
Setelah melewati malam yang panas, Andini terbangun dipelukan Hansen yang masih tertidur lelap. Badannya tak tertutup pakaian sehingga membuat Andini terkejut. Matanya terbuka lebar dan dia menutupi mulut dengan tangannya.
"Kenapa Hansen tertidur di sampingku!?"
"Dan kenapa dia tak memakai baju!?"
"Sebenarnya apa yang terjadi!?" Andini memegang kepalanya, kebingungan, "Bukankah aku seharusnya sedang membahas bisnis dengan David!?"
Ingatan Andini samar-samar karena pengaruh obat. Yang dia ingat terakhir kali adalah dia merasa pusing dan lelah sejak meminum anggur. Dia sama sekali tidak ingat segala kejadian mengenai dirinya yang hampir ternoda oleh pria bejad serta Hansen yang datang menolongnya.
Andini terdiam, berusaha keras mengingat-ingat semua kejadian semalam. Lalu, matanya turun ke tubuhnya dan menyadari kalau dirinya juga tidak berbusana.
"Kyaaaaa!"
Hansen terbangun kaget mendengar teriakan Andini.
"Kenapa kau berteriak?" tanya Hansen sambil duduk dengan sebagian tubuh yang masih tertutup oleh selimut.
Andini meneteskan air matanya lalu berbicara tersedu.
"Hiks hiks, kau bertanya kenapa aku berteriak? Dasar kau pria kotor!" teriak Andini sambil menutupi tubuhnya dengan selimut, “Hansen, jawab dengan jujur. Jelaskan padaku, apa yang telah terjadi tadi malam?"
"Kenapa kita tak berbusana dan tertidur dalam satu ranjang seperti ini?"
"Jawab aku, Hansen!" bentak Andini dengan tangis di wajahnya.
"Itu..."
"Apakah... kita telah melakukannya?" potong Andini.
Hansen hanya terdiam karena takut salah menjawab.
"Jangan diam saja, pria kotor! Cepat jawab pertanyaanku! Apakah kita telah melakukannya!?" bentak Andini.
"Ya," jawab Hansen, menunduk.
"Apa kau lupa perjanjian kontraknya? Meski kita telah menikah, aku sudah menegaskan padamu kalau kita tidak akan pernah menjalin hubungan layaknya sebagai seorang suami istri.
“Aku membayarmu agar bisa selamat dari desakan ayahku. Bukan untuk bersenang-senang, apakah kau tak mengerti!?" bentak Andini. Air matanya terus mengalir bersamaan dengan luapan emosi yang terus dia lontarkan melalui ucapannya.
Karena Andini tak kunjung menutup mulutnya dan terus menyalahkan dirinya, Hansen pun tidak dapat menahan diri lagi. Dia mengangkat suaranya dan berkata, "Cukup Andini!"
"Berhenti membentakku!"
__ADS_1
"Biarkan aku menjelaskannya lebih dulu!"
"Oh, begitu ya... Setelah berhasil meniduriku, kau jadi semakin berani, ya? Beraninya kau mengangkat suaramu kepadaku!" bentak Andini
Andini melayangkan tangannya ke pipi Hansen. Namun, Hansen berhasil menangkap pergelangan tangan Andini.
"Aku tak akan berani menyentuhmu jika bukan kau yang memulainya. Tolong ingatlah kejadian tadi malam dengan baik, Andini!" ucap Hansen.
Karena tangannya ditahan oleh Hansen, Andini mencoba menamparnya dengan tangannya yang satu lagi. Namun, Hansen lagi-lagi menghentikannya. Andini tak bisa menggerakkan kedua tangannya sama sekali.
Andini meronta-ronta, berusaha untuk melepaskan kedua tangannya, tetapi kilasan tentang kejadian semalam mulai kembali sedikit demi sedikit hingga akhirnya dia pun terdiam.
Hansen melepaskan genggaman tangannya dan berkata, "Apakah kau sudah mengingat semuanya?"
Andini terdiam sejenak dalam rasa kesal, lalu memegang keningnya dan berkata, "Lupakan kejadian semalam! Dan jangan berharap untuk mendapat pengalaman itu lagi. Kau mengerti!?"
"A... Aku mengerti," jawab Hansen, memalingkan wajahnya.
"Kenapa kau memalingkan wajahmu?"
"Itu…”
Andini tersadar bahwa selimut yang menutupi tubuhnya telah terlepas. Dia pun berteriak, membentak menyuruh Hansen pergi.
Andini mengenakan pakaiannya. Namun, dia menyadari ada beberapa noda dan sedikit goresan pada pakaiannya. Andini yang tak suka terlihat kotor pun meraih ponselnya lalu menelpon Hansen agar kembali ke kamar.
Setelah Hansen kembali memasuki kamar, Andini berkata, "Kita menyewa apartemen ini karena tempat perjamuan semalam cukup jauh dari rumah kita."
"Tentu saja aku tahu, memangnya kenapa?"
"Ada noda dan goresan dalam pakaianku, aku tak bisa keluar dengan penampilan seperti ini. Belikan aku baju baru untuk dipakai!"
"Apa kau tak membawa baju ganti?" tanya Hansen heran.
"Aku salah membawa koper karena terburu-buru. Jadi, hanya ada pakaian ini yang bisa kupakai," jawab Andini sambil memegang dahinya karena merasa pusing.
"Begitu ya, ya sudahlah akan kubelikan," ucap Hansen sambil mengulurkan tangannya.
"Apa?" tanya Andini sinis.
"Apalagi kalau bukan meminta uang untuk beli baju baru. Bukankah kau menyuruhku untuk membelinya?"
"Kau telah menikmati tubuhku semalam, tak bisakah kau membayarnya dengan membelikanku baju?”
__ADS_1
"Tapi, kau ‘kan tahu kalau aku tak punya banyak uang," ucap Hansen.
"Tak ada kata tapi, kalau kau tak mau membelikanku baju dengan uangmu. Maka aku akan berhenti memberimu uang!" ancam Andini kesal.
Hansen tak lagi membantah. Dia masih memerlukan uang Andini untuk membayar biaya perawatan adiknya. Akhirnya, Hansen pun terpaksa menurut. Dia menerima deskripsi baju yang Andini inginkan, lalu pergi ke luar apartemen untuk membelinya.
Sesampainya di toko pakaian, Hansen mendapati pakaian yang Andini inginkan. Namun harganya sekitar empat ratus ribu rupiah, sedangkan uangnya hanya ada enam ratus ribu rupiah. Kembaliannya tak cukup untuk membayar biaya pengobatan adiknya hari ini.
Hansen mencoba menghubungi Andini melalui telepon. Dia memintanya mentransfer uang untuk membeli baju, namun Andini kembali menolak dan mengancam akan mengakhiri kontraknya.
Hansen yang tak punya pilihan lain akhirnya terpaksa membayar pakaian itu dengan uangnya sendiri. Karena hal itu, dia pun harus memikirkan cara mendapatkan uang untuk menutupi biaya perawatan adiknya.
Setelah membelikan Andini Baju, Hansen pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi adiknya. Dia sempat mengajak Andini, namun Andini menolak untuk pergi karena masih merasa kesal dengan kejadian semalam.
Sesampainya di rumah sakit, Hansen langsung menuju ke ruangan di mana adiknya dirawat. Namun langkahnya terhenti begitu melihat ayahnya sedang duduk di luar ruangan adiknya.
Ayah Hansen, Hendra Pratama, sedang memegang dahinya, pusing. Dia memakai pakaian putih, celana hitam yang terlihat cukup terang, dan masker hijau yang menutupi mulutnya.
Hansen yang bingung melihat ayahnya berada di luar ruangan pun langsung mendatanginya, "Kenapa ayah di luar?"
"Tidak apa-apa, ayah hanya sedang mencoba menenangkan pikiran dan membiarkan Cindy beristirahat," jawab Hendra sambil menyentuh dahinya.
Sadar apa yang terjadi, Hansen memasang tampang serius dan berkata, "Apakah pihak rumah sakit mendesak biaya perawatan Cindy lagi?"
Hendra hanya menganggukkan kepala pelan. Dia merasa malu sekaligus kesal karena tak dapat menolong putrinya sendiri.
Tak sanggup melihat ayahnya bersedih, Hansen menyentuh pundak sang ayah dan berkata, "Jangan khawatir ayah, Hansen berjanji akan melunasi tagihan perawatan Cindy. Hansen berjanji akan mengurus semuanya. Ayah hanya perlu tetap di sini untuk menjaga Cindy.”
"Baiklah," ucap Hendra. Dia terdiam sejenak, lalu mengangkat kepalanya setelah mengingat sesuatu. Sambil menghela napas dia bertanya, "Di mana Andini?”
“Dia… ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan hari ini,” ucap Hansen berbohong.
"Oh, begitu ya."
"Kau begitu beruntung mempunyai istri sebaik Andini. Dia seorang pekerja keras dan dari kalangan atas, namun mau menikahimu, dan bahkan membantu membayar biaya perawatan Cindy. Jika bukan karenanya, tagihan rumah sakit Cindy saat ini...
“Tapi kita tak boleh terus bergantung padanya, kita harus bekerja dan berusaha mengumpulkan uang. Apakah kau mengerti, putraku?" tanya Hendra sambil menatap mata Hansen.
"Aku mengerti ayah," angguk Hansen.
Setelah berbincang dan melihat kondisi Cindy yang belum membaik, Hansen beranjak pergi meninggalkan rumah sakit. Namun dia tak langsung kembali ke apartemen untuk bertemu Andini. Dia ingin membiarkan istrinya merasa lebih tenang terlebih dulu dan berusaha untuk tidak bergantung padanya lagi.
Hansen memutuskan untuk mencari pekerjaan. Dia meraih surat kabar di salah satu rak lorong rumah sakit dan mencari halaman mengenai lowongan pekerjaan. Matanya tertuju pada tulisan ‘Penjaga Keamanan.’ Bukan pilihan yang buruk untuknya.
__ADS_1
Hansen hendak beranjak pergi, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara teriakan dari ruangan adiknya dirawat.