
Ciiitt!!! Mobil Sersan kepala dan pasukannya dihadang oleh Weapon Eagle yang menutup jalan dengan menumbangkan pohon besar di pinggir jalan. Sosoknya yang tanpa masker dan rambut panjang yang tergerai membuatnya sulit untuk dikenali. Karena Weapon Eagle yang biasanya tak pernah menggerai rambut seperti itu, terlebih masker hitam yang menjadi ciri khas komando elit Red Eagle juga turut mempersulit semua orang untuk mengenali wajah aslinya. Saat itu dia menghadang semua mobil yang mengejar Andini, dengan duduk berjongkok di atas batang pohon besar yang dia tumbangkan. Sementara kedua tangannya nampak pistol dengan peluru yang dimodifikasi secara khusus.
Darrr!! peluru berukiran elang mekanik dengan bulatan lampu kecil di ukiran mata elangnya. Ditembakkan hingga menancap ke mobil yang paling depan.
Tit! Bulatan lampu kecil di mata ukiran elang mekanik menyala merah dan berkedip semakin kencang. Sadar bahwa ada yang aneh dalam senjata tersebut, sang Sersan segera memberi perintah untuk melompat keluar dari mobil. Dan benar saja, tepat setelah mereka keluar, mobil itu meledak cukup dahsyat.
Duarr!!! suara ledakan mobil itu mengguncang pendengaran semua orang, termasuk gadis berambut merah yang tadinya tak sadarkan diri.
"Su ... suara apa itu!"
"Kenapa aku disini!"
"Si ...siapa kalian!" Gadis itu terkejut saat menyadari bahwa dirinya sedang berada di dalam mobil yang dihuni oleh para pria berseragam angkatan Laut.
"Ssttt!" para prajurit meminta gadis itu diam. Saat itu mereka masih di dalam mobil yang berada di barisan yang paling belakang.
"Apa anda baik baik saja Sersan?" Seorang prajurit bertanya melalui earpiece.
"Aku baik baik saja, persiapkan saja semua senjata yang kita miliki. Aku tak tahu mengapa dia menargetkan kita, yang jelas ... orang ini bukan orang sembarangan." Sersan Kepala menatap serius ke arah Weapon Eagle.
"Tugasku adalah menghadang semua yang mengejar gadis bernama Andini, dan bertarung dengan Komandan. Jika kalian ingin hidup, lebih baik pergi saja dari sini. Karena senjata kalian, tak cukup untuk mengancam hidupku." Weapon Eagle memperingatkan dengan kedua pistol yang di arahkan ke mobil mobil lain.
Duar duar duar!!! Satu demi satu mobil yang digunakan para bawahan Sersan, diledakkan oleh peluru modifikasi milik Weapon Eagle. Beruntungnya tak ada korban jiwa di antara mereka. Semua berkat reflek cepat para prajurit yang melompat keluar saat pelurunya tertancap.
"Ada total dua belas peluru dari setiap pistolku, dan aku baru menembakkan lima. Bisakah kalian bertahan sebelum pelurunya habis?" Weapon Eagle menatap dingin para prajurit angkatan laut.
"Apakah kau anggota Number!?"
"Kelompok pemberontak yang ingin meruntuhkan negara!" Sersan Tio mengarahkan pistolnya ke arah Weapon Eagle dengan pandangan penuh kewaspadaan.
__ADS_1
"Aku tak ada kaitannya dengan kelompok itu, aku juga tak mempunyai keinginan untuk bermusuhan dengan negara, apalagi berurusan dengan abdi negara seperti kalian." Weapon Eagle menatap tajam Sersan Tio dan para bawahannya.
"Lantas apa tujuanmu melakukan ini! Jangan bilang hanya karena diperintah!" Sersan Tio menatap kesal.
"Sayangnya memang itulah alasannya. Aku tak memiliki kendali atas tubuhku sendiri. Lucu bukan?" Weapon Eagle menembakkan empat peluru ke tempat acak di sekitar sersan dan bawahannya. Menyebarkan keempat peluru itu hinga berhasil meledakkan beberapa prajurit yang terperangkap di antaranya.
"Omong kosong macam apa itu!" Sersan Tio menembakkan pistolnya ke arah Weapon Eagle setelah berhasil lolos dari dampak ledakan. Tapi tak ada satupun tembakan yang berhasil mengenai Weapon Eagle. Semuanya berhasil dihindari dengan gerakan yang begitu cekatan dan profesional. Matanya terlihat begitu fokus, mengamati ujung pistol di tangan sang Sersan.
"Lambat!"
"Jika kau hanya bisa begini, kau hanya akan berakhir seperti semua bawahanmu." Weapon Eagle menghindar sembari mendekat ke arah Sang Sersan. Dia menghindar dengan cepat tanpa melakukan gerakan yang sia sia. Sang Sersan menjadi semakin panik, saat Weapon Eagle sudah berada di hadapan matanya dengan pistol yang kembali dia masukkan ke kantung di samping pinggangnya. Menjatuhkan harga diri Sang Sersan yang sedari tadi berusaha mengenai Weapon Eagle.
Bukk! Tap! Weapon Eagle menampik tangan Sang Sersan, lalu merebut paksa pistol di tangannya. Mengarahkan pistol tersebut ke kepala Sang Sersan dan kemudian .... "
Klak!! Pistol yang di arahkan ke kepala Sersan Tio tak mengeluarkan peluru sama sekali. Menunjukkan bahwa pistol tersebut sudah kehabisan amunisi.
"Kau beruntung ... kalau pistolmu berpeluru, kau pasti sudah mati." Weapon Eagle memukul keras wajah Sang Sersan sembari menggenggam erat pistol di tangan kanannya.
"Berhenti melawan, dan larilah kalian semua!"
"Lupakan tugas untuk melindungi wanita itu!"
"Aku tak ingin mengotori tanganku lagi," Kedua tangan Weapon Eagle nampak gemetar seakan tak menginginkan hal itu. Sementara matanya berkata lain. Terlihat dingin bagaikan seorang mesin pembunuh. Fokus dan mengancam.
"Satu satunya yang bisa kukendalikan sekarang adalah mulutku ... ," Weapon Eagle seketika terdiam entah mengapa. 'Tolong percayalah padaku dan pergilah dari sini!' batin Weapon Eagle tersiksa. Matanya mungkin terlihat dingin bagaikan mesin pembunuh, tapi air mata yang diam diam membasahi pipi Weapon Eagle menjelaskan betapa tersiksanya dia saat itu.
"Matilah dengan tenang ... , Sersan!" Weapon Eagle mengucapkan tersebut dalam kendali Adi Wijaya yang saat itu sedang mengamati melalui Drone kecil yang melayang di atas langit.
Dar!!! peluru dari salah satu pistol milik Weapon Eagle, ditembakkan ke perut Sang Sersan yang saat itu tergeletak tak berdaya. Beberapa saat setelah itu, ledakan pun terjadi.
__ADS_1
Duarr!!! Wajah para tamtama yang memiliki kesetiaan besar terhadap komandan mereka, nampak terbelalak dan diluapi oleh lautan emosi. Dengan tubuh yang tergeletak penuh luka akibat terkena dampak ledakan, para prajurit yang berda dekat dengan posisi Sersan diledakkan, menjerit penuh tangis.
"Sersan Kepala!" Para prajurit berteriak dengan penuh rasa kehilangan. Kemarahan yang bercampur rasa ingin balas dendam pun membuat para prajurit berhasil bangkit hingga sanggup berlari mendekati Weapon Eagle dengan pistol yang sudah berada di tangan masing masing.
Dar! Dar! Dar! Weapon Eagle kembali menembakkan peluru modifikasinya dan meledakkan para prajurit yang saat itu berusaha untuk membalas kematian komandan mereka.
"Teman teman!" seorang prajurit yang masih hidup karena sedang mengamankan gadis berambut merah di belakangnya, berteriak dengan penuh air mata.
'Sebenarnya ada apa ini!'
'Kenapa aku bisa terlibat dalam kegilaan ini!' Gadis berambut merah yang berdiri di belakang prajurit yang terakhir menutup matanya dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
"Cepat lari dari sini Nona! Tempat ini terlalu berbahaya untukmu! Maaf karena telah melibatkan Anda dalam situasi gila ini!" prajurit itu menjelaskan tanpa berbalik menatap gadis itu. Dia hanya fokus melihat Weapon Eagle yang menjadi pusat dari target balas dendamnya saat ini.
"Pergilah! Nona!"
"Ba ... baik!" Gadis berambut merah itu berlari dan berpapasan dengan mobil Hansen. Tanpa pikir panjang, dia menghentikan mobil yang pertama kali dia lihat dengan berdiri di tengah tengah jalan karena saking takutnya.
Ciit!!! Hansen menghentikan paksa mobilnya secara mendadak. Lalu meneriaki sang gadis saat keluar dari dalam mobilnya.
"Apa kau ingin mati, Nona!"
"Berdiri di tengah jalan itu terlalu berbahaya tahu!" Hansen terdengar kesal.
"Kau boleh lanjut memarahiku, tapi tolong bawa aku pergi dari sini! Jangan lanjutkan perjalananmu ke sana! Cepat berbalik dan bawa aku! Ada orang gila di tempat itu!" Gadis itu berteriak panik. Dan dikejutkan oleh suara Weapon Eagle yang ternyata ikut berjalan mengejar dirinya. "Apakah orang gila yang kau maksud itu, aku ... Nona?"
"Weapon Eagle!?" Hansen terkejut saat melihat salah satu teman yang dia pikir tak dapat dia lihat dalam waktu dekat. "Bukankah Marsekal menahan dirimu?"
"Larilah, Komandan!"
__ADS_1
"Aku tak mau melukai dirimu!" Weapon Eagle kembali mengambil alih mulutnya. Bersamaan dengan itu, dia juga mengarahkan kedua pistolnya ke arah Hansen.
"Apa maksud tindakanmu ini, Weapon Eagle!" Hansen menunjukkan mata merahnya.