Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo


__ADS_3

Delapan tahun yang lalu, tepatnya empat tahun sebelum Red Eagle dibubarkan. Laksamana besar Wisnu menghadiri konferensi pers di Jepang, bersama Adi Wijaya yang saat itu masih berwajah tua. Mata Laksamana Besar Wisnu pun masih hitam dan normal saat itu. Keduanya nampak akrab karena terbiasa bisnis bersama.


Akan tetapi ... saat dalam perjalan pulang, keduanya tak sengaja melihat sekelompok Yakuza yang hendak menculik seorang wanita. Tentunya sebagai orang yang menjunjung tinggi nilai keadilan di atas segalanya, keduanya segera membantu tanpa pikir panjang.


Akan tetapi, setelah berhasil membereskan para gangster. Marsekal Besar Adi Wijaya, dan Laksamana Besar Wisnu, menjadi buronan Law Breaker yang saat itu belum menunjukkan taring mereka selain kepada para Gangster dan pelaku aktivitas dunia bawah.


Tap ... ! pundak Laksamana besar Wisnu dan Marsekal Besar Adi Wijaya ditepuk pelan oleh orang yang entah sejak kapan sudah berada di belakang kursi pesawat mereka.


"Are you guys who have dared to beat all my subordinates??" suara pria asing dengan bahasa inggris menekan pundak Laksamana besar Wisnu dan Marsekal besar Adi Wijaya hingga membuat keduanya kesulitan berdiri. Saat hendak melawan, keduanya dikejutkan oleh kemunculan wajah wajah tak asing yang baru baru ini telah mereka hajar tanpa pikir panjang. Pesawat bisnis yang mereka pikir aman, kini dipenuhi Gangster yang nampak menunjukkan pramugari dan pilot yang telah mereka sandra.


"If You Dare to fight me, we will kill them right now!" pria asing berambut pirang itu mengancam keduanya hingga membiarkan para Yakuza mendekatkan katana ke leher para sandra.


"Stop!"


"We will not fight!" Adi Wijaya yang saat itu masih memiliki jiwa kebenaran, mengangkat suaranya dengan penuh kepercayaan diri. Dia bahkan rela berkorban demi keselamatan semua orang. Begitupun Laksamana Besar Wisnu yang masih memegang teguh keadilan sampai saat ini.


Tanpa tahu akan dibawa kemana, baik Laksamana besar Wisnu maupun Adi Wijaya hanya bisa pasrah dan mengikuti.


.....


Pesawat yang dikuasai oleh Yakuza, mendarat di sebuah pulau terpencil di Amerika serikat. Jika dilihat dari jauh, pulau itu nampak biasa dan tak berpenghuni, tapi ketika pesawat mendekat, sebuah terowongan besi rahasia dengan lintasan pesawat di dalamnya muncul seketika hingga membiarkan pesawat itu masuk.


Bukk Krakkk!! persendian Marsekal besar Adi Wijaya dan Laksamana Wisnu dilumpuhkan oleh pria pirang yang nampaknya ketua dari kelompok ganster itu. Meski tak mengenalkan diri, wajahnya yang sudah tak asing di layar kaca membuat Adi Wijaya dan Laksamana Besar Wisnu bergumam, "Gangster jenius yang terkenal psikopat, Graham!"

__ADS_1


Setelah melumpuhkan target yang dia pikir merepotkan, Graham segera pergi meninggalkan tempat itu. Dia menaiki pesawat ditemani oleh para Yakuza yang nampaknya begitu tunduk. Dan membiarkan beberapa gangster amerika yang bertugas di tempat rahasia itu, mengurus sisanya.


Singkat cerita laksamana besar Wisnu, Marsekal Besar Adi Jaya, dan para sandra yang ditinggalkan dalam keadaan terikat, dibawa masuk ke dalam ruang khusus yang diisi oleh banyak ilmuan gila. Banyak mayat manusia yang yang terbaring terikat di atas kasur. Ada pula korban yang masih hidup namun perlahan mati tanpa suara karena mulutnya tertutup isolasi.


"Hooo ... , subjek baru ya?"


"Bawa kemari dan biarkan aku menguji fisik mereka," salah satu ilmuan gila melihat ke arah Adi Wijaya dan para sandra sembari memegang dua suntikan berisi cairan merah dan biru.


"To ... tolong lepaskan kami!" seorang pramugari memohon belas kasihan, namun mulutnya dilakban dan malah menjadi korban pertama diantara para sandra yang baru saja dibawa masuk.


Tentunya dia langsung meregang nyawa dan menangis dalam sunyi sejak saat itu, hingga akhirnya ... tiba saatnya bagi Laksamana besar Wisnu dan Adi Wijaya untuk disuntikkan cairan aneh secara bergantian.


Seketika tubuh Adi Wijaya bergetar, matanya meneteskan darah, begitupun telinga dan hidungnya. Semua efek itu muncul saat cairan biru disuntikkan padanya. Sementara Laksamana besar Wisnu, tak mengalami efek apapun.


Sementara Laksamana Besar Wisnu yang tak kunjung bereaksi, menjadi mainan para ilmuan yang penasaran akan tubuh unik yang dapat menahan kedua jenis cairan. Jika Adi Wijaya dibawa keluar dari ruang penelitian dan disiksa sedemikian rupa untuk mengeluarkan potensinya, maka Mr W terpaksa menghabiskan tahun tahunnya di dalam ruang lab penelitian hingga akhirnya dia pun dipertemukan dengan Zero. pria malang yang juga menjadi korban percobaan manusia.


Setahun sejak kehadiran Zero, Laksamana besar Wisnu mulai menunjukkan perubahan pada kedua bola matanya. Dan menjadi subjek ke dua puluh dua yang berhasil berevolusi, dia pun menerima panggilan W. Sementara Zero tak hanya menunjukkan tanda tanda tersiksa seperti korban yang meregang nyawa, anehnya tak peduli sebetapa banyak darah yang mengalir dan seberapa banyak suntikan yang dia terima, Zero masih bisa tetap bertahan hidup. Seakan akan dia memiliki alasan kuat untuk itu.


"Hosh hosh hosh!" Mr W melamun sejenak saat melihat wajah muda Adi Wijaya dalam jarak yang dekat.


"Ada apa dengan wajah takutmu itu?"


"Apa kau masih memiliki trauma akan kejadian itu?" tanya Adi Wijaya dengan tatapan serius.

__ADS_1


"Pergilah!"


"Jangan bahas itu disini!"


"Ada banyak mata yang mungkin menghancurkan kedamaian kita!" Mr W membuang wajah dengan murung.


"Cih!"


"Padahal dulu kita teman dekat, sejak kita menapaki jalan yang berbeda, sepertinya sangat sulit bagimu untuk menerimaku lagi ya, W?" gumam Adi Wijaya sembari menghela napas dan perlahan pergi dengan kecewa. Dia kembali ke tempat duduk dimana seharusnya dia berada.


Dan tak lama setelah itu, Hansen dan Marsekal Leo yang mengenakan jubah hitam, diminta untuk turun ke tengah arena.


"Apa jubah itu tidak akan menghambat gerakanmu?" tanya Hansen remeh.


"Kau benar, ini memang agak mengganggu," Marsekal Leo melempar jubahnya secara sembarangan sembari menyeringai senang. Menunjukkan jirah damaskus yang selama ini telah dianggap hilang oleh pemerintah. Jirah terkokoh dengan lambang elang mekanik di bagian punggungnya, dan simbol red eagle di bagian dada kanannya.


"Jadi jirah itu ada padamu!?"


"Apa kau tak malu untuk menggunakan jirah curian dihadapan pemilik aslinya?" tanya Hansen sembari menyiapkan kuda kuda.


"Apa gunanya rasa malu, kalau nyawaku yang menjadi taruhannya saat ini!" Marsekal Leo melesat maju mengarahkan tinju berlabis jirahnya. Memaksa Hansen untuk menghindar karena tahu betapa kerasnya jirah tersebut. Tetapi ....


Blurgh!! darah tiba tiba saja menetes dari mulut Hansen, sementara tubuhnya tak berhenti bergetar entah mengapa. 'Si ... sial! Apa luka dalam yang diakibatkan oleh Ayah mertua masih meninggalkan bekas terhadap tubuhku!?' Hansen terbelalak sembari menghindari serangan Marsekal Leo.

__ADS_1


"Nampaknya kondisi badanmu dalam keadaan yang terburuk ya, Tuan X!?" Marsekal Leomenyeringai senang.


__ADS_2