
Ciit!! Andini telah sampai di K-TV milik wijaya group. Setelah memarkirkan mobil Herry, dia dijemput seorang pelayan dan diajak masuk ke salah satu ruangan yang katanya tempat di mana Herry menunggu. Tetapi ....
Brukkk!! Andini tiba tiba saja didorong kasar oleh pelayan wanita itu, dan lalu dikunci di dalam ruang karaoke yang kala itu nampak kosong dan hanya berisikan sofa merah. Tak ada benda ataupun orang lain di sana.
"Hey apa yang kau lakukan!"
"Cepat buka pintunya!" Andini memukul pintu sembari berteriak kesal. Namun tak mendapat respon apapun hingga langsung menelepon Herry, dengan berkata,
"Halo, Sayang? Kamu di mana?"
"Bisa tolong cepat datang dan temui aku? Ada pelayan kurang ajar yang baru saja mengunciku di sini!" Andini bertanya dengan nada khawatir dan sedikit was was.
"Ssttt! Duduk saja di sofa dengan tenang ya ... aku sedang merencanakan kejutan untukmu," Herry berbisik pelan.
Andini yang masih belum menaruh kecurigaan terhadap Herry, tak dapat menutupi rasa senangnya. Wajahnya memerah sementara salah satu telapak tangannya menyentuh bibir sembari membayangkan kejutan apa yang Herry siapkan untuknya. Tentunya dia tak berpikir akan kejutan buruk, dan hanya membayangkan hal hal indah seperti permata, berlian atau hal baik yang lainnya.
Dengan harapan akan mendapat kejutan yang membahagiakan, Andini duduk bersimpuh tangan di atas sofa merah yang empuk. Tak lama sejak dia duduk, terdengar suara langkah kaki yang mengarah mendekat ke arah pintu masuk ruangan. Suaranya terdengar seperti langkah kaki dari puluhan orang. Andini yang sudah mengharapkan sebuah kejutan tentu saja menatap pintu itu dengan penuh antusias.
Kring kring! Kali ini Herry yang menelepon Andini, dan meminta agar Andini menutup matanya dengan kedua tangan. Tentunya karena tak menaruh kecurigaan apapun terhadap Herry, Andini langsung menutup mata dengan patuh. Dan perlahan membuka mata, ketika Herry berkata, "Kau boleh membuka matamu sekarang, Sayangku!"
Andini membuka mata secara perlahan, sembari berharap akan sebuah kejutan yang menyenangkan. Sayangnya saat matanya sudah benar benar terbuka, Andini yang malang malah mendapati bahwa Herry sedang bermesraan dengan seorang pelayan berambut dan berlensa mata ungu. Keduanya nampak berciuman sembari memasukkan lengan mereka ke tempat pribadi pasangannya.
__ADS_1
"Herry kau!" Andini tersentak dan ingin menampar kekasihnya saat itu juga, tapi salah satu orang yang saat itu sudah berjaga di belakang Andini, segera membius Andini dengan saput tangan yang telah dibasahi oleh cairan pembius.
Air mata perlahan mengalir di mata Andini, sementara kesadarannya perlahan lenyap bersamaan dengan matanya yang perlahan menutup.
"Ikat dia!" Herry menatap kesal.
......
Setelah mengalahkan Weapon Eagle, Hansen dikepung oleh segerombolan orang yang bernasib seperti Weapon Eagle. Semuanya berdatangan menaiki mobil jeep hijau loreng dengan jendela terbuka. Jumlah mereka mencapai angka ratusan, dengan wajah yang terbilang tak asing bagi Hansen. Wajah para bawahan Weapon Eagle. Anehnya ke lima ratus orang itu, nampak bermata merah entah bagaimana.
"Apa apaan ini!" Hansen mengepal erat tangannya dengan wajah yang teramat kesal. Terlebih saat menyadari bahwa para prajurit yang mengepungnya nampak menodongkan pistol tepat ke arahnya. "Apa sebenarnya yang terjadi pada kalian semua!?"
Hansen nampak bingung dan terdesak, meski saat ini dia dapat menangkap peluru yang terlihat oleh mata, menghindari seribu peluru yang ditembakkan secara bersamaan merupakan hal yang mustahil untuk Hansen.
Darr daarr darr!! ratusan peluru ditembakkan dari atas udara. Menghancurkan formasi para prajurit yang kala itu berhasil mengepung Hansen.
Saat semua mata terfokus ke atas langit, Hansen segera berlari membawa pergi Weapon Eagle beserta gadis berambut merah yang tergeletak tak berdaya dengan merampas kendaraan para bawahan Weapon Eagle.
Wooshh!! Meski terasa sulit, Akhirnya Hansen dapat melarikan diri. Semua berkat bantuan tak terduga dari bawahan Theo yang datang sembari menaiki helikopter. Meski jumlah mereka kurang lebih sama, tapi para bawahan Theo tak berani turun dan tetap menjaga jarak aman. Semua karena mereka merasa waspada terhadap pistol modifikasi milik orang orang Weapon Eagle.
Di tengah tengah perjalanan, saat Hansen sudah berada jauh dari tempatnya terkepung, Weapon Eagle terbangun dari pingsannya dan langsung mencekik Hansen yang saat itu sedang menyetir. Beruntungnya fisik Weapon Eagle saat itu sedang melemah, hingga dapat Hansen atasi dengan sekali pukul tepat ke arah wajah Weapon Eagle yang saat itu sedang mencekik dari kursi belakangnya.
__ADS_1
Brukk!! Weapon Eagle kembali terkapar menghantam kursi, sementara gadis berambut merah yang cukup takut dengan Weapon Eagle, malah membuka pintu dan melempar keluar tubuh Weapon Eagle.
"Apa yang kau!" Hansen terkejut akan aksi gadis itu, namun tak berani berbalik karena buru buru untuk menyelamatkan Andini.
"Pria itu terlalu berbahaya, aku takut jika harus terus satu mobil dengannya!" Gadis itu nampak begitu ketakutan dan diselimuti oleh trauma.Tubuhnya gemetar hingga sempat melupakan semua rencana jahat yang sempat terpikir olehnya.
Saat Weapon Eagle yang menjadi sumber dari traumanya berhasil dia singkirkan, gadis berambut merah itu segera memperhatikan wajah penolongnya. Dan langsung menyadari siapa identitas pria itu.
"Bu ... bukankah Anda suami sampahnya Nona Andini!?"
"Bagaimana bisa kau ... ," Gadis itu nampak bingung di awal karena apa yang dia dengar tentang Hansen tidak lebih dari cemoohan belaka. Saat menyadari bahwa rumor yang dia dengar dari Herry adalah rumor yang salah, gadis itu segera merubah targetnya hingga mulai menceritakan keburukan Andini dan membanding bandingkan dengan dirinya. Dia berusaha keras untuk merayu Hansen, tapi malah mendapat jawaban ketus seperti, "Jika kau tak bisa menjaga mulutmu, maka akan kulempar kau ke jalanan!"
Seketika gadis itu pun terdiam, dan perlahan menceritakan rencana buruk Herry terhadap Andini agar Hansen memaafkan kelancangannya.
Di sisi lain, di dalam salah satu markas rahasia Angkatan Laut. Adi Wijaya nampak melirik ke arah Alex yang mana merupakan salah satu dari petinggi Law Breaker. Orang yang entah bagaimana mengetahui markas rahasianya dan berhasil menerobos masuk mengacaukan semua rencana terbaiknya. Saat itu Alex nampak sedang memegang remot kendali yang bersimbolkan elang mekanik. Remot khusus yang telah dia modifikasi sejak berhasil membawanya kabur dari pusat penelitian Law Breaker di masa lalu.
"Bagaimana bisa remot itu ada padamu!?" Adi Wijaya tersentak kaget. Sementara Alex hanya menyeringai dan berkata, "Just Ask to your mate!"
Di suatu tempat di markas lain angkatan laut, seorang prajurit yang merupakan satu satunya subjek yang mau terus bersama dengan Adi Wijaya hingga saat ini. Nampak sedang tersenyum setelah menelepon seseorang. Dalam layar ponsel pria itu nampak nama yang bertuliskan, World Anger's Leader, Sky!
"Alex sialan! Beraninya dia membagikan nomor ponselku pada ketua!"
__ADS_1
"Padahal aku sudah memberinya mainan yang dia mau!" Pria itu nampak kesal sembari menatap ribuan layar cctv yang saat itu dalam keadaan mati.