Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 103 : Dampak setelah peperangan


__ADS_3

Setelah insiden perang yang tak dapat terhindarkan selesai, seluruh peserta perang baik dari pihak angkatan laut maupun angkatan udara, di minta untuk berkumpul di sebuah tanah lapang oleh pihak pemerintah. Tentunya semua itu mereka lakukan setelah membiarkan tim medis yang dikirim oleh pihak pemerintah menangani semua korban perang tersebut.


Tiupan terompet, suara peluru yang ditembakkan ke atas udara berulang kali sebagai tanda penghormatan bagi mereka yang telah gugur dalam medan perang. Semua pihak nampak menunduk sedih saat melihat rekan rekan mereka dikubur satu demi satu.


Seusainya proses pemakaman berakhir, semua pihak yang terlibat dalam insiden perang saudara segera dikumpulkan ke sebuah tanah lapang untuk diminta pertanggung jawaban.


Mr W yang menjadi penyebab awal pecahnya perang, diminta untuk menaiki panggung sembari menghadap sang presiden yang dikawal belasan tentara elit dalam posisi berdiri tegak.


"Laksamana besar Wisnu, untuk ke sekian kalinya aku akan bertanya padamu, apakah kau tak menyesali keputusanmu untuk memicu sebuah perang saudara!" Gibran Jaya Chandra bertanya dengan tatapan intens. Dia menekankan pertanyaan tersebut berulang kali, namun Mr W yang kini sedang tidak mengenakan kaca mata hitamnya tetap menjawab tanpa ragu bahwa dia tak menyesali keputusan tersebut.


"Apa kau tahu akibat dari perbuatanmu? Sebelum terjadinya perang yang kau sulut, negara ini sudah cukup kekurangan tenaga militer! Terimakasih berkatmu negara kita sudah menjadi negara terlemah jika dibandingkan dengan negara negara yang lain. Jika fakta ini terkuak oleh negara lain, kau tahu apa yang akan terjadi bukan!?" Gibran Jaya Chandra kembali bertanya dengan nada menekan.


"Adi Wijaya tak pantas untuk dipertahankan! Dan anda cukup tahu akan hal itu! Lagi pula, mendapatkan kembali lima ratus ahli senjata dan elit tentara red Eagle beserta Weapon Eagle kurasa cukup sepadan dengan kehilangan seorang veteran seperti Adi Wijaya. Bukankah begitu pak presiden?" balas mr W dengan kedua mata yang menyala nyala.


"Drone Law Breaker bisa mengawasimu kapan dan dari mana saja! Apa kau sudah tak takut lagi untuk menyembunyikan matamu itu! Laksamana besar Wisnu!" tegas presiden Gibran Jaya Chandra sembari meningkatkan tekanan yang dia pancarkan.


"Ada seorang dari five Pondation yang tinggal di negara kita! Dan nampaknya orang itu tertarik untuk melihat perkembanganku untuk menjadi semakin kuat. Berdasarkan apa yang saya ketahui di masa lalu, saat seorang petinggi sepertinya berkelian di sebuah negara, maka semua drone yang berada di negara tersebut hanya akan bisa diakses olehnya!" Mr W menjelaskan tanpa rasa ragu.


"Dengan kata lain, selagi orang itu tertarik terhadap perkembanganmu maka Law Breaker pasti .... " Gibran Jaya Chandra mencoba menyimpulkan, kemudian Mr W segera melanjutkan, "Ya! Tak akan ada lagi anggota Law Breaker yang mencoba mengacau negara ini!"


Ketika suasana tegang sudah mulai mereda, suara tembakan serta benturan benda yang keras terdengar dari tempat di mana semua anggota angkatan udara dimakamkan. Dan tak lama setelah itu, sebuah panggilan masuk melalui alat bantu komunikasi di telinga salah satu prajurit yang bertugas menjaga presiden di sampingnya.


"Gawat pak! Seseorang telah menyusup dan mencuri mayat Marsekal Besar Adi Wijaya! Kami berusaha untuk menghentikannya tapi ... " Suara pria itu lenyap seketika digantikan oleh suara lain yang berbunyi, "Jangan buat keributan yang tak perlu!" dalam bahasa inggris.

__ADS_1


"Suara apa itu!" Semua orang dikejutkan oleh suara ledakan yang begitu mencolok dari arah menuju area pemakaman.


Ketika semuanya terfokus ke sumber suara, prajurit elit yang telah menerima kabar dari rekannya yang sedang berpatroli pun segera melapor dengan nada serius.


"Pak! Seseorang telah mencuri mayat Marsekal besar Adi Wijaya! Berdasarkan dari suara yang kudengar melalui ear piece, nampaknya orang itu berbahasa inggris dengan cukup fasih! Tapi saya tak memiliki petunjuk mengenai seperti apa wajahnya karena ... ," Ketika hendak menjelaskan, prediden Gibran Jaya Candra segera memotong ucapannya dengan berkata, "Tak perlu kau jelaskan pun aku sudah tahu! Lihatlah ke langit sana!"


Drone drone Law Breaker beterbangan jauh di atas langit yang berada tepat di area pemakaman para anggota militer.


"Sebenarnya, apa yang orang itu ingin lakukan dengan mayat Adi Wijaya!?" Mr W melirik ke arah Drone dengan penuh kebingungan.


Seharusnya mr W diberikan hukuman mati atas tindakannya yang merugikan negara, namun karena negara akan menjadi jauh lebih lemah jika harus kehilangan veteran perang yang lain, presiden Gibran Jaya Chandra memutuskan untuk mengampuninya dan hanya memberikannya perintah untuk membereskan semua kekacauan yang ditimbulkan oleh pecahnya perang.


"Sepertinya kau tak perlu ikut denganku ya, pak tua!" Demon Eagle mengawasi keadaan melalui monitor yang terhubung dengan drone elang merah miliknya. Saat itu dia berada di dalam sebuah kapal selam yang dimiliki oleh pasukan perompak yang tak puas dengan keadaan negara saat ini.


"Sepertinya negara masih enggan untuk melepaskan pak tua itu," Demon Eagle menjawab dengan sedikit kecewa.


"Yah setidaknya, Weapon Eagle sudah aman sekarang, kita jadi tak perlu pergi untuk menjemputnya, bukankah begitu Theo?" tanya Danger Eagle sembari memakai setelan seorang pesulap.


"Bisakah kau berhenti memanggil nama asliku? Pesulap licin!" Demon Eagle nampak kesal.


"Hanya Savior Eagle yang belum kita temukan posisinya, kuharap dia dalam keadaan baik baik saja," sambung Oliver kama sembari menghela napas.


"Yah, semoga saja rambutnya tak memutih seperti milikmu!" Theo sedikit mengejek.

__ADS_1


"Apa kau ingin merasakan tembakan dari seorang penembak jitu! peluruku tak pernah meleset saat aku serius loh" Oliver kama nampak kesal hingga mengeluarkan senapan laras panjangnya.


"Cih beraninya maen senjata! Dasar pengecut!" Demon Eagle menunjukkan mata merahnya dan bersiap untuk bertarung.


"Bisakah kalian berdua berhenti membuat keributan!"


"Berhenti melakukan hal yang tak perlu dan bantu aku memikirkan cara untuk menarik Weapon Eagle ke sisi kita segera!" Tactic Eagle nampak emosi.


"Maaf saja, aku paling benci memikirkan hal hal yang rumit!" Oliver kama memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan.


"Cih, dasar otak kosong!" Demon Eagle meledek.


"Apa kau bilang!" Oliver Kama dan Demon Eagle kembali beradu mulut, hingga membuat Tactic Eagle dan yang lainnya kelelahan melihat tingkah mereka.


Di sisi lain, Hansen yang baru saja pulih setelah operasi pengangkatan chip peledak di dalam kepalanya, tak bisa melakukan apapun selain menunggu operasi kedua yang akan dilakukan ilmuan gila terhadap tubuhnya.


Dengan kekuatan yang tersisa saat ini, Hansen hanya bisa berjalan secara perlahan, jadi mustahil baginya untuk memicu pertempuran melawan Rose yang jelas jelas menolak untuk membiarkannya pergi.


"Jika kau peduli teehadap komandan kami, tolong jangan lakukan hal yang tak perlu. Terima saja nasibmu dan tahan rasa sakitnya nanti! Meski aku tahu operasi yang dilakukan ilmuan itu sangat bisa membuat orang ingin mati dan menjadi gila! Teruslah pertahankan hidup dan kewarasanmu!" Rose memberi saran dengan sangat serius. "Percayalah padaku, jika kau berhasil melewati operasi ini, kau akan menjadi jauh lebih kuat dari pada sekarang!"


Hansen tak memiliki pilihan lain selain percaya terhadap ucapan Rose, dia hanya bisa terdiam dan membiarkan segalanya terjadi. Hingga akhirnya operasi lanjutan yang di tunggu tunggu pun dimulai.


"Ini adalah berkat karena memiliki darah pria itu! Aku akan mengurusmu dengan baik kali ini, hahahahaha!" Ilmuan gila yang siap melakukan operasi tertawa keras sembari memegang pisau bedah dan jarum suntik di masing masing tangannya.

__ADS_1


__ADS_2