Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W


__ADS_3

"Katakan lebih rinci!" Mr W menanyakan segala yang didengar Theo dari mulut Andrew, dan mulai mencurigai perwira lain turut terlibat dalam hal ini. Meskipun Theo bersi keras mencurigai Number, Mr W jauh lebih curiga terhadap Adi Wijaya yang mana merupakan teman sepelariannya saat kabur dari fasilitas penelitian Law Breaker. Kelompok Gangster yang selama tiga tahun ini sudah menguasai seluruh penjuru dunia.


"Aku yakin ini adalah ulah Number!"


"Mereka pasti ingin mencegah penyebaran rahasia besar Number soal subjek penelitian yang kerap kali Jenderal Andrew katakan entah dengan maksud apa. Aku sangat yakin akan hal itu!" tegas Theo dengan sangat yakin. Wajahnya teramat serius hingga bisa meyakinkan banyak orang, tapi sayangnya Mr W tak menggubris ucapan Theo. Dia malah terfokus pada fakta bahwa ada perwira yang mengetahui tentang apa itu subjek.


Mr W tak mencurigai Number, karena tak tahu bawha Zero yang merupakan seorang pendiri Number adalah teman sesama subjek yang kabur dari Law Breaker. Hal yang membedakan dia dari keduanya ialah, Zero yang dulu memiliki panggilan Z berniat mengumpulkan kekuatan demi membalikkan situasi dunia. Dia berencana menghancurkan organisaai Law Breaker yang merupakan sumber dari kekacauan hukum lokal dan internasional. Meski niatnya baik, cara Zero terlalu buruk. Dia menghabisi siapapun yang bertentangan atau menghalangi rencananya. Termasuk warga sipil yang tak tahu menahu akan apa kesalahan mereka terhadap Zero.


Sementara itu jauh di negeri lain, tepatnya di negara baru yang menyatukan tiga negara maju seperti korea, jepang, dan china ... New Asian!


Sekelompok Yakuza nampak berbaris menyambut kedatangan seseorang berdarah eropa yang nampak sedang membawa koper hitam di tangannya sembari ditemani ratusan body guard. Pria itu berseragam rapih layaknya seorang agent, dan memakai kacamata hitam dengan wajah gagah nan berkarismanya. Rambutnya yang pirang, mata biru dibalik kacamatanya, serta hidungnya yang mancung menjadi ciri fisik sendiri yang jarang dijumpai oleh orang asia.


"Apa misi kali ini?" tanya seorang pria berambut hitam panjang, bertelanjang dada dengan tato naga disekujur tubuhnya. Dia selalu memakai kacama hitam, dengan tubuh yang dipenuhi aksesoris berkelas. Jam ternama, sepatu ternama, gelang, kalung, serta jam tangan yang bermerek.


Semuanya berlapis emas dan berlian.


"Habisi Rookie ini, dan bawa dia kemari hidup hidup!" jawab pria asing itu sembari menunjukkan rekaman Theo dengan mata yang memerah.

__ADS_1


"Jadi targetku Subjek lagi ya?"


"Apa dia subjek yang kabur dua tahun lalu?" tanya ketua Yakuza yang penuh barang bermerk itu.


"H(Eijh), jangan banyak tanya dan lakukan saja tugasmu!" ancam pria asing itu sembari melemparkan koper hitam yang dia bawa.


"Kau benar benar menyebalkan ya, A(ei)!" H menyeringai kesal sembari membuka koper yang berisikan obat obatan terlarang.


Hari demi hari telah terlewati, Hansen yang tadinya terluka parah perlahan sembuh melebihi perkiraan semua orang. Meskipun kondisi fisiknya tak sefit biasa, Hansen berhasil melewati masa buruknya hingga bisa meninggalkan ruang medis mendahului Dion yang masih terkapar karena luka lukanya.


Baik Mr W maupun Theo, keduanya nampak senang dengan latih tanding mereka.


"Apa apaan gerakan Theo itu!"


"Bagaimana bisa dia berkembang sejauh ini hanya dalam hitungan beberapa hari?"


"Kalau begini terus, aku tak akan bisa mengalahkannya saat latih tanding lagi," gumam Hansen sembari menatap Mr W dan Theo yang berlatih di arena latihan tanpa ada penonton satupun. Keprotektifan Mr W terhadap mata birudan merahnya, menjadikan alasan dibalik dia mengusir para prajurit yang biasanya berjaga disana. Semua dia lakukan demi mempertahankan kerahasiaan mata biru dan merah yang tak bisa kembali normal sejak menjadi subjek penelitian tiga tahun yang lalu.

__ADS_1


"Oh, Komandan!"


"Kapan kau keluar dari ruanganmu?" tanya Theo sembari memanggil Hansen saat baru sadar akan kehadirannya. Dia melambai ke arah Hansen tanpa mempedulikan Mr W yang sedang dia ajak latih tanding. Tentunya Mr W yang merasa diabaikan, segera menyerang dengan agak serius.


"Jangan melihat ke arah lain saat sedang bertarung, bodoh!" Mr W memukul wajah Theo hingga terdorong jauh menghantam dinding arena.


Bruakkk!!!!


"Cih, itu sakit tahu, Pak Tua!" Theo melesat maju mendorong tangan kanannya menuju wajah Mr W. Namun ditahan dengan mudah hanya dengan satu tangannya. Sedari awal Mr W hanya menggunakan satu tangan untuk membuat kesal Theo, namun pertahannya tak kunjung tertembus hingga membuat Theo perlahan berkembang hari demi harinya.


"Apa ini pukulan seorang pemuda?"


"Gatal saja tidak!" Mr W mendorong mundur tangan Theo yang berhasil dia tangkap, lalu menyerang balik dengan kecepatan tangan yang luar biasa. Tangan bergerak layaknya angin yang tak dapat disentuh oleh tangan Theo. Tak ada satupun serangan Mr W yang berhasil dia tahan kali ini. Hingga membuat Theo semakin kesal dan menyerang secara membabi buta. Sayangnya ... tak peduli sebetapa kerasnya Theo berusaha, Mr W bukanlah orang yang dapat dia kalahkan semudah itu. Karena walau bagaimana pun itu, dia merupakan seorang veteran perang yang bahkan telah lama menguasai kekuatannya sebagai seorang subjek penelitian.


Brukkk ....


Mr W menginjak punggung Theo yang telah terkapar di tanah sembari berkata, "Apa hanya ini kemampuanmu?" Mr W mengakui perkembangan gila Theo dalam hatinya, namun menolak untuk mengatakan hal tersebut kepada Theo agar dia tak membanggakan kejeniusannya.

__ADS_1


__ADS_2