
Hansen dan Theo telah mencapai sebuah kesepakatan, dimana mereka memutuskan untuk menjalin hubungan aliansi yang saling menguntungkan.
Teett teett teeet!!!! suara alarm yang terdengar cukup kencang menggema di seluruh ruangan bawah tanah.
Mengejutkan Hansen dan Theo yang saat itu baru melepas jabat tangan mereka.
"Para bajin**gan itu sudah mulai bergerak lagi!" Theo melirik ke atas tangga.
Kring kring kring! ponsel Hansen berbunyi, dan memunculkan nama jenderal besar di layar ponselnya.
"Halo?" Hansen menjawab panggilan dengan suara alarm yang cukup mengganggu.
"Kelompok scorpion berbuat ulah lagi!"
"Entah apa yang mereka pikirkan sekarang, yang jelas saat ini kelompok itu menargetkan gedung putih!" Jenderal besar Hanan terdengar cukup panik hingga mengabaikan suara alarm yang mengganggu di pihak Hansen. "Presiden dalam bahaya, tolong bantu kami!"
Tuut .... suara ponsel terputus mulai terdengar di telinga Hansen.
"Apakah orang orangmu menyerang gedung putih?" Hansen bertanya dengan serius.
"Untuk apa kami menargetkan rubah tua itu!?"
"Apa kau sudah tak mempercayaiku lagi, Komandan!?" Theo menatap tajam mata Hansen tanpa keraguan sedikitpun.
Kring kring, ponsel Hansen kembali berbunyi. Dan dia pun langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Halo?"
"Apakah masih ada hal lain?" Hansen bertanya karena berpikir bahwa itu Jenderal Besar Hanan.
"Hal lain!?"
"Aku tak mengerti apa yang kau maksud, tapi tolong segera kembalikan Zaskia ke kantorku!" Andini membentak kasar.
"Maaf, aku tak punya waktu meladenimu!" Hansen menutup ponselnya begitu saja.
"Maukah kau bergerak bersamaku?" Hansen melirik ke arah Theo.
"Cih!"
"Kau ingin aku melindungi rubah tua yang tak mau mendengar klarifikasi bawahanku!?"
"Maaf saja, aku tak ingin ambil bagian dari masalah ini!"
__ADS_1
"Aku malah berharap dia tiada, agar lencana kebal hukum itu bisa dihapuskan dari negara ini!" Theo mendecih dan menggerutu tanpa sebuah keraguan.
"Kenapa kau tak menunjukkan dirimu?"
"Bukankah rubah tua itu akan percaya pada kelompokmu hanya dengan mengungkapkan identitasmu!?" Hansen bertanya dengan heran.
"Apa kau lupa!?"
"Bukankah kau sendiri yang menyuruh kami lenyap dari pandanganmu!?" Theo menatap Hansen dengan tatapan tajam. "Meskipun aku tak bisa mengikutimu seperti dulu, tapi aku tak bisa melupakan perintah terakhirmu!"
"Jika aku menunjukkan identitasku, bukankah kau akan melihatku dimana mana!?"
"..." Hansen diam tak menanggapi, karena sadar akan maksud ucapan Theo. Membuka identitas hanya akan membuat wajahnya terkespos dimana mana, yang sangat jelas akan membuat Hansen dapat melihat wajah Theo meski tidak secara langsung.
'Perintahmu adalah aturan bagi kami, selagi kau memerintah kami saat masih berada di dalam militer, maka kami akan melakukannya meski itu menyakiti kami!' sumpah yang diucapkan para petinggi Red Eagle saat pertama kali terbentuk di bawah naungan Hansen, terlintas jelas di dalam benaknya.
"Jadi kau masih memegang sumpah bodoh itu, ya!?" Hansen nampak lesu dan terlihat menyesal.
"Bukan hanya aku, tapi kami semua!"
"Jika bukan karena itu, kau pikir kenapa para petinggi lain menjadi begitu misterius dan sangat sulit ditemukan!?" Theo nampak kesal dan memasang tatapan dingin.
"Jadi, jawabanmu tetaplah tidak?" Hansen bertanya untuk memastikan.
"Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu saat ini."
"Sebelum kau mencabut perintah dimasa lalu, aku tak akan mau menunjukkan diriku ke dunia luar," Theo menanggapi tanpa ragu.
"Ta ... tapi!"
"Bagaimana caraku mencabut perintahnya, sedangkan kau tak mau ikut ke militer lagi!?" Hansen bertanya dengan penasaran.
"Pikirkan saja cara itu sendiri!?" Theo berjalan keluar menaiki anak tangga, mendahului Hansen.
'Dasar bodoh, kenapa kau begitu menjunjung tinggi sumpah di masa lalu!?' Hansen mendecih sembari berjalan mengikuti Theo.
.......
"Kelompok satu!"
"Bantulah pria ini menghancurkan para bedebah itu!" Theo menatap pemimpin para Sniper yang sempat Hansen ikuti waktu itu.
"Anda ingin kami pergi bersamanya?"
__ADS_1
"Yang benar saja!"
"Dia mungkin hanya akan menjadi beban bagi kami!" Pria berhoodie nampak enggan menerima Hansen di dalam operasi pembasmian peniru Scorpion.
"Hei kau!"
"Berikan dia pedangmu!" Theo menatap pria botak dengan wajah dan tubuh penuh luka yang duduk di dekat meja bartender.
Woosh!! pedang hitam legam dengan bentuk menyerupai sebuah katana dilemparkan ke arah Hansen. Dalam pedang tersebut, tertuliskan simbol elang mekanik yang nampak tak asing bagi Hansen.
"Pedang milik Tristan?"
"Bagaimana ini ada di sini?" Hansen nampak heran.
"Kami membelinya di pasar gelap, sama seperti senapan ini," pria berhoodie memotong pembicaraan dan menunjukkan simbol elang mekanik yang terlukis di bagian bawah senapannya.
"Apa yang pria bodoh itu pikirkan hingga harus menjual senjata berbahaya ke pasar gelap!?" Hansen terbelalak kaget.
"Entahlah, aku juga masih penasaran akan hal itu," Theo menghela napas begitu panjang.
Darrr!! pria berhoodie menembak Hansen tanpa peringatan, namun pelurunya dipentalkan dengan mudah oleh bagian gepeng pedang di tangan Hansen.
"Apa maksud semua ini!?" Hansen menatap pria itu dengan kesal.
"Aku hanya ingin memastikan, apakah kau layak pergi bersama kami!?" pria itu tersenyum sinis menanggapi ucapan Hansen.
"Kau hanya menggali kuburanmu sendiri jika menantang pria ini saat sedang memegang senjata, pergi dan berhenti membuang buang waktu!" Theo membentak kesal.
"Cih!"
'Entah metode apa yang kau gunakan untuk mendekati pemimpin kami, tapi hati hati saja saat disana. Karena mungkin kau akan mati di tangan musuh,' pria itu menyeringai kesal sembari membalikkan badan meninggalkan markasnya.
"Tempramennya memang sedikit buruk, tapi kualifikasi Zain hampir menyamai kualifikasi seorang petinggi red Eagle, jadi jangan remehkan dia. Atau dia akan menembakmu hanya karena rasa tak percaya." Theo berbisik kepada Hansen tepat sebelum dia melangkah pergi. "Asal kau tahu saja, dibandingkan dengan aku dan para anggota lain, kebenciannya terhadap pemerintah jauh melebihi imajinasimu. Jika dia tak terikat dengan perintahku, mungkin dia sudah menghabisimu saat itu juga,"
"Ah ... begitu ya." Hansen melangkah pergi secara perlahan.'Jika dia memang seberbahaya itu, kenapa kau malah mendekatkannya denganku, sialan!' Hansen melangkah kesal dengan batin yang mengumpat tingkah Theo.
"Nikmati perjalananmu, komandan!" Theo tersenyum dan menyeringai dengan tatapan dinginnya. 'Ikuti mereka!' pikir Theo sembari mengendalikan drone drone kecil yang melayang di bawah kendalinya. Di atas drone itu terlukis simbol elang mekanik yang cukup kecil hingga tak dapat dilihat dengan jelas.
'Senjata buatanmu, benar benar menakjubkan, Tristan,' Theo menyeringai menatap drone drone miliknya, lalu pergi menuju ruang kendali yang tersembunyi di bawah ruangannya. 'Kita lihat, apa yang bisa kulakukan dari sini.' puluhan Layar komputer yang menunjukkan gambar cctv di sekitar gedung pemerintah nampak di hadapan mata Theo, keyboard dan beberapa macam komponen yang mendukung peretasan pun nampak jelas di bawah layar layar komputer itu.
"Ugh!"
"Beraninya dia memutuskan telepon dariku!" Andini nampak kesal saat dalam perjalanan menuju ke hotel permata.
__ADS_1
"Semoga saja urusanku selesai sebelum waktu kencan kami," Andini menghela napas dengan penuh rasa kesal.