Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan


__ADS_3

Setelah memporak porandakan markas cabang pasukan angkatan udara yang dia lewati, Mr W dikejutkan oleh panggilan singkat dari Hansen mengenai chip peledak di kepala para mantan petinggi red eagle.


Mr W menelepon Hansen berulang kali untuk menanyakan secara rinci soal chip peledak tesebut. Namun karena Hansen mengabaikan setiap panggilan teleponnya, Mr W pun menyerah untuk bertanya secara rinci.


"Hey bocah kasar, apakah kau bisa mendengarku?" Mr W yang kala itu duduk di kursi belakang mobil sembari membiarkan bawahannya menyetir, bertanya dengan melirik ke arah pundak kanannya yang kala itu dihinggapi oleh sebuah drone elang merah kiriman Theo.


"Telingaku ini tak setuli dirimu pak tua!"


"Tak hanya suaramu, aku juga bisa mendengar apa yang kau bicarakan dengan komandan tadi," sambung Theo melalui drone elang merah. Nadanya terdengar serius karena memiliki kekhawatiran sebab hidupnya mungkin sedang terancam.


"Bagaimana menurutmu?"


"Apakah di kelompok perompak ada yang sanggup mengeluarkan chipnya?" tanya Mr W pelan.


"Kami memang punya seorang ilmuan jenius di pihak kami, tapi mereka tak begitu pandai dalam melakukan pembedahan. Jangankan membedah isi kepala, melakukan operasi ringan saja persentase keberhasilannya sangatlah minim," Theo membalas dengan nada kesal.


Saat keduanya masih ingin melanjutkan percakapan, Mr W terpaksa mengakhirinya. Semua karena saat itu dia dan seluruh pasukan markas pusat angkatan laut, telah sampai di markas pusat angkatan darat. Kala itu, Adi Wijaya nampak berdiri tegak di depan deretan prajurit angkatan laut yang kala itu sudah berseragam dan bersenjatakan lengkap.


"Kita lanjutkan percakapan kita nanti," Mr W mengakhiri percakapan dengan tampang dingin.


Pintu pintu mobil Jeep milik para pasukan markas pusat angkatan laut yang berhenti, terbuka satu demi satu. Di susul oleh langkah kaki Mr W yang penuh emosi di setiap lekukan wajahnya.


Mata merah dan biru yang menyala penuh amarah, terpampang jelas karena kacamata hitam yang sudah dia singkirkan.


Dengan yang tersingsing, Mr W memimpin seluruh pasukan yang sedang berada di bawah komandonya.


"Kau telah menggali kuburannya sendiri ... , W!"


Adi Wijaya mengangkat suara dengan napas yang terhela. Kala itu, Adi Wijaya nampak membiarkan tubuh kekarnya terekspos, karena seragam yang telah dia lepas dan sandarkan ke dua buah bahunya yang lebar.

__ADS_1


"Kuburanmulah yang sudah kau gali karena sudah berani membiarkan putramu menghancurkan senyum putriku!" Mr W


"Sebelum terlambat, kusarankan agar kau tarik mundur seluruh pasukanmu," Adi Wijaya memperingatkan dengan tulus.


"Berhenti mengatakan omong kosong! Jika kau memang seorang pria, ayo kita akhiri perselisihan kita secara jantan!" Mr W menyatukan kedua tangan dengan penuh emosi. Salah satunya terkepal, sementara yang satunya lagi menyelimuti kepalan tersebut.


"Jika aku meladenimu, akankah kau memaafkan Herry?" tanya Adi Wijaya pelan.


"Maaf? Mustahil! Aku tak akan memaafkannya sebelum nyawanya tercabut!"


"Aku mungkin bisa mengampuni nyawamu, tapi tidak dengan putramu!" Mr W menjawab kesal.


"Nampaknya tak ada pilihan lain selain menghabisimu!" Adi Wijaya menunjukkan kedua mata birunya. Iris mata yang awalnya hitam kecoklatan, kini berubah biru menyala layaknya Api biru.


"Untuk menghindari banyak korban, bisakah kau minta para bawahannya yang saat ini sedang menyerbu markas markas cabangmu untuk berhenti merusuh?" tanya Adi Wijaya sembari meraih salah satu ujung seragamnya.


"Baiklah, tapi sebelum itu berjanjilah untuk melepaskan Weapon Eagle dan para bawahannya jika kau sudah kuhabisi nanti!" Mr W menatap dengan dingin.


"Memangnya kau pikir aku memberi perintah untuk membantai seluruh pasukanmu hanya karena urusan putriku?" tanya Mr W dengan tampang datar.


"Bukankah memang begitu?" bisik beberapa bawahan Mr W yang mengetahui sifat petingginya. Mereka berbisik begitu pelan, namun karena ketajaman telinga Mr W, semuanya terdengar cukup jelas.


"Hmmm," Mr W melirik tajam beberapa bawahannya yang tertangkap membicarakannya. Seketika itu pula semuanya nampak tegang dan terdiam.


Mr W memang sudah lama ingin menyelamatkan Weapon Eagle dan orang orangnya, namun karena rasa takut akan terseretnya keluarga yang dia sayangi ke dalam perburuan Law Breaker, dia pun terpaksa diam.


"Bukan hanya putraku yang pernah menjebak dan hampir menodai putrimu. Kenapa hanya putraku yang selalu berhasil menyulut emosimu sampai ke tingkat ini?" Adi Wijaya bertanya dengan kesal.


"Ah ... kau bicara soal orang orang dari keluarga tingkat bawah itu ya?"

__ADS_1


"Aku juga tak dapat memaafkan mereka kok, rasanya ingin memusnahkan seluruh keluarga besar mereka saat itu juga. Tapi jangan khawatir ... , hari ini juga mereka semua sedang dimusnahkan kok," Mr W tersenyum jahat.


"Jadi bagaimana?"


"Apakah kau setuju untuk menghentikan serangan pasukanmu?" tanya Adi Wijaya memastikan.


"Mustahil! Aku tak akan menghentikan mereka sebelum kau mengiyakan permintaan ku!" Mr W membalas kesal.


"Baik Herry, maupun Weapon Eagle dan orang orangnya, aku tak bisa memberikan mereka padamu!" Adi Wijaya membalas dengan tegas.


"Maka tak ada jalan lain selain perang!" Mr W menyeringai ganas.


"Aku benci seragam yang kotor, ambil dan simpan ini!" Adi Wijaya menyerahkan seragam yang sempat tersemat di pundak ke salah satu bawahannya.


"Bertarung tanpa seragam ya?" Mr W ikut melepas dan melempar seragam ke salah satu bawahannya.


"Tembak!" Adi Wijaya dan Mr W memberi perintah kepada semua bawahan mereka. Suasana lapangan markas pusat angkatan udara pun diselimuti oleh suara senapan serta darah para pasukan di kedua belah pihak yang telah terkena peluru.


Sementara Mr W dan Adi Wijaya melesat maju saling mendekat untuk beradu tinju.


Duarrr!! Tekanan angin dari kedua pria kuat itu membubarkan pandangan semua orang.


"Pukulanmu terasa jauh berbeda dari terakhir kali kita bertemu, A," Mr W menyeringai tajam.


"Ada banyak hal yang terjadi padaku baru baru ini, dan salah satunya adalah ... ," Adi Wijaya terdiam sejenak, diikuti oleh iris mata yang berubah seketika. Warnanya berubah menjadi biru gelap, yang jauh lebih gelap dari langit maupun api biru. Bersamaan dengan itu Mr W yang masih menggunakan setengah dari kekuatannya terdorong mundur cukup jauh.


"Kupikir aku bisa menyimpan setengah dari kekuatanku, tak kusangka kau berkembang sejauh ini." Mr W menyeringai dengan penuh semangat.


"Kusarankan agar kau gunakan kekuatan penuhmu!" Adi Wijaya melesat maju dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Dengan senang hati!" Mr W mengimbangi kecepatan Adi Wijaya. Keduanya saling bertukar pukulan serta tendangan layaknya monster. Kecepatan yang tak dapat diikuti mata biasa, serta kekuatan gila yang sanggup menghancurkan apapun yang disentuh mereka.


Untuk pertama kalinya, Adi Wijaya dapat bertarung dengan Mr W dengan keadaan seimbang di saat dirinya menggunakan kekuatan penuhnya.


__ADS_2