Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama


__ADS_3

Hansen masih belum paham alasan mengapa Andini membiarkan David tetap menempel padanya.


Walau agak kesal, Hansen tetap memerlukan uang tersebut. Dia lalu berjalan mendekati Andini dan David dan berkata, "Apakah aku boleh bergabung?"


"Ah tentu, silahkan duduk sepupuku," ucap Andini sambil tersenyum.


Hansen tidak mengerti kenapa Andini memanggilnya sepupu. Tetapi dia menurut saja mengikuti apa kemauan istrinya tersebut.


"Terimakasih sepupu," ucap Hansen sambil tersenyum. 


"Bukankah dia suamimu? Kenapa sekarang jadi sepupumu?" tanya David heran.


"Dia sepupuku, kok! Suamiku mana paham soal bisnis. Aku sengaja memanggilnya kemari karena dia sangat pandai dalam hal bisnis. Oh iya, wajahnya memang terlihat mirip dengan suamiku, tapi percayalah dia bukan suamiku. Benar ‘kan?" Andini melirik ke Hansen penuh arti.


"Ya, aku sepupunya. Suaminya sedang mencari pekerjaan saat ini, jadi tak mungkin dia ada di sini," jawab Hansen serius.


"Tapi bagaimana bisa sepupumu terlihat mirip suamimu?" tanya David menyipitkan matanya, curiga.


"Haih, mereka memang agak mirip. Tapi tak seratus persen mirip. Kau sepertinya terlalu mabuk hingga tak bisa membedakan wajah mereka," sambung Andini sambil mencoba mengelak.


"Apa iya? Tapi aku kan sedang minum kopi, bagaimana bisa aku mabuk?" ucap David sambil menghela napas.


"Sudahlah, lupakan saja itu. Bisakah kita lanjutkan pembahasan bisnisnya?" Andini berusaha membelokkan arah percakapan.


Andini mencoba untuk menyuruh David menyelesaikan bisnis mereka saat itu juga. Sementara itu, David terus menolak membahasnya di luar ruangan. Dan terus mencoba membujuk Andini untuk membahas bisnis itu di kamar hotel.  Dia terus beralasan bahwa dia tak leluasa saat berbicara di ruang terbuka. Dan dia tak ingin mengatakan bisnis rahasiannya dihadapan orang asing.


"Ayolah, tak bisakah kita bahas di sini saja? Dia bukan orang lain, kok. Dia kan sepupuku!" Andini berusaha meyakinkan.

__ADS_1


"Aku tak peduli mau dia sepupumu atau suamimu. Jika kau masih ingin membahas bisnis kita, maka jangan libatkan orang lain. Aku hanya ingin dirimu, nona Andini," jawab David sambil bangkit dari kursinya.


"Tapi, aku…" 


Belum sempat Andini menyelesaikan kalimatnya, David langsung memotong ucapannya dengan berkata, "Akan kutunggu kau di hotel Permata. Jangan lupa untuk kabari aku melalui sms jika sudah tiba nanti.” 


“Oh iya,” David sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Andini, berbisik. Dia berbicara pelan hingga membuat Hansen tak dapat mendengarnya, “Mataku ada di mana-mana. Jangan pernah coba-coba membawa orang bersamamu. Jika kau berani macam-macam, maka bisnis kita akan batal saat itu juga," 


David berdiri dan berjalan menjauh.


"Cih, baiklah," ucap Andini kesal.


Melihat Andini menyetujui permintaan David dan langsung berdiri mendekatinya, Hansen pun semakin bingung dan bergumam dihati. 


("Sebenarnya apa yang dipikirkan Andini? Kenapa dia tetap mengikutinya meski tahu kalau dia berniat buruk terhadapnya?")


Awalnya Hansen ingin pergi mengikutinya secara terang-terangan, namun Andini menghentikannya, "Berhenti di situ!"


Andini mengedipkan matanya tanpa diketahui oleh David.


Hansen hanya bisa menghela napas dan berkata, "Baiklah, sepupu,"


Di saat Andini dan David sudah berjalan agak jauh, sebuah pesan kembali muncul di ponsel Hansen. 


'Apa yang kau lakukan pria payah?'


'Cepat ikuti aku diam diam seperti semalam!'

__ADS_1


'Jangan diam saja!'


Bersamaan dengan datangnya pesan singkat itu, notif transfer bank muncul di ponselnya. 125 juta masuk dalam rekening Hansen begitu saja.


Setelah notif itu muncul, Andini kembali mengirim pesan. 


'Akan kuberi kau 125 juta lagi jika mau menuruti permintaanku. Cepat ikuti aku!'


'Tapi ingatlah, lakukan itu secara diam-diam! '


Hansen tak mengerti apa tujuan Andini melakukan semua itu. Namun karena dia sudah menerima uang Andini dan memerlukan lebih banyak uang lagi. Dia pun melakukan apa yang Andini minta.


Sesampainya di dekat mobil hitam yang terparkir di halaman kafe, David menghentikan langkahnya lalu menengok ke belakang untuk memastikan sesuatu.


"Kenapa kau berhenti?" tanya Andini.


"Jangan khawatir, sepupuku tak akan mengikuti kita. Bisnis kita ‘kan sangat penting. Aku tak mau kehilangan itu. Jadi, jangan khawatirkan hal yang tidak penting oke?" Andini mendorong pundak David agar kembali melanjutkan langkahnya.


Tampak jelas dari kejauhan bahwa David meminta Andini masuk ke dalam mobilnya. Dia membuka pintu sambil mempersilahkan Andini layaknya seorang putri. Andini pun masuk ke dalam mobil.


Hansen yang melihat pemandangan tersebut memasang muka kesal dan mengepalkan kedua tangannya. Di saat David membawa Andini pergi dengan mobilnya, Hansen pun menerima sebuah notif ponsel yang menerangkan bahwa uang sebesar dua juta rupiah telah ia terima dalam rekening bank-nya. 


Bersamaan dengan pesan notifikasi tersebut, sebuah pesan dari Andini kembali dia terima. 


'Ini adalah bonus karena sudah mau kembali ke tempat dudukmu sebelumnya, sisanya akan kubayarkan setelah kau berhasil mengikutiku ke dalam hotel. Ingat jangan sampai kau kehilangan jejakku, jika tidak maka perjanjiannya akan batal!'


Setelah membaca sms dari Andini, Hansen pun langsung bergerak cepat mencari ojek dan memintanya untuk pergi mengambil jalan pintas menuju hotel permata.

__ADS_1


Berhenti tidak jauh dari hotel Permata, Hansen mengintip dari salah satu sisi gedung. Dia  dikejutkan oleh Andini yang masuk ke dalam pintu hotel tanpa perlawanan. Sedangkan di luar pintu tersebut dijaga oleh empat orang berbadan kekar dengan pakaian serba hitam lengkap dengan kacamata hitam.


“Ah, ini sih tidak ada bedanya dengan kemarin malam,” gumam Hansen.


__ADS_2