
Hansen terbaring di atas ranjang dimana dia dirawat. Sementara Theo yang memnita untuk bertemu, kini sudah berada tepat di hadapan matanya.
"Apa yang terjadi padamu, Komandan?" tanya Theo penasaran.
"Bukan apa apa, hanya kesalah pahaman kecil saja," jawab Hansen mengalihkan. Dia melambai sembari mencoba mengganti topik pembicaraan, namun Theo yang penasaran akan siapa yang berhasil menghajarnya seburuk itu, terus melanjutkan dengan berkata, "Siapa?"
"Siapa yang menyerangmu diam diam hingga seburuk ini?" tanya Theo penasaran, matanya memerah karena kesal bahwa ada orang yang lebih dulu mengalahkan rival terkuatnya. Sedari dulu Theo sangat suka bertukar serangan dengan Hansen untuk menaikkan skill bertarungnya dan tak pernah menang karena Hansen selalu berada satu langkah didepannya. Bagaimanapun juga, Hansenlah yang membawanya ke dunia militer dan cara untuk bertarung dengan tangan kosong.
"Tak ada yang menyerangku diam diam kok," jawab Hansen sembari menghela napas, karena enggan melanjutkan percakapan tersebut.
"Jadi dia mengalahkanmu dengan adil?" tanya Theo bersemangat. "Ternyata ada juga ya, yang bisa mengalahkanmu ahhahhha!"
"..." Hansen terdiam kesal melihat tingkah Theo yang terus meledeknya dan terus mencari tahu siapa yang telah mengalahkannya. Karena lelah dan tak bisa menyumbat mulut cerewet Theo, Hansen segera menyela dan berkata, "Laksamana Besar W!"
Seketika Theo terdiam, karena nama itu memang pernah dia dengar. Tapi, hanya melalui rumor yang mengatakan bahwa dia merupakan sosok misterius yang tak suka terlalu ikut campur dalam urusan negara. Veteran perang yang memutuskan bersikap netral dan mau bertindak apabila audah menyangkut keamanan keluarganya. Beberapa rumor juga mengatakan bahwa Mr W hanya ingin hidup damai dengan segala yang telah dicapainya saat ini. Dan semua rumor itu mendekati fakta sesungguhnya. Karena sesungguhnya, Mr W memang selalu bertindak di dalam bayangan tanpa berniat mengekspos identitas lainnya sebagai salah satu keluarga terbesar di Indonesia.
Diantara semua rumor miring itu, Theo hanya tertarik pada satu rumor. Yaitu rumor yang mengatakan bahwa dia adalah seorang sosok yang terkuat di negara ini.
"Awalnya kipikir itu hanya rumor, ternyata orang itu benar benar kuat ya?"
"Rasanya aku ingin melayangkan tinju ke wajahnya, " ucap Theo dengan mata memerah.
__ADS_1
"Kira kira, dimana dia sekarang?" Theo bertanya dengan penuh semangat, nalurinya untuk bertarung seketika bangkit saat mengetahui bahwa ada sosok kuat yang melebihi komandannya.
"Jangan membuat masalah, dia habis mengamuk kemarin. Kalau kau mengunjunginya sekarang kau akan habis," jawab Hansen sembari menepuk wajahnya. Dia berusaha menahan Theo agar tak gegabah, tapi tak ada satupun dari kata kata nasehat Hansen yang didengarkan oleh Theo. Alih alih mendengarkan, dia malah pergi meninggalkan Hansen dan memutuskan bertanya kepada orang lain mengenai letak Laksamana Besar W menginap.
.....
"Apa kau yang bernama Laksamana Besar W?" tanya Theo saat berhadapan dengan Mr W di koridor ruangan. Dia menyeringai tajam karena tertarik dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Mata merahnya seakan bersinar layaknya hewan buas yang sedang menemukan mangsanya.
"Mata merah itu?"
"Apakah kau seorang subjek?" tanya Mr W dengan penasaran. Ini adalah kali pertama bagi keduanya berhadapan secara langsung. Semua karena dari segi wilayah kerja keduanya tak pernah bersebrangan. Jika Theo dan seluruh Red Eagle bertugas mengatasi masalah politik dan perang di daratan, maka wilayah kerja Mr. W iyalah lautan luas yang nyatanya tak selalu dia urus secara langsung. Saat itu, Amelia yang sedari tadi berjalan tepat disamping Mr. W tak bisa melakukan apapun selain menunjukkan rasa khawatirnya dengan memegangi ujung seragam ayahnya.
"Nampaknya kau tak tahu apa sebenarnya dirimu," sambung Mr W sembari menanggalkan kacamata hitamnya. "Ini adalah kacamata terakhirku, akan buruk bagiku jika harus kehilangannya," Mr W memberikan kacamata hitamnya kepada Amelia dan menyuruhnya untuk menjaga jarak dengan menggunakan bahasa isyarat. Dia mengedipkan kedua matanya secara perlahan sebanyak sekali, lalu menengokkan kepalanya ke arah pintu kamar Amelia yang tak jauh dari koridor dimana mereka berdiri.
"Mumpung tak ada orang lain, pastikan agar kau bisa menghiburku!" Mr W menyatukan kedua tangannya dengan senyum penuh kekesalan. Dari sudut pandang Amelia, nampak jelas bahwa saat ini Ayahnya ingin memanfaatkan pria yang menantangnya itu sebagai penyalur rasa kesalnya terhadap apa yang akan menimpa Andini.
Mata biru dan merah yang menyala nyala di balik kacamata hitam Mr W kini kembali terekspos, mengejutkan Theo yang juga merasakan kemiripan energi di salah satu mata Mr W. Mata merah yang nampak lebih terang dari pada mata merah gelapnya.
Woosh!! Mr W melangkan tinju dengan cukup keras, mendorong Theo yang berusaha menahan serangan tersebut dengan menyatukan kedua punggung tangannya ke area yang dapat melindungi wajah hingga perutnya.
Duakkkk!!! Theo terdorong hingga punggungnya menghantam pintu utama di ujung koridor, dan berakhir menabrak dua orang prajurit yang kebetulan berada di sekitar pintu masuk bangunan.
__ADS_1
"Apa apaan pukulannya itu?" gumam Theo dengan punggung tangan yang memerah dan mengeluarkan asap. Punggung tangan terasa panas sekaligus sakit, sementara tulang yang berada di area yang dipukul terasa sakit karena retak dibuatnya. Disisi lain, para prajurit nampak pingsan karena tak sanggup menahan kerasnya tubuh Theo.
"Seperti yang diharapkan dari seorang subjek tingkat awal, tubuhmu sekeras pribadimu."
"Namun perlu kau garis bawahi hal ini baik baik!"
"Aku tak pernah ada hubungan dengan kelompok pemberontak seperti Number!"
"Jangankan bergabung dengan mereka, mendengar ulah ulah jahat mereka saja sudah membuatku ingin meratakan kelompok itu!" ucap Mr W kesal. Dia mengatakan hal yang benar, karena memang tak pernah menyentuh urusan politik atau kekacauan di ibukota. Baginya mengurus wilayahnya saja sudah cukup merepotkan, karena kerap kali berurusan dengan perompak yang melewati perbatasan laut negara.
"Lalu mengapa kau mengucapkan kata yang mirip dengan anggota Number!?" Theo tak tahu pasti Andrew adalah anggota Number atau bukan, karena sebelum dia menginterogasinya dia malah berakhir meledakkan diri. Satu satunya hal yang membuatnya bertanya demikian ialah karena insting kuatnya.
"Number adalah kelompok pemberontak, bagaimana bisa kau mencurigai seorang abdi negara sepertiku?" tanya Mr W remeh. Dia menatap Theo seraya berjalan mendekat.
"Karena orang yang kucurigai sebagai anggota Number, juga seorang abdi negara yang berstatus cukup tinggi di dalam kepolisian!" tegas Theo dengan tatapan penuh amarah. Sementara Mr W yang mendengar jawaban Theo, hanya memasang wajah yang jelas tak percaya, hingga Theo dapat menebak apa isi pikirannya kali ini.
"Apa buktinya!" ucap Mr W yang sesuai dengan tebakan Theo.
"Apakah wajar bagi seorang perwira memanggilku dengan sebutan subjek?" sambung Theo sembari perlahan bangkit dari tempatnya terbaring.
"..." Mr W terdiam sejenak lalu berkata, "Jelaskan mengenai itu secara rinci!"
__ADS_1