
"..." Hansen memasuki mobil sembari melamunkan beberapa hal.
"No .. nona Amelia Wisnu!?" Zaskia baru menyadari identitas gadis yang diselamatkan Hansen. "Bagaimana bisa dia dalam kondisi seperti ini!?" Zaskia nampak panik.
"Meski gelombang kejut ledakan memiliki andil dari luka gores di sekujur tubuhnya, tapi tak ada luka yang begitu berarti. Meski begitu, sangat penting baginya untuk berbaring, bisakah kau ... ?" Hansen bertanya dengan pelan, dan Zaskia langsung memahami maksudnya meski Hansen belum mengungkapkan hingga tuntas.
"Tentu saja tak apa, lagi pula dia adalah adik dari seorang CEO perusahaan dimana aku bekerja." Zaskia tersenyum tipis, dan mempersilahkan Hansen menidurkan Amelia ke pangkuan Zaskia.
Sedangkan dirinya, duduk di kursi depan tepat disamping kiri Letnan Daffin.
Ceklak.
Hansen duduk dengan wajah yang serius dan berkata. "Jalan!"
"Baik pak!" Letnan Daffin melanjutkan perjalanan tanpa menanyakan hal lain.
.....
Disaat mobil baru melaju, Amelia tersadar dan langsung tersentak. Dia nampak panik dan berkata,
"Dion!" Keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuhnya, seakan habis mengalami mimpi yang begitu buruk. Hingga tak menyadari bahwa saat ini dia sedang berada di dalam mobil. Dia terus terlarut dalam lamunan dan trauma yang cukup dalam. Wajar saja bagi Amelia menerima syok yang begitu berat, terutama setelah mengalami kejadian yang mengancam nyawanya.
Zaskia yang nampak khawatir, segera menepuk pundak Amelia Wisnu dan berkata, "Apakah anda baik baik saja, Nona Amelia?"
'Eh!' Amelia tersadar dari lamunannya, namun tubuhnya masih belum mampu merespon apa yang ingin dia lakukan. Dalam keadaan diam di posisi terakhirnya, dia pun berkata, "Tolong kemudikan mobilnya ke arah barat!"
"Ada seseorang yang harus kupastikan keselamatannya." Amelia meneteskan air mata dengan tubuh yang gemetaran.
"Jangan khawatir, sejak awal kita berada di jalur tol yang berbeda." Hansen memotong pembicaraan tanpa menoleh ke belakang.
'Suara itu ... !?' Amelia yang awalnya terdiam kaku, mulai mampu menggerakkan badannya karena terdorong oleh sebuah rasa penasaran. "Hansen!?" Amelia terbelalak tajam, setelah melihat pantulan wajah Hansen dari atas cermin kecil yang menggantung sejajar dengan bagian pojok tengah atas kaca depan mobil.
__ADS_1
"Meski aku berniat mengakhiri hubungan dengan kakakmu, tapi kami belum sah berpisah. Jadi tidak sopan bagimu memanggilku dengan nama depanku, Amelia Wisnu!" Hansen menyelipkan nada kebencian dari balik kata katanya. Anehnya Amelia tak membalas seperti biasanya, dan tetap terdiam dalam lamunannya.
'Mungkinkah pria yang menyelamatkanku dengan pistol laras panjang saat itu, benar benar Hansen?'
'Tapi sejak kapan dia memiliki ijin untuk memegang senjata api, dan bagaimana bisa dia mengalahkan semua penjahat itu?' Amelia tetap diam sembari membayangkan, pemandangan buram saat detik detik dirinya tak sadarkan diri. Hingga kembali tersadar, setelah melihat pistol hitam laras panjang tepat disamping kanan lengan Hansen.
"Jadi itu benar benar kau, padahal selama ini aku selalu merendahkanmu. Kenapa kau tetap menolongku, ka ... kakak ipar?" Amelia nampak kesulitan memanggil Hansen dengan sebutan itu karena terbiasa memanggil Hansen dengan ejekan.
"Ho ... , ternyata kau bisa bersikap manis juga ya?"
"Kupikir dikepalamu hanya berisi hinaan dan sebuah kesombongan," Hansen mengucapkan dengan sinis.
"..." Amelia nampak kesal akan situasi tersebut, namun perasaannya terhadap Dion lebih tinggi dari egonya. Berbeda dengan Andini yang mengutamakan ego dan harga diri diatas segalanya, Amelia mampu melakukan apapun asalkan itu demi kekasihnya, bahkan jika itu melukai harga dirinya. Dengan tangan terkepal, gigi yang dihentakkan serta pandangan yang terfokus ke bawah karena merasakan sebuah keputus asaan. Amelia Wisnu menurunkan egonya dan berkata, "Soal kejadian di masa lalu, aku benar benar minta maaf. Aku memang seorang wanita buruk yang tidak tahu malu dan selalu bersikap sombong didepanmu. Meskipun ini terlambat kumohon maafkan aku."
"Dan tolong selamatkan Dion untukku." Air mata mengalir di wajah Amelia, dan tak ada tipuan dari semua kata katanya.
"Dion?" Hansen terdengar heran.
"Dia adalah pria yang sempat kau jumpai di kamar saat itu," Amelia mencengkram erat pakaiannya.
"Dia bahkan tak layak disebut sebagai seorang pria karena membiarkanmu berdiri dengan tegak untuk membenarkan kelakuan kalian."
"Berhenti menjelek jelekkannya!"
"Kau boleh menghinaku, tapi tak boleh menghina kekasihku!"
"Meskipun kami sering tidur di ranjang yang sama secara diam diam, dia bukanlah pengecut yang akan meninggalkanku!"
"Jika bukan karena dia, kau pikir aku bisa lari dari para penjahat itu!?" Amelia meninggikan nada bicarannya. Nampak jelas bahwa dia begitu menghormati Dion melebihi harga dirinya.
"Cinta memang boleh, tapi tidur di atas ranjang sebelum menikah, apakah itu bisa dianggap cinta?"
__ADS_1
Hansen bertanya dengan sinis.
"Apakah kau tak pernah melakukan hal itu, kakak ipar!?" Amelia bertanya dengan tegas.
"..." Hansen terdiam karena merasa pernah melakukan hal bejad dengan meniduri seorang wanita yang tak terikat pernikahan dengannya. Meskipun kejadian dengan Zaskia itu murni bukan faktor kesengajaan, namun sangat sulit baginya untuk mengakui bahwa dia tak pernah berhubungan badan diluar pernikahan.
"Diammu menjelaskan semuanya. Kau tak perlu melanjutkan. Untuk sekarang, tolong selamatkan Dion untukku, karena dia sudah mempertaruhkan hidupnya demi untuk melindungiku!" Amelia mempertegas ucapannya dengan tatapan tajam tanpa keraguan.
"..." Hansen terdiam sejenak, lalu berkata, "Tolong hentikan mobilnya jika kau melihat tubuh seseorang ataupun hal mencurigakan di sebrang jalan!"
"Dimengerti pak," Letnan Daffin menjawab tanpa sebuah keraguan. 'Adik ipar?'
'Jadi dia sudah menikah dan akan bercerai?'
'Lalu siapa gadis bernama Zaskia itu?' Letnan Daffin melirik sejenak ke arah Zaskia.
"Perhatikan jalan dengan benar!" Hansen menyadari keingin tahuan Letnan Daffin dan memperingatkannya dengan tegas.
"Ba ... baik pak!" Letnan Daffin gemetar ketakutan dan langsung menaikkan kecepatan mobilnya.
'Kumohon bertahanlah, sayangku,' Amelia nampak lemas dan tak berdaya.
'Belum resmi berpisah?'
'Mungkinkah Hansen akan benar benar bercerai dengan Nona Andini?'
'Kuharap itu semua bukan karena kesalahanku,' Zaskia Arista menunduk malu karena pernah tak dapat menahan gairahnya hingga mengambil keuntungan dari Hansen yang sedang mabuk berat.
......
'Padahal aku sangat ingin menikah dan mempunyai anak dengan Amelia.'
__ADS_1
'Sepertinya aku akan berakhir disini, maaf karena tak bisa mengambil tanggung jawab untuk menikahimu, sayangku,' Dion perlahan menutup matanya dengan tubuh yang penuh dengan luka tembak dan lebam dimana mana.
Kondisi Dion saat itu, seperti seorang yang habis menerima pukulan serta tendangan bertubi tubi, dan diakhiri oleh tembakan peluru yang sengaja di arahkan ke organ selain bagian vitalnya. Seakan akan, orang yang menembaknya ingin membiarkan Dion menderita hingga kehabisan darah dan tak mengalami sebuah kematian instan.