
Tujuh tahun yang lalu ... dua puluh enam subjek penelitian telah tergenapkan. Mereka diberi inisial A hingga Z sesuai urutan kebangkitan mata mereka.
Di antara ke dua puluh enam subjek itu, terdapat beberapa nama yang kebetulan cocok dengan inisial mereka. Dan nama nama itu ialah. A untuk Adi Wijaya, W untuk Wisnu Pramana, sementara Z untuk Zenaida Yasha. Sementara sisanya tidak memiliki kecocokan apapun dalam hal nama.
Sejak mencapai subjek ke dua puluh enam, para subjek dibagi menjadi dua kubu dan diadu untuk mengukur kekuatan mereka masing masing. Parahnya setiap kali pertarungan ingin dilakukan, otak mereka akan dicuci terlebih dulu dengan pil putih dan cairan narkoba. Sampai pikiran dan hati mereka sudah benar benar kosong, barulah para subjek dibiarkan untuk saling menghabisi. Para peneliti tak akan menghentikan pertarungan sampai salah satu pihak pingsan atau berada di ujung kematian.
"Aku ... tidak mungkin menghajar seorang wanita, pak!" Z bergumam dengan pandangan kosong.
"A ... aku juga tak ingin bertarung! Kumohon lepaskan aku!" wanita berambut hitam panjang dengan tato berinisial D di lengannya nampak gemetar dan menoleh ke arah para peneliti yang mengamati dari atas arena yang terisolir oleh kaca kedap suara.
Meski pencucian otak kadang bisa membuat orang linglung dan tak dapat berpikir, terkadang kejadian seperti Z dan J kerap kali terjadi. Dan biasanya para peneliti akan menghukum subjek yang tak mau melawan. Tapi saat itu ... keduanya tak hanya disiksa. Mereka dikalungkan dengan kalung hitam bergerigi, yang mampu mengendalikan tubuh manusia. Lima kalung pengekang itu dikalungkan ke leher, kedua pergelangan tangan dan kedua pergelangan kaki. Dengan remot kontrol yang dipegang oleh dua orang peneliti, Z dan J pun dipaksa bertarung mati matian hingga perlahan kehilangan kewarasan mereka.
"Satu satunya kebebasan adalah pikiran yang kita miliki, jadi tetap pertahankan itu hingga akhir W!" Adi Wijaya memasang kuda kudanya. Kalung hitam dan inisial subjek di lengan kanannya nampak jelas seperti yang berada di tubuh semua subjek. Semua diperlakukan demikian untuk mencegah pemberontakan para subjek yang enggan untuk bertarung meski telah melalui proses pencucian otak.
"Pikirkan saja kewarasanmu sendiri!"
"Aku tak ingin menjadi gila seperti yang lain!"
"Ngomong ngomong, jangan panggil aku dengan sebutan subjek!"
"Panggil aku dengan kode militerku!"
__ADS_1
"Marsekal Besar, Adi Jaya!" Mr W mengepal erat tinjunya.
"Hanya karena mereka tak bisa mendengar percakapan kita, bukan berarti kau harus memanggilku dengan pangkatku, Laksamana!" Adi Jaya melesat maju dengan mata merahnya, tapi tumbang dalam sekali pukul oleh serangan mematikan dari Mr W.
Bruaghhhh! Adi Wijaya terlempar jauh hingga menghantam dinding arena.
"Ups! Maaf ... bukan aku yang mengendalikan pukulanku," ledek Mr W dengan leher dan anggota badan yang terkekang oleh gelang hitam dengan besi putih runcing di bagian luarnya.
"Cih, aku iri dengan mata warna warnimu itu W," Adi Wijaya pingsan tak sadarkan diri.
"Kalau aku bisa menukarnya, aku pasti sudah memberikannya padamu." Mr W nampak termenung karena matanya tak dapat kembali normal seperti subjek penelitian yang lain. Keduanya tetap berwarna biru dan merah tak peduli apapun yang terjadi.
Rutinitas bertarung, serta pencucian otak yang tiada henti, menjadikan beberapa subjek kehilangan akal sehat mereka. Terutama tujuh wanita malang yang kebetulan berada di kubu Adi Wijaya. Sisi lembut mereka perlahan runtuh karena terus dipaksa bertarung dan melihat kesadisan tubuh mereka yang bergerak atas kendali orang lain. Beruntungnya hal naas itu hanya bertahan lima bulan bagi para subjek kubu satu, semua berkat kelalaian penjaga yang lalai karena tertidur dan tanpa sengaja menekan tombol untuk membuka pintu besi yang mengunci para subjek di kubu satu. Parahnya lagi, mereka juga tidak mengamankan remot kontrol pengendali kalung yang terkekang di leher para subjek.
"Ayo pergi!" Adi Wijaya mengajak para subjek untuk kabur bersamanya, tapi tak ada yang merespon satupun karena sudah kehilangan akal sehat mereka. Semuanya nampak tak bersemangat untuk hidup, tapi Adi Wijaya tak menyerah sampai disitu. Dia mengambil alih kendali atas tubuh mereka dengan mengambil remot kendali yang memiliki tiga belas belas tombol putih dengan alfabet A sampai M. Tombol tombol itu berderet tiga baris ke bawah dengan jumlah lima, lima, tiga. Di atas tombol putih itu nampak tiga buah tombol dengan warna dan simbol berbeda. Dari yang palong kiri nampak tombol merah dengan simbol gembok yang terbuka, fungsinya tidak lain adalah melepas semua kalung yang mengunci para tahanan. Tombol kuning bersimbolkan listrik, yang berguna untuk menyiksa subjek. Tombol terakhir berwarna hijau dengan simbol mikrofon yang berguna untuk memberi perintah terhadap tubuh subjek yang tombolnya ditekan.
Dengan memanfaatkan informasi yang diam diam dia pelajari saat melirik para peneliti bereksperimen dengan tombol tombol itu, Adi Wijaya mengambil alih kendali atas semua subjek di kubu satu. Dan berhasil kabur setelah menghabisi semua peneliti yang nampak lengah saat itu. Dia juga memimpin penghancuran semua bukti terkait semua file tentang wajah dan perkembangan semua subjek. Meskipun sangat disayangkan karena dia tak dapat menemukan tempat dimana Laksamana besar Wisnu dan subjek lain disembunyikan. Hingga akhirnya memutuskan untuk pergi, karena mendengar suara speaker walky talky yang berbunyi, "Check Check! Code Two to Code One! We wil landing just a minutes ... please turn on the lamp!" suara itu terus berulang, hingga membuat Adi Wijaya memaksa untuk pergi meninggalkan kawan lamanya, dan tak pernah memiliki niatan untuk kembali atau melapor ke negara. Inilah yang menjadi awal dibalik kebencian mendalan Mr W terhadap Adi Wijaya.
Sesampainya di Indonesia, Adi Wijaya melepaskan semua kalung pengekang dan membiarkan para subjek memutuskan apa yang ingin mereka lakukan sendiri. Awalnya semua subjek tetap tak merespon seperti patung, hingga tetap berada di sekitar Adi Wijaya hingga rela melakukan apapun untuknya. Tapi ... kepatuhan mereka tidak berlangsung lama. Semua karena kemarahan perlahan tumbuh di hati para subjek, kemarahan itu ditunjukkan kepada orang dibalik percobaan ilegal terhadap tubuh mereka. Sayangnya Adi Wijaya yang diam diam menahan trauma mental, memutuskan untuk hidup tenang, yang mana akhirnya membuat para subjek memutuskan untuk pergi dari sisinya. Meninggalkan Adi Wijaya dan salah satu subjek yang tetap ingin bersamanya.
Beberapa tahun setelahnya, ke dua belas subjek itu berpapasan dengan Z, yang saat itu telah terbebas dan membentuk kelompok Number untuk membalas Law Breaker. Tentunya ke dua belas subjek itu meminta bergabung dengan sukarela. Dan Zero pun memanfaatkan mereka.
__ADS_1
Karena Number menentukan peringkat berdasarkan kekutan, ke dua belas subjek itu pun di ajak untuk bertarung. Dan gilanya, ke dua belas orang itu dapat melengserkan ke dua belas petinggi. Hingga akhirnya menjadi anggota Fourteen.
"J ... , maksudku Number one!"
"Setelah kuselidiki latar belakangmu, ternyata kau masih memiliki keluarga. Dan kebetulan negara ini ialah negeri asalmu. Berdasarkan percobaanku selama ini ... keturunan seorang yang berhasil menjadi subjek, bisa dipastikan dapat lolos menjadi subjek juga. Karena itu, jika kau benar benar ingin membalaskan dendam terhadap para peneliti itu ... ," Zero menatap Number One sembari duduk di ruangan tertutup secara bersebrangan. Di atas meja yang memisahkan keduanya, nampak cairan biru dan merah yang Zero kembangkan sejak kabur dari tempat penelitian. Number One yang saat itu sudah kehilangan hatinya, meng iyakan perintah Zero dan memutuskan untuk kembali ke keluarganya dengan maksud meminumkan cairan tersebut ke seluruh keluarganya secara diam diam.
"Maria! kau kah itu?!" Hendra Pratama yang saat itu telah pensiun dan tak bisa melakukan pekerjaan berat. Nampak berlinang air mata karena kehilangan kontak begitu lama dengan istrinya. Beruntungnya uang pensiun Hendra Pratama dapat mencukupi kebutuhan mereka. Hansen yang saat itu masih bekerja dalam Red Eagle pun turut mencukupi kebutuhan yang lainnya.
"Ibu!" Cindy dan Hansen segera memeluk Maria yang mereka pikir telah tiada, karena hilang kontak saat berlibur bersama teman kantornya di masa lalu.
"Ah ... aku pulang." Number One nampak dingin dan tak berperasaan. Dia tak tersenyum sedikitpun saat bertemu dengan keluarganya sendiri. Dan terus memikirkan rencana balas dendam tanpa mempedulikan orang orang yang menganggapnya keluarga.
Selama satu tahun lebih, Number One jalani bersama Hendra dan anak anaknya. Selama itu pula dia mencampurkan cairan subjek ke dalam makanan dan minuman mereka. Dia juga pernah diam diam membuat Hansen pingsan, lalu membedah kepalanya untuk menyisipkan chip dan menguatkan efek cairan subjek. Tapi tak ada perkembangan, hingga membuat Zero kesal dan memutuskan untuk membuat kematian palsu Maria untuk memicu amarah Hansen. Sayangnya cara itu pun tak berhasil membangkitkan mata Hansen. Yang mana malah menjadikan Cindy semakin depresi hingga tak dapat menahan efek samping dari cairan subjek di dalam tubuhnya.
Satu satunya hal yang membuat Zero dan para Number tertarik pada Hansen dan yang lainnya ialah, mereka tak menunjukkan efek buruk seperti muntah darah meski sudah mengkonsumsi begitu banyak cairan subjek.
"Kau juga seorang subjek!" Mr W terkejut saat mendapati Hendra membangkitkan matanya untuk pertama kali.
Sementara itu, di sisi lain jendela yang terhubung dengan ruangan mereka ... nampak Number One yang melirik sejenak ke arah Hendra. Dia sempat melihat mata birunya hingga memutuskan untuk berbalik dan menoleh lagi, tapi sayangnya mata Hendra sudah kembali normal hingga dia meragukan apa yang baru saja dia lihat.
"Cih! Nampaknya aku sudah mulai berdelusi!"
__ADS_1