar perhitungannya. Dia dibuat babak belur setelah bertarung dengan cukup lama melawan sepuluh elit yang menjaga ibu negara tersebut.


"Ini .... , sejak kapan negara ini memiliki kekuatan yang sebanding dengan Zero!" Mr W tercengang saat baru masuk bersama beberapa rekannya ke dalam ruangan dan di suguhkan oleh sosok Zero yang sudah dibuat terkapar tak berdaya.


"Apa yang anda tunggu laksamana!? Cepat segera ringkus dia!" Salah seorang prajurit bermata hijau mengangkat suaranya.


Momentum tekanan Number nampak sudah dibalikan saat itu, tapi entah kenapa Zero tak menunjukkan rasa takut sedikitpun. Alih alih merasa takut dia malah terus menyeringai seakan rencananya tak pernah terpengaruh sedikitpun.


"Blergghhh!" tak perlu waktu lama, tiha tiba saja semua orang di ruangan tersebut selain Zero memuntah kan darah dari dalam mulut mereka. Diikuti oleh tumbangnya keseimbangan dan daya penglihatan mereka.


"Racun! Sejak kapan aku keracunan! Siapa yang meracuniku dan bagaimana!" Mr W terkejut bukan main saat kekuatannya perlahan melemah dan kemudian kehilangan kesadarannya.


"Jangan khawatir, aku tidak meracuni kalian untuk kami bunuh kok! Hahahah!" Zero tertawa lepas sembari menahan luka yang dia derita. Sementara ibu negara dan putra putrinya hanya bisa meringkuk ketakutan.


Sudah lama.Number mengakar di dalam militer sembari menyembunyikan identitas mereka, menunggu negara melemah dan cukup lengah hingga bisa mereka kuasai hanya dalam sekali gerakan.

__ADS_1


Meninggalnya Adi Wijaya, serta jatuhnya banyak korban jiwa dari angkatan laut dan udara yang mayoritas bukan anggota Number menjadi titik awal yang membuat Number berani untuk bergerak mengambil alih negara. Keputusan Zero untuk melakukan rencana pengambil alihan negara tersebut pun diperkuat oleh hilangnya kabar presiden yang menjadi tiang penyangga negara.


"Inilah hasilnya jika sebuah negara kehilangan pemimpin mereka, kacau dan mudah untuk ditaklukkan, bukankah begitu, Jendral Katrina! Ah maaf ... maksudku ... Number One!" Number two melihat ke arah Jendral Katrina yang masih menggunakan topeng penyamarannya. Saat itu, kaki Number two sedang menginjak jendera besar Hanan yang terkapar tak berdaya karena terkena racun yang tidak diketahui.


'Bertahun tahun lamanya aku mencoba untuk menguak tempat di mana para anggota Number bersembunyi! Tak kusangka ternyata mereka malah berada tak jauh dari sekitarku! Betapa bodohmya aku sehingga tak menyadari fakta bahwa hampir seluruh dari anggota angkatan darat merupakan bagian dari kelompok Number yang menyembunyikan ientitas mereka!' Jenderal Besar Hanan tak pernah bisa memaafkan ketidak kompetenannya.


Kini, selain Shelter, semua fasilitas militer negara dan istana merdeka, telah dikuasai oleh Number. Sementara Ibu negara, serta pihak lain yang tidak berhubungan dengan Number dijadikan sebagai tawanan untuk dicuci otak sekaligus diselipkan chip peledak untuk mengendalikan kehendak mereka.


"Bukankah ini benar benar menyedihkan? Seorang veteran negara sepertimu bisa ditumbangkan hanya dengan sebuah racun. Meskipun perlu waktu lama untuk racun racun itu memberi dampak sih. Kekekek!"


"Jika kau ingin marah salahkanlah saja dirimu sendiri karena tidak waspada terhadap oramg orang sekitarmu, ini semua terjadi karena kau tak pernah menyelidiki orang orang kantin dan lainnya. Yah lagian siapa juga yang kepikiran kalau ternyata organisasi Number kami sudah mengakar terlalu dalam di dalam militer, bukankah begitu ... W?" Zero menatap Mr W yang nampak lemah tak berdaya karena efek racun yang sudah lama terakumulasi melalui makanan dan minuman yang selama ini dikonsumsi oleh W setiap kali berkunjung ke markas angkatan darat.


"Suka atau tidak suka, kau akan menjadi bagian dari kami. Jangan melakukan perlawanan tak perlu dan ikuti saja kehendak kami. Lagi pula ... bukankah musuh kita adalah orang yang sama!" Zero melanjutkan ucapannya sembari melangkah mendekati W yang sedang diikat dan hendak dibedah secara paksa.


Sementara itu di dalam Shelter, Weapon Eagle dan orang orang yang tak berada dalam area target penaklukan Number dibuat panik oleh kabar gerakan besar Number.


"Dasar sinting! Apa mereka berniat meruntuhkan negara ini! Bisa bisanya mereka berani menantang Law Breaker hanya dengan kekuatan mereka yang sekarang!" Jenderal Fahar mengoceh kesal saat melihat siaran televisi yang disiarkan Number dengan membajak seluruh acara televesi.


Di sisi lain, kelompok perompak nampak tertarik dengan keberanian kelompok Number.


"Wah wah wah, haruskah kita ikut meramaikan acara mereka!" Seorang wakil kepala perompak wilayah timur tergerak dengan keberanian Number.


"Aku akan menyelamatkan pak tua itu!" Theo nampak emosi saat mendengar kabar Mr W sudah ditundukkan oleh Number.


"Apa yang sedang kau bicarakan? bukankah akan masuk akal jika kita bergabung dengan mereka?" tanya wakil pemimpin kelompok perompak wilayah timur.

__ADS_1


"Law Breaker bukanlah musuh yang bisa kau lawan dengan mengumpulkannya ke satu titik pertempuran! Jangan lupa kalau satu dari pendiri mereka saja sanggup meratakan sebuah negara besar seorang diri!"


"Menantang mereka berperang di sebuah negara adalah cara yang sangat konyol, jika Law Breaker mau, bisa dipastikan bahwa mereka akan rata tanpa bisa melakukan perlawanan!" ungkap Tactic Eagle dengan sangat serius.


"Lalu apa yang harus kita lakukan!" para petinggi asosiasi perompak, menatap Tactic Eagle dengan penuh keseriusan. Meski Tactic Eagle jauh lebih muda dari mereka, semuanya sudah lama setuju untuk menjadikannya pemimpin sekaligus ahli strategi mereka. Semua karena apapun rencana yang keluar dari mulutnya tak pernah meleset ataupun gagal.


"Kita akan bermain seperti biasanya! Berpencar dan membuat kacau di berbagai wilayah laut berbagai negara. Menarik perhatian anggota Law Breaker ke titik titik itu dan mengurangi jumlah anggota mereka sedikit demi sedikit. Dan jangan lupa untuk mundur secepat mungkin apabila seorang dari Five Founder mulai ikut campur, karena mereka bukanlah sosok yang bisa kita usik sekarang!" Tactic Eagle menjawab dengan serius.


"Bagaimana dengan pria tua dan orang orang itu! Apa kau berencana untuk membiarkan Number memilikinya!" Theo nampak sangat kesal.


"Untuk sementara biarkan saja mereka dikendalikan! Setidaknya dengan begitu mereka jado berguna untuk melemahkan otoritas Law Breaker!" Tactic Eagle menjawab sesuai apa yang dia pikirkan.


"Kebiasaanmu yang menomor duakan hati nurani ini, benar benar tak bernah berubah ya! Aku benar benar salah karena begitu berharap kepadamu!" Theo memutuskan untuk pergi dan mengabaikan ucapan Tactic Eagle.


"Beraninya kau mengabaikan ucapan kapten!" semua anggota perompak yang merasa tersinggung menghunuskan pedang mereka.


"Jika kalian menghalangiku seperti ini, jangan salahkan aku jika bertindak kasar!" Theo merubah matanya menjadi merah.


"Singkirkan pedang kalian! Biarkan dia melakukan apa yang dia mau!" Tactic Eagle berkata dengan dingin.


"Demon Eagle bisakah kau pikirkan lagi keputusanmu? Jangan lupa kalau kau sudah menjadi buruan Law Breaker!" Old Eagle memperingati.


"Masa bodo dengan semua itu! Lagi pula ada atau tidak adanya aku di negara itu, Law Breaker tetap akan mengincar negara karena ulah kelompok Number!" Theo memutuskan untuk pergi. Dia memanggil para kelompok scorpion untuk menjemputnya menggunakan helicopter kemudian pergi meninggalkan kapal yang dia naiki.


"Apa ini akan baik baik saja?" Old Eagle nampak khawatir.

__ADS_1


"Tak biasanya kau menghawatirkan Theo, lupakan saja dia dan fokus akan tujuan kita!" Tactic Eagle menyela tanpa ragu.


__ADS_2