Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 42 : Misteri kematian palsu


__ADS_3

"Nona Zaskia telah pergi meninggalkan rumah sakit!" Letnan Jenderal Eliza melapor kepada Hansen melalui ponselnya.


Hansen yang saat itu sedang disibukkan hal lain, tak dapat menutupi keterkejutannya akan berita tersebut. Hingga merubah ekspresi dan berkata, "Apakah Andini ada disana?"


"Maaf?" Letnan Eliza tak begitu memahami maksud Hansen saat itu, karena belum mengetahui identitas Andini yang sempat dia pegangi tangannya.


"Andini adalah istriku, bukankah kau menerima foto orang yang perlu dilindungi?" Hansen bertanya memastikan.


Segera setelah Hansen bertanya, Letnan Jenderal Eliza menyadari sesuatu. Dia benar benar ceroboh hingga tak mengenali siapa Andini karena kedatangannya yang begitu tiba tiba.


"Ma ... maafkan saya tuan, saya hanya melihat fotonya sekilas jadi tak dapat menyadari siapa nona Itu!" Eliza terdengar panik. Dan suasana mendadak sunyi untuk sesaat, hingga akhirnya Hansen mulai mengangkat suaranya kembali dengan berkata, "Apakah ada yang mengikutinya?"


"Negative!" Letnan Eliza menjawab tanpa ragu.


Hansen terdiam sejenak hingga membuat Letnan Eliza penasaran akan apa yang ada di dalam pikirannya, demi menggali rasa ingin tahunya, dia pun berkata, "Apa semuanya baik baik saja, Pak?"


Alih alih menjawab pertanyaan Eliza, Hansen malah bertanya hal lain dengan berkata, "Dimana kalian sekarang?"


"Kami berada di apartemen Nona Zaskia!" Letnan Eliza menjawab.


"Berapa orang yang ada bersamamu?" tanya Hansen memastikan.


"Totalnya dua puluh prajurit bergelar jenderal bintang dua," Letnan Eliza menjawab tanpa ragu.


"Bagus!"


"Terus awasi dan lindungi Nona Zaskia untukku, meski kami tak memiliki hubungan khusus, pastikan saja keselamatannya dalam beberapa minggu ini!" tegas Hansen sembari mengakhiri panggilan.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Theo memastikan.


Woosh ... Hansen melemparkan surat Chalis ke tangan Theo, dan membiarkannya membaca isi surat tersebut.


"Ini kan ... ," Theo tertegun tanpa mampu mengungkapkan sepatah kata lagi. Hingga akhirnya mampu mengangkat sebuah kata, ketika Hansen berkata, "Itu adalah surat dari pemimpin penyerangan gedung putih, Chalis anak didik sekaligus murid nomor satu Zafar Marva."


"Dan berdasarkan penjelasan presiden, targetnya saat itu ialah, seorang Holder!"


Setelah mendengar ucapan Hansen, seketika Theo tersentak dan menjadi begitu serius. Ketegangan dalam kata katanya yang terdengar cukup berat pun sedikit membingungkan Hansen.


"Apakah kau yakin kalau orang itu Chalis!?"


"Sangat yakin!" Hansen menjawab tanpa ragu.


Setelah mendengar jawaban Hansen, Theo mengela nafas begitu panjang seperti sedang mengalami masalah yang rumit. Dalam suasana hati yang terlihat agak kacau, dia pun berkata, "Ini benar benar aneh!"


"Kemarin Fifteen dan para bawahannya, dan sekarang Chalis yang telah lama dikabarkan tiada. Apakah tren orang mati kembali hidup sudah menjadi hal umum sekarang!"


"Sialan, ini benar benar membuatku pusing!"


"C ... Chalis sudah tiada!" Hansen nampak sangat terkejut. Hingga dengan reflek memegangi pundak Theo.


"Ya! Dan aku hadir dalam pemakamannya!" Theo nampak begitu yakin hingga Hansen mulai memiliki asumsi di pikirannya.


"Mungkinkah seseorang memalsukan mayatnya!"


Theo dan Hansen mengatakan asumsi mereka secara bersamaan. Hansen pun memikirkan jalan keluar untuk membuktikan asumsi tersebut dan larut dalam pikirannya sendiri. Sementara Theo segera merubah topik setelah berpikir cukup lama.

__ADS_1


"Jika boleh kutahu, Holder mana yang bocah tengik itu incar!?" Theo menatap Hansen dengan serius.


"Marsekal Besar Leo!" Hansen menjawab tanpa ragu.


"Aku mengerti!" Theo tersenyum tipis seakan memahami sesuatu, sedangkan Hansen yang telah membulatkan pikirannya segera pergi mengunjungi rumah Chalis untuk memastikan apakah keluarganya tahu tentang keberadaan Chalis yang masih hidup.


Bukkk. Krakkkk!!!! Marsekal besar Leo memukul tembok beton dengan lengannya setelah puas memukuli beberapa bawahannya. Saat itu dia sedang memakai baju pelindung yang menutupi seluruh anggota tubuhnya kecuali leher dan kepala. Bajunya terbuat dari logam terkeras yang mengalahkan kedudukan berlian, semua orang biasa memanggil baju pelindung itu dengan sebutan Jirah Damaskus.


Sama halnya dengan pedang Damaskus yang sudah dikenal sebagai pedang terkuat sepanjang sejarah, ketenaran jirah ini juga tak kalah mengerikannya dengan ketenaran pedang tersebut. Dan legenda yang sanggup membuat jirah itu hingga mampu bersaing dengan kekerasan pedang Damaskus ialah, Weapon Master atau Tristan kama pencipta simbol elang mekanik. Di belakang punggung jirah berwarna perak itu nampak betul simbol elang mekanik yang merupakan ciri khas atau label dari maha karyanya.


"Apa yang membuat anda begitu emosi hingga menghancurkan dinding markas kita, tuanku?" tanya seorang marsekal muda yang menemani latihan gulat Marsekal Leo.


"Apa lagi kalau bukan karena bocah itu!"


"Apa kau tidak mendengar deklarasinya!" Bentak Marsekal Leo dengan penuh emosi.


Sangat wajar baginya marah akan hal itu, terlebih rencananya untuk merebut teknologi milik Red Eagle secara tertutup akan mengalami kemunduran. Ambisinya untuk menarik paksa sang weapon master ke sisinya sudah lama meluap sejak dulu. Dan fakta bahwa para elit berhenti dari militer, membuatnya memiliki alasan untuk menghukum para mantan red Eagle sebagai penghianat negara. Terlebih sebagai seorang Holder tak ada yang mampu beradu argumen dengannya.


"Pertarungan antara Holder tak dapat dihindari jika anda bertentangan dengannya, terlebih dengan jirah itu di tanganmu, bukankah anda bisa mengalahkannya dengan mudah!?" tanya sang marsekal muda.


"Jirah Damaskus sudah lama dinyatakan hilang dalam peristiwa serangan ******* dulu, tak ada yang mengetahui kalau akulah yang mencuri jirah ini demi memperkuat pasukanku. Dengan memakainya dalam pertarungan antar Holder, bukankah itu sama saja dengan bunuh diri!" Marsekal besar Leo mencengkeram leher marsekal muda itu karena tak suka dengan idenya. Cengkeramannya terasa begitu menyiksa hingga sang marsekal muda meronta kesakitan. Namun Marsekal Leo tak menghentikan aksinya, sampai akhirnya sang marsekal muda itu pun tewas di tangannya.


"Singkirkan dia!" Marsekal Leo memerintahkan.


"Ba ... baik tuanku," jawab seorang bawahan Marsekal Leo yang nampak gemetar ketakutan.


"Bersaing dengan jenderal polisi dan beberapa Holder dalam pencarian Weapon master saja sudah merepotkanku, bisa bisanya bocah merepotkan itu kembali saat ini!" Marsekal Leo begitu kesal dengan keadaannya. Meski kesal harus melepaskan tawanannya, sang marsekal tetap pergi melaksanakan tuntutan presiden sembari memastikan bahwa fakta buruk tentang dirinya tidak tersebar luas ataupun bocor ke pihak lain.

__ADS_1


Dia ingin tetap terlihat bersih, meskipun nyatanya tidak begitu.


__ADS_2