Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang


__ADS_3

Setelah membiarkan Andini dan Amelia menikmati momen reuni keluarga mereka dalam bentuk pelukan, Hansen berdehem untuk menarik parhatian semua orang.


"Ehm!"


"Kurasa pelukannya sudah cukup, bisakah kalian ikut denganku sebentar?" lanjut Hansen sembari tersenyum.


"Kemana?" tanya Amelia heran.


"Ibu dan ayah mertua baru saja datang kemari dari perjalanan yang cukup jauh, aku yakin mereka sudah cukup lelah saat ini. Oleh karena itu kusarankan untuk beristirahat ke gedung komando," Hansen merujuk pada gedung besar yang terlihat jelas berada tepat di sebrang pintu utama. meskipun lokasinya agak jauh karena harus melintasi hamparan rumput buatan yang saat ini sedang mereka pijaki.


"Gedung komando?" tanya Mr W penasaran. Meskipun intelnya cukup banyak, Mr W hanya dapat mengakses informasi mengenai adanya shelter saja. Dia tak pernah mendapat informasi mengenai cara masuk serta bagian dalam shelter. Semua karena akses keluar masuk Shelter memiliki keamanan berlapis lapis, dan hanya orang tertentu saja yang dapat memasuki shelter tersebut. Itupun tak semua orang dapat melihat proses keluar masuk lantai Shelter secara rinci.


"Gedung merah yang disebrang itu!"Hansen menunjuk ke arah gedung komando. Hedung yang terletak ditengah dengan tinggi dan luas melebihi luas gedung gedung disampingnya. Didominasi warna merah dan hitam, serta dihiasi oleh bendera merah putih dan bendera Red Eagle dengan simbol yang sama persis ketika dikoridor markas atas, dan dasar kain bendera yang berwarna biru langit.


Di sebelah kanan dan kiri gedung komando terdapat gedung gedung berwarna putih. Gedung yang menempel dengan gedung komando nampak bersih dari ornamen, namun memiliki nilai artistik yang cukup elegan. Sementara gedung gedung di bagian terujung nampak simpel, dan sederhana. Meskipun ukurannya juga tak kalah besar dengan gedung gedung disampingnya. Selain tampilannya yang cukup sederhana, hal yang membedakan tampilan gedung tersebut dengan gedung yang lain ialah simbol plus yang merupakan simbol kesehatan yang biasa terpajang di ambulan, rumah sakit serta fasilitas medis sejenisnya.


"Apa gedung itu biasa digunakan sebagai tempat menerima tamu?" tanya Mr W penasaran.


"Kurang lebih seperti itu," jawab Hansen tanpa ragu.


"Lalu kenapa kami diberi kamar di gedung putih sebelah kanan?" tanya Amelia sembari memegang pundak Andini.


"Karena gedung merah adalah gedung khusus penanggung jawab lantai shelter dan tamu negara."


"Karena ayah mertua merupakan orang penting di negara kita, maka dia harus ditempatkan di gedung itu," jawab Hansen sembari menghela napas sesekali.


"Kalau aku tak mau ke sana?" tanya Mr W sembari melirik gedung putih.


"Gedung putih hanya berisikan kamar dan dapur layaknya sebuah hotel. Jika kita ingin mengadakan pertemuan aku sarankan agar melupakan hal itu.


Namun jika ayah mertua bersi keras ingin istirahat disana, maka aku tak akan menolak. Dengan catatan kita harus berbincang ke gedung komando dulu. Semua karena aku ingin berbicara empat mata sebentar saja.


Setelah mendengar ucapan Hansen, Mr W berhenti mempermasalahkan tempat istirahatnya. Dan memulai pembahasan baru yang cukup menguji kesabaran Hansen.


"Kalau kau ingin berbincang denganku, setidaknya jamu aku di meja makan dulu. Oh iya, sekalian biarkan istri dan anak anakku makan bersama juga. Karena tak hanya kau yang memiliki urusan yang mesti dibicarakan secepatnya. Setelah urusanku selesai, maka aku akan meminta mereka pergi ke gedung sebelah dan melanjutkan perbincangan kita," Mr W tersenyum mengancam.


"Kau kan bisa berbincang dengan mereka saat di gedung sebelah, kenapa harus makan siang bersama juga?" Hansen tersenyum menahan emosi.


"Aku hanya merindukan momen makan bersama, apakah kau tak bisa mengabulkan permintaan pria tua ini," Mr W kembali tersenyum dengan nada mengancam.


Sadar bahwa berdebat dengan Mr W merupakan hal yang percuma, Hansen pun menghela napas cukup panjang, lalu mengiyakan permintaan ayah mertuanya.


Singkat cerita Hansen dan keluarga Wisnu pun berkumpul di meja makan. Sementara Jenderal Besar Hanan diminta menunggu di ruangannya atas permintaan Mr W.


Lampu gantung yang bertahtakan emas, dinding putih yang nampak bersih tanpa debu sedikitpun, lukisan lukisan pemandangan alam yang tergantung rapih di tiap dinding, serta langit langit yang menjulang tinggi dengan desain melingkar dan dihiasi lukisan menyerupai langit berawan menambah kesan nyaman dan damai di ruangan tersebut. Lantainya yang terbuat dari marmer dan memiliki corak seni cukup tinggi menambah kesan indah tersendiri. Meja makan yang panjang berbentuk oval, serta rangkaian bunga yang terpajang di tengahnya, menambah kesan seni tersendiri.


Piring piring serta peralatan makan yang sudah tertata rapih, beserta makanan mewah yang memanjakan mata karena penampilannya yang rapih dan elegan, menambah napsu makan semua orang. Music klasik yang dimainkan sejak dimulainya perjamuan makan, pun menambah kesan tersendiri di pikiran semua orang.


Layaknya seorang bangsawan yang beretika tinggi, semuanya makan sembari menikmati suasana tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Saat makanan sudah habis, dan semua orang selesai minum. Barulah perbincangan dimulai kembali.


"Apakah kalian nyaman tinggal disini?" Mr W bertanya dengan serius.


"Tidak!"


"Aku merasa terpenjara ditempat ini, semua karena Hansen merampas salah satu kehidupanku!" jawab Andini kesal.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Hansen heran.


"Ponselku!" jawab Andini lantang.


"Ah ... ," Hansen kehabisan kata kata. "Baiklah, akan kukembalikan ponselmu lagi,"


"Bagaimana dengan ponselku?" tanya Amelia dengan ragu.


"Ponselmu juga akan kukembalikan kok, toh kalian akan pergi dari sini bersama ayah mertua besok kan?" tanya Hansen memastikan.


"Itu ... ," Amelia nampak ragu. "Bisakah aku tetap disini untuk sementara, kakak ipar?"


"Kenapa?"


"Bukankah kau rindu keluargamu?" tanya Hansen heran.


"Aku ingin menemani Dion sampai dia sembuh, kau tak akan membiarkannya menghubungiku melalui ponsel karena takut seseorang membongkar lokasi shelter ini kan?"


"Kudengar musuhmu juga ada yang ahli menyadap ponsel, hingga harus mengurangi komunikasi lewat ponsel. Apakah aku benar, kakak ipar?" tanya Amelia memastikan.


'Sebenarnya ada alat untuk mencegah penyadapan seperti yang sudah kupasang ke ponsel Zaskia sih, asalkan tak memberi tahukan lokasi secara khusus maka lokasi markas ini tak akan ditemukan. Namun alat canggih itu hanya ada dua karena masih dalam proses pengembangan. Satu satunya hal yang masih membingungkanku ialah cara ayah mertua mengetahui lokasi markas ini, bukankah ponselku juga sudah dipasang alat anti penyadap serta pengatur lokasi palsu!?' Hansen terlelap dalam lamunannya, saat menatap mata Amelia.


"Ehm!"


"Ingatlah, dia adik iparmu!" Mr W berdehem karena merasa tak nyaman melihat Hansen melihat putrinya yang lain.


"Eh ... bu ... bukan begitu, aku tak memiliki maksud lain padanya kok!"


"Seseorang memberi kabar melalui earpieceku jadi aku mendengarnya dengan seksama tadi," Hansen mencoba berdalih untuk menghilangkan prasangka buruk ayah mertuanya.


"Ja ... jangan berpikir macam macam terhadap kakak ipar ayah!"


"Aku kan sudah punya Dion!"


"Kakak ipar pun tahu itu!" Amelia menyanggah dengan lantang, lalu sedikit bergumam, "Meskipun dia pernah melihatku tanpa busana, dia tak pernah melihatku sebagai lawan jenis."


'Ayah pasti salah, ya kan?' pikir Amelia ragu.


"Ta ... tanpa busana?"


"Apakah dia mengintipmu saat mandi!" Mr W nampak begitu emosi.


'A ... apa yang baru saja dia katakan!'


'Kenapa dia membahas kejadian waktu itu!?'


'Apa dia tak takut aku membongkar skandalnya dengan Dion!?' Hansen nampak panik dan bingung.


"A ... apa aku baru saja mengatakan pemikiranku!?" Amelia nampak panik.


"Bahkan kau belum pernah melihat tubuh istrimu, bagaimana bisa kau melirik adik iparmu!?" Mr W semakin emosi.


"Belum pernah melihat apanya!?"


"Dia bahkan pernah meniduriku saat aku sedang tak sadarkan diri. Meskipun hanya sekali, dia sudah menghilangkan kesucianku!?" Andini mengoceh kesal.

__ADS_1


"Ja ... jadi kalian sudah ... ," Amelia dan Mr W nampak terkejut.


"Sa ... saat itu kan kau yang menggodaku duluan!?" Hansen mencoba membela diri.


"Tapi kan aku sedang terpengaruh oleh obat kotor itu!"


"Kau kan tahu betul kalau aku tak pernah tertarik padamu!" Andini bermaksud menyinggung Herry Wijaya, namun tak berani mengucapkan nama pria yang dia suka karena ayahnya menentang hubungan mereka.


"Kau ... kau juga menggunakan obat itu!?"


"Ehm, kupuji keberanianmu menantuku. Andini memang harus diperlakukan seperti itu agar dapat kau taklukkan," emosi Mr W mulai mereda. "Tapi bukan berarti kau diperbolehkan memberikannya ke Amelia juga!?" ancam Mr W dengan aura yang mendominasi.


"Bu ... bukan aku yang memberikannya obat itu, dan aku benar benar tak sengaja melihat tubuh Amelia saat itu. Sungguh!" Hansen mencoba membela diri.


"Lupakan itu!"


"Aku jauh lebih tertarik pada hasilnya!"


"Apakah kau sudah mengandung cucuku, Andini?" tanya Mr W dengan penuh harap.


"Saat itu aku dalam masa amanku, jadi kemungkinan hamil cukup kecil. Aku sudah mengeceknya kok, dan tak ada tanda tanda kehamilan," jelas Andini dengan nada kesal.


"Lalu apakah sekarang bukan masa amanmu!?" tanya Mr W serius.


"A ... apa maksud pertanyaan ayah!" Andini berteriak kesal dengan pipi yang memerah.


"Ayahmu ini sangat mendambakan seorang cucu, jadi .... ," saat Mr W belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Andini langaung menolak dengan lantang, "Tidak mau!"


"Aku belum tertarik kepada Hansen!" Andini ingin mengatakan kata tidak tertarik, namun karena teringat ayahnya membenci kata itu dimasa lalu dia pun memutuskan untuk mengatakan hal tersebut hanya saat dihadapan ayahnya.


"Hohoho, belum berarti akan, bukan begitu?"


"Jangan malu malu lagi, kau kan sudah pernah tidur dengannya sekali, anggap saja sedang reka ulang adegan." ucap Mr W dengan menggoda.


'Belum?'


'Apa mungkin Andini mulai memiliki sedikit rasa denganku?' pikir Hansen ragu.


"Sudahlah, ayah tak mau dengar alasanmu lagi!"


"Malam ini mungkin malam terakhir kalian akan bertemu dalam waktu lama, jadi lakukan saja dengan benar!"


"Untuk itu, persiapkan saja dirimu sekarang, karena ayah memiliki hal yang harus dibicarakan empat mata dengan menantuku," Mr W melirik Hansen dengan agak melibatkan emosi.


'A .. apakah dia masih salah mengira soal hubunganku dengan Amelia!?' Hansen menelan ludah karena merasa agak tersudutkan. Dia bimbang harus menjelaskan seperti apa nanti. Apakah harus membongkar aib adik iparnya yang belakangan ini sifatnya sudah membaik, atau harus menerima prasangka buruk ayah mertuanya dengan resiko dipukuli.


"Kalau begitu, aku akan membawa anak anak ke gedung sebelah dulu. Sekalian bertanya dimana kamar kita nanti," Rosa Riyadi bangkit dari kursinya.


"Baiklah, tunggu aku sebentar ya istriku," Mr W tersenyum ramah sembari menahan emosinya.


'Apa dia masih merasa kesal dengan ucapan Amelia?'


'Karena Amelia tak menceritakannya padaku, aku yakin kalau Hansen benar benar tak sengaja. Tapi sepertinya ada baiknya juga membiarkannya seperti ini, aku ingin tahu apakah Hansen dapat selamat dari amukan suamiku,' pikir Rosa Riyadi sembari tersenyum. 'Ohohoho,' batinnya tertawa membayangkan perdebatan antara dua orang hebat yang disegani dalam dunia militer.


Setelah puas membayangkan segalanya, Rosa Riyadi menarik keluar kedua putrinya dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Ayo kita pergi,"


__ADS_2