Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen


__ADS_3

Tiga hari telah terlewati sejak Hansen sembuh dari lukanya, Kini telah tiba saat di mana Battle Holder pertama antara Hansen dengan Marsekal Leo akan dilaksanakan.


Dion yang mana merupakan satu satunya murid Old Eagle yang selamat dari tangan Number, perlahan meninggalkan ruang perawatannya bersama Amelia demi untuk menonton pertarungan Hansen secara Langsung.


Mr W dengan istrinya, Theo dan para bawahannya, Jenderal Besar Hanan beserta pasukannya, Jenderal Fahar dan para Letnan yang bertugas menjaga Hendra Pratama beserta Zaskia Arista yang nekad ingin ikut untuk menonton langsung pertarungan Hansen, serta Andini Wisnu yang memaksa ikut karena bosan jika ditinggal sendirian di dalam Shelter. Semuanya manaiki kendaraan masing masing dengan Hansen dan Theo yang memimpin barisan dengan mobil Jeep terbarunya.


"Kenapa kau tak pergi dengan kedua istrimu?" tanya Theo dengan nada menggoda.


"Maaf?"


"Apa kau sedang meledekku Demon Eagle?" tanya Hansen kesal.


"Ih takut, kau bahkan memanggilku dengan julukan jelek itu. Padahal pekerjaan utamaku kan seorang Hacker," Theo menyela sembari menggoda.


"Hmm ... ," Hansen merespon dengan poker face. Dia malas meladeni Theo karena sebenarnya dia tahu betul bahwa tidak aman baginya untuk berdekatan dengan orang orang yang dia lindungi. Seperti halnya Hendra pratama, maupun Zaskia dan Andini.


Sementara itu di barisan tengah, Mr W nampak duduk di kursi depan mobil dinasnya bersamaan dengan Andini, Amelia, Rosa Riyadi yang duduk di kursi tengah, serta Dion yang duduk di kursi paling belakang, tempat yang biasanya dipakai sebagai fasilitas untuk menyimpan barang. Jeep putih besar dengan lambang angkatan laut pusat memimpin deretan Jeep yang turut mengiring kepergian Hansen menuju Arena Resmi Battle Holder.


"Akhirnya aku bisa keluar juga, kuharap semua kegilaan ini cepat berakhir," gumam Andini kesal.


"Kau baik baik saja disana, Dion?" tanya Amelia khawatir. Bagaimanapun juga Dion baru sembuh dari patah tulangnya, menempatkannya di kursi belakang mungkin dapat membuatnya merasa tak nyaman. Atau itulah yang dipikirkan Amelia saat melihat kekasih malangnya termenung.


"Aku tak apa apa kok," jawab Dion sembari mencoba menutupi beban pikirannya. Dia menutupi fakta dibalik perasaan tidak enak yang sedang dia rasakan. Meski yakin bahwa Hansen pasti akan menang, Dion tetap merasakan hal janggal dalam hatinya. Walau tak tahu perasaan apa itu, yang jelas dia tak bisa mengabaikannya begitu saja. Karena instingnya yang kuat sebagai seorang sniper tak pernah meleset saat merasakan hal yang mengganggu.

__ADS_1


"Kalau rasanya tak nyaman, kita tukar tempat saja ya?" tanya Amelia khawatir.


"Gak usah, aku baik baik saja kok," jawab Dion tersenyum.


Saat Mr W dan rombongannya terus melaju mengikuti Hansen, di barisan paling belakang terdapat barisan mobil jeep hitam yang dinaiki Jenderal Besar Hanan, Jenderal Fahar, Hendra Pratama, Zaskia Arista serta para prajurit elit dari Red Eagle yang masih selamat. Sementara itu di langit, nampak puluhan helikopter yang dinaiki oleh kelompok scorpion yang dibawahi oleh komando Theo.


"Semoga kau berhasil melewati ini semua, putraku," ucap Hendra Pratama sembari memasang tampang cemas.


"Kumohon kembalilah dengan selamat, Hansen," ucap Zaskia tulus.


Sementara itu di Arena Battle Holder yang terlihat seperti stadion sepak bola yang teramat lebar, kini telah diisi oleh ribuan mata Law Breaker dalam wujud drone mata warna warni yang melayang bebas di langit stadion.


Tempat duduk stadion nampak diisi oleh orang orang negara yang terdiri dari presiden, para pemegang lencana Holder, para menteri, serta para petugas hukum dan kemiliteran. Dalam pertarungan ini tak ada warga sipil maupun media yang diijinkan meliput. Hanya berisi kolega Holder atau para politikus yang paham akan aturan Law Breaker.


Dari sembilan belas pemegang lencana Holder di kursi penonton bagian barat hingga utara itu, nampak memakai beragam baret yang berbeda baik simbol maupun warna mereka. Ada yang berasal dari pasukan khusus angkatan darat yang mayoritas kelompok Number, ada pula yang berpakaian seperti anggota angkatan udara dan angkatan Laut. Dengan perbandingan sebanyak empat angkatan Laut, dan satu angkatan udara.


Sementara di sisi timur terisi oleh para menteri, presiden, serta marsekal Leo dan para perwira Angkatan udara yang tak memiliki lencana Holder. Di dalam barisan itu, hanya Marsekal Leo dan presiden Indonesia sendirilah yang merupakan seorang Holder. Sementara barisan selatan sengaja dikosongkan untuk diisi oleh rombongan Mr W, dan para pendukung Hansen.


"Haruskah aku menghadiri tempat ramai ini?" Adi Wijaya nampak sedang menghisap rokoknya dan baru saja keluar dari dalam mobil yang terparkirkan diluar stadion. Para bawahannya yang berasal dari angkatan udara pusat pun turut berjalan keluar dari mobil mereka.


"Para Perwira telah hadir di dalam stadion, pak!" seorang prajurit yang baru saja berlari dari dalam stadion melapor kepada Adi Wijaya yang baru saja sampai.


"Katakan pada mereka, aku akan duduk di barisan utara," jawab Adi Wijaya sembari menghembuskan asap dari dalam mulutnya.

__ADS_1


"Siap pak!" prajurit itu memberi hormat dan perlahan pergi setelah menerima respon sang Marsekal Besar dari pusat komando Angkatan Udara.


"Cih ... hilang sudah masa damaiku, kuharap Law Breaker tak menyadari keberadaanku. Kalau tidak aku akan kehilangan kedamaianku," Adi Wijaya nampak mengeluarkan sebuah lencana perunggu dengan ukiran elang mekanik di tengahnya. Di mata elang mekanik tersebut terdapat sebuah tombol yang mana merupakan pemicu pengacau sinyal lencana Holder dan mata para Drone Law Breaker.


'Dasar sialan, padahal sudah berulang kali kukatakan agar tak meninggalkan simbol kunonya di barang yang kuinginkan?' Adi Wijaya nampak kesal setelah menyadari simbol elang mekanik yang tak sempat dia perhatikan sebelumnya.


Sementara itu jauh di New Asia, H nampak sedang mengamati penampakan dari mata para drone di markasnya. Dia mencari wajah yang diincar ketua Law Breaker dari ribuan layar yang menunjukkan sudut pandang drone yang berbeda.


"Cih, apa aku harus kesana untuk mencarinya?" H nampak kesal setelah menyadari belum ada wajah yang terlihat persis seperti foto yang ditunjukkan oleh A.


"Apa keputusan anda tuan?" tanya seorang Yakuza yang berada dibawah kepemimpinan H.


"Siapkan semua pesawat tempur!"


"Meski target kita cuma satu, aku takut ada para subjek lain yang melindunginya. Akan merepotkan jika kita tak bersiap secara maksimal, bukan begitu, O(Ou)?"


"Perintah dimengerti, boss!" O yang berperawakan botak licin berbadan kekar dan penuh dengan tato naga membungkuk hormat lalu pergi menghadap para Yakuza.


"Kalian dengar itu?"


"Cepat bersiap untuk pergi!" ucap O dengan nada tegas dan mengancam.


"Dimengerti Boss!" semua Yakuza menjawab serentak dengan penuh semangat.

__ADS_1


__ADS_2