Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W


__ADS_3

"Bisakah kau jelaskan lebih rinci soal kejadian yang dikatakan Amelia!?" tanya Mr W dengan penuh emosi.


"Sa ... saat itu aku sedang mabuk dan tak sengaja menerobos masuk ke dalam kamarnya," Hansen mencoba berdalih, namun Mr W masih merasakan keraguan dalam kata katanya. Dia terus menatap Hansen dengan intens dan berkata, "Apa kau pikir aku bodoh!?"


"Maaf?" tanya Hansen heran.


"Intuisiku tak pernah salah, kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?" tanya Mr W serius. Hansen mencoba membuka mulutnya lagi, namun Mr W tak menunjukkan wajah ragu sedikitpun. Matanya cukup fokus, dan cara bicara begitu percaya diri. Nadanya yang mengancam pun turut menyadarkan naluri Hansen. 'Pria ini tak bisa dibodohi!' itulah kata yang terbesit dalam pikirannya saat ini.


"Sebenarnya saat itu, aku tak sengaja memergoki Amelia sedang bersetubuh dengan Dion. Awalnya kupikir ada pencuri yang masuk ke kamarnya yang terdengar suara rintihan Amelia, namun saat ku dobrak ternyata mereka sedang melakukan itu." Hansen menjawab pertanyaan demi pertanyaan secara rinci, hingga kecurigaan Mr W pun pupus. Digantikan dengan kemarahan yang bergejolak terhadap Dion yang mengambil keuntungan dati putrinya yang polos.


"Mereka bahkan belum menikah, beraninya dia mengambil keuntungan dari adikku yang polos!" ucap Mr W dengan emosi berapi api.


'Polos?'


'Bukankah kata Dion Amelia sendiri yang menyarankan hubungan badan tanpa ikatan pernikahan karena belum ingin menyandang status seorang istri!?'


'Aku yakin akan hal itu, karena Amelia tak membantah saat Dion menceritakan masalahnya dihadapan kami.'


'Lupakan soal itu, dia bahkan merencanakan skandal kotor untuk menjebakku saat masih membenciku!' pikir Hansen dengan perasaan kesal.


Keduanya tenggelam dalam lamunan masing masing, lalu kembali berbicara saat Hansen yang telah sadar dari lamunannya memulai kembali percakapan.


"Masalah Dion, kau bisa menyuruhnya menikah dengan Amelia nanti. Sejak awal dia memang sudah berniat melamar namun Amelia menolaknya terus menerus hingga akhirnya terjadilah kejadian itu."


"Tak perlu khawatir akan latar belakangnya, meski masih muda dia tak kalah kaya dengan Herry Wijaya. Semua karena dia merupakan mantan anggota elit Red Eagle. Meskipun tak berada di bawah naunganku secara langsung sih ... ," Hansen menghela napasnya sesekali.


"Begitu ya ... ,"


"Aku tak begitu tertarik pada latar belakangnya karena kupikir Amelia hanya main main. Tapi setelah mendengar latar belakangnya yang berhubungan dengan Red Eagle .... ,"


"Nampaknya Amelia memiliki penilaian yang bagus sepertiku, tak seburuk Andini yang memilih pemuda playboy sialan itu!" Mr W kembali mengamuk.


"Ngomong ngomong, aku ingin bertanya sesuatu. Bisakah kau beritahu bagaimana caramu mengetahui lokasi markas rahasiaku?" tanya Hansen dengab serius.


"Aku memiliki banyak mata, meskipun tak dapat masuk ke dalam Shelter sih ... ," Mr W tersenyum tenang.

__ADS_1


'Apa dia memiliki mata mata di antara kami?'


'Tapi siapa!?'


'Aku harus meminta Jenderal Hanan mencari tahu soal ini!' pikir Hansen dengan begitu serius.


Melihat Hansen berpikir begitu keras, Mr W memulai kembali percakapan dengan berkata, "Lupakan soal itu!"


"Mataku terlalu banyak untuk kau awasi!"


"Camkan itu," tegas Mr W.


"Dari pada memusingkan hal itu, lebih baik kita membahas pertarunganmu dengan Marsekal Leo nanti, bukankah kau menantangnya ke arena battle Holder!?" tanya Mr W memastikan. "Kalau tak salah pertarungannya akan dilakukan tujuh hari lagi, apakah kau sudah siap akan hari itu!?"


"Marsekal Leo bukanlah musuh yang merepotkan, aku hanya harus bertarung seperti dulu. Tak perlu persiapan khusus ... ," jawab Hansen dengan remeh.


"Meski dia lemah dalam hal serangan dan pertahanan fisik, gerakannya bisa dibilang cepat saat sedang berkonsentrasi penuh. Ditambah lagi, kemungkinan besar dia akan memakai jirah itu ... ," Mr W menanggapi dengan tatapan serius.


"Jirah itu?"


"Jirah Damaskus, kudengar unit itu kepemilikan kelompokmu. Baru baru ini kudengar desas desus bahwa selama ini dialah yang mencurinya." Mr W tersenyum yakin.


Jika yang mengatakan bukan Mr W yang dapat mengakses serta menutupi informasi yang kemungkinan tak bisa diakses kebanyakan ahli informasi, Hansen tak mungkin percaya akan kata katanya. Terlebih jirah Damaskus sudah lama menghilang dan dianggap musnah bersamaan dengan bencana ledakan nuklir. Meskipun kabar simpang siur yang dia dapatkan dari jenderal besar Hanan masih meragukan, Hansen sudah merelakan hilangnya jirah tersebut karena semua orang menganggapnya hilang tertelan bencana saat perakitan nuklir jenis baru. Terlebih penanggung jawab operasi perakitan nuklir tersebut ialah jenderal Besar Hanan yang merupakan rekan terpercayanya.


"Sepertinya aku harus membahas itu dengan jenderal besar Hanan nanti!"


"Dia kan yang menjadi penanggung jawab utama insiden itu!" gumam Hansen dengan serius.


"Nampaknya Hanan tak menceritakan semuanya padamu ya?"


"Padahal yang kudengar sangat jauh berbeda. Memang benar dia yang menjadi penanggung jawab utamanya. Tapi Marsekal Leo lah yang menjadi tuan rumahnya!" jelas Mr W dengan serius.


"Apa maksudmu?" tanya Hansen heran.


"Bangunan Pusat penelitian nuklir itu, dirancang dan diatur oleh orang orang terdekat Marsekal Leo!"

__ADS_1


"Besar kemungkinan bahwa dia telah mengatur jalan rahasia untuk membawa kabur jirah jirah itu.


Lagipula prajurit yang menjadi relawan penguji nuklir, dikirim berdasarkan rekomendasinya!"


"Dan saran agar relawan dapat menggunakan jirah damaskus pun terdengar dari mulutnya!"


"Lucunya kudengar, prajurit relawan yang direkomendasikan dan dianggap hilang bersama jirah itu, sempat berpapasan denganku saat perjalanan kemari."


"Jadi bagaimana menurutmu?" Mr W menyeringai tegas, meski terdapat kacamata yang menghalagi, Hansen dapat memastikan bahwa caranya menatap dirinya tidaklah dibuat buat, caranya berbicara pun tak terdengar palsu. Semuanya terkesan jujur tanpa kebohongan yang ditutupi. Meski tujuan awal Hansen berbincang hanyalah untuk mencari tahu kebenaran mengenai cara Mr melacak lokasi Shelter, Hansen merasa beruntung karena mendapat informasi lain yang cukup berguna baginya.


"Tidak diragukan lagi, jirahnya ada padanya!"


"Dalam hal ini, aku juga harus mempersiapkan peralatan pertahanan diri yang lebih baik. Dan berlatih untuk meningkatkan kecepatan langkahku!" jawab Hansen serius.


"Hanya dalam tujuh hari!?"


"Kau pikir ada latihan instan yang dapat meningkatkan levelmu yang saat ini!?" tanya Mr W dengan serius.


"Kau kan ada!"


"Jika aku memiliki teman berlatih seorang veteran perang, kira kira aku akan sekuat apa ya!?" tanya Hansen sembari menyeringai tajam.


"Ohohoho, aku suka semangatmu!"


"Tapi tujuanku kemari bukan untuk menjadi teman mainmu!"


"Kecuali jika kau mau menerima satu permintaanku," ucap Mr W sembari mencubit dagunya.


"Apa itu?" tanya Hansen dengan penasaran.


"Dalam seminggu ini, tidurlah satu kamar dengan Andini, dan coba taklukkan dia hingga mau memberikan cucu untukku!" tegas Mr W dengan nada mengancam.


"Itu ... ," Hansen merasa agak ragu di awal, namun setelah berpikir bahwa syaratnya tidak cukup sulit karena dia hanya perlu satu kamar dengan Andini dan tak perlu menunjukkan bahwa dia dan Andini membuat cucu untuknya, akhirnya dia pun meng iya kan syarat tersebut. Semuanya dia lakukan agar otoritasnya sebagai holder tak tercabut, hingga jirah Damaskus yang mungkin akan diakui sebagai hak pribadi marsekal Leo apabila dia kalah, akan kembali diamankan ke dalam Shelter.


"Baiklah," jawab Hansen sembari menghela napas.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu!" Mr W bangkit dari tempat tidurnya dan keluar dari ruangan dengan suasana hati yang berbunga bunga. 'Masalah cucu sudah beres, tinggal membahasnya dengan istri dan putri putriku. Hohohoho!'


__ADS_2