
Hansen pergi bersama Letnan Daffin mengunjungi markas besar pasukan khusus. Karpet merah tergelar begitu panjang, dan disetiap sisi karpetnya terlihat para prajurit elit yang telah bersiap menyambut kedatangan Hansen.
Klakk, Letnan Daffin membukakan pintu mobilnya lalu mempersilahkan Hansen turun melewati karpet merah itu. Bersamaan dengan turunnya Hansen, para prajurit mulai memberi hormat secara bersamaan, dan tak menurunkan tangan mereka sama sekali hingga Hansen sampai di ujung karpet merah.
"Salam pak!" tiga orang pria berpangkat jenderal bintang tiga memberi hormat kepada Hansen.
"Dimana yang lainnya?" tanya Hansen dengan serius.
"Lapor, dua jenderal bintang tiga yang lain telah pergi untuk menjalankan misi dari jenderal besar!" Jenderal Fahar memberi hormat sembari melapor kepada Hansen.
"Bagaimana dengan para jenderal empat bintang?" tanya Hansen memastikan.
"Lapor, tiga dari lima jenderal bintang empat telah gugur di tangan kelompok Scorpion!" Jenderal Fahar memberi hormat dengan cukup tegang.
"Scorpion?" Hansen nampak bingung karena nama itu belum pernah muncul saat dia masih aktif dalam militer empat tahun lalu.
"Itu adalah nama kelompok pembunuh bayaran yang baru eksis empat tahun terakhir ini," Jenderal Fahar menjelaskan.
"Lalu, bagaimana dengan dua jenderal bintang empat yang terjadi?" Hansen menatap serius Jenderal Fahar.
"Lapor!"
"Mereka telah gugur di tangan kelompok Number saat sedang menjalankan misi!" Jenderal Fahar meneruskan.
'Number?!' ekspresi Hansen berubah menjadi begitu kesal sejak mendengar kata Number. Kelompok keji yang tergolong dalam kelompok ******* dan penentang pemerintahan. Kelompok yang telah lama dia hapuskan hingga hanya menyisakan Zero yang dia kira tewas saat tertembak dan berakhir jatuh ke bawah jurang tinggi dengan lautan air yang begitu deras dibagian bawahnya.
"Selain Zero, apakah anggota Number yang lain juga kembali?" Hansen memastikan.
__ADS_1
"Lapor!"
"Setahuku, seluruh anggota number kecuali Zero merupakan orang orang baru. Meski begitu, kemampuan bertarung serta keterampilan mereka dalam menguasai senjata tak kalah hebat dengan para pendahulu Number," Jenderal Fahar menjelaskan.
'Dengan kata lain, Zero mengacaukan militer hanya dengan orang orang baru yang dia latih hanya dalam waktu empat tahun ini?' Hansen larut dalam pikirannya sejenak, lalu menatap jenderal Fahar dan berkata, "Bagaimana dengan Letnan Ronald?"
" ... "Jenderal Fahar nampak enggan menjawab pertanyaan terakhir Hansen, sehingga Eliza mengambil alih situasi. "Lapor! Sama seperti dua jenderal bintang empat yang telah gugur, Letnan Ronald dan seluruh pasukannya juga berakhir di tangan para Number!"
"Cih!" Hansen nampak kesal akan situasi pasukan khusus saat ini. "Antarkan aku menemui jenderal besar!"
"Baik pak!" Jenderal Fahar kembali mengambil alih pimpinan.
Rosa Riyadi telah kembali dari perjalanan panjangnya, dan dikejutkan oleh banyaknya mobil di halaman rumah.
'Ini sudah lewat tengah malam, apa yang dilakukan orang orang ini dirumahku?' Rosa Riyadi nampak bingung, lalu menaikkan kecepatan langkah kakinya untuk segera masuk dan memastikan apa yang terjadi.
"Andini?"
"Ini bukan bar ataupun diskotik!"
"Cepat keluar!" Rosa Riyadi nampak kesal saat mendapati putrinya mabuk bersama seorang pria dan menggelar pesta minum minuman di rumahnya saat dia sedang tak berada dirumah. Saat itu dia belum menyadari bahwa pria itu adalah Herry Wijaya yang selama ini dia idamkan sebagai calon menantu karena pencahayaan ruangan yang sengaja dibuat kurang.
"Ibu?" Andini dan Amelia Wisnu yang sedang dalam keadaan mabuk menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
"Cepat keluar dari rumahku!" Rosa Riyadi meninggikan suaranya karena kesal melihat perilaku buruk kedua putrinya. Lalu mengusir semua peserta pesta termasuk Herry Wijaya yang belum dia sadari keberadaannya. Andini dan Amelia yang sedang dalam keadaan mabuk berat, tentunya hanya bisa diam dan melihat di kursi mereka.
.....
__ADS_1
"Apa apaan ini!"
"Kenapa kalian menggelar pesta minuman keras dirumah!?" Rosa Riyadi nampak geram.
"Pesta hari ini digelar untuk kepergian kakak ipar, ibu harusnya ikut bergabung, bukannya mengusir semua tamuku," Amelia Wisnu menjawab dengan sempoyongan.
"Ini adalah pesta minum keduaku di dalam rumah ini, kenapa ibu mengacaukannya sih?"
"Kemarin Hansen yang mengacau kesenanganku, kenapa sekarang ibu malah ikut ikutan!?" Andini menjawab dalam keadaan mabuk berat dan kepala yang tersandar di ujung sofa.
"Pesta kedua katamu!?"
"Kalian kan tahu betul kalau ibu sangat membenci bau minuman keras!"
"Tak peduli sebagus apapun alasan dibalik kalian menggelar pesta ini, ibu tak akan pernah memaafkan kalian sebelum semua minuman ini disingkirkan!" Rosa Riyadi nampak begitu emosi hingga tak memperhatikan ucapan Amelia Wisnu.
"Ba ... baik Bu ...," Andini dan Amelia Wisnu tertidur tanpa sengaja karena mabuk berat.
"Ah menyebalkan!" Rosa Riyadi, nampak sangat kesal dan tak dapat mengontrol diri. Moodnya begitu hancur, karena habis berhadapan dengan suami dinginnya. Saking tak terkontrolnya emosi Rosa Riyadi terhadap hal hal yang dialaminya, dia bahkan menyiramkan seember penuh air dingin untuk membangunkan kedua putrinya.
Byurrr!!!!
"Berhenti bermalas malasan!"
"Cepat bereskan kekacauan yang telah kalian buat!" Rosa Riyadi menghela napas dengan sangat kesal.
"Pwahhh!" Andini dan Amelia Wisnu tersadar dari mabuk mereka, lalu terpaksa melakukan perintah ibunya karena tak ingin terus mendengar omelan darinya.
__ADS_1
"Ibu akan pergi tidur, pastikan saat ibu bangun besok pagi, semuanya sudah bersih dan terbebas dari bau minuman keras. Jika sedikit saja aku mencium bau minuman keras, maka jangan salahkan ibu jika bertindak kejam," Rosa Riyadi mengancam dengan penuh emosi.
"Ba ... baik Bu," Andini dan Amelia menundukkan kepala mereka secara bersamaan, dengan wajah yang cukup kesal.