Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen


__ADS_3

Di dalam sebuah kereta bawah tanah yang nampak futuristik, Hansen duduk sedikit jauh dari pintu masuk kereta dengan dua orang gadis cantik di sebelah kanan dan kirinya. Sementara di sebrang Hansen duduk, Rose serta seorang pengawal pria nampak duduk sembari menatap ke arah Hansen.


"Bisakah kalian berhenti menatapku seperti itu?" tanya Hansen risih.


"Cih! Sebenarnya apa yang dilihat Komandan darimu? Di mataku kau terlihat cukup biasa," Rose menatap sembari mengamati.


"Hmmm, sepertinya aku tahu jawabannya," pengawal pria yang berada di samping Rose memotong sembari mencubit halus dagunya.


"Apa itu?" tanya Rose penasaran.


"Apalagi kalau bukan karena wajah tampannya yang sama persis sepertiku!" Pengawal pria itu tersenyum dengan penuh percaya diri.


"Haruskah aku menambah hukumannya?" Rose tersenyum mengancam. Wajahnya mungkin nampak cantik, terlebih rambutnya yang cukup panjang dan tergerai lebar. Sayangnya, seperti halnya Friska dan seluruh bawahannya, sifat mereka tak sejalan dengan penampilan feminim mereka. Terlebih saat berhadapan dengan orang yang tidak disukai.


"Aku akan melakukan apapun perintahmu, tapi tolong jangan tambah hukumanku!" Pengawal pria itu nampak begitu ketakutan. Berbanding terbalik dengan wajah sangarnya, dia nampak cukup lunak dan tak berdaya bagaikan seorang bayi saat dihadapkan oleh Rose yang sedang emosi.


"Dasar botak, lain kali berpikirlah saat sedang berbicara! Wajahmu itu terlalu mengerikan untuk di lihat. Apalagi kepalamu yang licin itu!" Salah seorang gadis yang duduk di samping kanan Hansen menyahut dengan wajah galaknya. Diikuti oleh decihan ketiga gadis lainnya yang juga menunjukkan wajah kesal ketika menatap wajah pengawal tersebut.


"Luka luka di wajah ini kan ditinggalkan oleh wanita sinting seperti kalian! Sedangkan rambutku ... , ini adalah hasil dari mengejar kekuatan," Pengawal pria itu kembali berpose dengan percaya diri. Dia memainkan otot otot lengannya dengan ekspresi wajah yang nampak menjengkelkan di mata semua orang.


" .... " Semua orang termasuk Hansen menunjukkan wajah datar mereka.


"Biar aku yang melakukan hukumannya kali ini, aku benar benar ingin menghabisinya!" Salah satu gadis di sebelah kiri Hansen mengepal tinju Dengan kesal.


"Tidak, aku saja!" Para gadis lain yang berada di samping Hansen memotong dengan kesal.


"Bagaimana kalau kita melakukannya bersamaan nanti?" Rose mengusulkan dengan wajah kesal.


"Setuju!" Keempat gadis di samping Hansen memotong secara bersamaan.


'Mati aku! mereka terlihat benar benar kesal hari ini!' Pengawal pria bermuka sangar dan berkepala botak nampak menggigil ketakutan.


Sementara ke lima gadis yang berada di dalam gerbong kereta tersebut, nampak jauh lebih emosian dibandingkan biasanya. Semua karena kehadiran Hansen yang mereka pikir, mungkin akan menjauhkan Friska dari mereka.

__ADS_1


Wajah mereka mungkin jauh berbeda karena berubah menjadi lebih cantik dari pada masa lalu, nama mereka pun terdengar asing di telinga Hansen. Tapi dilihat dari gerak gerik dan tingkah kasar mereka saat berhadapan dengan orang yang tak disukai, Hansen semakin yakin bahwa mereka memang bawahan langsung yang telah dididik Friska di masa lalu.


Hansen sempat tak mengenali mereka karena wajah yang lebih cantik dan berbeda. Namun setelah memperhatikan suara, sifat dan perilaku mereka. Dia pun segera menyadari bahwa kelimanya telah mengubah wajah serta nama asli mereka entah mengapa.


"Letnan Risa?" tanya Hansen memastikan sembari menatap ke arah Rose.


"Aku sudah lama membuang nama itu!"


"Tak lama setelah kau membubarkan red Eagle dan menghancurkan hati komandan Friska dengan menyuruhnya menjauh darimu!" Rose menatap tajam dengan penuh amarah.


"Jika kau masih memiliki nurani, pergilah jauh jauh setelah urusanmu di sini selesai. Jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapan komandan kami lagi, karena kehadiranmu hanyalah luka baginya!" Satu dari tiga gadis lainnya memotong dengan tangan yang terkepal.


"Aku tahu aku salah karena terlalu terbawa emosi di masa lalu, tapi ... tak bisakah kalian memaafkan kesalahanku itu?" tanya Hansen menunduk dengan penuh penyesalan.


"Pernahkah kau begitu mencintai seseorang, kemudian diminta untuk pergi menjauh oleh orang tersebut?"


"Tak lama setelah itu, orang yang kita sukai itu malah menikah dengan orang lain?" tanya Rose dengan penuh emosi.


"Apa hubungannya pertanyaan ini dengan maaf dari kalian?" tanya Hansen bingung.


"Komandan sangat mencintaimu Tuan X! Dia begitu mencintaimu! Apa kau sadar bahwa kau sudah menghancurkan hatinya begitu parah ketika mengusir dan meninggalkannya kemudian menikah dengan wanita lain!" Rose melangkah maju kemudian meraih kerah Hansen.


"Friska ... mencintaiku?" Hansen terkejut saat mendengar fakta itu. Dia tak pernah terpikirkan akan hal tersebut, karena pikirnya rasa suka Friska hanya sebatas perasaan adik kakak seperti apa yang dia rasakan.


Meskipun tak memiliki hubungan darah, Hansen menganggap Friska dan ke lima komandan red Eagle lainnya sebagai teman atau keluarga kandungnya sendiri. Semua karena keenamnya pernah berbagi ayah dan ibu yang sama dengannya.


Di masa lalu Keenam anak yang ditinggalkan orang tua mereka dan berpikir bahwa mereka sudah berstatus yatim piatu, ditolong dan dianggap keluarga oleh Hansen dan keluarga kecilnya satu demi satu. Kemudian diajarkan cara membela diri hingga sanggup diakui sebagai komandan pasukan di kelompok pasukan khusus Red Eagle.


"Dia ... menyukaiku lebih dari seorang saudara?" gumam Hansen dengan mata yang berkedut. Tangannya yang terkepal erat, turut bergetar mengikuti perasaan bersalah Hansen.


Friska sering mengatakan bahwa dia begitu mencintai Hansen, tapi tak pernah dianggap dengan serius karena Hansen pikir itu hanyalah candaan antar saudara belaka seperti halnya apa yang Cindy katakan padanya.


'Jadi ... semua itu bukanlah candaan!'

__ADS_1


'Bodohnya aku ... karena berpikir bahwa itu candaan, bagaimana pun tak ada hubungan darah di antara kami,' Hansen memegang dahinya dengan penuh emosi.


"Ma ... maaf ... aku benar benar tak mengira kalau ... ," Hansen meminta maaf dengan terputus putus karena emosinya terguncang, sementara Rose tak dapat menahan diri untuk mendorong kemudian melepaskan kerah Hansen dengan kasar.


"Cih! Sudah terlalu lambat bagimu untuk meminta maaf sekarang! Lagipula bukan kepada kami seharusnya kau meminta maaf!" Rose membentak kesal kemudian kembali duduk di tempatnya semula.


'Ah ... jadi karena itu kelimanya jauh lebih emosi? Lebih baik aku diam kalau tak ingin jadi bulan bulanan mereka,' satu satunya pengawal pria yang duduk di dalam gerbong kereta bawah tanah futuristik melirik sejenak dengan penuh kewaspadaan.


Sementara itu, di dalam shelter lantai 3, Andini, Amelia, dan ibu mereka nampak duduk sembari ditemani oleh empat orang wanita berpakaian hitam ketat layaknya ninja, dengan sabuk yang dikaitkan beberapa peralatan mata mata seperti wadah pisau dan peralatan canggih lainnya. Keempatnya mencegah Andini untuk keluar kamar atas perintah Mr W.


'Apa sih yang sedang ayah lakukan sekarang!?'


'Kenapa harus mengirim mereka untuk mengawasi kami seperti ini!' Andini terlihat kesal saat melihat keempat wanita asing yang sedang berdiri di setiap pojok ruangan secara terpisah.


"Kita sudah di dalam Shelter sekarang, apa perlu kalian berjaga seketat ini?" Amelia bergumam kesal.


"Perintah tuan adalah mutlak, jika Nona memiliki keluhan, hubungi saja ayah Nona. Jika tidak mendapat jawaban, tolong jangan halangi tugas kami," sambung satu dari keempat gadis yang terdiam di dalam ruangan.


"Ayah, angkat dong! Ayah lagi ngapain sih!?" Andini berusaha menelepon Mr W, namun tak mendapat jawaban apapun sehingga membuatnya semakin cemas.


"Duar!" Adi Wijaya dan Mr W saling terdorong menghantam mobil Jeep yang terparkir saat berhasil mendaratkan tinju ke wajah lawan mereka.


"Tak bisakah kita hentikan pertarungan tak berguna ini?"


"Sudah terlalu banyak korban yang sudah berjatuhan!" Adi Wijaya melirik ke arah pasukannya yang nampak sedang melakukan baku tembak dengan pasukan yang dibawa oleh Mr W.


"Selagi Herry dan orang orang red Eagle yang kau tahan ditemukan, aku tak akan pernah menghentikan peperangan ini!" Mr W mengepal tinjunya dengan tegas.


'Aku harus menyelesaikan pertarungan ini secepatnya, sebelum orang itu menyadari keberadaan W,' Adi Wijaya mengepal kesal. Dia sangat ingin memberi tahu keberadaan salah satu anggota Law Breaker yang sudah mengunjunginya, tapi kesulitan untuk mengungkapkan fakta tersebut karena alasan tertentu.


"Meski sudah ada alat untuk menipu sinyal lencana Holder, bertarung secara gila seperti sekarang bukanlah hal yang menguntungkan!"


"Tak bisakah kita akhiri saja pertarungan gila ini!" Adi Wijaya berbicara sembari menghindar semua serangan W.

__ADS_1


'Ada yang tak beres dengan A, dia belum terlihat lelah sama sekali, meski sudah bertarung cukup lama!'


'Apa mungkin bahwa dia belum menunjukkan semua kemampuannya?' Mr W mengamati sembari melakukan pukulan dan tendangan berkekuatan penuh berulang kali.


__ADS_2