
Ledakan dahsyat telah melenyapkan jejak tubuh kelompok peniru scorpion, meski dampak dari ledakan tidak mencapai gerbang istana merdeka, hembusannya tetap terasa hingga sanggup menggulingkan Hansen yang tengah berlari.
Tak ada luka yang berarti dalam tubuhnya, hanya beberapa luka gores dan lebam. Karena itu, Hansen masih memiliki cukup tenaga untuk meraih surat misterius yang diselipkan oleh Chalis.
Awasilah para Holder, dan jagalah para mantan anggota Red Eagle. Banyak dari mereka yang telah menghilang dan digantikan. #CπP10M
"Holder?"
"Apa maksud kata ini?" Hansen termenung sejenak saat menatap isi surat Chalis. Selain kata Holder yang cukup asing di telinganya, tulisan mengenai permintaan untuk menjaga para mantan anggota Red Eagle pun turut membingungkan pikiran Hansen. Sedangkan kode rahasia yang tertulis di ujung surat, tak membuatnya bingung karena merupakan kode khusus yang pernah dia rancang untuk anggota Red Eagle.
Tanda pagar berarti ajakan bertemu di hari esok atau tepatnya sehari setelah surat itu dikirimkan, C merupakan inisial dari sang penulis, π (pi) merupakan simbol dari sebuah Hotel atau penginapan, P adalah inisial dari hotel atau penginapan tersebut dan 10 M berarti tepat pukul 10 malam.
Setelah selesai merenung, Hansen segera memasukkan surat tersebut ke saku celananya sebelum orang lain menyadarinya.
"Kau tak apa, Tuan X?" Jenderal Besar Hanan menawarkan genggaman tangannya untuk membantu Hansen berdiri.
"..." Tanpa membalas sepatah kata apapun, Hansen langsung meraih tangan Jenderal Besar Hanan dan saat sudah meraih telinganya, dia pun berbisik,"Aturlah jadwal agar kita bisa berbicara empat mata, ada hal penting yang ingin kubicarakan!"
"Dimengerti," bisik Jenderal besar Hanan sembari menganggukkan kepalannya perlahan.
Setelah pertemuan singkat itu, Hansen berjalan melewati Marsekal besar Leo yang terus menatap kesal ke arahnya secara diam diam. Namun Hansen tak mempedulikan hal tersebut karena sang Marsekal langsung membuang muka atau berusaha menutupi kekesalannya saat Hansen melirik.
Sesampainya di dalam gedung putih, para elit militer dari tiga kubu yang berbeda nampak berdiri mendampingi sang presiden. Angkatan Laut, Angkatan darat dan Angkatan udara. Masing masing dari mereka memberikan sepuluh pengawal berpangkatkan jenderal bintang empat. Meski terdiri dari tiga kubu yang berbeda, mereka masih berada dalam sebuah perahu yang sama. Yaitu seorang kelompok khusus pengamanan presiden.
Meski berbeda kubu, seragam mereka terlihat sama seperti seragam TNI pada umumnya. Yang membedakan hanyalah warna beret dan simbol lencana mereka. Merah untuk beret angkatan darat, jingga untuk angkatan udara, dan ungu untuk angkatan udara, dengan posisi beret yang miring ke kiri dengan lambang berada di kanan. Mengartikan bahwa mereka sedang bertugas dalam hal keamanan. Berbeda dengan para elit yang sebelumnya bertugas diluar, yang mayoritas dari mereka, memiringkan beret ke kanan karena bertugas untuk siaga bertempur melawan musuh apabila ada penyerangan berlanjut.
"Tuan X dari kelompok Red Eagle, melapor untuk bertugas Pak!" Hansen memberi hormat sebagai formalitas.
"Duduklah!" pria paruh baya yang mejabat sebagai seorang presiden ke dua puluh nampak serius seperti biasanya. Rambutnya sudah memutih, namun wajah dan tubuh atletisnya membuatnya tampak seperti seorang pemuda.
Hansen, Jenderal Besar Hanan, dan Marsekal besar Leo yang baru saja berjalan dibelakang Hansen, duduk di atas kursi mereka masing masing.
Suasana nampak tegang karena semua orang menatap Hansen cukup intens dan penuh kecurigaan. Semua karena cara datangnya yang cukup membuat bingung semua orang.
"Bisakah kau jelaskan apa yang terjadi, Tuan X?" Gibran Jayachandra yang merupakan presiden ke dua puluh indonesia, nampak serius dan menatap Hansen dengan intens.
"Kelompok scorpion bukanlah musuh, mereka tak pernah membunuh orang yang tak layak dibunuh," Hansen menjawab tanpa ragu.
"Mereka telah membunuh begitu banyak prajurit dan warga sipil, apa maksudmu mereka yang telah tiada itu orang orang yang layak dibunuh!?" Marsekal Besar Leo menatap Hansen dengan kebencian. Sedangkan Jenderal Besar Hanan hanya bisa diam dan mencoba memahami situasi Hansen.
__ADS_1
"Nuklir tingkat rendah ... ," Hansen mengangkat suaranya perlahan. "Bukankah senjata itu cukup mengganggu bala bantuan yang hendak datang sebelumnya?"
"Jika bukan karena bantuan pihak Scorpion yang mengambil alih senjata itu, apakah para penjahat dengan simbol kalajengking merah di tangan mereka itu dapat di atasi?"
"..." Semua orang terdiam dan mencoba memahami.
"Demon Eagle!" Hansen mengucapkan sepatah kata yang membuat semua orang terkejut. Dan melanjutkan dengan kejutan lain yang berbunyi, "Dialah pendiri sekaligus pemimpin asli kelompok Scorpion!"
"Sedangkan yang membuat kekacauan tadi, bukanlah kelompok yang berada di bawah naungannya, melainkan hanya sekelompok peniru."
"Sudah kuduga, sekali penghianat tetaplah penghianat. Awalnya kupikir Demon Eagle hanya akan keluar dari militer, tak kisangka dia malah menjadi kriminal dan mendirikan kelompok pembunuh berdarah dingin," Marsekal Leo mencibir ucapan Hansen dengan penuh kekesalan.
Hansen yang tak suka dengan cibiran Marsekal Leo, tentu saja membalas ucapan tersebut dengan lirikan tajam penuh amarah. Seketika nyali sang Marsekal pun lenyap hingga tak berani mencibir lebih jauh.
"Lanjutkan!" Presiden Gibran mengangkat suaranya dengan nada serius untuk mengembalikan fokus Hansen.
"Sebenarnya hanya itu yang bisa kusampaikan ..." Hansen terdiam sejenak lalu berkata, "Jika boleh tahu, tuntutan apa yang dikatakan kelompok peniru itu?" Hansen kembali memulai pembicaraan untuk memastikan.
"Serahkan pra Holder!"
"Itulah yang mereka tuntutkan," Presiden Gibran menjelaskan.
"Holder?" Hansen terlihat heran.
Hansen melirik sang presiden dan berkata, "Kupikir hanya diriku yang mendapat hak ini, bukankah itu yang anda tulis tuan presiden .. ?" Hansen tersenyum sembari menyembunyikan kekesalannya.
Merasa bahwa dirinya terpojok, sang presiden pun memberikan buku catatan yang bertuliskan informasi mengenai dua puluh daftar penerima lencana kebal hukum, dimana Hansen, Marsekal Leo dan Jenderal Besar Hanan juga termasuk di dalamnya.
Setelah membiarkan Hansen membaca daftar nama tersebut, pertemuan pun berakhir.
.....
"Kak Andini!" Amelia berlari ke pelukan Andini saat melihatnya datang berkunjung. Dan Andini pun membalas pelukan tersebut dengan penuh rasa khawatir.
"Apakah kau baik baik saja?"
"Banyak luka gores ditubuhmu, kenapa kau bisa berada disini dan masalah apa yang menimpamu!?" Andini tak berhenti bertanya karena begitu menghawatirkan kondisi adiknya. Dia terus memperhatikan luka di tubuh Amelia, seraya bertanya apa yang terjadi dengannya.
Amelia yang menyadari kakaknya begitu mencemaskan dirinya, tentu saja merasa senang dan terhibur. Namun kesenangannya itu tak bertahan lama, sejak Zaskia mulai menampakkan diri.
__ADS_1
"Kau ... !?"
"Kenapa kau ada disini!?" Andini berteriak kesal.
Andini nampak emosi hingga melepas pelukan Amelia dan bergegas mendekati Zaskia.
Plakk!!
Tamparan yang cukup keras, dilayangkan ke wajah Zaskia hingga membekas di pipinya.
"Beraninya kau meninggalkan pekerjaan dan berinisiatif mendekati suamiku, kau benar benar mengecewakanku, Zaskia Arista!"
"Karena kelancangan dan ketidak bertanggung jawabanmu, mulai sekarang kau kupecat!" Andini nampak begitu emosi saat itu, hingga ingin menamparnya kembali. Namun Letnan Eliza dengan pakaian orang biasa, menahan tamparan Andini dan berkata, "Mohon jangan bersikap kasar kepadanya, Nona,"
"Siapa kau?" Andini nampak bingung saat orang asing mencegah dirinya. Sedangkan Zaskia memanfaatkan kebingungan Andini untuk menyingkir dari tempat itu. Pernyataan Andini yang secara tak langsung mengakui bahwa Hansen adalah suaminya, merupakan alasan yang cukup bagi Zaskia pergi menjauh.
Meskipun memiliki rasa terhadap Hansen, Zaskia tak pernah berniat untuk merebutnya dari Andini. Terlebih lagi, karena tak ada hasrat berlebih yang terlihat jelas di mata Hansen disaat mereka bersama.
"Tu ... tunggu Nona!" Letnan Eliza bergegas pergi menyusul Zaskia. Sedangkan Andini yang merasa diabaikan hanya bisa mendecih dan bertanya tanya tentang siapa gadis asing itu, dan kenapa dia berinisiatif untuk ikut campur.
"Arghh!"
"Kenapa dia pergi sih!"
"Aku kan belum sempat menanyakan keberadaan Hansen!" Andini berteriak kesal dan hendak menyusul Zaskia, namun Amelia menahan Andini dan berkata, "Jika kakak mencari kak Hansen, kak Andini bisa bertanya padaku."
"Kak, Hansen?"
"Kenapa kau menyebut pria tak berguna itu dengan sebutan seperti itu!?"
"Apa kau mulai mengakuinya sebagai seorang kakak ipar!?"
"Kau kan tahu kalau aku ingin bercerai dengannya!?" Andini berteriak kesal.
"Be ... berhenti menyebut kak Hansen dengan sebutan pria tak berguna, dia jauh lebih baik dari pada kak Herry Wijaya!"
"Meskipun dia tak sekaya kak Herry, setidaknya kak Hansen bukan seorang pria genit yang suka mempermainkan begitu banyak wanita!?"
"Meskipun dia kekasih lamamu, apakah kakak tak takut dicampakkan seperti gadis gadisnya yang lain!?" pembelaan Amelia terhadap sikap Hansen, tentu saja menyulut emosi Andini. Hingga membuat sebuah tamparan mendarat tepat di wajahnya.
__ADS_1
"Berhenti menjelek jelekkan Herry, Kau tak tahu apapun tentangnya!"
"Aku dan dia sudah berhubungan sejak kecil dan saling mencintai!" Andini menolak fakta bahwa Herry Wijaya memiliki begitu banyak wanita. Barulah Amelia tersadar, bahwa kakaknya sudah termakan rayuan manis Herry Wijaya yang pernah berjanji tak akan mendekati gadis lain lagi kecuali dirinya.