
Rambut hitam sepanjang dada, mata hitam yang berisi kemarahan, serta raut wajah yang merasa tertekan. Tergambar jelas di kepala Weapon Eagle yang sedang terkurung di dalam kandang besi.
Adi Wijaya yang merupakan dalang dibalik penangkapannya menemui pria malang itu sembari membawa sample lencana Holder dan sebuah drone Law Breaker.
"Apa yang membawa seorang perwira kemari?"
"Ini bukan soal permintaan Up Grade senjata seperti biasanya, bukan?" Weapon Eagle menyahut tanpa berbalik.
"Kau pasti pernah mendengar kata Law Breaker kan?" tanya Adi Wijaya sembari menatap punggung lawan bicaranya.
"Cih!"
"Apa kau sedang meledekku!?" tanya Weapon Eagle dengan nada mengejek. Sangat wajar baginya merespon demikian, semua karena Weapon Eagle tak pernah melihat dunia luar sejak berhenti empat tahun yang lalu. Dan penyebab semua itu ialah Adi Wijaya yang memiliki hasrat untuk memperkuat persenjataannya. Guna melindungi kehidupan damainya. Berkat keberadaan Weapon Eagle - lah nama Adi Wijaya dan Wijaya Group menjadi semakin disegani hingga bahkan mampu memanipulasi banyak pasar di kota kota besar di Indonesia. Dan sudah mencakup separuh pasar uang di wilayah Asia berkat kesuksesan Herry Wijaya.
"Kudengar kau kabur lagi minggu lalu, tapi sayang sekali, kalung di lehermu benar benar sulit dilepas bukan?" tanya Adi Wijaya dengan senyum hina di wajahnya.
"Katakan saja apa maumu!" Weapon Eagle memotong dengan kesal.
Adi Wijaya yang puas setelah meledek tawanannya, perlahan membuka sebuah pintu kecil yang dapat digunakan untuk memasukkan benda sebesar kepala manusia. Dari lubang tersebut, Adi Wijaya melemparkan kedua benda yang dia bawa.
Klang!!! Benda itu dilempar tepat dibelakang punggung Weapon Eagle.
"Pelajari kedua benda itu, dan buatlah alat untuk mengecoh atau meredam kecanggihan kedua benda tersebut!" ujar Adi Wijaya dengan nada mengancam.
"Kalau aku menolak?" tanya Weapon Eagle dengan nada kesal.
"Maka akan ku siksa bawahanmu satu demi satu!"
"Kau tak melupakan keberadaan mereka di markasku yang lain kan?" tanya Adi Wijaya sembari menyeringai jahat.
"Cih!" Weapon Eagle hanya bisa mendecih karena tahu betul bahwa ucapannya bukanlah sebuah candaan. Sebanyak lima ratus anak didiknya, saat ini sedang ditahan entah dimana. Mereka dimanfaatkan untuk membuat senjata untuk Wijaya Group secara masal, mengikuti prototype yang telah dikembangkan Weapon master setiap bulannya.
"Masa depan negeri ini ada di tanganmu, Weapon Eagle!" Adi Wijaya perlahan pergi meninggalkan ruangan. Dan sebelum dia benar benar tak terlihat, dia mengatakan satu hal terakhir, "Berteriaklah saat kau sudah menemukan solusinya!"
__ADS_1
"Seperti biasa akan ada prajurit yang datang untuk memenuhi segala keperluan tugasmu!"
"..." Weapon Eagle berdiam diri sembari menunggu Adi Wijaya benar benar pergi. Dan tepat setelah ruangan itu benar benar kosong, dia pun segera melempar drone Law Breaker ke pembatas besi yang tak jauh dari tempatnya terdiam.
Klang!!!
"Kenapa aku harus berakhir semenyedihkan ini!" Weapon Eagle memukul jeruji besi dengan kesal.
.....
Sementara itu di dalam Shelter Red Eagle, Hansen mendengar kabar bahwa Theo sudah sampai di markas atas. Dia datang bersama seluruh anggota scorpion yang tersisa dan disambut oleh bawahan lamanya. Mirisnya bawahan Theo yang selamat, tak dapat mengucapkan kata dengan jelas karena lidah yang telah terpotong. Dan semua itu ialah ulah Marsekal Leo yang pernah menahan mereka di masa lalu.
"Biarkan dia menemuiku!" ucap Hansen kepada Jenderal Besar Hanan yang mendengar kabar melalui Earpiece.
"Kau dengar itu?!"
"Biarkan dia masuk!" sambung Jenderal Besar Hanan sembari menekan Earpiece-nya.
Tak lama setelah Jenderal Besar Hanan menutup panggilan, Hansen mulai menanyakan kabar Zaskia dan perlahan lega setelah mengetahui bahwa baik Zaskia maupun kandungannya tak ada yang bermasalah. Meskipun kanker otak yang bersarang di kepalanya, sudah tak bisa disembuhkan lagi.
"Tak ada gunanya berandai andai, kau cukup fokus saja terhadap urusanmu!"
"Biar aku dan Theo yang mengurus pencarian rekan lama kami!" tegas Hansen meneruskan.
"Baiklah kalau begitu," Jenderal Besar Hanan mengangguk pergi. Dia melanjutkan pekerjaannya yang berhubungan dengan pencarian markas rahasia Holder. Meskipun tak pernah menemukan titik terang, dia tetap fokus melakukan hal tersebut karena khawatir kelompok Number melakukan hal yang tak terduga lagi. "Aku pamit undur diri," ujar jenderal Besar Hanan sembari melangkah pergi meninggalkan ruang dimana Hansen dirawat.
Sementara itu di kamar Andini, Amelia tampak lelah melihat tingkah kakaknya yang semakin menjadi. Dia tak pernah berhenti memegang ponsel sembari mengobrol dengan Herry yang terdengar berusaha untuk membuat janji temu. Beruntungnya karena situasi yang tak mendukung, Andini tak bisa mengiyakan permintaan Herry. Yang tentunya menjadikan alasan untuk Herry terus meneror ponsel Andini dengan rayuan rayuannya. Dia tak akan pernah berhenti hingga Andini sendiri yang meminta untuk bertemu.
"Setidaknya makan dulu kak!"
"Kau akan sakit kalau terus meladeninya!" ungkap Amelia sembari merebut ponsel Andini.
"Kamu ini apa apaan sih!"
__ADS_1
"Ganggu banget tahu!"
"Kalau ngiri tinggal datengin aja si Dion!" jawab Andini kesal, sembari berusaha merebut ponselnya dari tangan Amelia.
Amelia terus menghindar dan mengancam akan membanting ponsel Andini apabila terua berusaha merebut ponselnya.
"Pokoknya gak akan kubalikin sebelum kakak makan dengan benar!"
"Iya iya deh, dasar adik bawel!" ucap Andini sembari menghela napasnya.
'Apa orang yang jatuh cinta bisa sampai lupa makan seperti ini?'
'Perasaan aku gak begitu deh?' pikir Amelia sembari menghela napas.
"Hap!"
"Dapat!" Andini hanya memakan sesuap nasi, lalu merebut ponselnya saat Amelia lengah. Dan tak lama setelah itu, dia pun pergi meninggalkan kamar dan mengunci Amelia dari luar. Sebelum dia menutup dan mengunci pintu itu, Andini sempat meledek dengan wajah riang, "Bweee!" Andini menjulurkan lidah layaknya seorang anak anak yang sedang meledek teman sepermainannya.
"Kakak!" Amelia berteriak cukup kencang sembari memukul mukul pintu kamar Andini. Namun tak dapat keluar karena Andini menghapus akses sidik jarinya. Meski begitu, Amelia tetap merasa sedikit senang sekaligus sedih. Dia senang karena dapat melihat kembali kakaknya yang periang dan cukup aktif, sementara hal yang membuatnya sedih ialah karena perasaan riang itu ditunjukkan oleh orang yang akan menghancurkan hatinya suatu hari nanti. Dalam hati Amelia hanya bisa berharap semoga Andini dapat melalui perasaan hancur ketika dihianati oleh pria yang paling dia cintai.
"Dari sekian banyak orang, kenapa kakak harus mencintai orang itu sih!" Amelia terdengar kesal, dan tak lama setelah dia selesai mengumpat, Mr W membuka pintu kamar Andini dari luar sembari berkata, "Itulah buruknya cinta!"
"Tak selalu berakhir bahagia dan terkadang membuat kita menderita."
"Oleh karena itu, jika tak ingin menderita cari tahu terlebih dulu kebenaran tentang orang yang berhasil menarik hati kita, sebelum perasaan kita jatuh terlalu dalam." Mr W nampak sedih setiap kali membayangkan apa yang akan menimpa Andini suatu hari nanti.
"Apa Ayah juga pernah menderita karena cinta?" tanya Amelia penasaran.
"Bagaimana mungkin Ayah mengalaminya?"
"Ayah kan berhasil mengikat cinta pertama Ayah," jawab Mr W sembari mengelus kepala Amelia.
"Maksud Ayah, Ibu?" tanya Amelia penasaran, wajahnya memerah karena merasa nyaman dengan kelembutan Ayahnya baru baru ini.
__ADS_1
"Memangnya siapa lagi?" jawab Mr W sembari tersenyum lebar dan mempercepat elusan kepalanya.