Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu


__ADS_3

Disebuah tempat tersembunyi markas pasukan khusus yang terbentuk oleh kelompok angkatan laut. Seorang pria dengan kacamata hitam yang terpasang, nampak sedang merokok sembari menempelkan ponselnya ke telinga.


Ruangan dimana dia berada, nampak sederhana dengan warna dominan putih. Baik tembok lantai hingga atap, semuanya nampak putih bersih. Hanya lukisan dan foto pasukan serta simbol angkatan laut saja yang menjadikan ruangan tersebut sedikit berwarna. Saking sukanya pria itu dengan warna putih, dia juga menggunakan meja dan kursi kerja yang berwarna dominan putih. Meski warna putih sangat mudah kotor, ruangan pria itu tetap terjaga kebersihannya.


Dia memakai seragam putih seorang laksamana besar angkatan laut yang dilengkapi banyak lencana kehormatan, di bagian atas dada kirinya tertulis nama Mr W yang merupakan inisial serta kode nama kemiliterannya.


Topi khusus seorang angkatan laut pun tak lupa dia kenakan sedari awal. Ujung atas topi tersebut berwarna putih, sedangkan bagian tengah depan hingga bagian bawah yang memanjang ke depan seperti topi pada umumnya bertahtakan warna hitam dan simbol militer angkatan laut. Simbol itu berlukiskan jangkar yang diapit oleh padi dan kapas, serta simbol garuda yang terlukis di atas simbol jangkar. Simbol simbol itu bertahtakan warna emas, kecuali bagian tengah garuda yang dihiasi warna lain seperti lambang garuda negara pada umumnya.


Wajah Pria itu masih cukup kencang di umurnya yang telah menginjak angka 50. Badannya pun tergolong sehat, dengan otot kencang yang terkesan memberontak seragamnya. Jika dia mewarnai rambutnya yang memutih dengan warna hitam, mungkin orang akan percaya bahwa pria itu bukanlah seorang pria paruh baya, melainkan seorang pemuda.


Dalam ruangan itu, terdapat beberapa prajurit yang nampak sedang berdiri tegak sembari menunggu sebuah perintah. Sembari menelepon dengan santai, pria itu membiarkan prajurit yang dia panggil menunggu dengan tegang.


Suasana ruangan bagi para prajurit terasa amat mencekam. Semua karena pria yang merupakan atasannya sangat jarang tersenyum dan terkesan begitu tegas. Wajahnya yang agak sangar, serta tekanan seorang veteran perang memiliki efek tersendiri bagi jiwa mereka. Saking tegasnya pria itu, senyuman di wajahnya adalah hal yang langka dan semat dianggap sebagai hal yang mustahil bagi para prajurit. Satu satunya hal yang membuat pria itu tersenyum ialah saat sedang menemukan seseorang yang menarik, dan saat menelepon putrinya. Dan saat ini pria itu sedang tersenyum lepas sembari berbicara dengan putrinya.


"Tenanglah, ibumu ada di tempat ayah."


"Memangnya ayahmu ini pernah berbohong padamu?"


"Ayahkan pernah bercerita bahwa ayahmu ini dapat melakukan apapun ayah mau, jadi jangan terlalu khawatir!"


"Oh iya, hari ini juga ayah akan menjemputmu. Jadi persiapkan dirimu!"


"Tenang saja, hanya dengan melacak nomor ponsel yang sedang kau pakai saja, ayahmu ini bisa menjemputmu kapanpun ayah mau."


"Sampai saat itu tiba, nikmati saja waktumu terlebih dulu. Kalau begitu ayah siap siap dulu ya, putriku!" Mr W yang memiliki gelar seorang laksamana besar menutup ponselnya dengan senyuman yang tulus.


Tepat setelah selesai menelepon, wajah Mr W kembali menegang dan mengancam.


Tekanan seorang veteran perang seorang marsekal besar yang sempat menghilang ketika menelepon putrinya, kini kembali membuat para prajurit menegang. Hanya dengan membayangkan tatapan tajam dibalik kacamatanya saja sudah sanggup mengguncang jiwa mereka.


"Persiapkan kapal untuk keluar dari markas!"


"Hari ini kita akan menjemput putriku!" Mr W menatap tajam para bawahannya.

__ADS_1


"Siap pak!" para prajurit memberi hormat lalu perlahan pergi dengan keringat dingin di wajah mereka.


Setelah para prajurit pergi, Mr W menghela napas sembari menikmati suasana damai di ruangan kesukaannya.


"Sudah kuduga, ruangan ini memanglah yang terbaik!"


"Bahkan ruang kerja di kantor usahaku saja tak senyaman tempat ini. Jika bukan karena Rosa yang bersi keras menolak warna putih yang dominan disetiap kantorku dengan alasan mudah kotor dan tidak umum, aku pasti bisa menikmati waktu yang indah saat sedang bekerja!" keluh Mr W sembari menghela napasnya.


Tok tok tok! seseorang mengetuk pintu dimana Mr W berada.


"Masuklah!" Mr W memutar kursinya yang sempat dalam keadaan terbalik saat sedang bersantai.


Tak lama setelah Mr W mempersilahkan masuk, sosok Rosa Riyadi memasuki ruangan dengan wajah penuh rasa ingin tahu.


"Jadi ini alasanmu tak suka sering sering berdiam di kantor perusahaan!?"


"Hanya karena warna yang ku atur tak sesuai seleramu!?" tanya Rosa Riyadi sembari menghela napas dan menepuk dahinya. Meski tahu betul bahwa suaminya merupakan pecinta warna putih, dia benar benar tak tahu kalau tingkat obsesinya terhadap warna putih sudah melebihi imajinasinya.


"Jadi benar kalau itu salah satu alasannya!?"


"Haishh!" Rosa Riyadi bernapas lega. "Syukurlah!"


"Kenapa kau mensyukuri hal ini?"


"Kupikir kau akan marah tak jelas seperti saat di kantor!?" tanya Mr W dengan heran.


Rosa Riyadi bernapas lega karena telah mengetahui bahwa kecurigaannya selama ini terhadap kemungkinan suaminya yang berselingkuh merupakan kecurigaan yang salah. Dia juga bernapas lega baru baru ini, semenjak mengetahui identitas lain suaminya. Meski sudah memiliki dua orang anak, baru baru ini Rosa Riyadi merasa jauh lebih dekat dengan suaminya. Semua perasaan lega itu, sudah tumbuh sejak Mr W datang menjemputnya sendiri saat pulang bekerja, dan menceritakan semua hal yang dia sembunyikan dengan nada yang begitu lembut dan penuh perhatian. Meskipun dia juga merasa masih ada beberapa hal yang mencoba dia tutupi.


"Apa kau benar benar ingin tahu?"


"Sayangnya tak akan kuberi tahu," Rosa Riyadi sedikit menggoda suaminya dengin pipi yang agak memerah karena mengingat saat saat Mr W menjemputnya dengan maksud untuk melindunginya. Terlebih saat itu, Mr W juga memuji kecantikannya saat melihat dirinya pulang kerja dengan gaun putih. Karena ketagihan akan sikap manis suaminya, Rosa Riyadi tanpa sadar memakai gaun yang sama saat hendak menemui suaminya lagi.


"Apa yang harus kulakukan agar dapat mengetahui rahasiamu, Sayangku?" Mr W bertingkah lembut dengan berlutut sembari memegangi tangan istrinya.

__ADS_1


Blush! wajah Rosa Riyadi seketika memerah. Dia tak dapat menahan godaan sikap lembut suaminya. Sikapnya sama persis seperti di masa lalu, terutama ketika menggunakan gaun pengantin atau gaun yang berwarna dominan putih.


"Ka ... kalau begitu ... , ijinkan aku ikut denganmu."


"Kau ingin menemui anak anak kan?"


"Aku juga menghawatirkan mereka, jadi kumohon bawa aku juga," Rosa Riyadi berbicara sembari menatap ke arah lain karena tak tahan dengan situasi tersebut.


'Ho ... , ternyata dia masih memiliki sisi imut juga ya,' batin Mr W sembari tersenyum saat melihat reaksi istrinya.


"Jika memang itu keinginanmu, maka dengan senang hati akan kukabulkan," Mr W mencium telapak tangan istrinya dengan lembut.


Sementara itu ditempat lain, Theo yang merupakan pemimpin kelompok Scorpion sedang bersiap mengekspos dirinya ke hadapan publik. Semuanya dia lakukan demi membungkam keberatan para Holder yang merasa dirugikan oleh aktifitas kelompok Scorpion. Dulu para holder tak bergerak sejelas sekarang, namun semenjak marsekal Leo buka mulut dan menyatakan keburukan kelompok Scorpion, para Holder yang bisnis gelapnya terusik baru baru ini turut campur dan mengerahkan orang orang mereka.


"Cih!"


"Beraninya mereka menyerang media dan menjelek jelekkan kelompokku!"


"Berantas sampai akar kata mereka!?"


"Harusnya aku yang mengatakan hal itu!"


"Bukankah pekerjaan mereka hanya melindungi orang orang bersalah!"


"Rubah tua sialan!"


"Kenapa kau berhenti membungkam mereka saat sedang diperlukan!" Theo teramat marah semenjak mengetahui beberapa rekannya tertangkap dan terus diburu. Dan kemarahannya semakin memuncak semenjak presiden berhenti membela rekan rekannya karena didesak oleh para Holder.


'Otoritas para Holder diakui seluruh negara. Jika anda tetap menentang permintaan mayoritas Holder di negeri ini, maka lakukan saja pertarungan antar Holder!' tantangan terang terangan di depan media, membuat Presiden mundur dari pendiriannya. Meski memiliki lencana seorang Holder, seorang presiden tak diijinkan menerima tantangan duel dari holder lain yang berstatus dibawah presiden. Jika melanggar, maka status presidennya akan dihilangkan tak peduli menang atau pun kalah. Namun itu bukanlah bagian terburuknya, Karena hal terburuk dari semua itu ialah campur tangan negara lain yang lebih kuat akan mengambil alih negara tanpa presiden.


"Theo pasti sedang sangat kesulitan saat ini, tapi aku tak dapat menolongnya untuk sekarang. Semua karena aku harus menghilangkan rasa penasaranku terlebih dulu, terkait siapa sebenarnya ayah mertuaku itu!"


"Cepatlah datang kemari, pria tua!" Gumam Hansen sembari menonton berita televisi yang memojokkan kelompok scorpion.

__ADS_1


__ADS_2