Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 41 : Deklarasi Hansen


__ADS_3

Amelia terdiam karena ini pertama kali baginya menerima tamparan cukup keras dari Andini. Sedangkan Andini yang baru saja dengan reflek menampar adiknya, segera menyentuh pipi Amelia dan berkata, "A ... aku tak bermaksud untuk ... ," Meski marah dengan sikap Amelia, Andini tak pernah bertindak keras terhadap adiknya itu. Perasaan bersalah atas tamparan tersebut pun timbul di hati Andini karena tak tega terhadap adik kesayangannya.


"Tak apa kak, toh tamparan ini tak sesakit apa yang akan kakak rasakan nanti." Amelia tersenyum tipis.


'Akan kubuat kakak menyadari siapa Herry Wijaya sebenarnya!' batin Amelia serius sembari melangkah pergi menuju kamar rawat inap dimana Dion berada.


'Sebenarnya apa yang dilakukan Hansen hingga berhasil memikat hati Amelia!?' Andini menatap punggung Amelia dengan heran.


Sementara itu di gedung putih, Hansen dan jenderal Besar Hanan melakukan pertemuan empat mata seperti yang direncanakan.


Dan dalam pertemuan itu, Hansen memberikan surat Chalis beserta semua informasi yang dia ketahui. Dia bahkan menceritakan laporan Theo mengenai dalang dibalik serangan nuklir tingkat rendah yang berhasil membuat sang jenderal terkejut bukan main.


"Tak hanya Zero, bahkan Fifteen dan bawahannya pun masih hidup!?"


"Bagaimana mungkin itu terjadi!?" Jenderal besar Hanan menolak untuk percaya. Sementara Hansen meneruskan dengan berkata, "Jangankan kau, aku saja masih tak mempercayai ini. Tapi karena Hacking Eagle lah yang memberi tahu, maka ... ,"


"Informasinya tak pernah salah!" Jenderal Besar Hanan segera mengkonfirmasi.


"Kuserahkan pengawasan mantan elit pasukan red Eagle kepadamu!" Hansen bangkit dari kursinya.


"Bagaimana denganmu?" Jenderal besar Hanan memastikan.

__ADS_1


"Aku akan fokus dalam mencari keenam komando elit Red Eagle!" Hansen segera bangkit dan pergi meninggalkan ruangan.


Srettt.... selang beberapa lama sejak perginya Hansen dari istana merdeka, seluruh layar televisi dan layar papan iklan digital di indonesia diretas secara bersamaan dan menampilkan gambar yang sama. Yaitu, wajah Hansen yang sedang memakai pakaian militer layaknya tuan X. Pakaian loreng loreng hijau, beserta masker hitam yang menjadi ciri khasnya pun terpampang jelas di layar kaca. Sedangkan beretnya nampak miring ke kanan layaknya prajurit yang siap bertempur. Warna dasar beretnya hijau tua, dengan simbol elang merah berwarna dasar emas yang tertempel jelas di sebelah kanan beretnya.


"Old Eagle, Savior Eagle, Danger Eagle, weapon master, dan Brain Eagle!"


"Tunjukkanlah diri kalian, dan kembalilah ke militer!"


"Lupakan sumpahku yang dulu, dan maafkan keegoisanku. Jika kalian masih menghormatiku, tolong datang dan temui aku!" Hansen terdiam sejenak, lalu memunculkan lencana kebal hukum dan berkata, "Ini juga berlaku untuk para mantan anggota Red Eagle!"


"Datanglah, dan akan kuhapuskan status penghianatan kalian terhadap negara!"


"Ini adalah janjiku sebagai seorang Holder sekaligus pendiri dari Red Eagle!"


"Fakta bahwa wajahku sanggup tersebar di setiap layar kaca saja sudah menjelaskan keberadaanmu, yang lain pasti memahami hal itu," Hansen tersenyum tenang.


"Cih, padahal aku tak ingin terlalu terlibat!"


"Fakta bahwa kau tak menyebutkan namaku saja, pasti membuat orang lain berpikir bahwa aku sudah kembali ke militer!"


"Kau benar benar licik, Komandan!" Theo nampak kesal, namun merasa tak berdaya akan tipuan Hansen. Meski begitu dia tetap menolak untuk kembali ke militer, semua karena bawahannya sangat membenci pemerintah. Jika bukan karena jaminan Theo, mungkin mereka juga enggan bergaul dengannya.

__ADS_1


Terlebih lagi, fakta bahwa Hansen seorang Holder pun memiliki manfaat tersendiri bagi kelompok Theo yang beroperasi melawan hukum seperti membunuh orang bersalah yang layak mati dan lolos dari jeratan hukum. Dan alasan Theo tak berdaya hingga mau melakukan peretasan skala negara adalah karena Hansen membawa pulang ratusan anggota scorpion yang sudah lama tertangkap di dalam jeruji besi.


Sementara itu di gedung putih, Jenderal Besar Hanan dan marsekal besar Leo, nampak sedang berdiskusi dengan Presiden Gibran serta laksamana besar angkatan laut yang baru saja datang dari tempatnya bertugas.


"Lambat seperti biasanya," Marsekal besar Leo mencibir sinis.


"..." Laksamana besar Angkatan Laut mengabaikan cibiran sang Marsekal, dan langsung menatap sang presiden lalu berkata, "Apakah ada sesuatu yang anda perlukan dariku, tuan Presiden?"


"Kelompok Scorpion berada dalam lindungan Tuan X, hentikan pengejaranmu terhadap mereka!" tegas sang presiden.


"Apa hanya itu?" tanya sang laksamana sembari memastikan.


"Tolong lepaskan semua mantan anggota Red Eagle yang sempat kau penjarakan juga, hal ini juga berlaku untukmu, marsekal!" presiden Gibran menegaskan.


"Aku juga seorang Holder, aku memiliki hak untuk membebaskan dan memenjarakan orang yang dinilai bersalah. Kenapa aku harus tunduk terhadap permintaan tuan X?" Marsekal Leo sedikit tak terima, namun sanggahan Jenderal Besar Hanan membuatnya tak berdaya, dimana dia jelas jelas berkata, "Apakah kau berniat melawan Tuan X di arena kebal hukum!?"


"Cih, Baiklah!" Marsekal Leo terpaksa tunduk, karena tak mau beradu fisik dengan Hansen. Meski kebenciannya timbul karena rasa iri akan pencapaian Hansen, nyalinya untuk bertarung satu lawan satu, sudah lama menghilang karena kejadian di masa lalu.


Baginya melawan Hansen sama saja dengan bunuh diri. Berbeda dengan Laksamana besar Angkatan Laut yang nampak netral dan menerima begitu saja, apa yang diminta oleh sang presiden.


Lagipula, sejak awal dia tak ingin bertarung melawan Hansen. Bukan karena takut akan kekuatannya, melainkan karena tak ada keuntungan dalam pertarungan tersebut.

__ADS_1


Terlebih saat dia menatap layar ponselnya yang jelas melukiskan wallpaper foto keluarganya yang nampak jelas ada gambar Hansen, Andini, Amelia Wisnu, Hendra pratama, Rosa Riyadi, dan tentunya foto dirinya yang nampak menggunakan pakaian seorang pembisnis tanpa masker yang dia gunakan saat bertugas menjadi seorang Laksamana besar.


'Selamat berjuang menantuku,' Laksamana besar Pramana Wisnu tersenyum senang sembari menatap foto momen pernikahan Andini dan Hansen.


__ADS_2