Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 66 : Murka Mr W


__ADS_3

"Apa maksud semua ini, Menantu!" Mr W nampak duduk di atas sofa yang terletak di ruangan kamar pribadinya. Rosa Riyadi nampak duduk di sampingnya dan hanya bertindak sebagai seorang pengamat. Membiarkan suaminya mengatasi masalah tersebut.


Krakkk!!!


Kacamata hitam yang Mr W kenakan, perlahan retak dan berakhir hancur entah bagaimana. Mata merah dan biru nampak bersinar tak seperti biasanya.


Perasaan aneh dan mencekam, Hansen rasakan sejak saat kedua mata itu terekspos. Rasanya seperti saat dia menatap mata merah Theo, namun jauh lebih mendominasi dari pada itu.


'Sebenarnya, mata apa itu?' pikir Hansen sejenak dengan mata yang terbelalak.


Mr W yang emosi, perlahan bangkit dari kursinya. Lalu menarik kerah Hansen yang tak kunjung menjawab karena terkejut akan mata Mr W.


"Jawab aku dengan benar, sebelum aku membahayakan keluargaku!" Mr W tak bercanda dalam kata katanya, semua karena jika Hansen yang merupakan seorang Holder tewas di tangan Mr W tanpa melalui Battle Holder, maka Law Breaker yang merupakan organisasi terbesar dunia akan berbalik mengincar seluruh keluarganya.


"Aku tak sengaja menghamili wanita lain, dan tak bisa melanjutkan pernikahan kami," Hansen menjawab sembari menunduk. Dia tak menjelaskan secara detail karena tahu walau bagimanapun dia lah yang akan dicap bersalah saat ini.


Dengan kepalan penuh amarah, Mr W pun memukul wajah Hansen hingga terpental menghantam Dinding.


Duakkk!!!!


Dinding kamar retak parah, sementara lukisan yang tergantung di dinding agak atas, perlahan jatuh menghantam tubuh Hansen yang bersimbah darah.


"Jadi ini rasanya pukulan Holder Nomor satu yang mengamuk?" gumam Hansen dengan mulut yang mengalirkan darah. 'Apa aku akan selamat kali ini?'


'Mengapa Andini memberikan suratnya kepada ayahnya?'


'Apa dia berharap aku membatalkan niatku?' pikir Hansen sembari mengingat bagaimana ekspresi Andini saat menandatangani surat perceraian yang Hansen bawakan.


"Apa yang kupikirkan ... ,"


"Jelas jelas dia tak memiliki perasaan apapun terhadapku," gumam Hansen sembari menahan rasa sakit yang dia derita, tanpa berniat melawan meski apapun yang akan Mr W lakukan terhadapnya.


Rosa Riyadi sangat ingin melerai keduanya, tapi tak memiliki keberanian untuk itu. Semua karena ini kali pertama baginya melihat Mr W semarah itu.


"Siapa nama wanita itu?" tanya Mr W dengan penuh kekesalan. Kakinya nampak mendarat di dada Hansen yang tertutup kemeja putih. Sementara kemeja putih itu nampak kotor dan bersimbah darah.


"Za ... Zaskia," Hansen berucap lemas.

__ADS_1


"Wanita malang itu!?"


"Dari semua orang, kenapa harus dia!?" Amarah Mr W perlahan mereda entah bagaimana.


"Kau boleh melakukan apapun padaku, tapi tolong jangan sakiti dia. Bagimanapun dia hanyalah korban," Hansen bersikap seakan dialah yang bersalah. Namun Mr W sangat tahu bahwa Hansen bukanlah tipe pria seperti itu. Namun mendengar betapa protektifnya Hansen terhadap Zaskia, kembali membangkitkan amarah yang baru saja mereda. Beruntungnya tepat sebelum Mr W kehilangan kendali atas amarahnya, Andini muncul sembari ditemani Amelia. Keduanya datang secepat mungkin setelah Rosa Riyadi menghubungi mereka dengan nada panik.


"Hentikan ayah!" baik Andini maupun Amelia, berteriak cukup kencang dengan raut wajah yang terkejut. Mereka tak pernah tahu bahwa ayah mereka akan semarah itu hingga akan membunuh menantunya sendiri.


"Kenapa kau masih membela suami sampahmu ini?" tanya Mr W sembari menghentikan pukulan terakhirnya. Dia menatap Andini dengan perasaan bersalah sekaligus kesal karena berpikir telah salah memilih seorang menantu.


"Jangan limpahkan semua kesalahan terhadap kak Hansen, Ayah!"


"Bukan kak Hansen saja yang menginginkan perceraian ini!"


"Lagipula dia hanyalah korban saat itu, dan pelaku utamanya adalah Kami yang telah meruntuhkan perasaan serta harga dirinya," Amelia menjelaskan segalanya kepada Mr W, karena tak ingin penyelamatnya tiada.


"Tidak, Ayah!"


"Akulah yang harusnya disalahkan kali ini!"


"Letak masalahnya bukan perjanjian ini, tapi bagaimana Hansen menghargai hubungan ini!"


"Meski hanya pernikahan palsu, bukan berarti bahwa dia diijinkan untuk menodai nama besar keluarga Wisnu dengan menodai wanita lain!" Mr W merobek surat perjanjian itu, lalu merobek surat perceraian yang saat ini sedang dipegang oleh Rosa Riyadi.


Srettt!!!


Mr W merobek surat cerai itu, lalu berkata bahwa tak akan ada kata cerai dalam kamus mereka. Dan Zaskia akan dianggap tak pernah ada.


"Percuma saja Ayah melakukan itu!"


"Baik aku maupun Hansen sudah menandatangani surat cerai yang lain, dan sudah dipastikan bahwa surat itu sedang dikirim ke pengadilan. Tak lama lagi, kami pasti akan bercerai!" tegas Andini dengan pandangan kesal.


"Jadi, kalian punya dua surat yang sudah ditandatangani?" Mr W nampak geram, sementara Andini mengangguk tanpa ragu.


"Lantas kenapa kau memberikan salah satunya padaku?" tanya Mr W bingung, dia berpikir bahwa Andini sudah memiliki rasa dengan Hansen dan berniat untuk meminta Hansen mengurungkan niatnya. Karena itulah dia mengamuk saat mendapati alasan gila Hansen bercerai. Bagaimana tidak? Mana ada seorang ayah yang tak marah saat mengetahui putri kesayangannya tersakiti.


"Sejujurnya aku merasa agak kesal karena Hansen melakukannya tadi pagi, padahal dia kan bisa melakukannya saat sudah bercerai," gumam Andini dengan nada kesal.

__ADS_1


"Kupikir ayah hanya akan memukulinya saja, tak kusangka kalau Ayah akan senekad ini hingga ingin menghabisi nyawanya. Apa Ayah ingin membunuh masa depanku juga!?" Andini kesal karena sedikit tahu akibat membunuh seorang Holder diluar arena Battle Holder.


"Bagaimana mungkin Ayah tak marah, saat mengetahui menantunya menghamili wanita lain," Amarah Mr W nampak mereda dan berganti ke perasaan khawatir dan bersalah.


"Aku juga baru mendengarnya dari mulut Amelia tadi, dan sedikit kesal karena dia pernah memarahiku saat menangkap basah diriku bersama pria lain. Padahal kan di perjanjiannya tak tertulis larangan untuk itu," gumam Andini kesal. Dia lupa bahwa kata kata terakhirnya itu merupakan bom bunuh diri baginya.


"Pria lain?"


"Apa bocah tengik itu lagi?" tanya Mr W kesal.


"To ... tolong jangan sakiti Herry, Ayah!"


"Aku sangat mencintainya!" Andini gemetar karena takut ayahnya melakukan hal nekad lagi.


"Apa kau benar benar menginginkan perceraian ini?" tanya Mr W memastikan.


"Tentu!" Andini menjawab tanpa ragu.


"Baiklah!"


"Aku tak akan ikut campur terhadap perceraian kalian, tapi ingat ini baik baik!"


"Kau akan menyesali keputusanmu, putriku!" Mr W memperingatkan karena paham bagaimana karakter Herry saat ini. Sementara Andini nampak tak mempedulikan peringatan Ayahnya.


Setelah selesai memperingatkan Andini, Mr W menutup percakapan dengan berkata,


"Pergilah, dan minta prajurit untuk membawa Hansen ke ruang perawatan!" ucap Mr W sembari menatap Andini dengan maksud memintanya pergi.


"Sementara kau Amelia, ikut ke ruang lain dan ceritakan segala hal yang kau ketahui!" Mr W menatap Amelia kesal. Meski dia bisa saja mendapatkan banyak informasi yang tak mudah dijangkau kebanyakan orang, ada beberapa kasus dimana Mr W tak dapat mengetahui itu terutama sejak para pelanggar hukum sedang aktif aktifnya belakangan ini.


Saat Andini pergi untuk memanggil prajurit, Mr W mendekat sebentar ke telinga Hansen lalu berkata, "Perceraian kalian tak akan sah sebelum kalian menghadiri pengadilan." Ucapan Wr W mengandung makna lain, dia berniat menghalangi pengesahan perceraian mereka. Dan ucapan itu tidak bisa dianggap remeh, karena Mr W bisa menggunakan otoritasnya sebagai Holder nomor satu.


"Itu hanya akan menghambat kebahagiaan putrimu, pak," Hansen menjawab pelan.


"Aku lebih mengetahui banyak hal jika dibandingkan dengan dirimu. Dan aku sangat yakin bahwa mau tak mau, kalian harus kembali bersama lagi. Sampai saat itu tiba, tolong jaga wanita malang itu sembari melindungi putriku. Karena bagaimanapun, dia berjasa akan perawatan adikmu," bisik Mr W sembari menyentuh pelan pundak Hansen di akhir kalimatnya.


"Bawa dia!" Mr W tak berbicara tanpa membalik badannya saat mendengar suara langkah para prajurit. Dia berusaha melindungi kerahasiaan warna matanya hingga dia pergi meninggalkan ruangan tersebut bersama Amelia di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2