
Number telah melancarkan aksi mereka dan berhasil mengambil alih kekuatan militer milik negara. Rencana mereka berjalan begitu mulus dan berjalan lebih cepat karena hasil perang saudara antar angkatan udara dan angkatan laut. Yang mana menjadi pemicu berkurangnya pihak militer negara yang tidak terhubung dengan Number.
"W ... , andai saja kau menerima ajakanku untuk mengambil alih negara untuk menentang Law Breaker. Situasimu tak akan menjadi semenyedihkan ini ... ," Zero menyentuh wajah Mr W yang kini dalam kondisi tak sadarkan diri. Matanya terbuka, tubuhnya berdiri tegak, tapi pikiran serta kesadarannya tak ada di sana. Tatapannya pun nampak begitu kosong karena hal itu.
"Apa anda menyesal karena sudah mencuci otak teman lama anda?" tanya Number One dengan wajah Jenderal Katrina.
"Tak ada kata menyesal dalam kasusku, karena semuanya demi dunia yang baru!"
"Bukankah begitu, W?" tanya Zero sembari menatap tajam.
"Semuanya demi dunia yang baru!" W mengulang kata kata tersebut hingga puluhan kali dengan nada datar dan pandangan kosong.
"Semuanya demi dunia yang baru!" prajurit lain yang juga telah tercuci otaknya turut mengucapkan kata kata tersebut berulang kali dengan tatapan kosong dan nada datar mereka.
Sementara itu di dalam Shelter, Hansen dan Ron segera masuk ke ruang di mana Cindy Pratama dirawat. Sebelum masuk ke dalam ruangan, Hansen termenung karena membayangkan sosok Cindy yang telah lama nampak terdiam kaku tak berdaya.
Terlihat jelas bahwa hati kecil Hansen terluka karena rindu akan tawanya.
Setelah masuk ke dalam ruang di mana Cindy Pratama dirawat, Hansen dikejutkan oleh fenomena aneh yang tidak oa mengerti. Wajah Cindy Pratama masih nampak muda, namun rambutnya yang dulu hitam kini telah memutih entah mengapa, membuatnya bertanya tanya kepada Ron yang nampak begitu serius seakan tahu sesuatu.
Hansen hanya melirik ke arah Ron, tapi ilmuan gila itu segera mengerti maksud lawan bicaranya. Dengan wajah seriusnya dia pun berkata, "Sejak kapan rambutnya berubah memutih?"
"Ki ... kira kira sejak seminggu yang lalu!" Dokter yang bertugas merawat Cindy di dalam Shelter merespon pertanyaan Ron.
"Rambut memutih, tubuh yang perlahan mengurus, tak salah lagi ... ini adalah gejala efek mutasi! Normalnya itu terjadi karena efek mengkonsumsi serum milik Number!"
__ADS_1
"Siapa orang gila yang sudah memberikannya pada gadis selemah ini!" Ron kehilangan ketenangannya sejenak, kemudian terdiam setelah menyadari sesuatu. "Ah ... benar, dia kan juga anak wanita itu ... ,"
"Apa maksud ucapanmu?" Hansen nampak bingung.
"Apa kau pernah bertanya tanya bagaimana ceritanya kau dan para komandan red eagle memiliki chip peledak di dalam kepala mereka? Apakah kau juga pernah bertanya tanya mengapa kalian bisa menjadi seorang subjek tes sementara tak pernah ingat kalau kalian sudah menerima dosis serum x milik Number?"
"Apakah kau pernah bertanya tanya tentang siapa dalang dibalik kejadian yang menimpa kalian hingga berakhir menjadi subjek tes?" tanya Ron dengan begitu serius. Sementara Hansen terdiam sejenak kemudian merespon dengan berkata, "Apakah kau mengetahui sesuatu tentang pelakunya?"
"Orang yang paling dekat, paling bebas dan paling kalian percayai!" Ron membalas dengan serius.
"Bisakah kau katakan langsung saja ke intinya!?" Hansen nampak sangat tak sabar.
"Untuk kasusmu dan adikmu, bisa dipastikan bahwa itu adalah hasil dari perbuatan Ibumu! Sedangkan pelaku dibalik chip peledak dan serum x Number di tubuh para komandan Red Eagle, ialah orang tua kandung mereka sendiri!" Ron membalas tanpa menyaring ucapannya.
"Apa kau sedang mencoba untuk membodohiku!" Hansen mencengkram erat kerah baju Ron.
"Aku bisa terima kalau kau mengaitkan ini dengan Number, tapi aku tak bisa memaafkanmu karena sudah berani melibatkan ibuku yang sudah tiada!" Hansen mengeluarkan mata hijau tuanya yang juga secara samar nampak hampir dihiasi oleh warna ungu.
"Asalkan kau tahu saja ya! Ibumu itu masih hidup!" Ron mendorong Hansen mundur beberapa langkah dengan mendorongnya.
"Berhenti bercanda! Bagaimana bisa dia hidup sementara aku sendiri yang mengubur jasadnya!" Hansen berteriak kesal.
"Bongkar saja! Jika kau tak percaya, bongkar kuburan ibumu lalu periksa wajahnya! Apakah itu benar benar wajah ibumu atau hanya sebuah topeng manusia yang menempel!" Ron membalas tanpa ragu.
"Hentikan omong kosong ini! dari pada membahas fantasimu, lebih baik cepat sembuhkan adikku!" Hansen mengabaikan ucapan Ron karena terlalu tak masuk akal baginya.
__ADS_1
"Efek buruk mutasi adalah bentuk dari penolakan tubuh terhadap serum X! Umumnya reaksi ini akan muncul tak lama setelah tubuh terkontaminasi serum X kemudian sebulan setelah itu, orang tersebut akan tiada. Kasus yang dialami adikmu memang sedikit langka, tetapi bukan berarti tak pernah terjadi. Seperti halnya percobaan, tak semuanya berhasil. Ada juga beberapa kasus di mana subjek penelitian yang berada dalam pengawasan Number mengalami kegagalan seperti halnya adikmu. Dan berdasarkan apa yang kudengar dari dokter yang bertugas tadi, nampaknya adikmu hanya memiliki waktu tiga minggu saja!" Ron membalas dengan serius.
"Lalu, karena masih ada waktu tiga minggu, kau bisa menyembuhkan adikku kan?" tanya Hansen dengan harap.
"Untuk sekarang mustahil, karena obatnya belum benar benar ditemukan!" jawab Ron tanpa keraguan.
"Lalu, apa maksudmu aku hanya bisa menunggu adikku hingga tiada!" Hansen nampak terpukul.
"Aku bilang mustahil untuk sekarang, bukan berarti tidak bisa di masa depan! Asalkan kau membawakanku apa yang diperlukan untuk menemukan obatnya, maka itu bukanlah hal yang mustahil," Ron membalas dengan nada pelan.
"Katakan padaku, bahan apa yang kau perlukan!?" tanya Hansen sembari mengepal erat kedua tangannya.
"Serum X milik Number! Apakah kau bisa mendapatkannya? Pastikan untuk mengambil yang paling murni dan belum terkontaminasi apapun!" Ron membalas sembari menyeringai.
"Apakah kau punya petunjuk di mana aku bisa menemukannya?" tanya Hansen memastikan.
"Sayangnya bahkan dengan bantuan sensor mata hijau, kami juga kesulitan untuk menemukannya. Terlebih, Law Breaker memiliki hal yang membatasi pergerakan kami ... ," Ron menjawab dengan nada pelan.
"Dan hal apa itu?" tanya Hansen penasaran.
"Nenekmu!" Ron membalas tanpa ragu. Mengejutkan Hansen yang tak pernah terfikir kalau dia ternyata memiliki seorang nenek kandung yang masih hidup. Dan ternyata dia ada di tangan Law Breaker. Terkuak sudah pertanyaan Hansen mengenai alasan dibalik lenyapnya keberadaan keluarga besar Jaya Chandra secara mendadak di tahun tahun yang lalu. Semuanya telah terhubung dan menjadi jelas bagi Hansen. Hanya saja dia masih belum mempercayai kalau pelaku dibalik kondisi adiknya saat ini, ialah ibu yang dia anggap telah tiada.
"Pikirkanlah baik baik! Kalau kau ingin sembuhkan adikmu, ambil serumnya kepada kelompok Number!" Ron memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan. "Karena ekarang aku tak bisa melakukan apapun, dan ada urusan yang harus segera ku kerjakan, aku pergi dulu ya! Hubungi aku jika serumnya sudah di tanganmu!" Ron meninggalkan ruangan tanpa menoleh ke belakang.
'Kuharap akan terjadi sesuatu yang seru, setahuku serum itu dipegang oleh pemilik nomor paling tinggi kan? Selain Zero tentunya!'
__ADS_1
'Apakah kau bisa mengambilnya dari ibumu! Tuan X ... ah tidak, maksudku tuan muda Hansen Pratama Jayachandra!'