Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
chapter 92 : Puncak emosi Mr W


__ADS_3

Karena kabar tentang sebetapa buruknya kelakuan Herry Wijaya terhadap Andini, Mr W  kehilangan kejernihan pikirannya hingga memaksa pergi untuk mengamuk.


'Sebelumnya aku tetap diam karena kau berjanji akan mengawasi putramu agar tak berperilaku melebihi batasyang bisa kutoleransi. Karena kau sudah mengabaikan janjimu itu, makabersiaplah akan akibat dari tindakan putramu, Adi Wijaya!' Mr W mengepal erat tangannya dengan batin yang penuh emosi.


“Kumpulkan semua pasukan! mulai Hari ini kita akan berperang dengan angkatan udara!” Mr W memberi perintah melalui ponsel pintarnya.


Tak perlu waktu lama, sekumpulan mobil jeep putih bersimbol jangkar yang menunjuk ke berbagai macam arah, berkumpul berjejer menyamping menjadi dua buah barisan, dengan satu mobil Jeep besar yang nampak terbuka di ujung jalan yang diapit oleh kedua barisan tersebut.


Semua prajurit keluar sejenak dari mobil untuk memberi hormat dengan senjata yang tergenggam erat di salah satu tangan mereka, “Salam Pak!”


Mr W berjalan lurusmengabaikan salam hormat mereka, hingga sampai di ujung jalan yang terhalangi oleh mobil Jeep putih besar dengan pintu yang terbuka lebar. Seorang prajurit muda nampak berdiri di samping mobil tersebut menunggu sang  Laksamana besar masuk ke dalam mobiltersebut.


“Apakah kita harus memanggil pasukan kita yang di luar kota juga?” Prajurit muda yang berdiri di ujung jalan memberihormat sembari bertanya dengan pelan.


“Tentu, suruh mereka menunggu di lokasi yang paling dekat dengan tujuan kita!” Mr W menjawab tegas. “Dimengerti, kalau begitu silahkan masuk pak! Saya akan mengendarai mobilnya seperti biasa,” sambing prajurit muda itu sembari menunduk dan mempersilahkan masuk.


Mr W hendak masuk ke pintu depan sebelah kiri seperti biasa, namun suara keras seorang pria paruh baya mencegahnya untuk masuk kala itu, “W! Apa kau sadar dengan apa yang ingin kau lakukan saat ini? Meski putra dari Adiwijaya memang keterlaluan,bukan berarti bahwa kau harus menyerang markas besar Angkatan udara!”


“Situasi kita saat ini sudah cukup buruk karena sudah kehabisan banyak kekuatan tempur, Jika dua dari tiga penyangga kekuatan tempur negara ini berseteru, maka negara lain mungkin akan .... –“


“Maaf tuan Presiden, ini bukan soal masalah pribadi saja.Tapi dia juga sudah melakukan hal buruk terhadap anggota Red Eagle! Bukankah alasan itu sudah cukup?” Mr w menjawab tanpa membalikkan badannya, sementara presiden Gibran Jayachandra hanya merespon dengan melirik ke arahHansen yang kala itu berdiri tepat di sampingnya.


“Benar, Adi Wijaya memang menahan orang orangku, Weapon Eagle dan lima ratus bawahannya, sudah dipastikan telah di perlakukan secara buruk di bawah sayap komando Marsekal Besar Adi Wijaya!” Hansen merespon secaraspontan karena menyadari maksud dari tatapan sang presiden.


“Meski memang itu kebenarannya, seharusnya kita ...  -, “Tak ada kata kita untuk kli ini Pak! Tak peduli apa yang kau ucapkan, aku akan tetap mencoba mencari perhitungan dengan Adi wijaya!”

__ADS_1


“Terserah kau untuk memilih kekuatan mana yang ingin kau lindungi, yang jelas sekarang, angkatan laut dan angkatan udara sudah tidak bisa berjuang berdampingan lagi.” Mr W memasuki mobilnya tanpa menoleh, kemudian melesat pergi diikuti oleh mobil mobil pasukannya.


‘Ini buruk! Aku harus ...,’ Hansen mencoba untuk pergi, namun Presiden tiba tiba saja menarik lengannya. “Mau kemana kau? Jangan pernah berpikir untuk mencoba mengejarnya!” Presiden mencengkram eratl engan Hansen, kemudian berkata, “Kejar dan amati situasinya!”


“Baik pak!” sekumpulan pria berpakaian serba hitam seperti seorang agen khusus menyelinap keluar dari barisan mobil yang terparkir tak jauh dari tempat Hansen dan Presiden berdiri. Orang orang itu melesat pergi mengikuti rombongan angkatanlaut sesuai perintah sang presiden, sementara Hansen dibuat bingung karena tak pernah tahu tentang keberadaan mereka.


“Siapa mereka?” Hansen terdengar penasaran. “Kau tak perlu memikirkan hal itu! Untuk sekarang  lebih baik kau ikuti aku!”  “Kemana? Hansen terlihat bingung namun tetap mengikuti hingga masuk ke dalam mobil hitam milik sang presiden. Kala itu, keduanya duduk di belakang, sementara kursi di depan diisi oleh dua orang berpakaian serba hitam yang memakai sebuah kaca mata hitam seperti halnya orang orang sebelumnya.


“Bawa kami ke tempat itu!” Presiden terlihat serius, sementara kedua orang pria berkaca mata hitam itu segera bertanya  untuk memastikan, “Apa anda yakin?”


“Aku tak pernah seyakin ini!” Presiden menjawab dengan lantang.


Perjalanannya berlangsung cukup lama, dan senyap terutama bagi Hansen yang dipaksa untuk diam dan mengamati. Saking jauhnya lokasi yang dituju, meski sudah melaju cukup kencang,  mereka baru sampai setelah melewati  waktu setengah hari. Keduanya pergi ketika siang hari tepatnya pukul dua belas siang, kemudian baru smpai di lokasi tepat pukul dua belas malam.


Lokasi di mana mobil mereka berhenti ialah villa mewah nomor satu yang pernah diberikan kuncinya kepada Hansen di masa lalu. VIlanya terlihat terjaga karena banyak pelayan yang bertugas di sana, pelayan pelayan itulah yang mempermudah mobil Presiden  untuk tanpa harus meminta kunci kepada Hansen.


“Baiklah aku paham soal itu, tapi apa alasan kita datang kemari?” Hansen merasa sedikit tak nyaman karena cara para pelayan menatap ke arahnya ialah tatapan dingin dan seakan waspada akan keberadaannya. Beruntungnya semua pelayan itu merupakan wanita yang cantik, sehingga suasananya jadi tidak terlalu mencekam.


“Dia kah orang yang kau maksud?” seorangpria berwajah sangar dengan kepala botak dan tubuh penuh luka menyambut kedatangan sang presiden saat sudah mencapai bagian depan pintu masuk villa.


“Apa dia pelayan juga?” Hansen sedikit berkeringat dingin. Entah mengapa dia merasakan bahaya kala menatap pria asing itu.


“Ya,” Presiden  menjawab sembari mengangguk. Hansen merasa tenang saat mendengar jawaban tersebut hingga sedikit mengendurkan pertahanannya, kemudian tak lama setelah itu sang pelayan sangar tiba tiba saja melesat maju dengan niat untuk memukul wajahnya dengan cukup keras. Beruntungnya Hansen segera bereaksi menghalangi pukulan tersebut dengan salah satu lengannya.


“Apa kau juga seorang subjek?” Hansen terkejut saat menyadari betapa kuatnya pukulan pria itu hingga membuatnya terpental mundur cukup jauh.

__ADS_1


“Subjek? Jadibenar kalau kauseorang subjek penelitian serum x milik law breaker? Mari kita lihat sejauh mana serum di tubuhmu bisa menahan serangan serangan dariku!” Pria sangar itu menghujni Hansen dengan ratusan pukulan hingga memaksa matanya untuk berubah memerah demi melindungi pukulan keras dari pria besar yang terus menerus memukulinya.


“Apa kemampuanmu hanya ini saja? Kalau tahu begini aku tak akan mau turun tangan untuk menguji kekuatanmu! Para gadis menjijikan itu saja sudah cukup untuk berurusan denganmu!”


“Gadis menjijikan katamu? Memangnya bagian mana dari kami yang kau pikir menjijikan!” Salah satu pelayan wanita melesat cepatmenendang pria botak itu hingga terpental menghantam gerbang villa.


‘Sepertinya kita perlu mengganti gerbangnya lagi!’ semua orang kecuali Hansen memikirkan hal yang sama saat melihat tubuh kasar si pelayan sangar meruntuhkan gerbang besi yang sebelumnya terlihat cukup kokoh.


‘Tendangan  yang mengerikan, apa benar dia seorang wanita? Apa semua pelayan wanita disini sekuat itu? Melihat mata mereka yang masih nampak normal, sepertinya mereka bukanlah seorang subjek. Tapi dari man semua kekuatan itu tepatnya berasal?’ Hansen menelan ludahnya dengan posisi tegang.


“Apa anda diam diam mengembangkan pasukanmu sendiri, Presiden?” Hansen bergumam pelan, sementara Presiden segera merespon dengan berkata, “Mereka bukan pasukan yang kubentuk, karena aku juga salah satu dari mereka!” Presiden nampak tersenyum tanpa ekspresi.


“Apakah adikmu, maksudku ayahnya jugaseorang subjek?” Gadis pelayan yang habis menendang jauh rekannya ke gerbang villa bertanya sembari melangkah mendekat.


“Bukankah sudah kubilang agar jangan bawa bawa dia dalam urusan kita! Apakah kau lupa siapa aku?” Presiden terlihat kesal.


“Kau hanyalah seorang mantan tuan muda keluarga Jayachandra yang pernah dibuang, berhenti bersikap seperti orang penting hanya karena menyandang nama itu! Gelar presidenmu juga  tak akan diperhitungkan di sini, apa kau melupakan hal itu!” Gadis pelayan itu memaki dengan aura yang mendominasi.


‘Ke .. keluarga Jayachandra!? Bukankah itu nama keluarga besar dari dunia bawah yang sudah dinyatakan menghilang? Bagaimana bisa kelompok berbahaya seperti mereka masuk ke Indonesia? Terlebih mengapa mereka menyinggu ayahku berhubungan dengan semua ini!’ Hansen terdiam tanpa kata karena larut dalam berbagai pertanyaan yang terus menghujani pikirannya.


“Tolong ijinkan aku untuk berbicara empat mata dengan pak presiden-, “Kalian  hanya punya waktu lima menit, masuklah ke dalam villa karena tak ada orang di dalam saat ini,” jawab salah satu pelayan wanita sembari menunjuk ke arah pintu masuk villa.


“Terimakasih atas pengertiannya,” Hansen melangkah pergi bersama presiden Gibran Jayachandra kemudian berdiri saling berhadapan saat sudah memastikan tak ada mata ataupun telinga yang bisa mendengar percakapan mereka.


“Sebenarnya apa hubunganmu dengan ayahku? Lalu apa tujuanmu membawaku kemari dan mempertemukanku dengan mantan keluarga besar di dunia bawah yang kabarnya telah lama menghilang?” Hansen terlihat mengancam dengan mata merahnya.

__ADS_1


“Sebenarnya kami ... “ Presiden terlihat tegang sekaligus ragu saat hendak menjawab pertanyaan Hansen.


__ADS_2