Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W


__ADS_3

Perompak, kelompok barbar yang diisi oleh para pemberontak. Membenci era hukum baru, dan bersebaran di lautan lepas. Awalnya mereka hanya berkendaraan perahu kayu dan tidak begitu mengancam. Mereka juga tak terorganisir hingga terkadang suka bertarung satu sama lain demi untuk memperebutkan wilayah jarahan. Namun seiring berjalannya waktu, entah bagaimana mereka mulai menjadi kelompok yang patut diwaspadai. Dimana para perompak itu tiba tiba saja menjadi manusia jenis baru atau yang biasa juga disebut dengan subjek penelitian.


Kekacauan yang mereka sebarkan di laut lepas, semakin menghawatirkan hingga dicap menjadi musuh oleh semua negara. Bahkan Law Breaker pun turut menargetkan mereka. Sayangnya tak peduli sebanyak apapun mereka dihancurkan, mereka dapat kembali lagi dengan kelompok baru yang dihuni oleh subjek penelitian lain. Parahnya kebanyakan subjek itu, ialah sandera dari kapal yang pernah mereka jarah, atau orang orang yang dianggap hilang dan menjadi buronan negara.


Jika membicarakan keburukan maka merekalah jawabannya. Mengacau di berbagai negara, menentang hukum dan bahkan menghina Law Breaker. Keberadaan mereka tidak lebih dari kelompok keji yang perlu dibasmi, atau itulah yang Mr W dan kebanyakan orang ketahui. Bagaimanapun memang beberapa perompak melakukan hal buruk seperti itu.


Tak hanya di satu dua negara, mereka juga mengancam di berbagai negara, termasuk Indonesia hingga Mr W dan para perwira Angkatan Laut dibuat kesal oleh tindakan mereka yang kerap kali menjarah kapal bisnis, kapal pengangkut barang, hingga bahkan kapal pesiar yang kerap kali memuat turis atau masyarakat tak bersalah. Memang benar tak semua penumpang yang dibawa pergi, tapi ada saja yang tak kembali. Terlebih mereka yang dinyatakan dibawa pergi oleh perompak kerap kali muncul kembali sebagai subjek penelitian dan bertindak akrab dengan para perompak. Dengan kata lain, mereka merekrut orang yang mereka jarah entah bagaimana. Mr W dan sebagian besar orang berpikir bahwa mungkin para perompak itu melakukan pencucian otak pada mereka, hanya saja terdapat hal mengganjal yang selama ini semua orang pikirkan. Dan hal itu ialah, mengapa mereka membiarkan beberapa korban pergi? Bukankah lebih bagus jika mereka mencuci otak semua korban itu dan menjadikan mereka anggota juga?


"Apa hanya itu yang Ayah Mertua ketahui sampai saat ini?" tanya Hansen memastikan. Dia sedang bersimpuh tangan sembari duduk bersebrangan di ruang tertutup dengan Mr W sebagai jawab bicaranya. Melihat Mr W mengangguk, Hansen kembali meneruskan dengan berkata, "Bagaimana dengan informasi mengenai siapa saja anggota Red Eagle yang ada di sana?" Hansen bertanya karena berpikir bahwa tak mungkin bagi Zafar yang bisa mudah bersembunyi kemanapun untuk bergabung ke kelompok itu seorang diri. Sifatnya yang atraktif dan benci hal kasar, tak cocok dengan kelompok tersebut. Pasti ada alasan lain seperti mengikuti teman atau sejenisnya. Karena dia paling tak suka terlalu lama tanpa lawan bicara.


"Maaf ... , aku saja baru tahu kalau Danger Eagle ada di sana. Selain yang kau katakan padaku, aku tak bisa menjawabnya dengan pasti. Terlebih ... jika memang perlu menebak, mungkin selain Weapon Eagle, sisa kelompokmu bergabung dengan mereka ... " Mr W nampak ragu dalam kata katanya. Dia tak pernah terpikirkan akan mengatakan hal itu, tapi jawaban itu memang hal yang paling masuk akal baginya. Karena lautan lepas di luar negara bukanlah tempat yang mudah dia jangkau informasinya, yang mana bisa menjadi alasan kuat dibalik mengapa dia kesulitan menemukan sisa anggota Red Eagle.


"Selain Weapon Eagle?"


"Kenapa kau mengatakan hal itu?" Hansen terdengar bingung. Dahinya mengkerut disertai dengan mata yang agak menyipit.


"Karena aku tahu dimana tepatnya Weapon Eagle berada!" Mr W meneruskan dengan tangan yang terkepal. Wajahnya nampak begitu kesal seakan ingin meninju seseorang.

__ADS_1


"Dan dimana itu?" tanya Hansen serius.


"Dia ada di tangan Adi Wijaya! Marsekal Besar sekaligus pemegang komando Angkatan Udara!" Mr W menekan keras meja kayu di depannya, hingga tak sengaja membuat meja itu hancur karena saking kesalnya.


"Haruskah aku menantangnya juga?" mata Hansen memerah karena emosi.


"Tahan! Kau yang saat ini, bukan lawan yang tepat untuk Adi Wijaya. Kau harus belajar memanfaatkan matamu itu dulu. Dan ... biarkan aku yang mencari tahu tepatnya dimana angkatan udara menyembunyikan Weapon Eagle!" Mr W meneruskan sembari menghembuskan napasnya dengan pelan dan cukup panjang.


"Baiklah ... , aku akan ... " belum sempat Hansen menyelesaikan kalimatnya, Hendra Pratama datang sembari mengetuk pintu yang kala itu sedang dalam posisi tertutup.


"Ini aku! Ada hal penting yang ingin kubahas denganmu!" Hendra Pratama menjawa tegas. Sementara Mr W segera memintanya masuk tanpa banyak bertanya.


"Ayah? Apa yang Ayah lakukan disini?" tanya Hansen bingung.


"Pergilah, menantu!"


"Aku dan ayahmu ingin membahas hal penting." Mr W langsung menunjukkan tampang dingin dan serius saat melihat keseriusan di mata Hendra Pratama. Sementara Hansen yang tak tahu apapun tentang ayahnya, hanya bisa memikirkan hal buruk dibalik keseriusan itu. 'A ... apa ayah ingin membahas soal Zaskia! Apa dia mendengarnya dari orang lain sebelum aku menjelaskan!' Hansen nampak panik dan ragu untuk melangkah pergi. Sementara Hendra Pratama yang tak tahu apa alasan dibalik kepanikan putranya hanya bisa tersenyum sembari berkata, "Pergilah dari sini, Putraku. Ayah benar benar tak ingin kau mendengar percakapan kami," Hendra tersenyum cukup tulus. Tapi di mata Hansen senyuman itu seakan terlihat sebaliknya. Rasanya seperti saat tertangkap basah berbuat salah oleh orang tua sendiri.

__ADS_1


"Apa yang kau tunggu?"


"Cepat keluarlah, Menantu!" Mr W memotong tegas.


"Ba ... baiklah, kalau begitu aku permisi!" Hansen membungkuk canggung kemudian berjalan pergi sembari sesekali menengok ke arah putranya. Saat Hansen pergi dan menutup pintu, Hendra segera duduk dan berkata, "Aku memerlukan bantuanmu!"


"Kalau boleh tahu, bantuan macam apa ya?" tanya Mr W tersenyum.


"Tolong beritahu aku, lokasi orang orang ini!" Hendra melemparkan buku album yang berisi foto foto dan informasi para mantan prajurit kopassus yang sudah berhenti dari militer. Kebanyakan dari mereka berhenti karena pensiun, meskipun tak menutup kemungkinan ada beberapa diantara mereka yang berhenti karena tak cocok dengan keputusan presiden yang memberlakukan aturan Holder dan tunduk kepada Law Breaker.


"Ini ... , apa Anda ingin kembali lagi ... ?" Mr W nampak bingung karena mengetahui riwayat jelas dibalik alasan Hendra berhenti dari urusan militer. Dia pernah terluka parah di medan perang, hingga harus pensiun lebih dini. Lukanya terlalu parah hingga tak dapat mengangkat beban berat meski sudah bisa berjalan seperti biasa. Semua karena terdapat urat syaraf yang terjepit di sekitar tulang ekornya. Terlebih tak lama setelah itu, penyakit jantung perlahan menyerangnya hingga tak mungkin untuk menjadi prajurit lagi.


"Bukankah Anda sudah ... ," Mr W nampak ragu karena tak ingin dianggap merendahkan kemampuan Hendra Pratama. Sementara orang yang dia ragukan, malah nampak yakin hingga berkata, "Aku sudah tak apa Laksamana ... , Sungguh!" Hendra menepuk pelan meja kayu di hadapan Mr W yang sudah retak karena sedikit tekanan Mr W.


Krakkk!!!! Meja tersebut runtuh berkeping keping, sementara mata Hendra Pratama nampak berubah dari hitam menjadi biru menyala.


"Kau juga seorang subjek!?" Mr W terkejut saat mendapati fakta itu. Sementara Hendra Pratama yang tak tahu menahu soal percobaan manusia, hanya bilang, "Apa itu?" Dia nampak kebingungan hingga menyipitkan kedua matanya.

__ADS_1


__ADS_2