Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Bab 22 : Emosi Hansen


__ADS_3

Setelah memberi tahukan kondisi Cindy Pratama yang tak kunjung membaik, Hendra Pratama mengajak Hansen ke ruangan dimana Cindy dirawat dengan perasaan yang sedih dan tak bersemangat.


"Adik ... , kumohon cepatlah bangun. Sampai kapan kau tertidur seperti ini?"


"Kakak tak sanggup melihatmu dalam keadaan seperti ini terus, tolong berhenti memikirkan ibu dan kembalilah bersemangat."


"Ayah dan kakakmu ini sudah sangat lelah melihatmu seperti ini, dan ingin segera melihat senyum manismu," Hansen meraba wajah Cindy Pratama sembari meneteskan air matanya. Dia nampak sangat sedih dan tak berdaya, karena tak dapat menyembuhkan Cindy Pratama, meski sudah menghabiskan jutaan uang dari Andini untuk biaya operasi dan perawatannya.


Melihat putranya menangis sedih, Hendra Pratama hanya bisa menghiburnya dengan menepuk halus pundak Hansen dan tanpa mengucapkan sepatah katapun. 'Andai kau masih disini, istriku,'


.....


Sepulang dari rumah sakit, Hansen langsung pulang sembari mencoba kembali bersikap tegar. Sayangnya sikap tegarnya itu, tak dapat bertahan cukup lama. Semua karena dia memergoki Andini sedang berpesta dengan seluruh rekan bisnisnya, sembari bermesraan dengan Herry Wijaya, saat semua orang tak ada. Andini terlihat sedang minum anggur sembari bersandar di pundak Herry Wijaya.


Ceklak!


Hansen nampak kaget dan terdiam tanpa kata, saat memergoki istrinya sedang bermesraan dengan pria lain. Di dalam rumahnya sendiri, dan dihadapan rekan rekan kerjanya. Hatinya terasa sangat hancur berkeping keping, hingga terdiam sejenak dan nampak begitu emosi. "Baru saja aku mencari resiko untuk kelangsungan bisnismu, dan inikah balasanmu?"


"Setelah ketahuan berselingkuh di kafe waktu itu, sekarang kau bermesraan dengannya dirumah kita sendiri!"


"Kau bahkan membawa orang lain dan membiarkan mereka tahu hubungan kalian, apa apaan ini, Andini!?"


"Mencari resiko untuk bisnisku?"


"Memangnya apa kualifikasimu?"


"Setahuku kau lah yang membawa resiko itu untuk perusahaanku. Bahkan jika bukan karena bantuanku, memangnya kau bisa keluar dari jeratan penjara?" Andini yang dalam keadaan mabuk, kehilangan batasannya hingga mengoceh tanpa berpikir terlebih dahulu. Membongkar semua hal buruk tentang Hansen hingga mengucapkan kalimat terlarang yang seharusnya tak boleh dia ucapkan dihadapan banyak orang. Dan kalimat itu ialah, "Berhentilah mengatur hidupku, dan ingatlah baik baik bahwa kau hanyalah pria yang kubayar untuk menjalin pernikahan kontrak denganku!"


"Aku sama sekali tak menyukaimu, dan sedari dahulu, cintaku ini hanyalah untuk tuan besar Herry Wijaya, pengusaha muda yang telah mencapai ranah internasional. Jika dibandingkan dengannya, kau hanyalah sebutir debu yang tercipta untuk diinjak injak!"


"Ni ... nikah kontrak?" semua orang yang berpesta untuk kesuksesan perusahaan nampak bingung.


'Jadi itu alasan Nona CEO begitu memusuhi suaminya sendiri?' Zaskia Arista yang ikut andil dalam pesta peringatan keberhasilan Hotel permata dalam mempertahankan bisnisnya, nampak terkejut sama seperti semua orang yang menghadiri pesta tersebut.


....


"Sepuluh!"


"Ini kesepuluh kalinya kau mengumbar hubungan kita di depan banyak orang!"

__ADS_1


"Meskipun kau sedang mabuk saat ini, aku sangat yakin bahwa pemabuk tak pernah berbohong dalam kata katanya."


"Nampaknya hubungan kita memang sudah tak dapat tertolong lagi, jangan pernah mencoba mencariku lagi mulai sekarang," Hansen segera pergi keluar rumah dalam keadaan emosi. Berjalan melewati kerumunan mobil semua orang yang hadir di dalam pesta, lalu berjalan masuk ke dalam mobil kerjanya. Dan pergi begitu saja dalam suasana hati yang amat kacau. "Kenapa hati ini terasa begitu sakit?"


"Apakah aku benar benar sudah jatuh hati kepadanya?"


"Mengapa ini bisa terjadi?"


"Aku seharuanya tak selemah ini," Hansen nampak kacau hingga berhenti di sebuah bar untuk menghilangkan kesedihannya.


....


"Berikan aku sebotol penuh lagi!" Hansen meminum begitu banyak Wine, hingga menghabiskan puluhan botol. Dia tak mempedulikan masalah biaya karena dalam pikirannya saat ini hanya terlintas kekesalan dan kekecewaan.


Glek glek, genap tiga puluh botol jumlah Wine yang Hansen minum, namun perasaannya masih terasa kacau hingga meminta botol yang ke tiga puluh satu. Sang penjaga bar sudah berusaha menyarankannya untuk berhenti minum, namun Hansen terus memberontak dan mengancam akan tidak membayarnya jika tak menurut.


Karena tak dapat menolak pelanggan, dia pun membawakan sebotol penuh Wine lagi. "Ini minumannya tuan,"


"Terimakasih," Hansen tersenyum lalu menuangkan kembali Wine dibotol tersebut ke gelas yang dia gunakan sejak awal. Dia mengangkat gelas tersebut secara perlahan, lalu Zaskia Arista yang entah datang dari mana muncul dan menepis gelas Hansen tanpa sebuah peringatan.


Krakkk!!! gelas itu pecah dan menumpahkan Wine yang ada di dalamnya. Membuat Hansen emosi dan melirik ke orang yang tiba tiba saja menepisnya. "Apa yang kau lakukan, Nona!"


"Kau tak perlu mengasihaniku, aku ini tak pantas untuk dikasihani," Hansen memalingkan wajahnya dan mencoba meminum Wine pesanannya secara langsung dari botolnya.


"Sudah kubilang hentikan!" Zaskia Arista memegangi botol Wine yang dipegang Hansen dan mendorongnya turun sekuat tenaga. "Kau akan sakit jika minum terlalu banyak, tolong kendalikan dirimu!"


"Apa gunanya aku hidup, istriku bahkan telah membuangku dan memilih pria lain." Hansen nampak mabuk berat dan begitu frustasi, hingga hanya memikirkan masalahnya dengan Andini saja.


"Apakah kau pikir dengan menyiksa diri dan lenyap dari dunia ini dapat menyelesaikan semuanya begitu saja!?"


"Pernahkah kau berpikir tentang orang yang peduli dan menginginkan kebahagiaanmu?" Zaskia Arista menatap Hansen secara serius.


"Peduli?"


"Di dunia ini tak ada satupun orang yang peduli padaku, apalagi menginginkan kebahagiaanku," Hansen membalas dengan frustasi.


"Bagaimana dengan keluargamu?"


"Apakah kau tak punya orang tua ataupun saudara kandung?" Zaskia Arista mengingatkan Hansen akan keluarganya, dan berhasil membuatnya berhenti mencoba minum hingga perlahan melepaskan genggamannya dari sebuah botol Wine.

__ADS_1


"Jika kau tak memiliki keduanya, bagaimana denganku?" Zaskia Arista kembali mengangkat suaranya setelah melihat respon Hansen.


"Memangnya ada apa denganmu, Nona?" tanya Hansen tanpa menengok ke arahnya.


"Sejak pembelaanmu dulu, kau telah berhasil menarik hatiku, kau pikir apa yang akan terjadi padaku jika kau terus seperti ini!?" Zaskia Arista meninggikan nada bicaranya.


"Menarik hatimu, aku tak ada niatan untuk itu. Lagipula aku sudah memiliki seorang istri, tak baik bagimu untuk berhubungan denganku. Carilah pria lain yang pantas dicintai, Nona," Hansen melepas genggamannya, lalu perlahan pergi dengan sempoyongan dan berakhir kehilangan kesadarannya karena sudah minum terlalu banyak.


Brukk!! Hansen terjatuh menimpa pundak Zaskia yang masih berdiri tegak. Setelah mendapati Hansen sudah tak sadarkan diri, Zaskia membayar Wine yang diminum Hansen, lalu meminta bantuan seseorang untuk menggendong tubuh Hansen ke mobil pribadinya.


.....


Selang beberapa lama, Hansen tersadar dalam tidur panjangnya, dan mendapati Zaskia Arista tertidur di ranjang yang sama dengannya. Mengejutkan dirinya hingga lupa akan masalah yang sempat menjadi beban pikirannya.


'Apa yang telah kulakukan tadi malam?'


'Kenapa aku bisa tersadar disini?' Hansen mencoba mengingat kejadian semalam, namun tak mendapat gambaran sedikitpun.


"Kau sudah bangun?"


"Syukurlah," Zaskia Arista nampak memakai pakaian minim saat duduk terbangun dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


"Pakaianmu?" Hansen terkejut bukan main saat selimut Zaskia terlepas. Membayangkan berbagai macam kemungkinan dan mencapai sebuah kesimpulan terburuknya. "Apakah kita sudah ... ?"


"Uhmm," Zaskia Arista mengangguk tanpa menjelaskan.


'Ini adalah kedua kalinya aku tak dapat mengontrol diriku, bagaimana bisa semuanya menjadi seperti ini!?' Hansen nampak tertekan.


"Berhenti memikirkan kejadian tadi malam, kau sedang mabuk berat dan akulah yang mencari keuntungan terhadap saat saat terlemahmu. Jujur saja, aku juga sempat mabuk sehingga tak dapat mengendalikan diriku. Jadi berhenti memikirkannya dan anggap saja kejadian semalam tidak pernah terjadi," Zaskia Arista mencoba menghibur Hansen.


"Mudah bagimu berbicara, tapi bagaimana jika nanti kau hamil?" Hansen nampak menyesal.


"Maka itu akan menjadi urusanku, kau tak perlu memikirkan itu," Zaskia Arista menatap Hansen tanpa ragu.


"Aku akan bertanggung jawab, kau tak perlu menyembunyikan kehamilanmu jika memang itu terjadi," Hansen nampak serius.


"Bagaimana dengan istrimu?" Zaskia Arista nampak tak enak hati.


"Dia bahkan bermain dengan pria lain saat masih menjadi istriku, haruskah aku juga memikirkan perasaannya?" Hansen nampak kesal dan tak ada keraguan dalam kata katanya.

__ADS_1


" .... " Zaskia Arista terdiam tanpa kata, namun kegembiaraan terlukis jelas diwajahnya. Semua karena dia merasa bahwa ada kesempatan baginya untuk masuk ke dalam hati pria yang dia kagumi.


__ADS_2