
"De ... Demon Eagle!?" para ilmuan nampak tegang sembari menelan ludah mereka.
'Apa yang membawanya kembali!?'
"Benar benar tangkapan besar, lihatlah siapa yang bisa kulihat saat ini!"
"Tak kusangka kau bisa lolos dari pemberantasan saat itu, Fiveteen!" Theo menyeringai kejam.
"A ... apa yang membawamu kembali!?" pria berambut hitam pendek, berbaju putih dan bertatokan angka lima belas di lehernya, melangkah mundur dan menatap Theo dengan panik.
"103, 102, 107, aku yakin wajah kalian nampak tak asing. Bagaimana bisa kalian semua masih hidup!?" Theo menatap para ilmuan berkaca mata hitam dengan tato angka ratusan di wajah mereka dengan mata terbelalak. 'Aku yakin mereka semua sudah tewas terkena ledakan. Apakah mataku menipuku!' Theo tenggelam sejenak dalam pemikirannya. Sedangkan Fiveteen terus melangkah mundur mendekati sebuah meja hitam dengan tombol merah yang terpasang di atasnya. Namun tak ada hal yang terjadi, hingga dia terus menekannya berulang kali dengan keringat dingin.
'Kenapa tombolnya tak mau bekerja!'
'Seharusnya tombol ini dapat menghancurkan semua koneksi!'
"Percuma saja kau mencoba memutus koneksiku terhadap tempatmu, Fiveteen!"
"Karena aku sudah mengambil alih semua kendali. Termasuk kendali atas bom peledak markas," Theo menyeringai kejam. Bersamaan dengan itu, sebuah lingkaran dengan angka 100 di tengahnya mulai muncul dilayar, dan terus berkurang nilainya detik demi detik.
"Hitungan mundurnya dimulai, selamat berpesta!"
Para ilmuan nampak gemetar ketakutan dan langsung berlari pergi menuju pintu otomatis yang memerlukan id dan kata sandi untuk dibuka. Tentunya Theo sudah menghapus semua data di pintu tersebut dan merubah sandinya.
"Brengsek brengsek!"
"Kenapa pintunya tak mau terbuka!" Fiveteen mencoba berbagai metode, dari menscan id semua anggota hingga menggunakan kode darurat untuk membuka pintu.
"Tuan gunakan ini!" seorang ilmuan bertandakan angka 105 di wajahnya menyodorkan bazooka.
"Material pintunya terbuat dari logam terkeras, kau pikir benda sampah itu bisa digunakan!" Fiveteen membentak panik. 'Sial! Kalau saja aku tahu ini akan terjadi, aku tak akan menggunakan sistem yang rumit di dalam pintunya!'
"Bukan gayamu untuk hanya memiliki satu jalan keluar, apakah otak kotormu itu sudah tak berguna lagi karena terlalu nyaman akan lenyapnya diriku!" Theo menyeringai senang.
'Be ... benar!'
"Pintu rahasia!" semua orang berlarian menuju sebuah meja hitam bertahtakan tombol merah dan mendorongnya hingga beberapa langkah. Tak lama setelah itu, dinding ujung sebelah kiri nampak turun membentuk sekat ruangan.
Bruakkk!!! tanah beserta bebatuan menggelinding turun dari balik dinding itu. Mengagetkan semua orang, dan diikuti oleh Theo yang tertawa.
"Apakah kalian melupakan ledakan sebelumnya!?"
"Aku sudah menghancurkan bangunan di atas ruang bawah tanahmu. Jadi tak peduli jalan mana yang akan kalian pakai, akhirnya akan tetap sama. Yaitu Booom!!" Theo menyeringai dan hilang dari layar.
"Sial!"
__ADS_1
"Sial!"
"Sial!!!!"
"Aku tahu dia sangat baik dalam meretas, tapi bagaimana bisa dia meretas semua sistemnya tanpa masuk ke dalam markas!" Fiveteen menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari alat bantu yang Theo gunakan. Dan akhirnya melihat sebuah bola bulat kecil menyerupai sebuah bola mata, yang nampak terkoneksi dengan lubang USB. Dan di ujung konektor yang dikeluarkan dari bagian bawah bola kecil tersebut, nampak simbol elang mekanik yang biasanya tersembunyi. "Ketemu!"
"Darrr!" Fiveteen langsung menyingkirkan benda itu dengan menembaknya. Namun usahanya sia sia, karena hitungan mundur terus berjalan, hingga akhirnya ledakan besar pun terjadi.
"Brengsek!" Fiveteen nampak pasrah akan kematiannya.
Duarrr!!!!
.......
"Lakukan sekarang!" Theo bicara dalam alat bantu komunikasi.
"Dimengerti!" pria berhoodie dan yang lainnya menjawab secara serentak.
........
Woooshhh, Duarrr!!!! Ledakan nuklir menghantam helikopter para kelompok peniru satu demi satu.
"A ... apa yang terjadi!?"
"Kenapa para brengsek itu malah menargetkan helikopter kami!" para scorpion peniru nampak kebingungan.
Tak lama setelah itu, helikopter scorpion berdatangan satu demi satu, dengan Hansen yang nampak sudah siap melompat.
"Bukankah tuan sudah memanipulasi semua musuhnya!?"
"Kalau bisa mengurusnya dari markas, kenapa harus mengirim kami kemari!?" Pria berhoodie bergumam bingung.
"Menghabisi mereka dengan senjata baru yang baru saja dia retas memang sangat mudah. Tapi bukan itu tujuan operasi ini." Hansen membalas gumaman Zain.
"Cih!"
"Dasar penguping!" Zain masih nampak tak suka terhadap Hansen meski paham maksud dari ucapannya.
Menangkap dan menginterogasi target sebelum melakukan bom bunuh diri!
"Bisakah kau menargetkan para target dengan bazooka itu?" Hansen melirik sembari bersiap turun.
"Itu perkara yang mudah!" Zain menjawab ketus.
Wooshh!!
__ADS_1
tap! Hansen melompat turun ke halaman gedung putih dan disambut senapan dari para elit pemerintahan.
"Tahan!" Jenderal Besar Hanan berteriak keras disaat melangkah keluar dari dalam gedung putih.
"Dia bukan musuh!"
"Sudah jelas kalau dia turun dari helikopter musuh, apakah kau sudah buta, jenderal besar Hanan!" Marsekal besar angkatan udara melangkah mendekat sembari menatap sinis mata Jenderal Besar Hanan.
"Tapi dia adalah .... ," belum sempat Jenderal Besar Hanan menyangkal, Hansen memotong ucapan dengan berkata. "Percuma saja kau membelaku, Jenderal!"
"Meski kau memberitahukan identitasku, Marsekal payah itu tak akan pernah mau mendengar. Bukankah begitu, muka garang!" Hansen menatap sinis.
"Mata itu .... !"
"Sudah kuduga, Red Eagle memiliki hubungan dengan kelompok Scorpion. Kehadiranmu di helikopter mereka memperjelas segalanya!"
"Cepat tembak dan habisi penghianat negara itu!" Marsekal Leo memerintah kesal.
Para elit yang berada di kelompok pasukan udara, tentu saja mematuhi perintah marsekal mereka. Sedangkan beberapa elit militer yang berada di bawah pimpinan Jenderal Besar Hanan nampak memilih bersikap netral karena mulai merasakan keraguan terhadap Hansen.
"Jika ini yang kau mau, maka akan kulayani!" Hansen menyeringai sembari memegang pedang hitam di lengannya.
Darr!!! salah satu tentara menarik pelatuknya. Dan diikuti para penembak lain.
Hansen memantulkan semua serangan dan memgarahkannya ke senapan lain hingga menghancurkan momentum semua orang.
Trang!! Trang Krak krak!! satu demi satu senapan target hancur hingga membuat mereka tak bersenjata. Sedangkan Hansen tak hanya berdiam sampai disitu, semua langkahnya telah terorganisir tanpa celah sedikitpun. Hingga sanggup membabad habis semua elit angkatan udara yang mencoba melawannya satu demi satu.
Brukkk!!! Hansen melukai semua elit hanya dengan menggunakan ujung tumpul pedangnya, dan berhasil membuat mereka lumpuh kesakitan.
"Lemah seperti biasa, sama seperti pemimpin besarnya!" Hansen mendecih dengan bagian umpul pedang hitam yang dia letakkan di atas pundaknya.
"Beraninya kau!" Marsekal besar nampak kesal. Namun Cibirannya terhenti ketika Hansen mulai membalas tatapannya dengan penuh dominasi.
"Apakah kau masih menginginkan luka lain di sekitar wajahmu!?"
"Khughhh!" tanpa sadar Marsekal besar melompat mundur hingga terjatuh karena takut akan kejadian di masa lalu.
'Jadi Tuan X dalang dibalik luka di wajah Marsekal Leo!?'
'Pantas saja dia begitu membencinya!' Jenderal besar Hanan melirik sang mersekal besar dengan keringat dingin.
"Aku akan mengurus para cacing rendahan itu dulu, pergi dan ceklah celana sang marsekal. Aku takut itu akan basah seperti dimasa lalu," Hansen menyeringai dan pergi menuju gerbang gedung putih.
"Kau pernah membasahi celanamu!?" Jenderal Besar Hanan meledek girang.
__ADS_1
"Ja ... jangan percaya semua ucapannya!"
"Dia itu hanyalah seorang pembohong!" Marsekal Leo nampak kesal namun tak bisa menutupi kepanikannya.