
Percakapan antara Hendra Pratama dan Mr. W berlangsung cukup lama, hingga membuat Hansen penasaran. Tapi karena pintu ruangan tersebut cukup tebal dan kedap suara, Hansen tak dapat mendengar percakapan antar keduanya.
Di sisi lain, Andini nampak sedang menerima telepon dari Herry. Awalnya dia bersi keras menolak untuk bertemu, tapi setelah Herry merayunya berulang kali hingga berkata akan menjemputnya ... Andini langsung berniat untuk pergi. Tapi dihalangi oleh Zaskia yang saat itu kebetulan mendengar percakapan mereka.
"Jangan pergi menemui Herry, Nona!" Zaskia menarik tangan Andini yang saat itu berpapasan dengannya. Sayangnya Andini yang sudah termakan rayuan Herry, tetap menolak anjuran Zaskia hingga berkata, "Lebih baik kau urusi saja urusanmu sendiri!"
"Nona, Herry itu bukan pria yang baik!" Zaskia tak tega saat mengetahui penyelamatnya bersi keras menemui Herry. Tapi Andini yang masih terbutakan oleh cinta, hanya mengabaikan peringatan Zaskia dengan berkata, "Ini bukan kali pertamanya kau memperingatiku! Waktu baru pertama bertemu dengan Herry dan pesta minum di rumahku juga kau suka menjelekkan Herry. Jika bukan karena kinerjamu yang baik, mungkin aku sudah lama memecatmu. Ah ... sekarang kan kau sudah melalaikan pekerjaanmu, dan bahkan mengandung bayi dari suamiku. Bukankah jika dilihat dari sudut pandang lain, kaulah yang lebih buruk?" Andini menatap kesal Zaskia. Meski tak memiliki rasa cinta terhadap Hansen, entah kenapa Andini tak dapat menyembunyikan kekesalannya. Sementara Zaskia yang tak bisa membantah ucapan Andini, hanya bisa terdiam hingga membiarkan Andini menampik tangannya.
"Apa Nona cemburu?" tanya Zaskia tanpa membalik badannya. Saat ini punggung Andini dan Zaskia saling bersebrangan karena Andini baru saja melewatinya. "Cih! Cemburu? Aku? Terhadap Hansen dan kau!? Mustahil!"
"Lantas kenapa kau semarah ini padaku?" Zaskia tetap terdiam di tempatnya berdiri, sembari menanyakan hal yang tak bisa Andini abaikan begitu saja.
Andini terdiam sejenak, dia juga merasa bingung. Meski Zaskia memang mengecewakannya karena meninggalkan kewajiban sebagai sekertaris pribadinya, Andini tak seharusnya semarah itu. Lagi pula, dia tak pernah mencampurkan masalah pribadi dengan masalah perusahaan. Toh saat ini perusahaan sedang di urus oleh orang orang kepercayaan ayahnya. Dia juga menjadi semakin bingung saat berpikir bahwa perasaan marah tersebut pernah dia rasakan sebelumnya, tepatnya saat kebenaran dibalik hamilnya Zaskia terungkap pertama kali melalui mulut Amelia. Saking marahnya dia, sampai membeberkan salah satu surat cerai ke tangan Mr W agar Hansen terkena pelajaran.
'Apa aku benar benar cemburu!' Andini terdiam sejenak. 'Tidak! Aku pasti kesal karena dia menyembunyikan hal besar ini saja! Seharusnya aku senang kan kalau Hansen memiliki wanita lain? Toh akhirnya aku bisa menyelesaikan pernikahan palsu kami ... ,' Andini nampak bingung dan dihantui oleh berbagai pembelaan diri. Dia tak mau mengakui bahwa terdapat rasa cemburu terhadap hubungan Zaskia dan Hansen.
"Kenapa kau terdiam, Nona Andini?"
"Apakah ucapanku tadi benar?" Zaskia mulai yakin bahwa terdapat sedikit rasa terhadap Hansen di hati Andini. Sementara Andini hanya merespon dengan berkata, "Terserah kau saja lah!" Meski tak jelas, namun ucapannya bukanlah sebuah bantahan.
__ADS_1
Zaskia pun semakin yakin dan tersenyum. Meski dia memiliki rasa terhadap Hansen, tapi baginya kebahagiaan Hansen adalah segalanya. Terlebih sejak dia mengetahui bahwa Andini adalah sumber dari kebahagiaannya. Wanita yang sudah mengikat hati Hansen karena terbiasa dengannya. Wanita yang tak bisa Hansen lupakan begitu saja meski dalam mabuknya. Wanita yang membuat Hansen kerap kali menggumamkan namanya saat sedang terpengaruh minuman keras dan berhubungan badan dengan Zaskia. Dia juga yang Hansen bayangkan dan gumamkan saat berhubungan badan dengan Zaskia untuk kedua kalinya. Meskipun saat itu keduanya sedang terpengaruh oleh obat nakal yang diberikan oleh Amelia secara diam diam, Zaskia tetap dapat mendengar gumaman tersebut.
'Nampaknya kau tak menanggung perasaan itu sendiri, Hansen. Hanya aku saja yang mendapatkan perasaan seorang diri,' Zaskia meneteskan air mata tanpa sadar.
Setelah beberapa waktu berlalu, Zaskia segera tersentak dan berkata, "Astaga! Apa yang baru saja kulakukan! Aku seharusnya tak boleh melamun di saat seperti ini! Nona Andini bisa bisa!"
Zaskia nampak panik. Dia segera menelepon Hansen untuk mengabari berita tersebut. Meski sebenarnya Andini berada dalam lindungan bawahan Mr W, Zaskia tetap merasa panik karena tak tahu keberadaan orang orang tersebut yang mengawasi sembari bersembunyi.
"Hansen? Bisakah kau ke parkiran?"
"Andini memaksa untuk pergi dengan Herry! Aku takut dia akan ... ," Zaskia menelepon Hansen dengan nada panik, sementara Hansen segera menjawab dengan ekspresi serius dan tenang. Dia tak terlalu panik karena tahu ada orang orng yang diam diam melindunginya, tapi Hansen tetap tak bisa mengabaikannya karena Mr W juga sudah menitipkan keamanan Andini kepadanya.
"Terima kasih atas informasinya, Zaskia!" Hansen segera menutup ponsel dan pergi.
Sementara itu, jauh di salah satu anak perusahaan Wijaya Group, tepatnya di sebuah tempat karaoke. Herry Wijaya nampak sedang menerima panggilan dari Adi Wijaya yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.
"Apa kau sudah melakukan apa yang ayah minta?" tanya Adi Wijaya dengan suara yang berat.
"Ah tentu! Berkat Ayah, Andini mau menerima tawaran untuk bertemu. Bagaimana cara ayah mengetahui lokasinya? Dan kenapa ayah tahu kalau dia tak akan menolak kalau aku mengatakan sesuai apa yang ayah katakan?" Herry nampak bingung dan penasaran. Namun segera menutup percakapan dengan berkata, "Hah ... , jangan bilang itu rahasia negara lagi! Aku tahu pangkat ayah tinggi, tapi tak bisakah Ayah bocorkan sedikit saja?" Adi Wijaya tetap tak merespon, hingga akhirnya Herry memutuskan untuk mengakhiri panggilan dan berkata, "Cih! Kalau gak mau memberitahuku ya sudah!"
__ADS_1
Klakkk! Adi Jaya meletakkan ponselnya ke atas meja. Lalu menatap Weapon Eagle yang saat itu ditempatkan di luar jeruji besi dan sedang berdiri dengan kalung hitam di leher serta semua bergelangan tangan dan kakinya. Dia juga sedang memegang remot kendali yang mengontrol penuh tubuh Weapon Eagle dengan perintah suara. Saat itu, Adi Wijaya memaksanya untuk berdiri dan hanya membebaskan mulutnya saja, hingga mampu berkata, "Apa lagi yang kau rencanakan, Marsekal!"
"Bukankah kau sudah lama ingin bertemu dengan komandanmu?"
"Kata Zero kau juga seorang subjek seperti tuan X, jika kau dan komandanmu bertarung mati matian. Kira kira matamu akan bangkit juga tidak ya?" Adi Wijaya menyeringai jahat.
'Sial! kupikir kalung hitam ini hanya mencegahku keluar saja karena akan menyetrum tiap kali aku sampai ke pintu keluar! Tak kusangka ternyata dia memiliki fungsi ini! Kalau begini kenapa kalau dia ingin aku meng-upgrade senjata, dia malah mengancamku dengan orang orangku!? Bukankah akan mudah jika hanya mengendalikanku!' Weapon Eagle nampak kesal, dan larut dalam pikirannya sendiri.
"Aku tahu apa yang mungkin sekarang sedang kau pikirkan! Jawabannya adalah karena aku mau membuatmu merasakan rasanya menjadi sepertiku! Dengan begitu, kita bisa menjadi semakin akrab, bukan?" Adi Wijaya tersenyum jahat.
"Dasar gila!" Weapon Eagle membentak kesal.
"Pergi dan lakukanlah tugas dariku, Weapon Eagle!" Adi Wijaya menatap dingin, dan membiarkan Weapon Eagle menghilang dari hadapannya.
Tak lama setelah itu, seseorang berambut pirang dan beriris biru muncul dari sekat ruangan yang berbeda dengan yang dilewati Weapon Eagle. Pria itu berdarah eropa dengan iris biru yang nampak cantik. "Kerja bagus, kau melakukannya dengan benar ... A." Alex menyeringai tajam dengan aura yang mendominasi.
'Padahal aku hanya ingin hidup tenang, kenapa Law Breaker bisa tahu di mana aku .... " Adi Wijaya nampak tertekan dan tak berdaya.
"Jangan khawatir ... , selagi kau menuruti perintahku. Kau dapat terus menikmati hidup damaimu," ucap Alex dengan mata yang mengancam. Adi Wijaya yang memiliki trauma mendalam terhadap Law Breaker, hanya bisa terdiam dan berusaha menutupi rasa takutnya.
__ADS_1
'Tak bisakah aku menikmati sisa hidupku dengan tenang!' Adi Wijaya mengepal erat kedua tangannya.