Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal


__ADS_3

Kring kring!! Ponsel Andini berdering kencang.


"Kenapa lagi!?"


"Bukankah sudah kubilang kalau aku sedang .... ," Andini nampak emosi.


"Apakah begini cara hotel permata melayani kliennya?"


"Aku benar benar kecewa," suara yang terdengar tak asing, terdengat jelas di telinga Andini.


"Je ... Jenderal besar Raditya Raka!?" Andini terkejut bukan main setelah menyadari bahwa klien Zaskia ialah orang merepotkan yang masih memiliki ikatan bisnis dengan perusahan perhiasan keluarganya.


"Oh, jadi anda masih mengenali suaraku, Nona Andini?"


"Bisakah kau datang ke hotel dan menemuiku menggantikan Nona Zaskia?"


"Atau .... haruskah aku menuntut uang kembali?" Jenderal Besar kepolisian, Raditya Raka mengancam dengan nada sinis.


"Tu ... tunggu!"


"Aku akan kesana!" Andini tersentak dan segera pergi secepat yang ia bisa.


Sangat wajar baginya untuk merasa khawatir, semua karena Jenderal Besar Raditya Raka, merupakan klien besar yang telah memesan perhiasan kelas atas berlapis permata, dalam jumlah besar untuk menyenangkan keluarga besar serta beberapa bawahannya. Totalnya sebanyak seratus unit dengan total uang muka diatas ratusan juta dolar, Dia bahkan memborong beberapa Permata kelas menengah untuk menyenangkan beberapa koleganya. Dan perusahaan yang mendapat kesempatan dalam bisnis besar itu ialah Wisnu Jewelry yang merupakan sebuah perusahaan perhiasa milik keluarga Wisnu.


"Kau mau kemana kak!?" Amelia Wisnu menoleh ke belakang setelah menyadari kakaknya pergi begitu saja.


"Menemui Jenderal Besar Raditya Raka!"


"Dia menuntut akan menarik semua dana yang telah dia bayarkan jika aku tak datang sekarang!" Andini menjawab dengan terburu buru. Dia terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Saking buru burunya, dia bahkan tak menyadari keberadaan Hansen yang baru saja berpapasan dengannya.


'Andini!?' Hansen menatap Andini dengan heran.


Namun tak berniat mengejarnya hingga melanjutkan langkahnya mendekati Amelia.


"Mau kemana dia!?"

__ADS_1


"Kenapa buru buru sekali?" Hansen bertanya kepada Amelia sembari sedikit menoleh ke belakang.


'Kak Hansen!' Amelia tersentak setelah menyadari keberadaan Hansen karena sempat kehilangan fokus.


"A ... anu ... , Kak Andini ditelepon oleh klien besar yang memesan ratusan perhiasan berlapis permata kelas atas, ituloh yang suka mengancam akan menuntut ganti rugi apabila pesanannya tak dapat terpenuhi!" Amelia menyentuh dahinya sembari menghela napas.


"Ah aku ingat, klient itu yang membuat perusahaan kalian merasa terpojok karena keluarga David memonopoli penyuplai permata kan?" Hansen menghela napas mengingat tingkah David Hermanto di masa lalu. "Kalau boleh tahu, siapa sebenarnya nama klient itu?"


"Dan apa tujuannya memesan begitu banyak permata?"


"Namanya Jenderal Besar Raditya Raka, dia seorang jenderal Besar kepolisian dan sangat dihormati semua orang, terlebih ada rumor yang mengatakan kalau dia memiliki sebuah lencana kebal hukum. Makanya dia suka bertindak semenah menah dan tidak dapat dikendalikan!" Amelia menyentuh dahinya karena merasa pusing akan tingkah klient besar tersebut.


'Seorang Holder?'


'Menarik,' Hansen tersenyum sejenak dalam lamunannya.


"A ... anu ... , Nona Zaskia sudah ... ," Amelia ingin memberi tahu Hansen bahwa Zaskia sudah tak ada di rumah sakit, namun Hansen yang sudah mengetahui itu hanya mengangkat tangannya dan berkata, "Aku sudah tahu!"


"Letnan Jenderal Eliza sudah memberi tahuku, yang penting dia masih aman dan terlindungi."


"Oh iya, apakah Andini sudah mengetahui kondisiku?" Hansen menatap Amelia dengan penasaran.


"Ta ... tapi kenapa?" Amelia nampak tersipu dan penasaran.


"Karena aku tak mau, dia kembali hanya karena statusku, bukan karena diriku."


"Maukah kau berjanji untuk itu, Amelia?" Hansen tersenyum tulus. Sejujurnya dia masih menyukai Andini, namun fakta bahwa Andini menyukai pria lain membuatnya enggan mengejarnya lagi. Meskipun sulit, namun Hansen yang sekarang sedang berusaha untuk melepaskannya karena tak ingin memaksakan perasaan Andini.


"A ... aku berjanji ... ," Rasa kagum Amelia terhadap Hansen sudah tak dapat tertahan lagi, hingga membuatnya meng iya kan segala hal yang keluar dari mulut Hansen. Berbeda dengan dirinya di. masa lalu yang selalu membantah dan tak mau mendengar kakak iparnya itu. Jika Amelia yang dulu adalah gadis cerewet dan pembantah saat dihadapan Hansen, maka Amelia saat ini adalah kebalikannya.


...


"Tuan X?"


"Kenapa anda mengunjungiku lagi?" Dion bertanya dengan heran.

__ADS_1


"Ada yang ingin kutanyakan padamu," Hansen nampak begitu serius dan dingin saat itu.


"Bisakah kau tunjukkan identitas para murid Old Eagle selain dirimu?"'


"Militer tak memiliki data pastinya karena topeng wajah tua dan rambut palsu itu, sedangkan mengetahui identitas mereka sangatlah penting bagiku saat ini."


"Itu .... ,"


"Sebelumnya buku itu ada di tanganku, tapi ... ,"


"Bukunya telah dirampas oleh kelompok peniru," Dion menjawab dengan menyesal.


'Untuk apa Chalis merampas buku itu ... ,' Hansen terdiam dalam pemikirannya. Dan kemudian nada dering ponsel Hansen pun terdengar, menyadarkannya dalam lamunan, hingga dengan reflek menatap layar ponsel yang bertuliskan nama Jenderal Besar Hanan.


"Halo?" Hansen menjawab ponsel seperti biasa.


"Gawat!"


"Ternyata selama ini semua mantan anggota Red Eagle yang kami pikir masih hidup, adalah eksistensi palsu!" Jenderal Besar Hanan melapor dengan panik.


"Apa maksudmu?" tanya Hansen dengan bingung.


"Sepertinya seseorang telah menculik mereka dan menggantikannya dengan seseorang berwajah mirip!" Jenderal Besar Hanan menjawab dengan kesal.


"Bagaimana bisa begitu?" Hansen masih meragukan pernyataan Jenderal Besar Hanan.


"Akupun awalnya tak percaya, namun tak hanya satu dua dari mereka yang berperilaku aneh, mayoritas dari mereka bertindak layaknya orang linglung dan tak mengetahui identitas mereka sendiri. Bahkan keluarganya pun dibuat bingung akan hal itu. Dan fakta bahwa ada beberapa prajurit yang memiliki golongan darah yang berbeda dengan aslinya pun memperkuat kecurigaan kami. Dan puncaknya dapat kami simpulkan setelah mencoba mengecek kecocokan sidik jari mereka." Jenderal Besar Hanan melanjutkan.


"Dan hasilnya?" Hansen nampak begitu serius.


"Negative!" Jenderal besar Hanan menjawab tanpa keraguan. Mengejutkan Hansen hingga tersentak dan terdiam cukup lama.


'Negative!?'


"Apa apaan ini!"

__ADS_1


"Orang gila mana yang menculik orang orang lamaku!"


"Caranya menculik orang benar benar gila dan diluar nalar!" Hansen terbelalak cukup lebar dengan tangan yang gemetar.


__ADS_2