
Puluhan Jeep putih bersimbol empat jangkar berlapis rantai yang tersebar bak panah mata angin, terekspos di bagian atas kap mobil Berjajar mengikuti jeep putih besar yang berada di depan mereka. Jeep Jeep tersebut berkendara melalui jalanan beraspal, lalu melewati jalanan tanah hutan lindung, dan berakhir menuju jalur rahasia markas militer pasukan khusus.
Dengan latar belakang lingkaran berwarna merah dan putih beserta simbol garuda raksasa dibalik lingkaran tersebut, simbol jangkar empat arah mata angin menjadi terkesan mendominasi. Tak hanya di bagian atas kap mobil saja, simbol jangkar empat mata angin juga terpampang jelas dibagian belakang mobil, tepatnya di bawah jendela belakang. Dalam sekali lihat, meski dari kejauhan, semua orang akan menyadari milik siapa Jeep Jeep putih itu. Terlebih simbol bintang lima yang hanya ada di mobil Jeep besar yang memimpin rombongan. Jeep yang hanya dikendarai oleh seorang laksamana besar angkatan laut.
Disisi lain, jauh di dalam markas pasukan khusus, tepat di area pengawasan dan pusat informasi. Seorang prajurit yang berjaga dihadapan ratusan monitor cctv dikejutkan oleh pemandangan Jeep putih yang menuju ke arah markas. Dengan memanfaatkan Earpiece, prajurit itu oun menginformasikan kepada para petinggi.
'Laksamana besar dari pusat angkatan laut menuju kemari bersama dengan rombongannya!"
"Apa yang harus saya lakukan!?"
"Laksamana besar dari pusat!?"
"Apakah kau sedang bercanda!?"
"Blokir jalan masuknya!"
"Markas kita tak menerima tamu tak diundang!" sambung Jenderal besar Hanan dengan tegas.
"Tunggu dulu!"
"Biarkan mereka masuk!"
"Mungkin mereka ada hubungannya dengan orang yang sedang kutunggu!" Hansen menyela melalui earpiece.
"Pak?" prajurit yang bertugas bertanya kepada jenderal besar Hanan melalui earpiece karena menghargai keputusannya. Dia melakukan hal tersebut karena gelar Jenderal besar Hanan sedikit lebih tinggi dari Hansen, meskipun itu hanya dalam pangkat militer.
"Keputusan tuan X adalah keputusanku, kau boleh menganggap ucapanku sebelumnya sebagai sebuah kesalahan," jawab Jenderal Besar Hanan tanpa ragu.
"Siap dimengerti!" prajurit itu menutup panggilan earpiece, lalu membuka semua jalan masuk menuju markas.
Ngung!!!! jajaran Jeep terparkir rapih sebelum sampai ke jalan utama menuju markas.
Drap drap drap!!! hentakkan kaki pasukan tentara angkatan laut membanjiri lapangan markas militer rahasia yang terhubung dengan Shelter.
Semua prajurit itu berjalan tegak lalu berhenti dan baris bersebrangan saling menghadap pintu keluar mobil.
Setelah semua prajurit dari jeep terbelakang selesai keluar dan berbaris, dua pintu depan jeep besar terbuka bersamaan. Seorang jendral bintang empat dan tiga angkatan laut pun turun perlahan dari pintu depan sendiri sendiri.
Tap tap! jenderal bintang tiga turun dengan tegas dan menutup pintu kanan terdepan secara perlahan. Diikuti oleh Jenderal bintang empat angkatan laut yang juga melakukan hal sama di sisi kiri pintu.
Kemudian setelah menutup pintu depan, keduanya berjalan tegap ke pintu belakang, lalu membukakakan pintu kanan dan kiri secara bersamaan.
Sembari hormat kepada orang di dalam pintu, Laksamana dan Laksamana madya itu menunggu keduanya membalas hormat mereka.
Saat salam hormat mereka terbalaskan, jenderal bintang empat atau yang biasa disebut Laksamana dalam angkatan laut, berteriak dengan lantang, "Laksamana besar akan turun dan menampakkan diri, semuanya hormat .... grak!"
Seketika semua prajurit angkatan laut memberi hormat secara kompak.
__ADS_1
Tap tap! Pantofel putih dan sepatu hak tinggi berwarna putih terekspos menginjak tanah. Tak lama setelah itu, Rosa Riyadi bergaun putih cerah, beserta Mr W yang berseragam lengkap dipersilahkan melewati pinggiran mobil dan berhenti di ujung mobil.
Baik Mr W maupun Rosa Riyadi, keduanya bertemu di depan mobil Jeep merah. Sementara kedua laksamana berjalan di belakang mereka tepat setelah menutup pintu belakang.
Saat Rosa Riyadi dan Mr W sudah Berdiri berdampingan di tengah tengah barisan prajurit yang bersebrangan, keduanya langsung membalas pemberian hormat semua prajurit. Tak lama setelah itu, laksamana yang memimpinnaba aba sebelumnya pun berteriak kembali.
"Tegak ..... Grak!" Laksamana kembali berteriak dengan lantang, diikuti oleh para prajurit yang kembali ke keadaan siap.
"Pegang tanganku, sayangku," Mr W menawarkan genggaman tangannya dengan senyuman yang tulus. Ini adalah momen pertama bagi para prajurit yang tak sering berada di kantor Mr W melihat senyum tulus dari veteran perang yang menakutkan itu.
"Di ... dia bisa tersenyum!?" salah satu prajurit yang terkejut akan kondisi tersebut mengucapkan hal tabu dengan cukup jelas.
"Ssstt!" prajurit lain mengingatkan.
'Mati aku!'
'Apa yang baru saja kukatakan!' batin prajurit itu lemas.
Sementara itu di sisi lain markas, dimana pintu utama markas rahasia berada. Hansen dan Jenderal besar Hanan sudah bersiap berdiri tegak di tengah jalan masuk diiringi para prajurit pasukan khusus yang juga berbaris bersebrangan dalam keadaan siap.
"A ... ayah mertua!?"
"Aku tahu kalau dia orang misterius, tapi bagaimana bisa dia menjadi seorang marsekal besar!?" Hansen berteriak kaget.
"Mo ... monster tua itu ayah mertuamu!?" Jenderal Besar Hanan berteriak kaget dan tak dapat mengendalikan ekspresinya. 'Pantas saja ibu mertuanya sulit dicari, ternyata ulah dari monster tua itu!'
'Saking berpengaruhnya orang itu dalam negara, rubah tua itu juga kesulitan mencari kehidupan lain diluar kehidupan militernya!' pikir Jenderal Besar Hanan dengan serius. Matanya terfokus kepada Mr W dengan dahi yang mengkerut karena berpikir keras.
"Lama tak bertemu, Hanan!"
"Dan sepertinya ini kedua kalinya kita bertemu, bukankah begitu, menantuku!?" Mr W tersenyum misterius.
"Dengan pengaruh sebesar ini, kenapa kau membiarkan Andini mengorbankan perusahaanmu hanya demi membebaskanku dari penjara saat itu!?" tanya Hansen penasaran.
"Jika aku melakukannya, bukankah kau tak akan dekat dengan putriku?"
"Lagipula aku percaya kalau kau dapat mengembalikan semua perusahaanku kembali, bukan begitu, tuan X?" tanya Mr W dengan senyum palsu dan wajah garangnya.
"Se ... sejak kapan kau mengetahu identitas militerku!?" Hansen tersentak kaget.
Tap! Mr W menepuk pundak Hansen dan berkata, "Bukannya aku tak mau menjawab, tapi ... ,'
"Bisakah kau pertemukan aku dengan putriku?"
"Dia sangat benci berdiam diri di suatu tempat begitu lama."
"Keputusanmu mengurung Andini sedikit mengecewakanku, yah ... meskipun aku juga tahu akan batasanmu saat ini sih ... ,"
__ADS_1
"Teruslah perkuat otoritasmu, dan buktikan bahwa kau layak menyandang predikat seorang holder nomor enam!" bisik Mr W ke telinga Hansen.
"Nomor enam!?"
"Siapa nomor satunya!?" tanya Hansen penasaran.
"Haruskah aku menjawabnya!?" tanya Mr W dengan aura yang mendominasi.
Hansen terdiam karena merasakan tekanan dari seorang veteran perang. Meski dia biasa dipanggil jenius dari para jenius, untuk pertama kalinya Hansen merasakan bahwa dirinya terasa seperti sebuah kerikil dihadapan seseorang.
"Dialah si nomor satu!" bisik Jenderal Besar Hanan ke telinga Hansen.
"Kau juga seorang Holder!?"
"Kudengar Holder memiliki pengaruh besar terhadap aturan negara, aku benar benar tertipu." Rosa Riyadi menutup mulutnya dengan telapak tangan karena terkejut. Rasa benci yang selama ini dia pendam terhadap Hansen seketika luntur, dan berubah menjadi rasa kagum.
Sembari mencubit pipi Hansen, Rosa Riyadi pun berkata, "Kalau tahu kau sehebat ini, aku tak akan pernah membencimu. Tolong jaga hubunganmu dengan putriku ya, menantuku tersayang,"
"Ohohoho," Rosa Riyadi tersenyum bangga sembari membayangkan suatu saat akan dapat membungkam mulut teman teman sosialitanya yang kerap kali meledek status Hansen.
"Apakah kau sudah tak menentang keputusan lamaku menikahkan putri kita?" tanya Mr W sembari tersenyum.
"Mana mungkin aku menentangnya!"
"Kalau sedari awal kau cerita padaku, aku akan menendang Herry Wijaya jauh jauh sejak lama!"
"Lain kali jangan menyembunyikan apapun dariku lagi ya!" tanya Rosa Riyadi dengan nada manja.
"Asalkan kau senantiasa tampil cantik, akan kulakukan dengan senang hati," ucap Mr W sembari menyentuh dagu istrinya.
Saat melihat Mr W sedang bermesraan dengan istrinya dengan wajah santai dan tulus, semua orang kecuali Hansen menepuk dan mencubit pipi mereka demi memastikan bahwa apa yang mereka lihat bukanlah sebuah mimpi.
Plak!!! Hansen menampar pipi jenderal besar Hanan yang baru saja menampar pipinya sendiri.
"Apakah itu sakit!" tanya Hansen.
"Ya iya lah sakit!"
"Kau menamparku terlalu keras tahu!" bentak Jenderal Besar Hanan dengan kesal.
"Jadi perihal ayah mertuaku yang merupakan laksamana besar bukan mimpi ya?" gumam Hansen dengan serius. "Tapi aku masih belum yakin, bolehkah aku meminjam pipimu lagi?"
"Pastikan mimpimu dengan menampar dirimu sendiri sialan!" bentak jenderal besar Hanan dengan kesal.
"Oh ... kau sudah berani ya?" tanya Hansen dengan aura mendominasi.
"Si ... silahkan tampar pipiku sepuasnya, tuanku!" ucap jenderal Besar Hanan dengan patuh.
__ADS_1
'Cepat sekali perubahan sikapnya itu .. ,' pikir para prajurit pasukan khusus yang melihat tingkah atasan mereka.