Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar


__ADS_3

Hansen melangkah keluar dari dalam markas, ditemani oleh tiga orang Letnan Jenderal yang sejak awal bertugas untuk mengawal Hansen.


"Jenderal Fahar!" Hansen memanggil sembari melanjutkan langkahnya.


"Maaf pak, kini saya bukan seorang Jenderal bintang empat lagi. Jadi panggil saja saya dengan sebutan Letnan," Jenderal Fahar menyahut sembari melangkah mendekat, kepalanya nampak tertunduk karena merasa tak enak akan kisah di masa lalu.


" ... " Letnan Balin dan Letnan Eliza menatap jenderal Fahar karena sudah lama penasaran akan misi macam apa yang diterima jenderal Fahar hingga membuat jabatannya diturunkan.


"Apa kau baru saja menginterupsiku?" Hansen menghentikan langkahnya lalu melirik ke arah jenderal Fahar yang saat itu berdiri tepat disamping kanannya.


"Sa ... saya tak berani pak!" Jenderal Fahar berkeringat dingin dan turut menghentikan langkahnya.


Hansen melangkah maju, lalu berbalik mendekat dan menepuk kedua pundak Jenderal Fahar.


Suasana saat itu terasa begitu tegang, terutama bagi Jenderal Fahar yang sedang dihantui kejadian di masa lalu.


"Jika aku mengulang misi yang sama kepadamu, apakah kau akan menerimanya lagi?" Hansen terlihat begitu serius. Tak ada keraguan dalam ucapan maupun pandangannya.


"Bukannya saya tak mau, tapi ... ," Fahar terdiam sejenak lalu berkata, "Saya takut mengecewakan anda lagi, pak." Jenderal Fahar nampak begitu lesu dan tak percaya diri.


"Saat ini, hanya kaulah yang memenuhi syarat untuk melakukan misi ini. Tak ada satupun elit yang tersisa yang dapat kupercayai tugas ini. Baik dari segi kekuatan, maupun dalam segi kepercayaan." Hansen menatap Jenderal Fahar dengan penuh harap.


"Saya tahu itu, tapi ... ," Jenderal Fahar masih tampak ragu.


"Zero!" Hansen tiba tiba saja terlihat kesal dan penuh emosi. "Dia telah kembali!"


"Aku tahu," Jenderal Fahar menundukkan kepalanya dengan wajah penuh penyesalan.

__ADS_1


'Aku?'


'Kenapa mendadak Letnan Fahar merubah formalitasnya?' Eliza nampak penasaran.


"Fahar, berhentilah menyalahkan dirimu. Aku tak pernah menyalahkanmu, sungguh ... ," Tak ada keraguan dalam kata kata Hansen saat itu, dan Jenderal Fahar pun menyadarinya. Namun hati dan pikirannya tak ingin memaafkan kegagalan misinya di masa lalu.


"Jika aku mengambil tugas ini, dan kemudian gagal lagi, apakah anda akan berhenti dari militer lagi?" Jenderal Fahar masih dalam mood terburuknya.


"Jika kejadian di masa lampau terjadi kembali, hingga tak menyisakan apapun untukku, mungkin bukan hanya militer ini yang akan kutinggalkan." Hansen menggenggam erat pundak Fahar sembari menggertakkan giginya.


"Maksudmu?" Jenderal Fahar mulai mengangkat wajahnya.


"Apa artinya aku hidup tanpa mereka," Hansen melepas kedua genggaman tangannya dari pundak Jenderal Fahar, lalu tersenyum sembari menutupi tangis yang sempat terlukis di wajahnya.


Melihat ekspresi Hansen yang nampak begitu percaya terhadap dirinya, Jenderal Fahar langsung membungkuk dan berkata, "Akan kupastikan kejadian di masa lalu tak akan terulang lagi!"


"Jika aku gagal lagi dalam misi ini, baik gagal dalam melindungi salah satu maupun keduanya, maka aku berjanji akan mengakiri hidup ini saat itu juga!"


" ... " Letnan Jenderal Balin dan Letnan Jenderal Eliza hanya bisa terdiam sembari mencoba memahami apa yang sedang mereka bicarakan.


'Nampaknya tugas rahasia Jenderal Fahar berkaitan dengan misi perlindungan. Dan berdasarkan apa yang kudengar barusan, sepertinya orang yang dilindungi merupakan keluarga atau orang tersayang Tuan X.' Letnan jenderal Eliza menyimpulkan dengan sangat tepat. Dia menyadari bahwa kemungkinan besar di masa lalu Jenderal Fahar gagal melindungi salah satu orang yang Tuan X atau Hansen sayangi.


'Jenderal Fahar dikenal akan rekornya yang tak pernah gagal dalam misi, gagalnya dia dalam misi perlindungan seseorang seharusnya tidak menjadi alasan dibalik penurunan pangkatnya.' Letnan Jenderal Balin menatap Hansen bersamaan dengan Letnan Jenderal Eliza yang menyimpulkan hal yang sama.


'Alasan dibalik turunnya jabatan Jenderal Fahar, adalah karena berhentinya Tuan X dari militer, yang mengakibatkan bubarnya ribuan elit.' Letnan Jenderal Balin dan Letnan Jenderal Eliza yakin akan kesimpulan mereka.


........

__ADS_1


"Salam pak!" semua orang memberi hormat, saat Hansen berjalan keluar dari dalam gedung markas rahasia militer. Mereka memberi hormat disepanjang karpet merah seperti saat Hansen baru datang sebelumnya. Dan diujung karpet tersebut, nampak mobil hitam mewah milik pemerintah yang digunakan Hansen sebelumnya.


Disana juga terlihat, Letnan Daffin yang sedang memegang pintu mobil dan menunggu untuk mempersilahkan Hansen masuk.


" Aku akan pergi sekarang, tolong lindungi mereka untukku!" Hansen membalikkan badannya sembari melihat Jenderal Fahar yang sudah berdiri di garis awal karpet merah, bersamaan dengan Letnan Jenderal Eliza dan Letnan Jenderal Balin yang berada tepat di samping kanannya.


"Siap Pak!" Jenderal Fahar memberi hormat tanpa rasa ragu maupun rasa bersalah lagi. Hanya ada rasa tanggung jawab dan ingin menebus kesalahan di masa lalu.


"Kalau begitu, aku pergi dulu," Hansen memberi hormat secara singkat dengan menempelkan ujung jari telunjuk kanannya seperti apa yang kebanyakan tentara lakukan.


"Selamat jalan, Pak!" Letnan Jenderal Eliza dan semua prajurit disana memberi hormat secara bersamaan dan tak kunjung lepas, hingga Hansen benar benar kembali ke mobilnya.


Ceklak ...


"Antarkan aku ke hotel permata!" Hansen memberi intruksi tanpa ragu.


"Apakah anda tak ingin melihat Villa dan mobil baru anda dulu?" Letnan Daffin memastikan.


"Lakukan saja apa yang kuminta," tegas Hansen tanpa ragu.


"Baik, Pak!" Letnan Daffin mulai menjalankan mobilnya tanpa banyak bertanya lagi.


....


" ... " Zaskia Arista menunggu di meja resepsionis sembari sesekali melihat ke arah pintu untuk menunggu kedatangan Hansen. 'Apakah dia benar benar akan datang hari ini?'


"Apakah anda sedang menunggu seseorang, Bu?" gadis berambut hitam panjang yang bertugas sebagai seorang resepsionis saat itu, nampak heran dengan apa yang Zaskia Arista lakukan.

__ADS_1


"Fokus saja terhadap pekerjaanmu," Zaskia Arista menoleh sejenak sembari tersenyum galak.


'Ah, aku lupa. Bu Zaskia sangat membenci orang yang terlalu ikut campur urusan pribadinya, apalagi kalau sedang dalam jam kerja,' gadis resepsionis itu tenggelam dalam pikiran liarnya.


__ADS_2