Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 108 : Identitas


__ADS_3

Empat minggu telah terlewati sejak Hansen menyelesaikan operasi lanjutannya.


Berbagai macam uji coba dari mulai tes fisik hingga mental, Hansen lewati dengan nilai sempurna. Bahkan ada berbagai tes fisik yang melampaui ekspektasi semua orang. Terutama tes adu kekuatan dengan para pengguna micro chip yang sudah menggunakan micro chip untuk waktu yang cukup lama.


"Apa dia benar benar baru saja menyelesaikan operasinya empat minggu yang lalu!"


"Bagaimana bisa dia mengalahkan semua cyborg level 3 hanya dalam sekali serang? Meskipun serum x milik Number katanya cukup hebat hingga sanggup membuat tubuh penggunanya sekuat dan sekeras baja, bukankah ini terlalu berlebihan!?"


"Mungkinkah ini karena bawaan gennya? Kudengar dia adalah putra orang itu!" gumaman para penonton dan penguji terdengar dengan cukup jelas di telinga Hansen. Tapi dia tak menghiraukan gumaman tersebut dan terus fokus menerima tantangan setiap petarung yang ingin menguji bakatnya.


Kring kring!!


Ponsel salah seorang penguji telah berbunyi, dia pun segera mengangkatnya kemudian tak lama setelah itu dia pun segera menutupnya. Dengan wajah yang serius, pria itu pun berkata, "Kita sudahi pengujiannya! Kau sudah lulus! Sekarang ikuti aku menemui tuan besar! Tuan besar sangat ingin bertemu denganmu!"


Seketika suasana menjadi mencekam, mata semua orang terselimuti rasa iri dan dengki. Gumaman demi gumaman pun tak sengaja Hansen dengarkan karena ketajaman pendengarannya.


"Aku saja yang seorang cucu dari tuan besar tidak pernah melihat wajah dari kakek angkat kami itu! Bisa bisanya dia mendapat hak untuk melihatnya? Ketidak adilan macam apa ini!" Wajah semua orang nampak geram saat Hansen pergi meninggalkan mereka.


Di sebuah ruang yang gelap gulita, terdapat seseorang yang nampak sedang melihat layar komputer yang menunjukkan gambar CCTV yang terpasang di seluruh markas. Sementara Hansen hanya dapat melihat bagian belakangnya yang tertutup sebuah kursi hitam yang menghadap ke arah komputer.


"Aku sudah disini sekarang, katakan apa syaratmu agar aku bisa keluar dan membawa pergi Saviour Eagle dari sini!" tanya Hansen dengan dingin.


"Betapa dinginnya ... , apa itu caramu menyapa kakekmu saat baru pertama kali bertemu?" tanya Jaya Chandra tanpa membalikkan badannya.


"Kakek? Ayahku sudah memutus hubungan denganmu bagaimana bisa aku menjadi cucumu? Lagi pula bukankah hubungan kalian dulu hanya ayah dan anak angkat saja!" tanya Hansen menyela.


"Nak ... , sepertinya kau sudah salah paham. Kau pikir orang penting sepertiku akan tertarik untuk mengurus anak orang lain?" Jaya Chandra membalikan badannya sembari memutar kursi yang sedang ia duduki. Wajahnya masih tertutup topeng joker saat itu sehingga memberikan kesan terlihat seram dan mengerikan.

__ADS_1


"Maksud anda?" Hansen nampak bingung.


"Alasanku memungut anak jalanan untuk dijadikan seorang pewaris tidak lain adalah untuk mencari anak yang telah dibuang oleh keluarga dari mantan pacarku. Yang kutahu hanyalah umur, lokasi pembuangan dan jenis kelaminnya. Operasi lanjutan yang dialami ayahmu dan saudara angkat lainnya tidak lain juga bertujuan untuk mengetes kecocokan dengan DNA ku ... ," Jaya Chandra perlahan membuka topengnya dan menunjukkan wajahnya yang benar benar hampir mirip dengan Hendra Pratama. Yang membedakan hanyalah bekas luka di wajah serta matanya yang nampak lebih sipit.


'Mertuanya seorang marsekal besar angkatan laut, ibunya nomor satu di kelompok Number, Ayahnya seorang mantan veteran perang sekaligus mantan panglima besar angkatan darat, juga merupakan jenius yang diakui oleh tuan Jaya Chandra, dan sekarang aku malah mendapat fakta lain bahwa tuan Jaya Chandra yang ditakuti di dunia bawah merupakan kakek kandungnya! Identitas gila macam apa itu!' Ilmuan gila yang bertugas mengawal Hansen menemui Jaya Chandra tersentak kaget hingga menganga dan membuka matanya lebar lebar secara spontan.


'Tuan Jaya Chandra bukanlah orang yang mudah diajak bicara, Jika Hansen menceritakan sedikit saja perlakuanku terhadapnya ketika operasi ... ' Ilmuan gila nampak berkeringat dingin dengan tubuh gemetar ketakutan. "Tu ... Tuan besar ... jika anda berkenan, apa saya boleh pamit undur diri? Saya baru ingat bahwa ada sesuatu yang harus saya kerjakan segera," Ilmuan gila bertanya tanpa berani mengangkat kepalanya.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menunduk begitu? Tak biasanya kau bersikap begitu sopan! Apa ada yang salah dengan mainanmu!" tanya Jaya Chandra dingin.


"Glek!" Ilmuan gila menelan ludah sembari terdiam kaku karena terlalu takut untuk menjawab..


"Mainan? Apa aku termasuk salah satunya?" Hansen bertanya saat mengingat bahwa ilmuan Gila tersebut pernah menyebutnya demikian.


"Bagaimana mungkin aku menjadikan cucuku sebagai mainan bawahanku? Jangan bilang kalau ilmuan gila itu sudah memperlakukanmu seperti mainannya saat operasi beberapa minggu yang lalu!" Jaya Chandra nampak geram.


"Ah .... , aku mengerti sekarang ... ," Hansen bergumam sembari melirik ke arah ilmuan Gila yang gemetar ketakutan. 'Aku akan menggunakanmu dengan sebaik mungkin!' pikir Hansen sembari menyeringai tajam.


"Dia merawatku dengan baik kok, Kek ... bukan begitu tuan ... " tanya Hansen dengan nada mengintimidasi.


"Hahahahahah! Kau benar benar pandai menghiburku! Tak seperti ayahmu yang tak mau memanggilku ayah, kau langsung memanggilku Kakek setelah aku mintai! Selamat nak! Kau benar benar berhasil membuatku senang! Kau layak untuk diberi hadiah! Katakan saja apa yang kau mau ... aku pasti akan memberikannya saat itu juga!" Jaya Chandra nampak begitu gembira.


"Jika aku meminta posisimu, apakah kau akan melakukannya?" tanya Hansen memastikan.


"Sayangnya untuk sekarang kau masih belum layak, meski kuakui kau kuat, kau masih belum cukup kuat untuk menerima posisi ini!" ucap Jaya Chandra dengan mata ungu gelap yang memberikan tekanan mendominasi.


"Peringatan! Orang di hadapan anda sangatlah berbahaya! Diharapkan untuk segera melarikan diri karena anda bukanlah lawannya!" Pesan berupa layar transparan yang hanya nampak di mata Hansen yang berwarna hijau tua muncul bersamaan dengan suara yang membacakan isi pesan tersebut.

__ADS_1


"A. I nya pasti memberimu peringatannya kan? Jika peringatan itu sudah tak muncul lagi saat menghadapiku, maka bisa dikatakan bahwa kau sudah cukup layak! Karena sekarang masih belum, mintalah hal lain!" sambung Jaya Chandra sembari mengurangi tekanannya.


"Kalau begitu ... bebaskan Saviour Eagle dan bawahannya!" sambung Hansen memastikan.


"Itu juga tidak mungkin karena mereka adalah pengekangmu agar tak memutuskan keluar seperti halnya yang dilakukan ayahmu! Jika kau benar benar ingin melepas mereka atau mengubah aturan keluarga Jaya Chandra, Jadilah kuat sampai benar benar mencapai standarku!" sambung Jaya Chandra dengan tegas.


"Adikku sedang tak sadarkan diri saat ini ... , jika aku memang cucumu bukankah dia juga cucumu? Bisakah kau membiarkan Saviour Eagle untuk memeriksanya?" tanya Hansen terakhir kali. Dia sudah tak tahu lagi harus meminta apa hingga memutuskan untuk berhenti berharap apabila permintaannya itu masih juga tidak bisa dikabulkan.


"Itu juga tidak mungkin!" sambung Jaya Chandra yang sejenak membuat Hansen kehilangan harapannya.


'Begitu ya ... , kalau begitu aku tak punya pilihan lain selain meminta ilmuan gila ini dengan mengancamnya,' pikir Hansen sembari melirik ke arah ilmuan gila yang masih membungkuk ketakutan.


"Karena kondisi adikmu bukanlah kondisi yang bisa ditangani oleh seorang pemula seperti Saviour Eagle. Lebih baik kau bawa Ron untuk memeriksanya, meski sifatnya memang agak bermasalah ... dia tetaplah seorang ilmuan jenius!" sambung Jaya Chandra sembari melirik ke arah ilmuan gila.


"Oh ... jadi namamu Ron ya? Kupikir ilmuan gila adalah nama aslimu!" ledek Hansen.


"I ... itu hanya julukan tahu!" Ilmuan gila menunjuk dengan kesal.


"Wah ... sudah berani bersikap kasar ya! Sepertinya akan lebih baik kalau aku ceritakan saja kali ya?" sindir Hansen.


"A ... anu tuan muda, tolong jangan!"


"Aku akan melakukan apapun yang anda minta, asal tidak kau ceritakan itu!" Ilmuan Gila nampak panik.


"Ceritakan apa?" tanya Jaya Chandra bingung.


"Tak ada apa apa kok, benar kan?" tanya Hansen sembari menatap dingin sang ilmuan Gila.

__ADS_1


"Be ... benar, tak ada apa apa kok!" Ilmuan gila nampak menyesali perbuatannya.


__ADS_2